Jum'at, 29 Mei 2020 08:29:23 | Home | Index Berita | About Us | Statistik | Buku Tamu | Redaksi | Webmail | Login |  

Catatan Ringan

Perkembangan Peer to Peer Lending di Indonesia
Perkembangan Peer2Peer Lending (P2P Lending), pinjam meminjam berbasis aplikasi makin subur di Indonesia. Tapi kehadirannya tentu akan menimbulkan konsekuensi positif dan negatif.


Pengunjung hari ini : 513
Total pengunjung : 139808
Hits hari ini : 4216
Total hits : 1435564
Pengunjung Online : 31
Situs Berita Kristen PLewi.Net -Garudafood, Pabrik Kacang atau Sekte Agama?






SocialTwist Tell-a-Friend | |
Sabtu, 06 September 2008 00:00:00
Garudafood, Pabrik Kacang atau Sekte Agama?
Selamanya aku skeptis terhadap dunia bisnis,

apalagi di indonesia. pebisnis adalah orang-orang oportunis, rent seeker, rakus, dan siap melakukan hal-hal kotor demi mendapat

keuntungan sebesar-besarnya. Kunci sukses mereka cuma tiga : menjilat pemerintah, mengeksploitasi buruh, dan menipu konsumen.

Pokoknya, I hate them all.



Tapi anehnya, aku selalu terseret ke dunia yang mendewakan profit itu. Dulu, ketika masih

aktif sebagai wartawan, aku sempat antipati terhadap Presdir PT Multi Bintang Indonesia, Tanri Abeng. Tapi setelah mengenalnya

dari dekat, aku berbalik kagum karena ternyata pria asal Selayar (Sulsel) ini pernah jadi pengantar pizza di AS. Aku merasa

lebih akrab lagi setelah dikenalkan pada isterinya yang rendah hati, Ida boru Nasution.



Kendati terkesan oleh

kepribadian Tanri—yang belanja sendiri bahan pakaiannya di Tanah Abang, lalu dikerjakan oleh tukang jahit biasa; namun sikapku

terhadap dunia bisnis tidak berubah sedikit pun. Aku tetap antipati meski kemudian kenal dekat pentolan bisnis lainnya, Bob

Hasan, Martina Wijaya, Probosutedjo, Sudwikatmono, Pontjo Sutowo. Aku makin skeptis setelah era Reformasi– yang memunculkan

banyak petualang bisnis alias parasit ekonomi.



Namun ada satu pengecualian, yaitu Sudhamek AWS, Chief Excecutive

Officer (CEO) PT.Garudafood. . Menurutku dia ini sangat brilian dan relatif bersih; karena mampu meraih sukses luar biasa tanpa

privilese dari pemerintah; tidak terlibat kasus BLBI; tidak curang dalam bersaing; dan tanpa merugikan konsumen. Meski belum

pernah bertemu dengannya, tapi aku banyak mendengar penilaian positif dari berbagai pihak terhadapnya.





Dari

Gudang Garam ke Garudafood



SUDHAMEK AWS lahir di Rembang 20 Maret 1956. Anak paling bontot dari 11 bersaudara.

Meskipun keluarganya memiliki bisnis pengolahan kacang kulit, dengan bendera perusahaan Garudafood, Sudhamek lebih senang

mencari tantangan dan pengalaman di luar. Lulusan S1 ekonomi (1981) dan hukum (1982) dari Universitas Satya Wacana, Salatiga

ini sempat bekerja selama 12 tahun di PT.Gudang Garam Tbk (GG). Jabatan terakhirnya Presdir PT Trias Santosa Tbk, anak

perusahaan GG.





Kenapa tidak dari awal dia membangun karir di Garudafood ?



“Ada dua pertimbangan.

Pertama, saya ingin mencari pengalaman di luar. Kedua, bisnis keluarga ini masih kecil. Kalau saya masuk, akan menambah beban

orang tua karena harus mencarikan “mainan” (cabang bisnis) buat saya.”kata Sudhamek ketika diwawancarai majalah Warta

Ekonomi.





Bagaimana ceritanya dia menjadi CEO Garudafood ?



“Seorang eksekutif Garudafood membujuk

kakak-kakak saya supaya meminta saya bergabung. Waktu itu, orang tua saya sudah meninggal dunia. Rupanya mereka terbujuk,

selain ada kebutuhan untuk mengubah bisnis keluarga. Kemudian mereka meminta saya memimpin Garudafood. Saya bersedia dengan

satu syarat : hubungan kami adalah atasan-bawahan. Saya berpikir rasional, bagaimanapun saya anak bungsu. Kalau hubungannya

masih senioritas, saya tak akan bisa berbuat banyak.”



Meskipun mengajukan persyaratan yang keras dan disetujui oleh

kakak-kakaknya, namun dalam kenyataannya Sudhamek tidak pernah memakai “kartu truf” itu. Dia hanya ingin memastikan bahwa

kepemimpinannya bakal berjalan efektif, tanpa harus ewuh pakewuh karena kedudukannya sebagai anak paling bontot di antara

kakak-kakaknya yang ikut mengelola Garudafood.



“Mungkin mereka sudah membayangkan akan diperintah adik terkecilnya,

ternyata tidak…hahaha. Saya lebih suka memimpin by heart,”tuturnya sembari menjelaskan,”Pengalaman kerja di luar selama 12

tahun membuat saya yakin perusahaan tak bisa berjalan tanpa dukungan penuh dari share-holder. Jadi, keberhasilan saya membangun

perusahaan ini juga karena dukungan total kakak-kakak saya.”





Menjadi konglomerasi yang ekspansif



Di

BAWAH kendali Sudhamek, Garudafood berkembang pesat dan menjelma jadi konglomerasi. Sebelum dia bergabung, perusahaan keluarga

ini hanya memiliki 1 pabrik dengan 700 karyawan dan 5 item produk. Dalam waktu singkat, Garudafood dikembangkannya menjadi 8

pabrik, 19.000 karyawan dan 200 item produk.



Berkat kemajuan yang luar biasa itu, Garudafood berhasil menggusur Dua

Kelinci sebagai pemimpin pasar kacang kulit. Tapi Sudhamek belum puas. Lalu dia merambah ke bisnis biskuit, minuman, snack dan

distribusi; dan ternyata sukses pula. Selanjutnya dia ingin membangun imperium bisnis yang merajai food industries, sambil

melebarkan sayap ke bidang bisnis yang dianggapnya sangat strategis, yaitu CPO dan farmasi.





Apa rahasia

suksesnya mengalahkan Dua Kelinci ?



“Pertama,benahi distribusi. Indonesia ini negara kepulauan. Kunci di bisnis

consumer goods adalah distribusi yang bisa menjangkau seluruh lokasi. Sekuat apa pun marketing kita, kalau produk belum ada di

pasar, tak ada artinya. Merata dulu baru beriklan.”ujar Sudhamek.



“Kedua, membangun brand. Ketiga, inovasi.

Sekarang, posisinya, apa pun produk kami, ditiru Dua Kelinci. Kami buat Katom (kacang atom), mereka juga bikin Sukro. Kami buat

Pilus, mereka bikin Tik Tak. Satu-satunya yang tidak mereka ikuti di biskuit. Mungkin masih ngeri karena ada Danone, Arnotts,

dan Nabisco. Belum lagi pemain kuat lokal seperti Mayora dan Khong Guan.”imbuhnya.



Sekarang, produk yang menjadi

kontributor utama pendapatan Garudafood ternyata bukan kacang kulit, melainkan biskuit. Kacang kulit bahkan sudah harus

bersaing di urutan kedua dengan produk minuman. Menurut Sudhamek item kacang kulit Garudafood yang paling laris adalah kemasan

eceran Rp 500.



“Orang sering salah persepsi jika bicara Garudafood, yang ada di benaknya pasti kacang. Ini problem

bagi saya. Sebab, Garudafood ini corporate brand, bukan product brand lagi. Ini otokritik untuk divisi marketing

kami,”katanya.





Pabrik kacang atau sekte agama ?



BISNIS sekarang ini sudah jauh berubah dibanding

masa ayah Sudhamek membangun Garudafood, puluhan tahun silam. Ketika itu tuntutan konsumen kacang kulit masih sangat sederhana,

yaitu rasanya gurih, garing dan kulit kacangnya terlihat bersih. Kemasan masih dianggap sekadar pembungkus; belum ada yang

mempersoalkan standar keamanan buat kesehatan, apalagi estetika, itu urusan kesekian. Soal bagaimana perusahaan pembuatnya juga

belum dikaitkan dengan produk.



Sekarang, setiap pembeli kacang kulit Garudafood, biarpun harganya cuma Rp 500, yang

ada di benaknya bukan lagi sekadar rasa gurih, garing, higienis dan kemasan yang artistik, tapi sudah memperhitungkan image

produk itu sendiri. Dan ini terkait erat dengan industri pencitraan,yaitu iklan dan reputasi perusahaan.



Nike, merek

sepatu dan peralatan olahraga global yang dipopulerkan pebasket legendaris Michael Jordan itu, kini sudah menjadi brand yang

jelek di Indonesia. Pasalnya, perusahaan outsourcing yang memproduksi sepatu dan apparel Nike di Indonesia banyak yang

mengemplang hak-hak buruh, sehingga sering terjadi demo, terutama di Tangerang.





Bagaimana Sudhamek menyikapi

fenomena ini ?



“Sejak 17 tahun lalu, jauh sebelum konsep Spiritual Company (SC) menjadi sangat populer, Garudafood

sudah mempraktekkan itu. Kenaikan pangkat dan bonus karyawan tidak hanya ditentukan secara kuantitatif dengan KPI (Key

Performance Indicator), tetapi juga kualitatif, yaitu attitude atau perilaku,”ucap Ketua Majelis Buddhayana Indonesia (MBI) ini

sembari menjelaskan,”Contoh lain, sebelum dan setelah rapat, kami selalu berdoa bersama. Mungkin saya CEO yang paling sering

berdoa…hahaha.”





Bagaimana praktek SC di Garudafood ?



“Analoginya seperti pohon bambu. Pada

tiga-empat tahun awal, bambu tumbuh ke bawah, memperkuat akar, dan baru ke atas. Makanya diterjang angin sekuat apa pun bambu

tidak rubuh. Artinya, kalau perusahaan mau kukuh, kita perkuat akarnya dulu. Di Garudafood, akarnya adalah nilai-nilai

spiritual, filosofi, dan misi perusahaan. Nilai-nilai ini kami buatkan kurikulum, modul-modul, metode sosialisasi, organisasi,

sistem, bujet, maupun infrastrukurnya.”



“Jika dilakukan secara konsisten, kultur akan terbentuk. Memang ini jangka

panjang, karena kami membangun habit,”tutur Sudhamek yang bersahabat dengan banyak orang dari berbagai latar belakang. Sebelum

Nurcholis Madjid meninggal dunia, tokoh yang populer dengan panggilan Cak Nur ini sempat membangun sekolah plus bersama

Sudhamek; yaitu Seville Nation Plus Schools.



“Kami ingin membangun pendidikan yang menyeimbangkan prestasi akademik

dan pembentukan watak.Ini agar anak-anak kita tak hanya pintar, tetapi juga memiliki hati yang hangat,”ujar pengikut Budha ini

mengenai sekolah yang dibangunnya bersama Cak Nur.





Apa yang dilakukan Garudafood kalau ada karyawan menyimpang

dari nilai-nilai perusahaan ?



“Ini ajaran Budha. Suatu ketika Budha ditanya bagaimana caranya mendidik murid.

Lantas, Budha bertanya kepada Keshi, salah satu muridnya yang pawang kuda, bagaimana cara dia mendidik kuda. Keshi menjawab,”

Pertama, kuda akan saya didik dengan lembut. Kalau tidak berhasil, akan saya kombinasikan dengan cara keras. Kalau gagal juga,

kuda itu saya bunuh.” Lantas, Budha berkata,”Begitu juga yang saya lakukan dalam mendidik. Cuma bedanya, saya tidak membunuh,

tetapi akan saya keluarkan dia dari komunitas ini.”



“Artinya, seorang nabi pun memiliki sikap tegas. Begitu juga

dengan mengurus perusahaan, kita harus tegas. Kita tak bisa mengambil resiko kapal ini tenggelam karena mempertahankan 1-2

orang yang buruk,”ujar Sudhamek.





Calon presiden?



MENARIK bukan? Itulah Sudhamek, pemimpin visioner

yang telah “menyulap” Garudafood dari perusahaan keluarga yang relatif kecil menjadi konglomerasi–dengan manajemen profesional

yang berbasis nilai-nilai spiritual. Ruang kerjanya di Wisma Garudafood di Jl.Bintaro Raya No.10 Jakarta Selatan, dihiasi dua

lukisan yaitu merpati dan kuda. Katanya, merpati melambangkan kedamaian dan kuda adalah simbol dinamika. Orang awam mungkin

akan melihatnya sebagai gabungan yang kontras atau paradoksal, tapi bagi Sudhamek itu adalah sintesis.



Kenapa ya

tidak ada partai atau tokoh-tokoh daerah meminta pengusaha muda yang hebat ini untuk jadi calon gubernur atau presiden ? Apakah

karena dia keturunan Cina dan beragama Budha ?



Oleh : Robert Manurung



Pengirim : Jhoni

Tuerah



Dikutip dari milis Pustakalewi

dilihat : 490 kali


   
Copyright © 2005 Pustakalewi.net
All rights reserved. Protected by the copyright laws of the Indonesia
hosted and developed by Agiz YL Solution