Senin, 20 Januari 2020 14:18:50 | Home | Index Berita | About Us | Statistik | Buku Tamu | Redaksi | Webmail | Login |  

Catatan Ringan

Perkembangan Peer to Peer Lending di Indonesia
Perkembangan Peer2Peer Lending (P2P Lending), pinjam meminjam berbasis aplikasi makin subur di Indonesia. Tapi kehadirannya tentu akan menimbulkan konsekuensi positif dan negatif.


Pengunjung hari ini : 596
Total pengunjung : 18383
Hits hari ini : 4118
Total hits : 567623
Pengunjung Online : 34
Situs Berita Kristen PLewi.Net -Pekerjaan rumah besar menuinggu setelah Pilpres damai






SocialTwist Tell-a-Friend | |
Rabu, 15 Juli 2009 00:00:00
Pekerjaan rumah besar menuinggu setelah Pilpres damai
Kita bersyukur untuk

penyelenggaraan Pemilihan Presiden, 8 Juli 2009 yang lalu, berjalan dengan baik, dan pemilihan satu putaran hasil jajak

perhitungan cepat oleh lembaga-lembaga penelitian dengan kemenangan mutlak pasangan SBY-Boediono dipandang baik dan ada

tradisi yang santun terjadi di Indonesia, jika dibandingkan negara-negara yang lain di mana mereka sedang mencari identitas

yang jelas negara bangsa dalam proses berdemokrasinya --. Hal yang disyukuri adalah pilihan rakyat harus terus dihormati dan

terlihat rakyat sudah memilih dengan logika mereka masing-masing, di mana perkembangan para elit politik dan nasional lainnya,

ikut serta dalam dukung-mendukung, ternyata tidak sejalan dengan pilihan rakyat itu sendiri. Tokoh-tokoh NU dan Muhammadiyah

yang mendukung sepenuhnya pasangan JK-Wiranto ternyata massa mereka lebih banyak memilih pasangan

SBY-Boediono.



Hal yang terpenting saat ini menjadi pergumulan yang harus dinaikkan dengan sungguh-sungguh adalah

bagaimana pasangan SBY-Boediono membangun kabinet dan program kerja mereka selama 5 tahun ke depan. Ini merupakan pergumulan

yang paling penting, mengingat hari-hari ini telah digulirkan oleh partai-partai politik pendukung pasangan ini tentang

bagi-bagi kekuasaan di dalam cabinet pemerintahan mereka. Mengapa harus menjadi pergumulan yang sangat krusial menjelang

pengukuhan Presiden dan Wakil Presiden di bulan Oktober 2009 mendatang? Apakah tim seleksi SBY-Boediono mampu menterjemahkan

atau mengaplikasikan semua janji-janji politik mereka untuk kepentingan rakyat semata-mata atau demi kelangsungan kekuasaan

mereka, yatu menyenangkan kepentingan- kepentingan kekuasaan partai politik pendukung mereka. Hal ini terlihat jelas bagaimana

PKS, PKB, PPP dan PAN telah menyodorkan departemen-departem en yang mereka inginkan di media massa sebagai upaya mempengaruhi

pasangan ini untuk menaikkan posisi tawar-menawar mereka di pemerintahan ke depan. Pergumulan ini krusial, karena

tarik-menarik siapa yang duduk di sebagai pembantu Presiden dan Wakil Presiden akan mempengaruhi kinerja dan arah kebijakan 5

tahun ke depan. Apakah rakyat yang dimenangkan atau koalisi kekuasaan partai politik untuk kepentingan- kepentingan

mereka.



Menjadi gambaran pemerintahan SBY-JK pada perioden 2004=2009, yang sedang berjalan sampai Oktober 2009

mendatang, terpampang jelas bahwa Kabinet Indonesia bersatu yang disusun penuh dengan semangat kepentingan partai politik

pendukung pasangan SBY-JK yang masuh dalam susunan pembantu mereka, sehingga terlihat jelas koordinasi pemerintahan dan arah

kebijakan nasional yang dibuat terlihat jelas kurang tepat dan kurang berpihak kepada rakyat, karena kebijakan ekonomi makro

mereka lebih mementingkan pemilik modal, baik nasional terutama pemodal asing di mana pengabaian terhadap kepentingan

rakyat terlihat dengan jelas. Kebijakan-kebijakan yang dinyatakan sukses dalam kampanye politik mereka, baik Pemilihan

Legislatif maupun Presiden, adalah semu belaka, karena PHK masih terus berlangsung, penambahan angka kemiskinan terus bertambah

dan tingkat kesejahteraan masyarakat semakin berkurang. Hal ini muncul kekuatan ekonomi informal yang mampu menampung kehidupan

rakyat lebih besar kapasitasnya jika dibandingkan dengan upaya-upaya pemerintah untuk membawa perekonomian formal memberikan

kesempatan yang lebh luas kepada rakyat. Justru rakyat lebih banyak berkarya, jika dibandingkan dengan karya pemerintah dalam

Kabinet Indonesia Bersatu. Kualitas lingkungan hidup yang belum membaik, di mana kematian akibat kerusakan lingkungan masih

terus menjadi persoalan yang besar bagi rakyat di mana pengawasan dan tindakan preventif pemerintah untuk mencegah terjadinya

bencana lingkungan belum menjadi prioritas utama mereka, sehingga rakyat masih menjadi korban akibat kebijakan lingkungan hidup

yang belum memadai.



Yang harus terus digumulkan, di samping upaya-upaya konsolidasi pasangan SBY-Boediono hari-hari

ini, adalah persoalan yang muncul di lembaga legislatif hasil pemilihan legislatif oleh rakyat di mana anggota keluarga

pejabat pemerintah atau eksekutif yang mendominasi wakil-wakil rakyat yang terhormat di senayan. Persoalan syarat kepentingan

keluarga atau kroni-kroni pejabat terpampang di depan. Eforia kemenangan Partai Demokrat dan Partai-Partai Politik lainnya

dirasakan belum mampu mencerminkan perwakilan rakyat itu sendiri. Bahkan sebuah anekdot dalam sebuah pertemuan dengan

seseorang dalam perjalanan saya disebutkan bahwa akan muncul budaya sungkan dalam rapat paripurna di DPR nanti, karena

senioritas dan perasaan kekeluargaan semakin besar, karena ada paman, bibi, kemenangan dan ayah serta ibu mereka duduk bersama

dalam sidang paripurna. Sidang-sidang dalam tubuh DPR RI akan lebih menjadi duduk-duduk santi berunding persoalan-persoalan

keluarga. Ini persoalan yang belum diketahui banyak oleh rakyat. Ternyata sistem demokratis yang dijalankan belum mampu

mengekspresikan pilihan rakyat itu sendiri. Rakyat juga harus sadar dan sabat melihat hal ini, karena pilihan mereka harus

melihat dan mengamati (wait and see) selama 5 tahun ke depan. Apakah kinerja wakil-wakil mereka sudah mencerminkan kebendak

rakyat. Yang ditakutkan adalah logika anggota Dewan terhormat dengan logika rakyat akan berbeda, seperti anggota DPR RI periode

2004-2009 kali ini. Seringkali undang-undang yang dibuat tidak mencerminkan kemauan rakyat, bahkan proses-proses

perundang-undangan yang mereka lakukan syarat dengan perjuangan-perjuang an untuk kepentingan pribadi dan partai politik. Hal

ini terpampang jelas dalam persidangan kasus-kasus korupsi anggota dewan yang terhormat. Ketidakberpihakan anggaran dan belanja

pemerintah ini tercermin dengan alokasi dana yang mampu menerobos untuk pembangunan sarana dan prasarana perekonomian dan

pemukiman penduduk yang dirasakan perlu. Pembangunan dan perbaikan jalan yang lebih luas lagi, serta pembangunan jalan-jalan

bag sarana transportasi untuk mampu menggerakkan mobiltas perekonomian rakyat. Keberpiihakan perbankan khususnya pemerintah

untuk memberikan fasilitas permodalan dan bimbingan manajeman serta pemasaran bagi unit industri kecil dan menengah, sehingga

kemampuan usaha-usaha rakyat jauh lebih berdaya menghadapi persaingan global.



Kemiskinan, ketidakberdayaan dan

ketidakmampuan politik anggaran dan belanja pemerintah untuk berpihak kepada rakyat miskin merupakan tantangan gereja ke depan.

Kesempatan besar untuk membawa dan mengadakan kuasa mujizat untuk membawa kesembuhan dan perhatian-perhatian yang besar untuk

peduli terhadap rakyat miskin masih terbuka secara luas. Gereja harus melihat tantangan kesejahteraan sosial dengan membangun

basis-basis kemampuan jemaat untuk berperan aktif dalam mengasihi sesama untuk mengadakan kehidupan yang lebih sejahtera. Meski

radikalisasi meningkat dari pihak-pihak tertentu munculnya Indonesia sebagai tempat-tempat ideologi wahabi-isme, Gerakan

Ikhwanul Muslimin dan Hizbut Tahir serta kelompok-kelompok lainnya, tetapi keperbihakan dan pemberdayaan rakyat pada perbaikan

kehidupan lebih baik akan membawa benih-benih mengasihi dan melihat sosok Yesus Kristus Tuhan yang sesungguhnya. Munculnya

gerakan-gerakan radikal tidak dapat dilepaskan dari upaya-upaya memperbaiki kehidupan mereka sendiri. Dalam beberapa

penelitian, upaya-upaya radikalisasi berkaitan dengan mendapatkan sumber-sumber ekonomi yang lebihb baik pada kelompok mereka.

Gereja yang menjadi sasaran, lebh mengedepan motif ekonomi yang diselubungi dengan persoalan-persoalan agama. Ini

mengindikasikan kepada gereja untuk lebih aktif lagi berperan dalam rangka pemberdayaan dan pemenuhan kebutuhan rakyat untuk

hidup lebih baik. Gereja dipandang oleh mereka mampu bertindak lebih banyak lagi, karena kekuatan-kekuatan ekonomi mereka lebih

besar menurut mereka sehingga mereka berupaya menarik perhatian dengan intimidasi dan upaya-upaya kekerasan

lainnya.



Dalam mimbar yang berbahagian ini, tantangan untuk mewujudkan transformasi tidak dapat ditawar-tawar lagi,

untuk itu harus diupayakan dan digumuli gereja dengan lebih sungguh-sungguh lagi, seperti Seruan doa dari Tuhan Yesus bahwa

ladang sudah menguning, tetapi pekerja sedikit. Untuk itu Beliau sampaikan untuk meminta kepada Bapa yang memiliki pekerja,

sehingga harus dipercepat pelipatgandaan pekerja atau sumber-sumber daya manusia, daya dan dana gereja untuk upaya-upaya

pemberdayaan kehidupan rakyat yang lebih baik. Tuhan memberkati.



Salam Transformasi pasti terjadi!



Oleh :

Agustinus Telaumbanua

dilihat : 448 kali


   
Copyright 2005 Pustakalewi.net
All rights reserved. Protected by the copyright laws of the Indonesia
hosted and developed by Agiz YL Solution