Kamis, 27 Februari 2020 22:12:08 | Home | Index Berita | About Us | Statistik | Buku Tamu | Redaksi | Webmail | Login |  

Catatan Ringan

Perkembangan Peer to Peer Lending di Indonesia
Perkembangan Peer2Peer Lending (P2P Lending), pinjam meminjam berbasis aplikasi makin subur di Indonesia. Tapi kehadirannya tentu akan menimbulkan konsekuensi positif dan negatif.


Pengunjung hari ini : 775
Total pengunjung : 46720
Hits hari ini : 5632
Total hits : 770455
Pengunjung Online : 16
Situs Berita Kristen PLewi.Net -Stop Kekerasan Dalam Dunia Pendidikan






SocialTwist Tell-a-Friend | |
Rabu, 30 September 2009 00:00:00
Stop Kekerasan Dalam Dunia Pendidikan
Belum selesai diusut kasus kekerasan

yang dialami Hendra Syahputra, mahasiswa ATKP di Medan, kasus kekerasan di dunia pendidikan kembali terulang. Wisnu Anjar

Kusuma, mahasiswa Sekolah Tinggi Sandi Negara (STSN), meninggal dunia saat mengikuti Orientasi Pengenalan Kampus (Ospek).

Kematian Wisnu tersebut diduga kuat, akibat perlakuan kekerasan yang dilakukan oleh para senioran.



Meski seperti

biasa, pihak kampus membantah bahwa kematian Wisnu akibat kekerasan, namun luka lebam dan beberapa sayatan yang ditemukan

hampir di seluruh bagian tubuhnya, menguatkan dugaan kematian akibat kekerasan tersebut. Dugaan tersebut semakin kuat setelah

Kepolisian Resort Bogor mendapatkan hasil visum dari pihak rumah sakit PMI Bogor, bahwa luka lebam yang terdapat di tubuh

korban, murni akibat kekerasan.



Sangat disayangkan, ospek yang sejatinya bertujuan untuk mengenalkan lingkungan

kampus dan menolong para mahasiswa baru beradaptasi dengan kampus barunya, berubah menjadi ajang melakukan kekerasan. Sudah

menjadi rahasia umum, ospek kerap dimanfaatkan para senior sebagai ajang balas dendam. Perlakuan kasar dan keras yang diterima

sebelumnya pada saat ospek terdahulu, dilampiaskan dan dibalaskan para senior kepada para mahasiswa baru.



Kejadian

ini mengingatkan kita kepada kasus kekerasan yang terjadi di Sekolah Tinggi Pemerintahan Dalam Negeri (STPDN) di Bandung, Jawa

Barat. Kampus milik Departemen Dalam Negeri ini sempat menjadi sorotan, karena kasus kekerasan yang dilakukan para senioran

kepada junioran. Kasus kekerasan yang hampir setiap tahun selalu memakan korban akhirnya terungkap setelah orangtua korban

melapor ke polisi.



Dulu kita berharap dan berdoa, semoga kasus kekerasan yang menggemparkan yang terjadi di STPDN

ini adalah yang pertama sekaligus yang terakhir di dunia pendidikan kita. Namun apa, lacur kekerasan demi kekerasan masih saja

terjadi.



Ada guru yang menghajar murid, ada juga guru yang melakukan kekerasan seksual kepada para muridnya, ada

juga berita tentang tawuran para siswa, rekaman video dimana beberapa siswa “adu jotos” di Makasar, bentrokan antar mahasiswa

dan sejumlah kasus kekerasan lainnya menghiasi wajah pendidikan kita.



Harus diakui, kekerasan yang terjadi di kampus

ini kembali mencoreng dunia pendidikan kita. Pendidikan yang seharusnya memanusiakan manusia, kerap menjadi tempat suburnya

praktek-praktek kekerasan. Sudah tidak terhitung lagi berapa banyak nyawa yang hilang, berapa banyak siswa atau mahasiswa yang

harus menderita luka-luka akibat kekerasan yang dialami pada saat mengecap pendidikan.



Harusnya, kasus kekerasan

dalam dunia pendidikan tidak perlu terjadi kalau pengawasan dilakukan dengan baik. Belajar dari kasus kekerasan di STPDN,

harusnya pengelola kampus memberikan pengawasan ketat terhadap pelaksanaan ospek bagi mahasiswa baru. Pengelola kampus

sewajarnya melibatkan para dosen dalam melakukan ospek, serta ikut mengawasi setiap perjalanan kegiatan demi kegiatan dalam

pelaksanaan ospek. Sehingga senioran tidak punya kesempatan untuk melakukan kekerasan kepada junioran. Pengelola kampus tidak

sewajarnya terlalu mempercayakan seluruh pelaksanaan ospek kepada panitia, yang notabene adalah para

senioran.



Disamping itu, para pengelola pendidikan harus memberikan perhatian yang serius terhadap tingginya

kasus-kasus kekerasan yang terjadi di dunia pendidikan ini. Memandang sepele terhadap kasus-kasus kekerasan di dunia

pendidikan, akan berakibat fatal. Buktinya, kasus-kasus kekerasan di dunia pendidikan selalu terulang dan bukannya malah

berkurang.



Maka harus ada program-program tertentu yang harus dipikirkan para pengelola pendidikan untuk meniadakan

terjadinya kasus kekerasan. Seperti yang disampaikan Bang Napi dalam tayangan berita di salah satu televisi swasta,

kejahatan/kekerasan tidak selalu terjadi karena ada niat, tetapi karena ada kesempatan. Oleh karena itu, selain berorientasi

pada peningkaran moral dan etika para peserta didik dan pendidik, maka para pengelola pendidikan juga harus mengupayakan untuk

meminimalisir adanya kesempatan demi kesempatan terjadinya kasus-kasus kekerasan.



Apapun ceritanya kekerasan dalam

pendidikan harus dihentikan, sebab pendidikan dimana kekerasan masih terdapat di dalamnya, telah kehilangan filosopi dan

tujuannya. Dan kehilangan kedua pilar ini, sangat berbahaya bagi perjalanan bangsa ini ke depan. (Jj)





Sumber :

http://hariansib.com/?p=94098

dilihat : 458 kali


   
Copyright © 2005 Pustakalewi.net
All rights reserved. Protected by the copyright laws of the Indonesia
hosted and developed by Agiz YL Solution