Selasa, 13 April 2021 06:15:02 | Home | Index Berita | About Us | Statistik | Buku Tamu | Redaksi | Webmail | Login |  

Catatan Ringan

Beatrice Portinari
Beatrice Portinari (1266-1290) adalah seorang anak manusia biasa yang kemudian menjadi obyek imajinasi luar biasa sehingga identitas dirinya secara tidak adil akan terseret dalam status luar biasanya itu.



Pengunjung hari ini :
Total pengunjung :
Hits hari ini :
Total hits :
Pengunjung Online :
Situs Berita Kristen PLewi.Net -”Kami Bisa!” Kata Para Pemimpin Timur Tengah pada Obama




SocialTwist Tell-a-Friend | |
Sabtu, 15 November 2008 00:00:00
Amman – Para pemimpin

Timur Tengah memberi selamat kepada Barack Obama atas kemenangan bersejarahnya sebagai presiden AS ke-44. Banyak orang

mengantisipasi bahwa administrasinya akan mengantarkan ke kebijakan baru yang segar, yang akan membawa perdamaian ke wilayah

yang tenggelam dalam pergolakan hebat dalam delapan tahun terakhir pemerintahan George W. Bush.



Beberapa pemimpin

Arab, yang secara tradisional bersekutu dengan Washington, menyambut kemenangan Obama, seperti yang diharapkan mereka lakukan

jika kandidat partai Republik John McCain yang menang.



Tapi pada tingkat tak resmi, ada perasaan lega – sekalipun

hati-hati – bahwa Gedung Putih akan, untuk empat tahun mendatang, menjadi tuan rumah presiden Afrika-Amerika yang kampanyenya

selama 22 bulan menunjukkan dia sebagai penasehat perdamaian dan dialog dengan niat untuk menyelesaikan

konflik.



Kata-kata Obama dalam pidato kemenangannya memberikan dorongan signifikan kepada kaum optimis yang punya

harapan tinggi bahwa dia akan lebih ramah kepada negara-negara di dunia dan mungkin negara-negara Arab.



Para

pendukung Obama ini dalam beberapa bulan terakhir telah dikritik oleh banyak kaum skeptis Arab yang yakin Obama tidak akan

membawa perubahan terhadap apa yang mereka katakan sebagai kebijakan AS—Timur-Tengah yang telah berurat berakar lebih condong

ke Israel.



Tapi Obama memberikan kata-kata meyakinkan yang relevan kepada dunia: “Semua yang menonton malam ini dari

luar pantai kita, dari parlemen-parlemen dan istana-istana, hingga mereka yang berkumpul di depan radio di sudut dunia kita

yang terlupakan: Cerita kita luar biasa, tapi tujuan kita sama. Awal baru kepemimpinan Amerika berada di

tangan.”



Dari jam-jam awal hari Selasa di wilayah itu, orang-orang sudah terpaku ke televisi ketika saluran berita

populer Arab menawarkan liputan langsung dari saat poling dibuka sampai kedua kandidat Amerika itu memberikan pidato kemenangan

dan konsesi.



Para kritikus mengatakan minat dalam pemilihan AS ini belum pernah terjadi sebelumnya, berkat kerusakan

yang tak ada bandingnya yang dibawa administrasi George W. Bush ke wilayah itu sebagai akibat “perang melawan teror” dan dengan

menekan negara Arab sekutu AS untuk menyerah kepada kebijakan militernya yang tidak populer.



Dalam pesan selamatnya

kepada Obama, beberapa pemimpin Arab mengatakan mereka berharap presiden Demokratik terpilih akan terlibat secara positif dalam

membawa solusi perdamaian terhadap konflik Palestina-Israel.



Presiden Mesir Husni Mubarak mengatakan: “Kami menunggu

partisipasi konstruktif Anda terhadap solusi persoalan Palestina dan realisasi perdamaian yang adil dan menyeluruh, yang

merupakan syarat utama untuk keamanan dan stabilitas di Timur Tengah.”



Presiden Palestina Mahmoud Abbas, yang telah

tersandung melalui negosiasi damai dengan Israel sejak Bush mengumumkan kembali mereka di Annapolis setahun lalu, nyaris

menggemakan kata-kata Mubarak kepada Obama.



Abbas mengatakan bahwa dia berharap presiden baru itu akan “mempercepat

upaya untuk mencapai perdamaian, terutama karena resolusi masalah Palestina dan konflik Arab-Israel merupakan kunci perdamaian

dunia.”



Israel tampaknya lebih percaya diri bahwa administrasi Obama tidak akan mengubah kebijakan AS dan menerapkan

tekanan kepada negara Yahudi untuk berdamai dengan Palestina dengan menghentikan kegiatan pemukiman, memindahkan rintangan

jalan dan mundur dari West Bank.



Perdana Menteri Israel Ehud Olmert mengatakan dia mengharapkan ikatan AS-Israel

akan lebih kuat, karena “hubungan khusus” antara kedua negara itu.



Hamas, gerakan politik Palestina Islam yang

berkuasa di Jalur Gaza dan berada dalam “daftar teroris” AS, mengatakan mereka berharap Obama akan “belajar dari kesalahan

administrasi sebelumnya, termasuk administrasi Bush, yang telah menghancurkan Afghanistan, Irak, Lebanon dan Palestina”,

menurut juru bicara Hamas Fawzi Barhoum.



Sementara itu, pemerintah Irak mengatakan mereka tidak berharap adanya

perubahan kebijakan di bawah pemerintahan Obama yang akan melihat kemunduran segera dari lebih dari 140.000 tentara AS dari

negara itu, yang diinvasi oleh tentara AS pada 2003 dalam perang yang ditentang presiden yang baru terpilih sejak

awal.



Tapi para “Sadrist” anti-Amerika, para pengikut ulama berlatar Iran Moqtada Sadr, melihat “harapan publik

Amerika untuk menarik pasukan dari Irak” dalam kemenangan Obama, sejalan dengan tuntutan kelompok ini.



Para politisi

Iran juga menyambut terpilihnya Obama sebagai perkembangan positif, mengatakan bahwa kemenangannya melawan McCain mencerminkan

ungkapan kegagalan dan kekalahan kebijakan luar negeri Bush.



Mereka berharap bahwa kabinet berikutnya akan belajar

dari kesalahan pemerintah di Washington.



Pada tingkat resmi, Teherean akan menunggu dan melihat apakah kebijakan

luar negeri Obama akan berbeda dari pendekatan bermusuhan Bush terhadap Iran. Tapi laporan dari Teheran menandakan optimisme

hati-hati bahwa Obama akan membuat kebaikan pada seruannya untuk dialog dengan Iran dalam menyelesaikan masalah nuklir dengan

Barat, dan mungkin membangun jalan untuk memulihkan ikatan yang telah parah antara keduanya sejak Revolusi Islam tahun

1979.



Syria, yang telah dimasukkan daftar hitam oleh pemerintahan Bush sebagai “sponsor terorisme”, berharap

terpilihnya Obama akan “membantu mengubah kebijakan AS dari perang dan embargo menjadi diplomasi dan dialog,” menurut Menteri

Informasi Syria Mohsen Bilal.



Di Afghanistan, Presiden Hamid Karzai menyerukan kabinet berikutnya di Washington

untuk mengubah strateginya tentang “perang terhadap teror”, mengatakan hal itu “tidak dapat dilawan di desa-desa Afghan...tapi

harus diarahkan ke sarang-sarang teroris dan pusat pelatihan mereka.”



Karzai mendorong Obama untuk mengakhiri korban

sipil di Afghanistan, di mana 70.000 tentara NATO dipimpin AS telah gagal memerangi Taliban dan pemberontak bersenjata

lainnya.



Oleh : Sana Abdallah



###



* Sana Abdallah adalah jurnalis Yordania yang bekerja di UPI

di Amman. Artikel pendek ini aslinya diterbitkan dalam The Middle East Times dan disebarluaskan dengan izin oleh Common Ground

News Service (CGNews). Teks lengkapnya bisa didapatkan di www.metimes.com.



Sumber: Middle East Times, 5 Nopember

2008, www.metimes.com



Pustakalewi.Net telah memperoleh hak cipta.

dilihat : 542 kali


   
Copyright © 2005 Pustakalewi.net
All rights reserved. Protected by the copyright laws of the Indonesia
hosted and developed by Agiz YL Solution