Minggu, 20 September 2020 04:44:16 | Home | Index Berita | About Us | Statistik | Buku Tamu | Redaksi | Webmail | Login |  

Catatan Ringan

Beatrice Portinari
Beatrice Portinari (1266-1290) adalah seorang anak manusia biasa yang kemudian menjadi obyek imajinasi luar biasa sehingga identitas dirinya secara tidak adil akan terseret dalam status luar biasanya itu.



Pengunjung hari ini : 219
Total pengunjung : 217173
Hits hari ini : 1108
Total hits : 2261835
Pengunjung Online : 9
Situs Berita Kristen PLewi.Net -Beatrice Portinari
Senin, 22 Juni 2020 16:47:47
Beatrice Portinari


Beatrice Portinari (1266-1290) adalah seorang anak manusia biasa yang kemudian menjadi obyek imajinasi luar biasa sehingga identitas dirinya secara tidak adil akan terseret dalam status luar biasanya itu. Narasi luar biasa Beatrice bukan tentang dongeng drama keluarga, situasi feodal maupun patriarkhis, dan juga bukan tentang sisi feminisme yang biasanya menjadi narasi besar, melainkan dimensi romantisme atau lebih tepatnya keintiman relasi sepihak yang melibatkan Dante Alighieri (1265-1321), seorang pemuda melankolis ingusan di masa itu.

Alkisah suatu pagi di salah satu sudut kota Firenze (Florence), Dante muda yang saat itu berusia sembilan tahun pertama kali bersua dengan Beatrice muda yang berusia setahun lebih muda. Dante saat itu sedang dalam perjalanan merayakan May Day bersama ayahnya. Beatrice muda saat itu mengenakan pakaian berwarna merah lembut dan tak lupa pengikat di pinggangnya. Penampilannya di mata Dante sangat angelic, dan bisa ditebak ia merasakan cinta atau kekaguman pada pandangan pertama. Tapi perjumpaan hanya sekilas pada pandangan searah Dante. Keduanya tidak pernah bertatap mata maupun berbicara.

Perjumpaan kedua, dan terakhir, Beatrice dengan Dante terjadi sembilan tahun kemudian masih di kota yang sama. Sore hari itu Beatrice berjalan bersama dua orang temannya yang lebih tua dengan mengenakan pakaian serba putih. Momen itu mungkin menjadi saat paling membahagiakan Dante karena Beatrice melihat dan kemudian menyapanya.

Roman picisan Beatrice dan Dante berhenti di situ. Konon mereka tidak pernah bertemu lagi, tidak pernah Dante mempunyai kesempatan untuk mengungkapkan perasaannya langsung kepada Beatrice. Beatrice juga tidak pernah tahu atau mungkin bisa mengingat sosok Dante. Benar-benar relasi yang berjalan satu arah. Beatrice empat tahun setelah perjumpaan terakhirnya dengan Dante kemudian menikah dengan seorang banker bernama Simone dei Barde. Tiga tahun setelah menikah dia meninggal di usia 24 tahun. Sementara Dante menikah dengan Gemma Donati pada 1285.

Narasi standar ini di tangan para pujangga mungkin hanya akan menggambarkan sisi keintiman relasi Beatrice-Dante. Atau mungkin hanya sisi cinta platonis Dante yang menarik untuk diuraikan. Tapi, melihat relasi ini dari sudut pandang seorang Dante justru membawa kita ke dimensi yang benar-benar baru. Dimensi yang melampaui kemanusiaan. Dimensi itu adalah keilahian, divinitas.

Para pembaca karya-karya Dante seperti La Vita Nuova (1294) dan La Commedia (1321) mungkin akan segera bisa menangkap peran penting figur atau karakter seorang Beatrice. Tapi misteri terbesarnya adalah bagaimana situasi “ekstase” yang dirasakan Dante tersebut mengirimnya kepada sebuah dimensi keilahian.

Situasi ekstase berbalut nuansa mysterium tremendum et fascinans ini terlihat dalam karyanya berjudul La Vita Nuova (1294). “Pada saat itu berkata sejujur-jujurnya bahwa roh kehidupan, yang terletak di ruang paling rahasian di hatiku mulai bergetar tak beraturan sampai aku merasakannya sangat ganas sampai detak yang paling kecil., dan, dengan bergetar, mengucapkan kata-kata ini: ‘Ecce deus fortior me, qui veniens dominabitur michi: Lihatlah, tuhan yang lebih berkuasa daripada aku, yang sedang datang, akan berkuasa atas diriku’.

Akademisi modern mempunyai istilah menarik yang mungkin cocok dalam situasi yang dialami Dante ini: transendesi diri (self-transcendence). Transendesi diri memperlihatkan satu karater utama dimana seseorang mengalami perasaan yang melampaui dirinya sendiri dan melihat dirinya sebagai bagian integral dari alam semesta. Psikolog Abraham Maslow menjelaskan transendensi kondisi paling puncak, paling holistik, dan paling inklusif dari kesadaran manusia. Transendensi membawa manusia ke dalam pengalaman puncak dan memampukan seseorang melihat permasalahan personalnya dari perspektif yang lebih "tinggi".

Menariknya transendesi diri tidak hanya terjadi dalam konteks pengalaman-pengalaman agama atau kepercayaan. Dante mengalaminya ketika berjumpa dengan seorang wanita dan memahami perjumpaannya secara ilahiah. Glenn Gray dalam bukunya The Warriors: Reflections of Men in Battle (1959) menemukan bahwa pengalaman komunal dalam peperangan membuat para tentara mengalami transendensi dan membuat tindakan-tindakan heroisme seperti pengorbanan diri adalah dilihat sebagai sesuatu yang sangat bermakna. Seorang ultra-nasionalis mungkin punya pengalaman serupa tatkala mendengar dan meresapi lagu kebangsaannya, mungkin demikian pula pengalaman ultras atau suporter fanatik klub sepakbola yang melebur dalam menyemangati klub pujaannya.

Manusia zaman modern meskipun sudah semakin sempit menjumpai ruang-ruang dimana dia bisa menafsirkan pengalaman-pengalaman transendensial akan tetap berusaha mengikuti pola-pola ini. Transendensi diri tidak hanya bicara masalah manusia sebagai makhluk yang menafsirkan, makhluk yang memberi pemaknaan mendalam terhadap sesuatu yang profan, homo interpretans, tapi juga menyangkut hajat hidup terbesar umat manusia, bertahan hidup.

*Santo Vormen
santo(at)pustakalewi(dot)net

dilihat : 597 kali


 << Kembali   Sebelumnya >>
[2/2]

   
Copyright 2005 Pustakalewi.net
All rights reserved. Protected by the copyright laws of the Indonesia
hosted and developed by Agiz YL Solution