Rabu, 15 Juli 2020 17:02:58 | Home | Index Berita | About Us | Statistik | Buku Tamu | Redaksi | Webmail | Login |  

Catatan Ringan

Beatrice Portinari
Beatrice Portinari (1266-1290) adalah seorang anak manusia biasa yang kemudian menjadi obyek imajinasi luar biasa sehingga identitas dirinya secara tidak adil akan terseret dalam status luar biasanya itu.



Pengunjung hari ini : 658
Total pengunjung : 167304
Hits hari ini : 4498
Total hits : 1806608
Pengunjung Online : 16
Situs Berita Kristen PLewi.Net -Menyongsong Era Soeharto Babak II




SocialTwist Tell-a-Friend | |
Kamis, 12 Maret 2009 00:00:00
Menyongsong Era Soeharto Babak II
Keluarga Cendana, sekarang, terang-terangan berdiri di belakang Gerindra, yang mencalonkan Letjen

(Purn) Prabowo Subianto sebagai presiden RI yang ke-7. Ini diungkapkan, Jumat (6/3), di depan massa di muka rumah orangtua

Soeharto di Kemusuk, Argomulyo, Sedayu, Kabupaten Bantul, DIY, oleh Probosutedjo, adik tiri Soeharto, yang sering menjadi juru

bicara keluarga Cendana.



Probosutejo sudah pernah mengeluarkan pernyataan serupa, yang kontan ditanggapi mantan

Ketua MPR Amien Rais, waktu itu. Menurut Amien, dukungan Cendana malah merugikan Prabowo, karena akan mempersempit dukungan

bagi dia (Okezone, 23/1).



Mengapa? "Keluarga Cendana mewakili masa lalu. Padahal Prabowo, yang dikesankan dalam

iklan TV, mau mengubah Indonesia, mau membuat terobosan-terobosan baru. Saya kira, reformasi sudah mengucapkan selamat tinggal

kepada Orde Baru. Sekarang, malah ada tokoh yang mengajak Prabowo ke zaman baheula. Ini akan merugikan dia," kata mantan Ketua

MPR, yang ikut memotori gerakan menjatuhkan Presiden Soeharto, sebelas tahun lalu.



Pernyataan Probosutejo memang

penuh kontroversi. Dalam kampanye di Kemusuk, ia menyatakan, dalam tiga tahun setelah Prabowo menjadi presiden, setiap rakyat

akan memiliki tanah minimal dua hektare (Harian Yogya, 7/3). Padahal, keluarga besar Prabowo sendiri menguasai lebih dari tiga

juta hektare tanah dari Aceh sampai Papua.



Janji pembagian tanah seluas dua hektare buat setiap keluarga tani,

mustahil dapat diwujudkan. Kecuali kalau Prabowo dan adiknya, Hashim Djojohadikusumo, bersedia membagi jutaan hektare tanah

yang mereka kuasai dalam bentuk perkebunan kelapa sawit, teh, jagung, jarak, akasia, padi, dan aren, serta ratusan ribu hektare

hutan pinus, kepada jutaan petani.



Bagaikan zamrud di khatulistiwa, tanah-tanah pencetak dolar bagi kedua

bersaudara Djojohadikusumo tersebar dari Aceh ke Papua. Di sekeliling Danau Lot Tawar di Aceh, mereka menguasai konsesi PT

Tusam Hutani Lestari, seluas 96.000 ha. Konsesi itu sumber kayu pinus bagi pabrik PT Kertas Kraft Aceh (KKA) di Lhokseumawe. Di

Sumatera Barat dan Jambi, mereka menguasai perkebunan kelapa sawit seluas lebih dari 30.000 ha di bawah PT Tidar Kerinci Agung.





Di Kaltim, mereka telah mengambil alih konsesi hutan PT Tanjung Redep HTI seluas 290.000 ha, yang dulu dikuasai

Bob Hasan. Juga di Kaltim, mereka telah mengambilalih konsesi hutan seluas 350.000 ha dari Kiani Group yang dulu juga dikuasai

Bob Hasan dan mengganti namanya menjadi PT Kertas Nusantara, berkongsi dengan Luhut B. Panjaitan, mantan Menteri Perdagangan

pada era Habibie. Masih di provinsi yang sama, mereka menguasai konsesi hutan PT Kartika Utama seluas 260.000 ha, PT Ikani

Lestari seluas 260.000 ha, serta perkebunan PT Belantara Pusaka seluas 15.000 ha lebih.



Bergeser ke Indonesia

Timur, di Pulau Bima (NTB), mereka memiliki budi daya mutiara serta perkebunan jarak seluas seratus hektare untuk bahan bakar

nabati. Sedangkan di Kabupaten Merauke, Papua, mereka berencana membuka Merauke Integrated Rice Estate (MIRE) seluas 585.000

ha. Di Papua, mereka juga mengeksplorasi blok gas Rombebai di Kabupaten Yapen dengan kandungan gas lebih dari 15 triliun kaki

kubik.





Konsesi Migas



Semua ekspansi bisnis itu serta kampanye Gerindra dibiayai dari keuntungan

Hashim dari bisnis migas. Pada masa kejayaan Soeharto, Hashim dan Arifin Panigoro diajak sang presiden bermuhibah ke

negara-negara eks Uni Soviet yang kaya migas, seperti Kazakhstan dan Azerbaijan , dan membeli konsesi-konsesi migas di sana .





Krisis moneter yang disusul jatuhnya Soeharto, membuat para keluarga dan kroni Istana harus segera melunasi utang

mereka yang dikelola BPPN. Arifin melepas ladang migasnya di Asia Tengah, 2000, sedangkan Hashim baru enam tahun kemudian

melepas ladang migasnya di Kazakhstan , yang dikuasainya melalui Nations Energy Co. yang bermarkas di Calgary , Kanada. Aset

itu dijualnya kepada CITIC Group (RRT) seharga US$ 1,91 miliar, atau Rp 17,2 triliun (Trust, 12-18 November 2007, hal. 11;

Swasembada, 24 November.-3 Desember. 2008, hal. 113-114, 116; Globe Asia, Desember. 2008, hal. 49).



Pelepasan

ladang migas Kazakhstan tidak mengakhiri kiprah Hashim di bidang migas, sebab di Azerbaijan ia masih memiliki ladang migas yang

juga dioperasikan oleh Nations Energy Co. Tahun lalu, ladang itu pun ia lepas, karena "harganya bagus", kata Hashim kepada

Swasembada.



Hasil penjualan ladang migas di Kazakhstan saja lebih dari cukup untuk membiayai kampanye Gerindra.

Saldo partai ini paling besar di antara 38 parpol peserta Pemilu 2009, yakni Rp 15 miliar (Seputar Indonesia, 7/3).





Keluarga besar Djojohadikusumo ikut mendukung kampanye Gerindra. Selain Hashim, sebagai penyandang dana utama, jabatan

Bendahara dipegang oleh keponakan Prabowo, Thomas Djiwandono. Putra sulung mantan Gubernur BI, Soedradjad Djiwandono, abang

ipar Prabowo, juga menjabat sebagai Direktur Comexindo International (CI) milik Hashim. Dengan investasi sebesar US$ 6 juta, CI

membawahi perkebunan karet, teh, dan jagung seluas total 1.200 ha di Jabar dan Minahasa (Sulut), sementara 21.000 ha sedang

diurus di Kaltim. Juga ratusan ribu hektare perkebunan enau untuk produksi gula dan etanol sedang dirintis di Minahasa dan

Papua (Swasembada, 24 November-3 Desember 2008).



Jadi, pertanyaannya sekarang, seandainya Prabowo berhasil meraih

kursi RI 1, bagaimana mencegah rezim mendatang tidak mengulangi kesalahan era Soeharto, waktu negara dikelola sebagai imperium

bisnis keluarga besar presiden?



Penulis adalah pengarang buku Korupsi Kepresidenan: Reproduksi Oligarki Berkaki

Tiga: Istana, Tangsi, dan Partai Penguasa (LKiS, Yogyakarta , 2006).



George Junus Aditjondro, Ph.D, Pengamat dan

peneliti sosial, dosen tamu Universitas Sanata Dharma, Yogyakarta

dilihat : 494 kali


   
Copyright 2005 Pustakalewi.net
All rights reserved. Protected by the copyright laws of the Indonesia
hosted and developed by Agiz YL Solution