Selasa, 26 Mei 2020 13:02:15 | Home | Index Berita | About Us | Statistik | Buku Tamu | Redaksi | Webmail | Login |  

Catatan Ringan

Perkembangan Peer to Peer Lending di Indonesia
Perkembangan Peer2Peer Lending (P2P Lending), pinjam meminjam berbasis aplikasi makin subur di Indonesia. Tapi kehadirannya tentu akan menimbulkan konsekuensi positif dan negatif.


Pengunjung hari ini : 678
Total pengunjung : 137368
Hits hari ini : 6341
Total hits : 1412533
Pengunjung Online : 14
Situs Berita Kristen PLewi.Net -SIAPAKAH KRISTEN FUNDAMENTALIS ITU?






SocialTwist Tell-a-Friend | |
Kamis, 20 November 2008 00:00:00
SIAPAKAH KRISTEN FUNDAMENTALIS ITU?
Kebanyakan orang Kristen di Indonesia

tidak mengenal Kristen Fundamentalis. Yang dikenal adalah kaum Injili, Liberal, Pantekosta, dan Reform atau Protestan. Tahun

70-an di mata sebagian orang Kristen Indonesia, yang alkitabiah adalah yang Injili sedangkan yang Liberal itu salah tanpa

pengertian.



Tahun 80-an setelah Stephen Tong mendirikan Gerakan Reformed, sebagian orang Indonesia yang kurang

informasi berpikir yang berbau Reform itulah yang alkitabiah. Sesungguhnya siapakah Fundamentalis, Liberal, Injili, dll. itu?

Apakah ada perbedaannya jika kita menjadi salah satu dari mereka? Ikutilah nasehat Yakobus, “tetapi apabila di antara kamu ada

yang kekurangan hikmat, hendaklah ia memintakannya kepada Allah, yang memberikan kepada semua orang dengan murah hati dan

dengan tidak membangkit-bangkit (tidak menegur), maka hal itu akan diberikan kepadanya (1:5).



Sejak zaman

renaissance, setelah kekristenan pernah dikagetkan oleh kesesatan Gereja Roma Katolik (GRK) yang sangat parah, ada kehausan

akan kebenaran yang alkitabiah. Pada saat itu muncul kelompok puritan, dan berbagai kelompok yang tendensi theologisnya adalah

menuju ke kebenaran Alkitab yang murni. Semua yang dikatakan Alkitab diyakini sebagai kebenaran absolut. Inilah KRISTEN

FUNDAMENTALIS itu.



Tetapi pada akhir abad ke-19, muncul kelompok yang tidak lagi percaya bahwa Alkitab adalah

kebenaran absolut yang tidak ada salah. Fenomena yang terhebat adalah terbitnya Alkitab bahasa Yunani Critical Text oleh Brooke

Foss Westcott (Bishop Gereja Anglican) dan John Anthony Hort pada tahun 1881, yang isinya penuh kesalahan tetapi diyakini

sebagai yang lebih tepat. Menurut pengeditnya kesalahan memang pada sang penulis (Matius, Paulus dll.), bukan masalah mutu

manuskrip yang mereka jadikan patokan. Sejak saat itu Liberalisme yaitu “sikap tidak mempercayai Alkitab sebagai kebenaran

absolut yang tidak ada salah” melanda Eropa. Angin itu bertiup kencang dan yang pertama kali ditumbangkan adalah para theolog

Jerman.



Adu argumentasi yang tidak ada habis-habisnya antara kelompok FUNDAMENTALIS dan LIBERAL terus berlanjut dan

makin hari makin sengit. Tahun 1909, dua orang kaya membiayai sebuah komisi yang diketuai oleh beberapa orang dan terakhir oleh

R.A.Torrey, menyusun argumentasi mewakili kelompok FUNDAMENTALIS terhadap LIBERAL, menghasilkan 12 volume buku yang berjudul

The Fundamentals. (Buku ini ada di STT GRAPHE). Pada saat itu oleh kedua orang kaya itu dicetak 300.000 set dan dibagi secara

gratis kepada pengkhotbah siapa saja yang menginginkannya. Peperangan doktrin tentu semakin seru dan bukan hanya di Eropa dan

Amerika melainkan juga hingga di ladang misi.



Tahun 1947, Harold Ockenga, Rektor pertama Fuller Theological

Seminary, mendirikan kelompok yang ia sebut INJILI, katanya untuk menjembatani kelompok Fundamental dengan Liberal. Sejak saat

itu muncullah kelompok INJILI yang memposisikan diri di tengah-tengah. Karena posisinya di tengah, maka kadang ia seperti

Fundamental dan kadang ia seperti Liberal (berubah-ubah warna seperti bunglon). Kelompok Injili ini maju pesat karena didukung

oleh Billy Graham yang pada saat itu sudah sangat tergiur untuk menjadi mashyur. Selain itu juga didukung oleh Carl F.H. Henry,

yang mendirikan majalah Christianity Today pada tahun 1955. Kelompok ini berkembang terutama disebabkan oleh sikapnya yang

seperti bunglon. Ia bisa diterima oleh semua kelompok karena fleksibilitasnya yang tinggi.



Sementara itu Gerakan

Kharismatik dimulai pada tahun 1886. Seorang Pendeta Baptis yang bernama Richard G. Spurling dari Cokercreek, Tennessee, merasa

tidak puas dengan organisasi gerejanya sehingga ia keluar dan berusaha mendirikan gereja sendiri. Setelah ia keluar, ia

memimpin sebuah kebangunan rohani yang disertai bahasa lidah. Kemudian ia berhasil mendirikan gereja yang disebut Church of God

(Sidang Jemaat Allah). Tahun 1898 Charles F. Parham, yang dipanggil bapak Gerakan Pentakosta Modern, mendirikan rumah

penyembuhan Betel. Kemudian tahun 1900 dia juga mendirikan Betel Bible College di

Topeka, Kansas. Sekolah Alkitab inilah

yang dengan efektif menyebarkan gerakan kharismatik bersama semua kelompoknya yang percaya masih ada wahyu tambahan sesudah

Alkitab (Wahyu 22:21).



Kesalahan terbesar kelompok ini ialah mengejar Extra Biblical Authority (otoritas di luar

Alkitab), yaitu mimpi, bahasa lidah, nubuatan dan berbagai fenomenon. Mereka percaya Allah masih menurunkan wahyu sesudah Wahyu

22:21. Dengan demikian berarti mereka tidak percaya bahwa Alkitab adalah satu-satunya firman Allah. Mereka tidak percaya bahwa

diluar Alkitab tidak ada firman Allah baik tertulis maupun lisan.



Kelompok Reform atau Presbyterian adalah kelompok

yang dimulai oleh John Calvin. Kelompok Refrom dan Lutheran bisa dilihat sebagai kelompok yang sama yaitu kelompok Protestan

karena kedua-duanya melakukan protes dan keluar dari GRK dalam waktu yang hampi bersamaan, atau setidaknya dalam suasana yang

sama. Pada awal reformasi hampir semua theolog Reform maupun Lutheran berpandangan fundamental. Tetapi fakta menunjukan bahwa

di Eropa dan Amerika kelompok Lutheran dan Reform adalah yang paling cepat menjadi Liberal. Boleh dikatakan bahwa Liberalisme

itu muncul dari Lutheran dan Reform. Mengapa?



Penyebab sebegitu lemahnya kelompok Reform dan Lutheran dalam

menghadapi godaan penyesatan itu sangat mungkin karena mereka hanya mereformasi Doktrin Keselamatan (soteriology) tanpa

mereformasi Doktrin Gereja (Ecclesiology). Padahal kesesatan Doktrin Keselamatan GRK itu dikarenakan kesesatan Doktrin

Gerejanya. Tetapi baik Calvin maupun Luther sama-sama masih tetap memungut banyak tradisi GRK misalnya baptisan bayi dan

baptisan percik serta sistem tata-ibadah yang memakai Liturgi.



Baptisan percik sekalipun salah tetapi tidak sebahaya

baptisan bayi (paedo-baptis). Baptisan bayi menyebabkan orang yang belum lahir baru menjadi anggota gereja sejak bayi dan

bertumbuh sebagai anggota gereja. Kalau semua orang telah menjadi anggota gereja melalui kelahiran jasmani atau Kristen

keturunan, tentu pasti suatu hari gereja akan dipimpin oleh orang yang belum lahir baru, dan sekolah theologi akan menghasilkan

banyak theolog tanpa lahir baru (theolog Kristen keturunan).



Sesuai dengan berjalannya waktu, makin hari akan makin

banyak theolog atau pemimpin gereja Reform, Lutheran dan Anglikan (episkopal), atau yang membaptis bayi, yang menjadi

Liberal.



Kelompok Baptis terhitung sebagai kelompok yang memiliki resistensi tinggi terhadap Liberalisme.

Kelihatannya rahasianya adalah tradisi ana-baptist yang menjadi sokoh-gurunya. Tradisi Ana-baptist telah berumur dua ribuan

tahun. Sejak gereja dirusak dengan sistem Katolik (universal/Am), sekelompok orang yang tidak rela membiarkan gereja dirusak

dari dalam, memisahkan diri. Mereka mempertahankan kemurnian kekristenan sambil mengorbankan segala-galanya.



Gereja

Roma Katolik sangat membenci mereka karena mereka membaptis ulang orang dari GRK yang bertobat. Mereka diburu lebih dari

memburu binatang. Dan junmlah mereka yang telah dibunuh tidak sanggup dihitung. Bahkan pada masa reformasi, mereka juga dibunuh

oleh para reformator, terutama Zwingli. Para reformator menganiaya ana-baptist itu karena ana-baptist berkata bahwa mereka

masih belum benar sehingga orang Protestan yang mau bergabung dengan ana-baptist diminta dibaptis ulang. Atas hal ini para

reformator bukannya sadar atas kesalahan mereka, malah tersinggung dan membunuh banyak ana-baptis. John Bunyan, penulis buku

Perjalanan Seorang Musafir, dipenjarakan oleh gereja Anglikan selama 12 tahun, hingga meninggal, hanya karena ia mengkhotbahkan

pengajaran yang bertentangan dengan gereja Anglikan, yaitu tidak oleh membaptis bayi dan gereja harus dipisahkan dari negara.

Setelah kebebasan beragama dijamin baik di Eropa maupun di Amerika, ana-baptist keluar dan mendirikan gereja yang bernama

BAPTIS.



Akhirnya, kelompok gereja Baptislah yang kuat mempertahankan Fundamentalisme, yaitu sikap mempertahankan

Alkitab tanpa kompromi. Namun demikian pada abad 20 ini banyak juga gereja Baptis yang terhanyut oleh badai liberalisme.

Terlebih lagi di Indonesia, dimana banyak gereja Baptis kehilangan hakekat inti jati dirinya. Namun kalau theolog Baptis saja

terhanyut, anda bisa bayangkan apa yang terjadi dengan kelompok lain, terutama yang tidak mereformasi Doktrin

Gerejanya.



Fundamentalis tentu bukan hanya orang Baptis saja. Dari kelompok lain juga ada, cuma lebih banyak dari

kelompok Baptis terutama baptis yang alkitabiah. Bob Jones, Sr. pendiri Bob Jones University adalah pendekar Fundamentalis dari

gereja Methodis. Dr. Timothy Tow di singapore adalah Fundamentalis dari gereja Bible Presbytarian, dll.



Menurut

hemat saya, tidak ada kelompok Kharismatik yang tergolong ke dalam fundamentalis karena tidak mungkin benar untuk percaya bahwa

Alkitab satu-satunya firman Allah sambil mempercayai adanya wahyu tambahan di luar Alkitab. Mereka tidak sadar bahwa dengan

mempercayai adanya nubuatan sesudah Alkitab selesai, itu artinya percaya bahwa ada firman Allah di luar Alkitab. Biasanya

mereka akan dengan lugu berargumentasi bahwa I Kor.14:1 suruh bernubuat, tanpa menyadari bahwa pada saat surat itu ditulis

Alkitab belum final, atau Wahyu 22:21 belum ditulis.



Di Indonesia, Kristen Fundamentalis hampir tidak pernah

dikenal. Dr. Rod Bell, Sr. (ketua Fundamental Baptist Fellowship) bahkan berkata kepada Dr. Suhento Liauw, “kalau nama

Fundamentalis tidak harum di negara anda, pakai istilah lain saja.” Tetapi Dr. Liauw tetap memakai istilah Fundamentalis dan

mempopulerkan istilah Kristen Fundamentalis karena percaya bahwa orang-orang di Indonesia sudah cukup pintar dan pasti dapat

membedakan dan tahu bahwa Fundamentalis Kristen itu adalah yang sangat teguh berpegang pada Alkitab, dan kalau seseorang sangat

teguh berpegang pada Alkitab itu pasti tidak mungkin menculik orang seperti yang dilakukan Abu Sayaf. Justru karena sangat

memegang teguh Alkitablah kaum Fundamentalis telah dianiaya sepanjang masa oleh berbagai kelompok yang tersinggung oleh

ketegasan mereka.



Sepulang dari USA, Saya memperkenalkan Kristen Fundamentalis yang berpegang teguh pada Alkitab.

Alkitab adalah kebenaran firman Tuhan yang absolut. Diluar Alkitab tidak ada firman Tuhan baik lisan maupun tertulis. Orang

Kristen lahir baru harus memiliki kerinduan untuk mematuhi Alkitab apapun resikonya. Inilah seruan Dr. Liauw diantara begitu

banyak prinsip yang diperjuangkan oleh kaum Fundamentalis.



Tidak ada maksud untuk menyinggung pihak manapun,

melainkan hanya dengan tanpa rasa takut mengungkapkan kebenaran. Dan jika kebenaran itu ternyata membuat sebagian orang

tersinggung, yang dapat kami katakan hanyalah “mohon maaf, yang sebesar-besarnya.” Itu adalah pendapat kami. Apakah

mengemukakan pendapat itu sebuah kesalahan? Apakah ada negara yang melarang orang berpendapat? Kalau memakai akal sehat,

seharusnya tidak ada.



Siapakah Kristen Fundamentalis?

Orang yang hanya percaya kepada Alkitab dan memegang

teguh Alkitab tanpa kompromi, berapapun harga yang harus dibayar untuk itu.





Oleh: Suhento Liauw,D.R.E.,

Th.D

Rektor GRAPHE INTERNATIONAL THEOLOGICAL SEMINARY (GITS)

Gembala Gereja Baptis Independen Alkitabiah (GBIA)

GRAPHE



Sumber: http://kristenfundamental.blogspot.com/2008/11/siapakah-kristen-fundamentalis-itu.html

dilihat : 477 kali


   
Copyright © 2005 Pustakalewi.net
All rights reserved. Protected by the copyright laws of the Indonesia
hosted and developed by Agiz YL Solution