Senin, 16 Desember 2019 20:48:12 | Home | Index Berita | About Us | Statistik | Buku Tamu | Redaksi | Webmail | Login |  

Catatan Ringan

Perkembangan Peer to Peer Lending di Indonesia
Perkembangan Peer2Peer Lending (P2P Lending), pinjam meminjam berbasis aplikasi makin subur di Indonesia. Tapi kehadirannya tentu akan menimbulkan konsekuensi positif dan negatif.


Pengunjung hari ini : 80
Total pengunjung : 2413
Hits hari ini : 1332
Total hits : 386079
Pengunjung Online : 5
Situs Berita Kristen PLewi.Net -In Memoriam: YB Mangunwijaya, Pr






SocialTwist Tell-a-Friend | |
Rabu, 25 Maret 2009 00:00:00
In Memoriam: YB Mangunwijaya, Pr

Tak terasa 10 th. telah berlalu sejak Romo Mangunwijaya, Pr meninggalkan

kita pada tanggal 10 Februari 1999, dan dimakamkan di Seminari Tinggi Kentungan, Yogyakarta. Sebagai pengagum dan penggemar

karya-karya tulis almarhum, saya mengajak Anda untuk ikut mengenang sejenak jasa dan karya beliau.



Romo Mangun

adalah satu di antara segelintir tokoh nasional dan imam Katolik yang kepribadiannya dan perjuangangannya untuk memanusiakan

manusia yang tertindas dan tersingkir perlu digugu lan ditiru, terlebih oleh generasi muda kita yang sedang membutuhkan tokoh

panutan yang berkepribadian kuat, religius, cerdas, kreatif, mandiri, berani berkorban, berani mempertahankan kebenaran, berani

menentang kekuasaan/penguasa yang korup dan menjajah wong cilik .



“Pemujaan kepada Tuhan Yang Mahabesar diungkapkan

lewat pengangkatan manusia hina ke taraf kemanusiaan yang layak, sebagaimana dirancang Tuhan pada awal penciptaan, tetapi

dirusak oleh kelahiran hukum rimba buatan manusia.”



Yusuf Bilyarta Mangunwijaya dilahirkan di Ambarawa, Jateng, pada

tanggal 6 Mei 1929. Dari tahun 1945 - 1946 beliau menjadi prajurit BKR, TKR Div.III, Bat.X, Kompi Zeni, dan dari th. 1947 -

1948 menjadi Komandan Seksi TP Brigade XVII, Kompi Kedu. Th. 1951 masuk Seminari dan ditahbiskan menjadi imam pada th. 1959.

Belajar arsitektur di ITB pada th. 1959 - 1960, dan di Sekolah Teknik Tinggi Rhein, Aachen, Jerman, pada th. 1960 - 1966.

Menjadi Fellow of Aspen Institute for Humanistic Studies, Aspen, USA pada th. 1978. Menjadi dosen luar biasa jurusan Arsitektur

di UGM dari th. 1967 - 1980. Sebagai arsitek indipenden sejak 1967 telah membangun a.l. : Kompleks Peziarahan Sendangsono;

Gedung Keuskupan Agung Semarang; Gedung Bentara Budaya Kompas-Gramedia Jakarta; Rumah Arief Budiman; Gereja Katolik di Klaten

(Maria Asumpta), di Jetis Yogya, di Cilincing, Jakarta; Markas Kowilhan II; Pertapaan Bunda Pemersatu, Boyolali; dan Rumah

sendiri di Gg. Kuwera, Mrican.



Dalam melaksanakan tugas pokoknya sebagai imam praja, Romo Mangun memilih tradisi

nabi yang bekerja dengan gugatan-gugatan untuk pertobatan individu, spontanitas religius rakyat jelata, dan partisipasi publik.

Ia minta ijin dari pimpinan keuskupan untuk tinggal di luar tembok gereja, berdampingan dengan masyarakat kelas bawah dan

berkarya langsung bersama dan untuk mereka. Cara kerja dan keyakinan ini dapat kita rasakan di hampir semua tulisannya.

Perjuangannya untuk membela hak-hak wong cilik dilaksanakannya sebagai pekerja sosial di antara penghuni di tepi kali Code,

Yogyakarta antara th 1980 - 1986; dan sebagai pembela dan pendamping warga korban pembangunan waduk Kedung Ombo di th. 1986 -

1994.



Sebagai seorang penulis, Romo Mangun sangat rajin dan produktif hingga pada saat menjelang akhir hayatnya,

ketika sedang mengikuti seminar “Meningkatkan Peran Buku dalam Upaya Membentuk Masyarakat Indonesia Baru” di Hotel Le Meridien,

Jakarta. Almarhum telah menulis sekitar 400 artikel/esai di Kompas, termasuk 2 cerpen dan 3 cerbung, 12-san surat Redaksi Yth.

dan selama lebih dari 5 tahun menulis renungan Natal dan Paskah. Beliau juga menjadi kolumnis di berbagai majalah dan koran

dari th. 1968 - 1999. Sekitar 10 novel telah ditulisnya, antara lain: Burung-burung Manyar (1980), Balada Becak(1985), dan

Balada Dara-dara Mendut (1993). Karya tulis non-fiksinya berjumlah 26, di antaranya: Ragawidya (1975), Mencari Bentuk Ekonomi

Indonesia (1982), Sastra dan Religiositas (1982), Menuju Republik Indonesia Serikat (1998), Gereja Diaspora (1999). Selanjutnya

Romo Mangun banyak menulis Kata Pengantar/Pengantar , dan Epilog untuk buku-buku yang ditulis oleh orang lain. Disamping itu

ada sekitar 16 buku yang ditulis oleh teman-teman almarhum yang berisi tanggapan-tanggapan dan tulsan-tulisan yang

dipersembahkan kepada beliau misalnya Tinjauan Kritis atas Gereja Diaspora Romo Mangun (1999), Y.B Mangunwijaya, Pejuang

Kemanusiaan (1999) dll.



Sebagai budayawan, sastrawan, arsitek dan pejuang kemanusiaan, beliau memperoleh 10 tanda

jasa/penghargaan nasional dan 4 penghargaan internasional. Salah satu buku yang dipersembahkan untuk mengenang beliau yang

menurut saya menarik untuk dibaca saat ini adalah Memuliakan Allah, Mengangkat Manusia, yang diterbitkan oleh Kanisius,

Yogyakarta, 30 Maret 1999, dan berisi 14 tulisan Romo Mangun yang pernah diterbitkan diberbagai majalah. Di antara isinya

banyak yang bisa dibaca sebagai bekal dalam Pendalaman Iman APP 2009. Berikut dua cuplikan dari buku tsb.:



“Semua

agama berdedikasi untuk memuja, memuliakan Yang Mahaagung yang disembah sebagai Yang Tertinggi, Yang Mahakuasa. Hanya tradisi

para murid Yesuslah yang untuk pertama kali dalam sejarah keagamaan secara serius memulai suatu arus baru: berpaling kepada

manusia, berichtiar mengangkat nasibnya, menyembuhkannya dari berbagai derita, sakit, kesewenang-wenangan dan eksploatasi, agar

terbebaskan dari keterbelakangannya dalam banyak dimensi. Semangat Kristiani disamakan dengan semangat perikemanusiaan,

khususnya dan terutama terhadap mereka yang sekama ini tidak dianggap, bahkan dipaksa hidup tanpa martabat dan kemanusiaan. ”

(Hal.15)



“Manusia pun harus belajar dari masa kekanak-kanakannya melalui trial-and-error dan krisis-krisisnya agar

menjadi dewasa. Kedewasaan itu mendorong dunia Kristen/Katolik untuk menyadarkan umatnya, agar sukalah di planet bumi yang

hanya satu ini, di mana nasib kita saling kait-mengait dengan semua orang dari semua agama, keyakinan serta kepercayaan, untuk

bersama menata hidup serta struktur-strukturny a; karena Tuhan memberi matahari maupun hujan kepada semua orang. Pengumpulan

dana dan hadiah-hadiah kepada kaum miskin adakah baik sekali. Akan tetapi, lebih mendasar, lebih penting, dan vital menentukan

ialah bagaimana menyusun struktur-struktur kehidupan, baik struktur cara berfikir dan cita rasa kita maupun struktur-struktur

ekonomi, politik, dsb. Universitas dapat berperan dalam perkembangan pendewasaan cara berfikir dan berperasaan kita, maupun

dalam daerah-daerah perkembangan materiil. Semoga.” (Hal.109).



Romo Mangun juga berusaha meningkatkan martabat

manusia melalui pendidikan yang dapat dinikmati oleh rakyat jelata, oleh anak-anak jalanan. Ia bukan saja berusaha membangun

sekolah yang gratis yang tidak hanyut dalam arus neokapitalisme global dan komersialisasi/ komoditisasi pendidikan, namun ia

juga bereksperimen dengan metode-metode dan kurikulum yang manusiawi melalui SD Eksperimental Mangunan yang kini dikelola oleh

Yayasan Dinamika Edukasi Dasar di Yogya.



Oleh : Vincentius Samudera - Lingk.XI, Paroki Katedral,

Pwt.



Sumber : ratnaariani. wordpress. com

dilihat : 451 kali


   
Copyright © 2005 Pustakalewi.net
All rights reserved. Protected by the copyright laws of the Indonesia
hosted and developed by Agiz YL Solution