Senin, 20 Januari 2020 12:26:15 | Home | Index Berita | About Us | Statistik | Buku Tamu | Redaksi | Webmail | Login |  

Catatan Ringan

Perkembangan Peer to Peer Lending di Indonesia
Perkembangan Peer2Peer Lending (P2P Lending), pinjam meminjam berbasis aplikasi makin subur di Indonesia. Tapi kehadirannya tentu akan menimbulkan konsekuensi positif dan negatif.


Pengunjung hari ini : 555
Total pengunjung : 18341
Hits hari ini : 3568
Total hits : 567073
Pengunjung Online : 5
Situs Berita Kristen PLewi.Net -Berjuang Mewujudkan Perdamaian Dan Keadilan






SocialTwist Tell-a-Friend | |
Senin, 07 November 2011 18:04:51
Berjuang Mewujudkan Perdamaian Dan Keadilan
1. PENGANTAR



Saatnya telah tiba bagi gereja-gereja Indonesia, bersama dengan seluruh

bangsa Indonesia, untuk menegaskan ulang kehidupan-bersama sebagai

masyarakat yang majemuk, demi menuju masa depan yang penuh dengan damai

sejahtera, sesuai dengan cita-cita bangsa Indonesia. Penegasan ulang

kehidupan-bersama ini merupakan tindakan iman yang berakar pada

keyakinan kepada Allah, yang dengan penuh kesetiaan berkarya bagi dunia

yang diciptakan dan dicintai-Nya melalui Yesus Kristus, Kepala Gereja

dan Juruselamat, serta di dalam kuasa Roh Kudus yang menghidupi seluruh

ciptaan. Tindakan iman ini menjadi sebuah komitmen umat Kristen kepada

bangsa Indonesia untuk ikut-serta merawat dan memperkaya

kehidupan-bersama. Komitmen ini juga mendorong umat Kristen Indonesia

untuk mengusahakan kehidupan-bersama tersebut di dalam persaudaraan

dengan semua elemen bangsa Indonesia yang berasal dari berbagai suku,

agama, dan kelompok-kelompok sosial-kultural lain.



Bertolak dari komitmen tersebut, kami, peserta Konsultasi Teologi

Nasional, telah berusaha bersama-sama berbagi pengalaman dan cerita,

mendengarkan dengan segenap hati berbagai penderitaan yang dialami oleh

anak bangsa, serta memahami dengan segala keterbatasan kami akar-akar

persoalan kehidupan-bersama bangsa Indonesia. Keprihatinan ini telah

kami gumuli bersama-sama melalui Konsultasi Teologi Nasional Persekutuan

Gereja-gereja di Indonesia, yang berlangsung di Wisma Bahtera, Cipayung,

pada tanggal 31 Oktober sampai dengan 4 November 2011. Konsultasi yang

dilaksanakan dengan tema, “Berteologi dalam Konteks: Meretas Jalan

menuju Perdamaian, Keadilan, dan Keutuhan Ciptaan,” diikuti oleh ….

orang dari seluruh Indonesia.



Dari seluruh proses konsultasi tersebut, kami menyatakan keyakinan,

pergumulan sekaligus pengharapan kami berkaitan dengan martabat manusia,

perdamaian dan keadilan antargereja dan antaragama, tanggapan atas

kebijakan ekonomi Indonesia, serta undangan bagi gereja-gereja dan

pendidikan teologi untuk kembali kepada kehidupan.





2. MENEGASKAN ULANG MARTABAT MANUSIA



Umat Kristen Indonesia diperhadapkan pada kenyataan terjadinya

perendahan martabat manusia dan pelanggaran hak asasi dalam segenap

aspek kehidupan. Kami menyaksikan dan mengalami berbagai tindak

kekerasan, seperti penindasan perempuan, penelantaran anak-anak dan usia

lanjut, pengabaian aspirasi kaum muda, penolakan untuk hidup bersama

dengan mereka yang berbeda (agama, suku, ideologi, orientasi seksual,

dan sebagainya), pengingkaran hak-hak dasar masyarakat adat, serta

perusakan lingkungan yang mengancam kehidupan. Keadaan ini diperparah

oleh kerakusan sebagai salah satu roh zaman ini yang mendorong

kecenderungan manusia untuk hanya memikirkan dirinya sendiri, yang

sering kali berakibat pada pengabaian terhadap sesama ciptaan.



Kami menyaksikan juga semakin sistemiknya praktik korupsi dan

penyalahgunaan kekuasaan, yang terjadi di berbagai aspek

kehidupan-bersama. Semua usaha untuk memperkaya diri sendiri ini semakin

memperparah proses pemiskinan bagi banyak rakyat Indonesia. Kami

menyaksikan betapa ketidakadilan ini semakin lama semakin dianggap

lumrah. Sanksi sosial dan kepastian hukum tidak berlaku lagi. Sebagian

anggota masyarakat dan pemerintah bahkan membiarkan keadaan ini terus

berlangsung.



Di tengah-tengah kenyataan ini, kami mengakui bahwa umat Kristen,

sebagai bagian dari bangsa Indonesia, sering kali gagal mewartakan Injil

perdamaian dan keadilan dan bahkan kerap menjadi pelaku dari proses

perendahan martabat manusia.



Kami mengakui bahwa martabat setiap manusia di dalam dirinya diberikan

oleh Allah Pencipta. Umat Kristen memahami kebenaran ini melalui Yesus

Kristus, serta dialami di dalam kuasa Roh Pemberi Kehidupan. Tujuan

hidup manusia adalah untuk mengambil bagian ke dalam kehidupan yang

Allah berikan kepada seluruh ciptaan.



Tanpa hubungan dengan Allah, manusia tergoda untuk memusatkan hidup

kepada dirinya sendiri dan dengan demikian mengalami perendahan martabat

hidup. Dosa merupakan sebuah realitas yang nyata di mana hubungan antara

manusia dan Allah rusak, yang berakibat pula pada rusaknya gambar-diri

manusia, hubungan antara manusia dan sesamanya, dan hubungan dengan

seluruh ciptaan lainnya.



Pemulihan hubungan tersebut dimungkinkan oleh karya pendamaian Yesus

Kristus, Sang Gambar Allah, di dalam kuasa Roh Kudus. Kehidupan yang

baru tersebut terwujud secara nyata melalui kehidupan-bersama yang

diwarnai oleh perdamaian dan keadilan yang berwawasan keutuhan ciptaan.

Inilah pusat dari Injil Yesus Kristus.



Sebagai persekutuan orang-orang percaya, gereja merupakan salah-satu

tanda kehadiran dari misteri ilahi, yang mengundang seluruh ciptaan

untuk mengambil bagian ke dalam karya perdamaian dan keadilan. Oleh

karena itu, sebagai bagian dari misi Allah bagi dunia, misi gereja harus

dikerjakan dalam kerjasama yang saling menghargai dengan

kelompok-kelompok lain. Keterlibatannya dengan dunia memberi kemungkinan

ganda bagi gereja, baik untuk menghadirkan Injil, maupun untuk terjatuh

ke dalam dosa dan kesalahan dunia. Itu sebabnya, gereja harus

sungguh-sungguh menggantungkan diri pada anugerah Allah dan menaati

undangan pertobatan untuk kembali kepada panggilannya.



Umat Kristen Indonesia dipanggil untuk berani menyampaikan suara

kenabian yang kritis di tengah realitas perendahan martabat manusia,

tanpa kehilangan kesediaannya untuk melakukan proses transformasi dan

koreksi diri atas pemahaman dan praktik hidup yang berlawanan dengan

nilai-nilai Injil yang berpusat pada kehidupan. Umat Kristen Indonesia

perlu mempertegas keberpihakannya pada mereka yang direndahkan

martabatnya, yang dikerjakan secara dialogis dan tanpa kekerasan dengan

berbagai kelompok masyarakat.





3. MERAYAKAN KEHIDUPAN-BERSAMA



Kami menyaksikan bahwa angka pertumbuhan dan pertambahan gereja telah

meningkat pesat belakangan ini. Kini, tak semata-mata hanya ada PGI

(Persekutuan Gereja-gereja di Indonesia), melainkan juga

persekutuan-persekutuan antargereja lain, yang mulai saling mengakui dan

menerima. Gerakan oikoumenis gereja-gereja di Indonesia, dalam komitmen

untuk merayakan kehidupan-bersama, bahkan telah menghasilkan dokumen

Piagam Saling Mengakui dan Saling Menerima (PSMSM-PGI). Dokumen ini

merupakan tonggak penting gerakan keesaan gereja di Indonesia agar tidak

semata-mata bergerak ke arah dirinya sendiri atau kelompoknya sendiri.

Perspektif oikoumenis ini tak dapat dilepaskan dari pengakuan akan

adanya pluralitas teologi, tradisi dan praktik bergereja. Apa pun latar

belakang denominasinya, gereja-gereja dipanggil untuk semakin menyatakan

hakikatnya sebagai satu “tubuh Kristus.”



Namun, pengingkaran terhadap keberagaman dan perbedaan denominasi serta

praktik bergereja masih berlangsung. Perbedaan pemahaman mengenai

baptisan dan perpindahan warga ke gereja lain merupakan dua dari banyak

contoh yang bisa membuat hubungan antargereja menjadi tegang. Kerjasama

oikoumenis masih terbatas pada kegiatan-kegiatan seperti pertukaran

pelayan mimbar, perayaan Paska dan Natal bersama, serta kehadiran dalam

pertemuan atau konsultasi-konsultasi. Kerjasama yang lebih signifikan

dan strategis masih sangat terbatas dan perlu ditingkatkan.



Di lingkungan agama-agama, keberadaan kelompok garis-keras

memperlihatkan bahwa keberagaman agama-agama masih ditolak. Memang,

sebagian besar orang mengakui adanya keberagaman identitas sosial,

sekalipun diterima secara terbatas. Keberagaman dan perbedaan diakui,

namun dilihat dengan sikap curiga dan merasa terancam, sehingga tak

terjadi pergaulan yang saling memperkaya. Larangan beribadah dan

penutupan rumah ibadah secara paksa oleh kelompok garis keras semakin

banyak terjadi.



Kami mengecam campur-tangan negara ke dalam ranah kehidupan beragama,

sebagaimana dicontohkan dari kasus-kasus perumusan dan pelaksanaan

perda-perda bermuatan agama yang diskriminatif dan pelarangan

agama-agama atau kelompok-kelompok agamawi yang tidak dianggap resmi

oleh pemerintah. Umat Kristen Indonesia, bersama-sama dengan umat

beragama lain, perlu menuntut penyelenggara negara untuk memenuhi tugas

konstitusionalnya untuk menjamin kebebasan beragama, beribadah, dan

mendirikan tempat beribadah.



Kami berjuang dan mendukung segala usaha untuk mengembangkan sikap

proaktif dan positif dalam memahami umat beragama lain, membangun sikap

hormat terhadap umat beragama lain, dan saling bekerjasama demi kebaikan

bersama. Tembok-tembok pemisah dengan kelompok-kelompok yang berbeda

harus diubah menjadi jembatan yang membawa perdamaian. Kami percaya

bahwa pada dasarnya agama-agama mengajarkan kesetaraan, cinta-kasih,

keadilan, dan perdamaian.





4. MENUJU EKONOMI YANG ADIL DAN MEMANUSIAKAN MANUSIA



Keadaan ekonomi pada satu generasi terakhir menunjukkan bahwa

kesejahteraan manusia Indonesia secara umum terus membaik dan bahwa

sebagian warga Indonesia bahkan menjadi sangat sejahtera, tetapi

sekaligus menunjukkan bahwa masih sangat banyak rakyat Indonesia yang

kurang atau bahkan tidak berhasil menikmati buah-buah pembangunan

ekonomi. Fakta bahwa satu dari dua orang Indonesia masih berpenghasilan

di bawah dua dollar per hari membuktikan bahwa kebijakan pembangunan

Indonesia selama ini masih tidak berpihak kepada orang-orang miskin.

Masih banyak kantong-kantong kemiskinan yang terabaikan.



Kami menyaksikan banyak kebijakan yang lebih ditujukan untuk

memfasilitasi kemajuan pertumbuhan ekonomi rakyat yang sudah sejahtera

daripada mendorong pelebaran kesempatan bagi rakyat yang miskin untuk

mengangkat diri mereka dari kemiskinan.



Sehubungan dengan ekonomi, teologi Kristen berpijak pada ketegangan di

antara dua kutub pengalaman manusia, yaitu kenyataan kemiskinan yang

meluas dan harapan kesejahteraan untuk semua orang. Sehubungan dengan

kemiskinan, secara eksplisit Allah memerintahkan para pemimpin rakyat

untuk “melepaskan orang miskin yang berteriak minta tolong, orang yang

tertindas … orang lemah, dan orang miskin”(Mzm. 72:12-14). Bahkan,

secara spesifik, semua orang dilarang untuk “memeras pekerja harian yang

miskin dan menderita” (Ul. 24:14). Dalam hal kesejahteraan, Allah

menghendaki seluruh umat-Nya hidup di dalam kesejahteraan bersama dan

mengupayakannya (bdk. Ul. 4:37-40; Yer. 29:7).



Kami mendesak para penyelenggara negara untuk mempertahankan,

menciptakan, menerapkan, dan melanjutkan kebijakan-kebijakan ekonomi di

tingkat nasional dan daerah yang memberi kesempatan yang sama bagi semua

rakyat Indonesia dan berpihak kepada kelompok-kelompok rakyat yang

paling miskin. Pemihakan ini harus dilakukan melalui dibukanya

kesempatan seluas mungkin kepada orang miskin untuk menggapai

kesejahteraan yang setinggi-tingginya.



Kami percaya bahwa semua orang berhak memperjuangkan kesejahteraan

mereka sendiri, selama tidak merugikan ciptaan lain. Bersamaan dengan

itu, kami mendesak kepada para penyelenggara negara untuk menghapuskan

dan tidak membuat kebijakan-kebijakan yang menghambat pemerataan

kesejahteraan dan yang secara diskriminatif hanya menguntungkan

segolongan pihak, sementara banyak rakyat miskin menjadi korban.



Kami menyerukan kepada umat Kristen Indonesia untuk menyatakan sikap

pemihakan yang jelas bagi orang miskin, sikap kritis terhadap proses

perumusan dan pemberlakuan kebijakan ekonomi, serta sikap hidup yang

jujur, hemat, dan kerja keras. Seluruh sikap tersebut harus terwujud di

dalam kehidupan pribadi, keluarga, komunitas, masyarakat, dan negara.

Kami menegaskan perlunya sikap waspada atas dampak-dampak negatif dari

sistem ekonomi pasar bebas dan kapitalisme.





5. UNDANGAN UNTUK MEMIHAK KEHIDUPAN



Kami mengakui bahwa gerakan oikoumene (kebersamaan antargereja) yang

dikembangkan di Indonesia ternyata baru sebatas kegiatan-kegiatan

seremonial, namun belum terwujud ke dalam karya-karya sosial yang

menjawab kebutuhan gereja dan masyarakat. Keadaan ini lebih diperparah

dengan makin maraknya perpecahan yang terjadi di dalam tubuh gereja.

Keadaan ini tidak bisa dilepaskan dari pendidikan teologi yang kurang

merespons kebutuhan aktual warga gereja dan memelopori perkembangan

teologi yang kontekstual.



Allah berpihak kepada kehidupan bagi semua ciptaan-Nya, terutama mereka

yang menderita, tersisih, dan tertindas. Dalam konteks Indonesia,

respons kasih kepada sesama harus diarahkan kepada orang miskin,

penganut agama-agama yang tertindas, daerah-daerah tertinggal dan

perbatasan, pekerja migran, orang berkebutuhan khusus, korban bencana

alam, orang yang hidup dengan HIV/AIDS, LGBT (lesbian, gay, biseksual,

transjender/transseksual), kaum perempuan yang mengalami diskriminasi

dan penindasan, para korban perdagangan manusia, dan masih banyak lagi.

Kepedulian terhadap lingkungan yang sekaligus menjadi sumber penunjang

kehidupan perlu diarahkan kepada pencegahan pengrusakan hutan tropis,

pemunahan margasatwa, eksploitasi sumberdaya alam, polusi, dan pemanasan

global.



Upaya untuk mengatasi dan merespons permasalahan tersebut membutuhkan

cara berteologi yang baru, yang berkaitan dengan semangat oikoumenis

dalam relasi dengan sesama ciptaan. Piagam Saling Mengakui dan Saling

Menerima (PSMSM-PGI) yang sudah disepakati bersama dapat menjadi

kerangka acuan bagi gerakan oikoumenis. Untuk itulah, kami percaya bahwa

semua warga gereja, khususnya generasi muda, perlu diberi kesempatan

untuk mengembangkan semangat oikoumenis melalui berbagai cara.



Perguruan teologi merupakan agen utama dalam mensosialisasikan dan

mengembangkan cara-cara berteologi yang baru, sejalan dengan teologi

sebagai ilmu yang terbuka untuk semua orang. Untuk itu, kami menyerukan

agar perguruan teologi merevisi dan mengembangkan kurikulum yang dapat

mengakomodasi perubahan yang sedang berlangsung. Dalam konteks ini perlu

dikembangkan juga teologi feminis, teologi lingkungan, dan teologi

agama-agama.

TIM PERUMUS: Abraham Silo Wilar, Albertus Patty, Augustien Kaunang, Dien Sumiyatiningsih, Elga Sarapung, Joas Adiprasetya (ketua), Olvi Prihutami, Rainy Hutabarat, Samsudin Berlian. (Jrs)

dilihat : 470 kali


   
Copyright © 2005 Pustakalewi.net
All rights reserved. Protected by the copyright laws of the Indonesia
hosted and developed by Agiz YL Solution