Kamis, 23 Januari 2020 17:36:36 | Home | Index Berita | About Us | Statistik | Buku Tamu | Redaksi | Webmail | Login |  

Catatan Ringan

Perkembangan Peer to Peer Lending di Indonesia
Perkembangan Peer2Peer Lending (P2P Lending), pinjam meminjam berbasis aplikasi makin subur di Indonesia. Tapi kehadirannya tentu akan menimbulkan konsekuensi positif dan negatif.


Pengunjung hari ini : 465
Total pengunjung : 20447
Hits hari ini : 3489
Total hits : 583887
Pengunjung Online : 18
Situs Berita Kristen PLewi.Net -Perspektif "Kebebasan Pers" Indonesia Dan Rusia






SocialTwist Tell-a-Friend | |
Senin, 01 Juni 2009 00:00:00
Perspektif "Kebebasan Pers" Indonesia Dan Rusia
London - Indonesia dan Rusia untuk pertama kali mendiskusikan tentang

kebebasan pers yang dibutuhkan dalam pembangunan nasional, meskipun memiliki latar belakang yang relatif berbeda, para kuli

tinta dari kedua belah pihak mencoba mengemukakan dalam perspektif masing-masing.



Inilah salah satu tema yang

mengemuka dalam Indonesia-Russia Interfaith Dialogue yang dibuka Senin di Wisma Duta Moskow, ujar Koordinator Substansi

Interfaith M Aji Surya kepada koresponden ANTARA London, Minggu.



Dikatakannya wartawan senior dari Tempo, Kompas,

Republika dan Sinar Harapan mewakili kalangan media Indonesia. Sedangkan dari Rusia hadir wakil dari asosiasi berita Ria

Novosty, Itartas, Dewan Mufti Rusia dan lainnya.



Sementara itu Koordinator Pelaksana kegiatan Intefiath Berlian

Napitupulu, mengatakan isu seksi ini perlu mengemuka karena peran media yang sangat besar dalam mengembangkan kehidupan

bermasyarakat dimanapun juga.



Membesarkan media dengan cara yang tidak pas pada akhirnya dapat merugikan pembangunan

yang menjadi dambaan rakyat, ujarnya.



Indonesia dan Rusia merupakan negara dengan penduduk lebih dari 150 juta jiwa

dan memiliki tingkat multi etnis dan agama yang kompleks.



Karenanya, pengembangan masyarakat melalui peran media

massa terus berkembang dari waktu ke waktu.



Sama seperti Indonesia yang baru mengenyam demokrasi luas pada awal

tahun 1990-an, kini di keduanya tumbuh ratusan usaha media masa baik cetak maupun elektronik.



Dubes RI untuk Rusia

dan Belarusia, Hamid Awaludin menggarisbawahi diskusi khusus tentang kebebasan pers tidak hanya menjadi domein kalangan

pemerintah, tetapi juga insan pers dan masyarakat secara umum.



"Di Amerika sendiri , setelah munculnya kebebasan

pers kemudian berkembang teori baru mengenai pers yang bertanggungjawab," ujarnya.



Diakui, bahwa garis pembatas

antara kebebasan pers dan pers yang bertanggungjawab menjadi sangat tipis dan multiinterpretable.



Setiap negara dan

masyarakat memiliki pemahaman yang berbeda meski esesinya tidak jauh berbeda. Demikian pula yang terjadi dalam perkembangan

pers di Indonesia dan Rusia.



Melalui dialog langsung dan terbuka, maka dua masyarakat pers Indonesia dan Rusia dapat

mengartikulasikan aneka perspektif yang mereka miliki.



Sementara itu para tokoh di bidang lain seperti Prof. Dr.

Frans Magnis Suseno dan Prof. Dr. Azzumardi Azra akan mencermati dan terjun dalam pembahasan.



Meskipun mungkin tidak

banyak titik temu, dialog akan memberikan bekal yang baik bagi masa depan pengembangan pers di kedua belah pihak, sebab seperti

kata orang Jerman: Masa depan hanya (bisa) dibangun melalui komunikasi.(*Ant)

dilihat : 455 kali


   
Copyright 2005 Pustakalewi.net
All rights reserved. Protected by the copyright laws of the Indonesia
hosted and developed by Agiz YL Solution