Rabu, 15 Juli 2020 14:24:51 | Home | Index Berita | About Us | Statistik | Buku Tamu | Redaksi | Webmail | Login |  

Catatan Ringan

Beatrice Portinari
Beatrice Portinari (1266-1290) adalah seorang anak manusia biasa yang kemudian menjadi obyek imajinasi luar biasa sehingga identitas dirinya secara tidak adil akan terseret dalam status luar biasanya itu.



Pengunjung hari ini : 601
Total pengunjung : 167247
Hits hari ini : 3603
Total hits : 1805713
Pengunjung Online : 14
Situs Berita Kristen PLewi.Net -Ulah Malaysia dan Ketidakpedulian Kita




SocialTwist Tell-a-Friend | |
Sabtu, 29 Agustus 2009 00:00:00
Ulah Malaysia dan Ketidakpedulian Kita
Ulah Malaysia dan Ketidakpedulian Kita

oleh Dr Oman Fathurrahman



Thursday, 27 August

2009



Lagi-lagi kita tersentak! Malaysia mengusik rasa kepemilikan kita atas berbagai khazanah budaya yang sudah kita

warisi secara turun-temurun. Kali ini,tari pendet Bali yang menjadi pemicunya.



Malaysia diyakini telah mengutil

tarian itu dalam iklan Visit Malaysia Year 2009. Meski sudah ada permintaan maaf dari production house yang membuat iklan

Enigmatic Malaysia itu, kita, kawan-kawan di Bali khususnya, telanjur sakit hati. Tak urung Menteri Kebudayaan dan Pariwisata

Jero Wacik, yang notabene orang Bali,meradang dibuatnya. Budayawan Mohammad Sobari bahkan menyerukan diambilnya protes keras

dan aksi diplomatik nyata oleh Pemerintah RI!



Benarkah Malaysia telah mengklaim tarian itu sebagai miliknya? Itu

bukan hal yang ingin saya katakan.Biarlah kita tunggu pihak berwenang masing-masing mengklarifikasinya. Yang ingin saya

ingatkan adalah bahwa salah satu akar masalah sesungguhnya ada pada diri kita sendiri sebagai bangsa yang tidak terlalu peduli

dengan pemeliharaan aset kebudayaannya.



Angklung, reog ponorogo, batik, hombo batu, dan tari folaya adalah hanya

beberapa ragam budaya yang sering disebut orang telah diklaim oleh Malaysia. Namun orang banyak yang lupa bahwa khazanah budaya

dalam bentuk artefak kuno tulisan tangan atau yang dikenal sebagai naskah-naskah kuno (manuskrip), jauh lebih banyak yang telah

berpindah tangan ke Malaysia.



Sebagai orang lapangan, saya tahu persis puluhan dan bahkan mungkin ratusan naskah

kuno dari berbagai daerah seperti Aceh, Minangkabau, Riau, dan wilayah Melayu lainnya telah diborong oleh pembeli ilegal asal

Malaysia. Saya katakan ilegal karena jual beli itu memang terjadi "di bawah tangan", tidak pernah

terangterangan.



Maklum, menurut UU Cagar Budaya No 5 1992, naskah kuno termasuk benda yang harus dilindungi dan

tidak boleh diperjualbelikan kecuali atas campur tangan negara.Namun, itu hanya teorinya. Mengapa Malaysia begitu kebelet

dengan naskah-naskah kuno kita,khususnya yang berbahasa Melayu dan berkaitan dengan Islam, sampai berani membeli naskah-naskah

kuno itu seharga ratusan juta rupiah?



Mungkin karena artefak semacam itu berkaitan dengan identitas kemelayuan dan

keislaman. Nama-nama seperti Hamzah Fansuri, Bukhari al-Jawhari, Nuruddin al-Raniri, Syamsuddin al- Sumatra'i, Abdurrauf

al-Sinkili, Syaikh Yusuf al-Makassari, Muhammad Arsyad al-Banjari, Abdussamad al-Palimbani, Raja Ali Haji adalah simbol-simbol

kebesaran Melayu Islam masa lalu yang terekam dalam naskah-naskah kuno.



Semua nama itu berasal dari wilayah yang

kini menjadi bagian dari Indonesia dan pernah menjadi poros utama peradaban Islam Melayu. Sekarang, tengoklah Perpustakaan

Negara Malaysia (PNM) atau Muzeum Islam Malaysia atau berbagai koleksi pribadi, yang menyimpan puluhan ribu naskah Melayu

Nusantara, niscaya namanama ulama kita itu akan mendominasi berbagai katalognya.



Bagi seorang filolog atau

kodikolog, tidak susah juga mengidentifikasi dari mana asal naskahnaskah tersebut karena umumnya kolofon (catatan akhir) di

belakang teks menyediakan informasi waktu dan tempat penyalinan serta identitas penyalinnya. Tentu saya tidak ingin mengatakan

bahwa semua naskah itu diperoleh secara ilegal,tapi berbagai kasus di lapangan membuat saya miris.



Masyarakat kita

sering "tidak kuat iman" melihat gepokan ratus juta rupiah untuk ditukar dengan naskah-naskah kuno miliknya. Namun, apa daya?

Mereka dibiarkan oleh negara untuk merawat sendirian warisan nenek moyangnya itu, padahal perut mereka sering kelaparan.

Giliran diusik, meradanglah kita ramairamai! Dalam hal ini, Malaysia jelas sangat ingin menjadi pusat bagi peradaban Melayu

Islam di wilayah Asia Tenggara.



Tentu tidak salah! Masalahnya Malaysia memang tidak memiliki khazanah naskah Melayu

sekaya kita, sama halnya dengan kenyataan bahwa Malaysia mungkin tidak memiliki tarian seindah tari pendet sehingga perlu

"meminjamnya" dari Bali untuk promosi wisatanya. Celakanya, kita sebagai "pemilik sah" berbagai kebudayaan Melayu itu bermimpi

pun mungkin tidak pernah untuk menjadi pusat peradaban Melayu!



Sebagai peneliti, saya dan kawan- kawan di kampus

sering menggerutu saat sumber primer lokal yang sangat dibutuhkan tidak bisa dijumpai satu pun di negeri sendiri, kecuali di

negeri orang. Kitab hadis Melayu pertama yang berjudul al-Fawa'id al-bahiyah fi al-ahadith al-nabawiyah karangan Nuruddin

al-Raniri (wafat 1658) misalnya, sejauh ini tidak satu pun dijumpai di perpustakaanperpust akaan negeri ini.



Hanya

ada satu di PNM Kuala Lumpur,tercatat dengan kode MS 1042! Padahal, kitab yang memuat 831 buah hadis sahih itu merupakan salah

satu sumber primer pertama di bidang hadis dalam konteks sejarah Islam Melayu.Ah,siapa peduli?



Ketidakpedulian

Kita



Mari coba bertanya, sejauh mana upaya yang sudah kita lakukan untuk melestarikan khazanah kebudayaan itu?

Seperti yang budayawan Radhar Panca Dahana katakan, tidak banyak! Kita lebih sering merasa kebakaran jenggot saat orang lain

dirasa mengusik "milik"kita. Kalau tidak,kita cuekcuek saja.



"Hanya peduli pada olahraga dan program lainnya,"

katanya. Seiring perkembangan teknologi digital ini misalnya, salah satu tren pelestarian naskah-naskah kuno adalah melalui

program digitalisasi. Sejak 2006, The British Library secara rutin mendanai sejumlah program digitalisasi naskah kuno koleksi

masyarakat di Surabaya,Kerinci, Riau, Minangkabau, Aceh, Buton, dan Garut.



Begitu pula dengan Leipzig University.

Sejak 2007 lalu, universitas di Jerman ini telah melakukan program restorasi dan digitalisasi naskah-naskah di Museum

Aceh,Yayasan Ali Hasjmy, dan sejumlah koleksi masyarakat, bekerja sama dengan Pusat Kajian Pendidikan dan Masyarakat

(PKPM).



Sudah ribuan naskah yang berhasil diselamatkan, setidaknya teks-teks digitalnya dan tentu saja sudah puluhan

ribu halaman naskah yang ditambahkan pada koleksi perpustakaan asing semisal The British Library, tapi tidak selalu menjadi

tambahan koleksi Perpustakaan Nasional karena institusi yang mewakili negara ini tidak terlibat, bahkan tahu ada

program-program itu pun sering kali tidak!



Masih untung ada Puslitbang Lektur Keagamaan, Departemen Agama, yang kini

banyak mengagendakan kegiatannya di bidang pelestarian naskah-naskah Nusantara, khususnya yang bernuansa keagamaan. Mestinya

bukan Departemen Agama.



Setidaknya Departemen Budaya dan Pariwisata atau Perpustakaan Nasional menjadi lembaga

negara terdepan menaungi kita semua. Jadi, layakkah kita merasa memiliki jika kita belum berpikir maksimal untuk menjaganya?(

*)



Oman Fathurahman

Ketua Umum Masyarakat

Pernaskahan

Nusantara

(Manassa)



http://www.seputar-indonesia.com/ edisicetak/ content/view/

265714/

http://www.seputar-indonesia.com/ edisicetak/ content/view/ 265714/

dilihat : 488 kali


   
Copyright 2005 Pustakalewi.net
All rights reserved. Protected by the copyright laws of the Indonesia
hosted and developed by Agiz YL Solution