Kamis, 27 Februari 2020 20:06:58 | Home | Index Berita | About Us | Statistik | Buku Tamu | Redaksi | Webmail | Login |  

Catatan Ringan

Perkembangan Peer to Peer Lending di Indonesia
Perkembangan Peer2Peer Lending (P2P Lending), pinjam meminjam berbasis aplikasi makin subur di Indonesia. Tapi kehadirannya tentu akan menimbulkan konsekuensi positif dan negatif.


Pengunjung hari ini : 738
Total pengunjung : 46682
Hits hari ini : 5077
Total hits : 769900
Pengunjung Online : 8
Situs Berita Kristen PLewi.Net -Memperjuankan Nilai Kekristenan Bersama Sokrates
Renungan
SocialTwist Tell-a-Friend | |
Kamis, 28 Juli 2005 00:00:00
Memperjuankan Nilai Kekristenan Bersama Sokrates
Memperjuangkan sebuah nilai kebenaran adalah suatu aktifitas berbahaya, hal itulah yang nampak dalam Apology-nya Plato, sebuah buku kecil yang ditulis oleh Plato, yang menceritakan sepak terjang Sokrates dipersidangan sekaligus hendak menunjukan pada kita siapa dan apa yang diperjuangkan Sokrates hingga dia lebih memilih mati daripada harus melarikan diri dari hukuman yang ditimpakan padanya. Dalam Apology yang berbentuk dialog itu Sokrates berpidato di depan orang Athena dalam rangka upayanya menjawab berbagai tuduhan yang dituduhkan pada dirinya. Para penuduhnya (Myletus, Anythus, Lycon) menuduh Sokrates telah merusak kaum muda Athena, aktivitasnya ternyata telah meresahkan beberapa kalangan yang kepentingannya terusik akibat aksi kontroversial Sokrates tersebut. Apa sebenarnya yang dilakukan Sokrates hingga aksinya melahirkan musuh-musuh bagi dirinya?



Aksi tersebut bermula dari orakel (sabda para dewa) di Delphi yang mengeluarkan pernyataan bahwa Sokrateslah manusia paling bijaksana di bumi. Sokrates kemudian mempertanyakan hal tersebut pada dirinya karena ia sama sekali merasa tidak memiliki kebijaksanan sebagaimana yang disabdakan para dewa. Hal itu kemudian dipastikan olehnya dengan pergi pada setiap orang yang bijak dan bertanya kepada mereka mengenai apa itu kebijaksanaan. Sokrates pergi pada siapa saja demi memastikan kebenaran peryataan para dewa itu, kepada ahli politik ia bertanya "apa itu politik". Pada ahli hukum ia bertanya apakah hukum. Pertanyaan sokratian itu menyiratkan akan pencarian dan investigasi yang mendalam. Hasilnya? Ternyata mereka yang awalnya disebut bijak atau yang menganggap dirinya bijak dihadapan Sokrates tidak bijaksana sama sekali. Pada akhirnya Sokrates tiba pada kesimpulan bahwa kebijaksanaan tidak ada pada manusia dan hanya Tuhan sajalah yang memiliki kebijaksanaan. Untuk itu manusia sangat tidak layak untuk bermegah dengan mengatakan dia memiliki kebijaksanaan sejati.



Pewartaan filosofis yang sarat makna teologis itulah yang diberitakan Sokrates pada para warga Athena. Para dewa menyebutnya bijaksana karena Sokrates mengetahui bahwa dia tidak mengetahui apa-apa. "Berita baik" yang disampaikannya kala itu ternyata harus ditebus dengan nyawanya. Dalam Apology diceritakan Sokrates lebih memilih kematian daripada harus berhenti mewartakan kebenaran, bahkan dia berkata : "Inilah yang saya ajarkan?bahkan seandainya saya harus mati berkali-kali sekalipun, saya akan tetap akan melakukan pewartaan ini". Sokrates tidak hanya sekedar meyakini apa yang diyakininya tapi juga memperjuangkan apa yang diyakininya.



Kisah yang disebut-sebut sebagai kisah kepahlawanan dibidang filsafat ini telah menjadikan Sokrates sebagai panutan filosofis bagi para filsuf. Selain itu kisah tersebut mengingatkan penulis pada peran sosial gereja dalam upayanya menyuarakan peran profetik-nya. Sudahkah Gereja dengan gigih bersuara dan bersikap atas segala bentuk-bentuk ketidakadilan?

Sudahkah Gereja berpihak pada kaum tertindas?

Sudahkah gereja bersuara lantang atas segala praktik-praktik irasionalitas yang menginjak nilai-nilai kemanusiaan?

Alih-alih peduli terhadap kaum tertindas, gereja malah membangun tempat-tempat ibadah nan mewah tanpa memperdulikan bahwa manusia-manusia disekitarnya sedang hidup dalam berbagai macam kesulitan.



Ditengah-tengah krisis multidimensional bangsa ini dimana kekristenan? Benarkah dia masih punya makna? Dan apa yang telah dilakukannya? Sudahkah dia menjadi bagian dari segala aspek kehidupan umatnya (karena agama tidak terlepas dari subyek-subyek religius dalam agama)?



Kesaksian hidup Sokrates hendak mengatakan pada kita bahwa sebuah nilai kebenaran tidak hanya sekedar diyakini tapi juga diperjuangkan dengan gigih. Keyakinan akan sesuatu tidak hanya indah didengar di mimbar-mimbar Gereja dan hanya berlaku di Gereja tetapi bisu saat keluar dari tembok-tembok Gereja.



Sebuah keyakinan akan punya makna saat ia juga menjadi napas setiap perilaku kita. Nilai-nilai kekristenan hendaknya menjadi landasan etis-spiritual setiap perilaku kita sebagai umat kristiani. Tapi sudahkah itu diperjuangkan dengan gigih? Jangankan diperjuangkan kalau mau jujur terkadang kita lebih suka mengkompromikan atau bahkan melupakannya ketimbang diperjuangkan. Seperti yang dikatakan diatas nilai-nilai kekristenan itu cuma berlaku didalam Gereja tapi dengan cepat terlupakan saat kita keluar dari pintu Gereja. Kalau itu yang akan terus terjadi masihkah kekristenan punya arti dan makna bagi kehidupan ini? Saya rasa tidak. Kekristenan akan punya arti saat nilai-nilai kekristenan diperjuangkan dengan gigih dimanapun kita berada. Diperjuangkan saat kita berbisnis, saat kita berada dilingkungan kerja, saat berada di wilayah politik, dan bermasyarakat.



Tapi hendaklah diingat keyakinan yang diperjuangkan tersebut sebagaimana Sokrates tetaplah harus penuh dengan semangat kerendahan hati, terbuka, dan menyadari bahwa kebijaksanaan sejati bukan milik kita. Dengan itulah diharapkan kekristenan dapat lebih berarti ditengah-tengah kehidupan, dan kita sebagai umat kristiani bisa lebih punya makna bagi kehidupan bangsa ini, karena hidup kita akan berarti apabila ia memiliki makna, yaitu memperjuangkan nilai-nilai kekristenan universal demi terciptanya kehidupan yang lebih baik. Dengan itulah diharapkan indonesia akan semakin nyaman untuk ditinggali sebagai tempat hidup bersama.



Penulis : Janno Rompas

Mahasiswa Sekolah Tinggi Filsafat dan Teologi (STFT) Widya Sasana Malang.

dilihat : 487 kali


   
Copyright 2005 Pustakalewi.net
All rights reserved. Protected by the copyright laws of the Indonesia
hosted and developed by Agiz YL Solution