Rabu, 23 September 2020 04:24:53 | Home | Index Berita | About Us | Statistik | Buku Tamu | Redaksi | Webmail | Login |  

Catatan Ringan

Beatrice Portinari
Beatrice Portinari (1266-1290) adalah seorang anak manusia biasa yang kemudian menjadi obyek imajinasi luar biasa sehingga identitas dirinya secara tidak adil akan terseret dalam status luar biasanya itu.



Pengunjung hari ini : 171
Total pengunjung : 219112
Hits hari ini : 1036
Total hits : 2281029
Pengunjung Online : 14
Situs Berita Kristen PLewi.Net -Meredefinisi Konsep Pahlawan dan Nasionalisme dalam Konteks Masyarakat Kontemporer




SocialTwist Tell-a-Friend | |
Rabu, 31 Desember 2008 00:00:00
Meredefinisi Konsep Pahlawan dan Nasionalisme dalam Konteks Masyarakat Kontemporer
Fenomena menarik sedang terjadi dalam ruang

politik Indonesia. Menjelang pemilu 2009, banyak partai politik berlomba mencitrakan dirinya lewat media massa, salah satunya

lewat dunia periklanan. Salah satu yang gencar akhir-akhir ini adalah PKS. Tak tanggung-tanggung, PKS mengusung nama-nama besar

dalam iklannya seperti KH Hasyim Asy’ari, KH Ahmad Dahlan, M.Hatta, dan Ir. Soekarno. Bahkan tak lupa, simbol kekuasaan orde

baru, Soeharto turut disebut sebagai Guru Bangsa.



Sebenarnya, dari segi teknis, tak ada yang salah, dari iklan

“layanan politik” ini. Tapi keberadaan PKS sebagai rival partai besar lain yang tokoh-tokohnya diusung dan, dan latar belakang

ideologis PKS membuat pihak lain seperti kebakaran jenggot. PDIP dengan berberat hati menanyakan kenapa Bung Karno ditampilkan

dalam iklan politik sebuah partai dengan corak aliran tertentu. Begitu pula PKB yang walaupun cuek, tetap saja tidak rela

tokohnya ‘dipinjam’ orang lain.



Dari peristiwa ini, tergelitik kembali keinginan penulis untuk meredefinisi konsep

“pahlawan” dalam tataran wacana dan praksis. Pahlawan dalam konteks masyarakat Indonesia identik dengan pejuang kemerdekaan,

orang yang gagah berani, pencinta tanah air, dan identik pula dengan pengorbanan nyawa. Kata pahlawan berasal dari bahasa

sansekerta, phala berarti buah, dan wan merujuk kepada penyandangnya. Secara semantik berarti orang yang menghasilkan suatu

karya bagi bangsa dan negaranya. Dalam bahasa inggris, hero sendiri berasal dari bahasa Yunani heros yang merujuk pada demigod

(manusia setengah dewa).



Kita patut bersyukur, karena tidak semua negara mempunyai individu-individu yang disebut

sebagai pahlawan nasional. Jumlah pahlawan yang kita miliki, (sampai 10 November 2006 ada 138 pahlawan nasional), bisa dibilang

sangat banyak jika dibandingkan dengan Negara lain. Terasa normal karena negara kita sedikit dari negara-negara di dunia ini

yang kemerdekaannya direbut melalui perjuangan. Tapi sekaligus terasa janggal jika melihat Negara-negara lain yang jumlah

pahlawan nasionalnya tidak sebegitu banyak. Filipina tidak lebih dari lima orang, tapi siapa yang meragukan kompetensi

nama-nama seperti Jose Rizal dan Thomas Aquino sebagai pahlawan nasional. Bahkan Australia sampai saat ini tidak punya pahlawan

nasional.



Bagaimana mendefinisikan pahlawan itu sendiri, sangat tergantung pada aspek-aspek yang tentunya tidak

bersifat linier. Ada beberapa aspek yang harus diperhatikan. Mulai dari aspek kontekstual, konsensus (kesepakatan bersama),

diferentiatif (perbedaannya dengan bukan-pahlawan), bahkan manipulative (untuk kepentingan tertentu).



Aspek

genealogis dari konsep pahlawan itu sendiri sangat luas spektrumnya. Kemunculan pertama dari literature barat memang

menunjukkan bahwa aspek religious sangat kental. Konsep kepahlawanan identik dengan keilahian menjadi corak awal penyebutan

pahlawan dalam mitologi skandinavia kuno. Di belahan bumi lain, agama-agama samawi secara historis menurunkan tokoh-tokoh agama

sebagai pahlawan, sekaligus menjadi mitos tersendiri. Kemudian mulailah sejak abad pencerahan para intelektual dipuja-puja

sebagai pahlawan. Di Negara-negara yang sedang bergelut dengan imperialism, seperti Indonesia, para pejuang kemerdekaan

diangkat sebagai pahlawan nasional.



Karena itulah, konsep kepahlawanan dipahami sangat berhubungan dengan konsep

nasionalisme (rasa kebangsaan). Berbeda dengan konsep kepahlawanan yang bisa tumbuh dalam berbagai lintas ruang dan waktu,

konsep nasionalisme tumbuh setelah terbentuknya Negara-bangsa modern yang ditandai dengan batas-batas kedaulatan yang jelas.

Tapi konsep nasionalisme jelas tidak akan bisa menegasi primordialisme atau rasa kedaerahan secara absolut, karena nasionalisme

mendapat cikal bakalnya dari sana.



Perasaan sebagai imagined community (komunitas yang dbayangkan), walaupun

tersekat oleh batas-batas kedaerahan tertentu, melebur prasangka-prasangka etnisitas maupun kesukuan menjadi rasa kebangsaan

dan nasionalisme berdasarkan kepentingan bersama. Hal itulah yang menjadi keyakinan dari perjuangan-perjuangan bersifat

kedaerahan yang kemudian diakui sebagai cikal bakal perjuangan merebut kemerdekaan di tingkat nasional. Perang Padri, perang

Diponegoro, perlawanan Cut Nyak Dien, Imam Bonjol, Pattimura, dan tokoh-tokoh lokal lain diapresiasi sebagai satu rangkaian

holistik perjuangan mendirikan Negara kesatuan Republik Indonesia.



Dan satu hal yang sangat penting, pahlawan memang

harus dicari, tapi tak boleh dinanti. Mitologi khas Jawa dan keyakinan lain mengenai ratu adil yang akan datang sebagai

juruselamat bangsa tentu bisa digunakan sebagai mitos yang terus memupuk harapan masyarakat dalam keadaan krisis paling buruk

sekalipun. Tapi secara aplikatif dan paradigma pemikiran, konsep mengenai pahlawan besar yang datang harus dieliminir mengingat

sangat tipis perbedaaanya dengan konsep fatalism.



Pahlawan bukan hanya harus berjuang, tapi tempat bagi keberadaan

pahlawan itu sendiri dalam masyarakat kontemporer harus diperjuangkan. Kenapa harus diperjuangkan? Karena sistem masyarakat

sekarang tidak memungkinkan lagi munculnya tokoh yang benar-benar berkualitas dan berkompetensi untuk menjadi pahlawan

sebenarnya. Sekat-sekat dalam masyarakat informasi modern sudah saling berhimpitan serta overload dengan berbagai informasi dan

memunculkan ketidakmampuan masyarakat memfilter informasi yang diterimanya Akibatnya, tidak bisa dibedakan mana yang sakral

atau profan, mana yang semu atau riil, mana yang rasional atau irasional. Bisa saja bintang sinetron atau pemenang kontes

Indonesian idol, yang akan diakui sebagai pahlawan kita selanjutnya.



Perubahan paradigma dan pola pikir masyarakat

juga harus diubah untuk melestarikan konsep pahlawan ini. Pahlawan tidak lagi identik dengan kemampuan fisik maupun seberapa

banyak darah yang ditumpahkan untuk membela kebenaran. Pahlawan masa kini sangat tergantung dari apa dan bagaimana dia

mendefinisikan konsep “penjajah” itu sendiri dan kemudian berusaha melawannya secara kolektif, bukti bahwa pahlawan ini mampu

mengatasi salah satu patologi modernitas: individualistis dan egoisme struktural.



Konsep penjajah sekarang, tentu

berafiliasi dengan memperjuangkan kebebasan. Karena itulah pahlawan masa kini adalah seorang freedom fighters. Pembeasan dari

setiap ketidakadilan, pembodohan, kemiskinan, dan ketidakhirauan terhadap masalah-masalah sekitar kita. Pahlawan juga tidak

harus seorang individu yang selalu menonjol, tapi juga setiap individu yang mampu memberdayakan kelompok masyarakat ke tataran

kualitas hidup yang lebih baik.

Banyak contoh yang bisa kita jadikan framework dalam melihat bagaimana sosok pahlawan di

masa kini. Muhammad Yunus dari Bangladesh dengan perjuangan memberdayakan usaha kaum papa, meski sepi publisitas internasional,

justru terbukti sangat efektif meingkatkan kualitas hidup masyarakat di sana. Meski tidak diakui pemerintah setempat, Muhammad

Yunus justru mendapat apresiasi besar dari dunia internasional dengan nobel perdamaian yang diterimanya.

Inilah

karakteristik khusus dari pahlawan di masa post-nasionalis, ketika nasionalisme diasosiasikan dengan nilai-nilai universal,

‘nationalism is humanity’. Nilai-nilai yang diperjuangkan semakin universal dan semangat perjuangannya akan melewati

batas-batas ruang dalam konteks globalisasi dan internasionalisasi. Mau tidak mau, nasionalisme sebagai sebuah paradigm

pemikiran kembali dipertanyakan, apakah akan membatasi ranah perjuangan pahlawan dengan definisi kebangsaan tertentu, atau

justru menjadi katalisator munculnya pahlawan. Menjadi tantangan tersendiri pula bagi masyarakat dan pemerintah setempat,

apakah mereka mampu menerima eksistensi seorang yang tidak lagi membawa paham kebangsaan yang sempit. Jadi, kita semua bisa

menjadi pahlawan yang sebenarnya, heroism in human affair…

dilihat : 510 kali


   
Copyright © 2005 Pustakalewi.net
All rights reserved. Protected by the copyright laws of the Indonesia
hosted and developed by Agiz YL Solution