Kamis, 23 Januari 2020 18:36:07 | Home | Index Berita | About Us | Statistik | Buku Tamu | Redaksi | Webmail | Login |  

Catatan Ringan

Perkembangan Peer to Peer Lending di Indonesia
Perkembangan Peer2Peer Lending (P2P Lending), pinjam meminjam berbasis aplikasi makin subur di Indonesia. Tapi kehadirannya tentu akan menimbulkan konsekuensi positif dan negatif.


Pengunjung hari ini : 514
Total pengunjung : 20498
Hits hari ini : 3775
Total hits : 584173
Pengunjung Online : 11
Situs Berita Kristen PLewi.Net -Indonesia, Jangan Terjebak Nasionalisme Reaktif






SocialTwist Tell-a-Friend | |
Senin, 31 Agustus 2009 00:00:00
Indonesia, Jangan Terjebak Nasionalisme Reaktif


Masyarakat

Indonesia seyogyianya tidak terlalu reaktif menanggapi sejumlah hal menyangkut klaim Malaysia atas beberapa kebudayaan

Indonesia. Indonesia adalah negara besar, tidak pantas bersaing dengan Malaysia. Janganlah negara besar ini terjebak pada

nasionalisme reaktif.



"Malaysia itu negara kecil dan monarki, Indonesia negara besar dan demokratis. Kalau dikelola

dengan betul, saingan kita Cina, India dan Brazil, bukan Malaysia. Jangan terjebak nasionalisme reaktif,'' kata aktivis

demokrasi Fadjroel Rahman.



Hubungan Indonesia dengan Malaysia beberapa waktu belakangan kembali memanas. Hal itu

diantaranya disebabkan atas klaim Malaysia terhadap produk kesenian dan budaya Indonesia, yaitu Tari Pendet yang berasal dari

Bali, Indonesia dan klaim Malaysia terhadap perairan Ambalat yang dimiliki oleh Indonesia.



Tak hanya itu, siksaan

dan perlakuan kasar yang kerap diterima oleh para TKI di Malaysia juga telah membuat hubungan dua negara serumpun itu menjadi

tegang. Untuk menyelesaikan permasalahan tersebut, pemerintah Indonesia, menurutnya, harus tetap memprioritaskan jalur

diplomasi dan negosiasi. Karenanya, Fajroel mengaku, tidak sepakat jika masalah tersebut diselesaikan dengan jalan

perang.



"Pemerintah harus membentuk Tim Khusus diplomasi yang dipimpin Presiden SBY, pelaksana hariannya Menlu,

dibantu tim hukum (hak cipta dan internasional), seniman dan budayawan, dan soal TKI disiksa itu limpahkan ke pengadilan

Malaysia tapi KBRI segera melindunginya secara fisik dan hukum,'' ungkapnya.

Ya, mudah-mudahan saja permasalahan dan

sengketa antara bangsa kita dengan negeri serumpun kita yakni Malaysia dapat terselesaikan dengan baik. Betul sekali apa yang

dikatakan oleh aktivis demokrasi Fadjroel Rachman, apabila kita tetap berkembang sesuai dengan track-nya, kita justru akan

menemukan lawan yang seimbang dengan Indonesia yang sama-sama negara demokrasi berkembang dengan jumlah penduduk yang juga tak

kalah besarnya yakni Cina, India, dan Brazil. Malaysia adalah negara jiran yang ingin mengusik kemajuan negara kita dengan

terorisnya yang berkeliaran di tengah bangsa kita, klaim budaya yang sebenarnya adalah milik kita, dan bahkan persaingan

pariwisata yang terjadi di antara dua negeri ini hendaknya dapat terselesaikan dengan baik. Maju terus

Indonesia...!(MW)



sumber:

http://www.jawaban.com/news/news/detail.php?id_news=090831105409

dilihat : 453 kali


   
Copyright 2005 Pustakalewi.net
All rights reserved. Protected by the copyright laws of the Indonesia
hosted and developed by Agiz YL Solution