Selasa, 13 April 2021 05:59:56 | Home | Index Berita | About Us | Statistik | Buku Tamu | Redaksi | Webmail | Login |  

Catatan Ringan

Beatrice Portinari
Beatrice Portinari (1266-1290) adalah seorang anak manusia biasa yang kemudian menjadi obyek imajinasi luar biasa sehingga identitas dirinya secara tidak adil akan terseret dalam status luar biasanya itu.



Pengunjung hari ini :
Total pengunjung :
Hits hari ini :
Total hits :
Pengunjung Online :
Situs Berita Kristen PLewi.Net -P E M I M P I N




SocialTwist Tell-a-Friend | |
Kamis, 31 Juli 2008 00:00:00
P E M I M P I N
Lebih baik seorang muda miskin tetapi berhikmat dari pada seorang raja tua tetapi bodoh, yang tak mau diberi peringatan lagi.

(Pengkhotbah 4 : 13)



Hidup sebagai seorang pemimpin bukanlah perkara yang mudah. Seluruh pandangan mata dan harapan

dari orang-orang yang dipimpin, akan selalu tertuju kepada seorang pemimpin. Ini merupakan realita tantangan kehidupan yang

menarik untuk dilakukan oleh seseorang yang telah diangkat atau ditunjuk sebagai seorang pemimpin.



Meskipun amanat

untuk menjadi seorang pemimpin dapat dilaksanakan dengan baik, namun masih ada kemungkinan, adanya pertentangan sikap dari

sejumlah orang yang bersikap apatis, skeptis, pesimis atau lebih memilih untuk bertindak sebagai oposisi, atas pola dan gaya

kepemimpinan seseorang.



Adanya sikap tidak menyetujui kepemimpinan tersebut, patut dicermati serta disikapi dengan

bijaksana dan penuh kearifan dari seorang pemimpin. Oleh karena itu, seorang pemimpin harus aktif mengkomunikasikan setiap

rencana kerja yang ingin dilakukan atau telah dilakukan untuk memajukan orang-orang yang dipimpinnya.



Oleh karena

itu, seorang pemimpin selayaknya bisa menampilkan perilaku dan sikap seseorang yang dapat menjadi panutan bagi orang-orang yang

dipimpinnya.



Seorang pemimpin selayaknya bisa menjadi seorang pendengar yang baik, dalam arti, dapat menerima adanya

kritikan, keluh-kesah, atau bahan masukan pemikiran lainnya, yang disampaikan kepadanya.



Ketika semuanya itu telah

terjadi, seorang pemimpin selayaknya bisa menterjemahkan setiap bahan pemikiran yang didengarnya itu, sebagai bahan koreksi

diri serta bahan informasi faktual, untuk dipergunakan dan dikembangkan dalam menjalankan strategi usaha yang ingin

diterapkannya.



Jadi, seorang pemimpin itu sebaiknya memiliki kemampuan memanajemen berbagai hal, untuk menghadirkan

perubahan daya dukung keuangan maupun ekonomi kearah yang lebih baik bagi orang-orang yang dipimpinnya, disetiap sisi

kehidupan.



Catatan sejarah menunjukkan, banyak pemimpin bangsa, perusahaan, atau lingkungan dinilai berhasil

mengangkat kemampuan keuangan atau ekonomi orang-orang yang dipimpinnya, sehingga

dirinya disenangi, dihormati, serta

disegani, tidak hanya oleh orang-orang yang dipimpinnya, namun juga dari lingkup komunitas masyarakat yang lebih

besar.



Dalam hal ini, baiknya pola epemimpinan seseorang, akan menghadirkan suatu sikap respek dan tanda engakuan

diri, karena mereka menghargai usaha dari para pemimpin yang ampu meningkatkan derajat kemampuan ekonomis orang-orang yang

ipimpinnya sehingga hidup mereka menjadi lebih baik atau lebih sejahtera.



Namun, sikap respek dan pengakuan dari

orang-orang yang dipimpin dapat berubah apabila periode kepemimpinan seseorang, dianggap sudah terlalu lama, seakan tidak

memberikan kesempatan kepada orang lain untuk menggantikannya.



Kecemburuan sosial dan rasa tidak senang dari

sejumlah orang akan muncul sebagai suatu sikap

menentang maupun tidak suka, akan era kepemimpinan yang terlalu lama dari

seorang pemimpin.



Pola kepemimpinan menjadi tidak lagi stabil untuk mengupayakan adanya kemajuan dari komunitas

masyarakat yang dipimpinnya. Terlalu lamanya masa kepemimpinan, bisa membuat seorang pemimpin menghadirkan ego dan adanya

keinginan untuk bisa memenuhi kepentingan dirinya sendiri ataupun orang-orang yang ada disekitarnya, dengan memanfaatkan

kekuasaan yang ada padanya.



Masa

kepemimpinan yang terlalu lama, lambat laun akan menghadirkan sikap tamak,

otoriter, arogan atau diktator dari seorang pemimpin. Pemimpin yang terlalu lama berkuasa, cenderung akan menonjolkan

kekuatan-kekuatan yang ada padanya, yaitu untuk dapat mengamankan langkah, melanggengkan kekuasaan.



Upaya untuk

memajukan orang-orang yang dipimpinnya, tidak lagi dijalankan dengan sepenuh hati

dan dipegang teguh karena kehidupan

sebagai seorang pemimpin, akan mulai diimbuhi oleh adanya keinginan untuk memenuhi segenap hasrat, menguasai satu atau sejumlah

bagian materi tertentu, yang dianggap layak diterima dan dimiliki.



Berbagai dalih sengaja dihadirkan karena besarnya

kepentingan- kepentingan pribadi yang ingin dijalankan atau dipenuhi, meskipun hal itu tidak merepresentasikan jati diri

seorang pemimpin sejati.



Seharusnya, sang pemimpin melakukan otokritik atas periodisasi kepemimpinannya

itu...



Hikmat dan prinsip-prinsip yang mewakili sikap bijaksana, lambat laun akan mulai tidak lagi dipakai sebagai

dasar serta landasan pemikiran realis yang berkesesuaian, terutama dalam mengambil atau membuat keputusan, yang memungkinkan

bagi setiap orang yang dipimpinnya, dapat hidup lebih baik dari waktu ke waktu.



Semakin lama seseorang berkuasa,

akan semakin banyak hal-hal negatif yang muncul ke permukaan. Karakter telah terbentuk. Sifat diri sulit untuk dikoreksi.

Apalagi usia tidak lagi muda, dimana kemampuan untuk berpikir serta menelaah segala sesuatunyasecara obyektif, tidak lagi

sebaik masa muda dahulu.



Oleh sebab itu jikalau orang panjang umurnya, biarlah ia bersukacita di dalamnya, tetapi

hendaklah ia ingat akan hari-hari yang gelap, karena banyak jumlahnya. (Pengkhotbah 11 : 8)



Rentang waktu yang terus

bergulir, seharusnya membuat diri seorang pemimpin dapat lebih bersikap bijaksana dan berpikir realistis, bahwa tampuk

kekuasaan yang terlalu lama ada padanya, sebaiknya tidak membuat diri seorang pemimpin menjadi terlena, membiarkan dirinya

terlarung dalam besarnya keinginan untuk tetap eksis pada posisi sebagai seorang pemimpin.



Seorang pemimpin itu

selayaknya menanamkan kesadaran diri dan terus mengingat didalam benak pikiran mereka, bahwa rasa simpati seseorang dapat pudar

apabila ego dibiarkan menghadirkan keinginan untuk semakin lama berkuasa.



Seorang pemimpin harus mengingat, kalau

musuh yang sesungguhnya itu bukanlah orang lain, namun dirinya sendiri, yang tak mampu menahan besarnya keinginan hati, dalam

hal ini, terus berkuasa atau menguasai tampuk kekuasaan.



Kenapa demikian ? Karena ketika keinginan hati tidak mampu

terpuaskan, timbullah suatu keinginan yang sangat lekat dengan perbuatan atau pemikiran yang membawa serta dosa

didalamnya.



Seorang pemimpin yang bijaksana harus memahami keadaan itu. Keinginan memang besar.

Apabila tidak

dikendalikan, keinginan daging akan semakin melemahkan iman.



Untuk segala sesuatu ada masanya, untuk apapun di bawah

langit ada waktunya. (Pengkhotbah 3:1)



Bagaimana dengan kehidupan yang memimpin dari anak-anak Tuhan?





Tidak semua orang itu bisa menjadi seorang pemimpin. Ya, itu benar, karena memang harus ada individu-individu yang

menjadi pekerja untuk menjalankan sebuah usaha.



Akan tetapi Tuhan telah menetapkan,bahwa kehidupan setiap anak-anak

Tuhan itu, bukanlah sebagai ekor namun kepala. Kita mungkin saja tidak memegang jabatan atau diberi tanggung jawab untuk

memimpin suatu tim kerja.



Namun itu bukanlah berarti, kalau setiap anak-anak Tuhan tidak bisa menunjukkan karakter

diri mereka sebagai seorang pemimpin.



Rahasia kehidupan Allah atas orang-orang percaya, adalah hidup sejahtera,

dipenuhi oleh berkat-berkat dan kemampuan yang lebih baik dari orang lain. Itu artinya, setiap anak-anak Tuhan dapat

menunjukkan kinerja, wawasan, serta cara bertindak atau cara membuat keputusan, yang didasarkan pada cara berpikir seorang

pemimpin.



Bernaungnya kuasa Roh Kudus dalam diri anak-anak Tuhan, membuat setiap orang percaya memiliki kualitas

kemampuan dan kepintaran yang jauh diatas rata-rata dari pribadi manusia lainnya. Praktis, keadaan ini membuat setiap anak-anak

Tuhan akan mampu menunjukkan segenap kemampuannya kepada orang lain.



Orang lain tidak akan bisa membantah, apabila

setiap anak-anak Tuhan yang hidup takut akan Tuhan, merupakan individu-individu yang cerdas, memiliki kemampuan lebih baik dari

yang lainnya, dan memiliki daya juang layaknya seorang juara.



Bila kita setia serta adil kepada Tuhan, maka hidup

sebagai seorang pemimpin yang sesungguhnya, bukanlah sebuah mimpi namun dapat dinyatakan karena hadirat Tuhan melingkupi

kehidupan kita.



Dan apabila Tuhan berkehendak demikian, tidak akan ada yang mampu menahannya.



Setiap

anak-anak Tuhan akan menunjukkan kualitas hidup dan cara bergaul yang baik di mata masyarakat, dihargai, dihormati, dan juga

disegani, karena Tuhan menyertai anak-anakNya. Kuat kuasa Tuhan akan bekerja serta melingkupi alur kehidupan dari setiap orang

yang mengaku dan percaya padaNya.



Jika besi menjadi tumpul dan tidak diasah, maka orang harus memperbesar tenaga,

tetapi yang terpenting untuk berhasil adalah hikmat. (Pengkhotbah 10 : 10)



Tuhan akan menempa anak-anakNya, dengan

segenap tantangan serta permasalahan. Tuhan tidak akan meninggalkan kita untuk hidup dalam kesusahan, karena pada saat

tantangan dan masalah itu datang menghadang kita, Tuhan juga akan memberikan kita jawaban, bagaimana semuanya itu dapat

diselesaikan dengan baik.



Apabila kita menuruti jalan serta kehendak Tuhan, pada suatu waktu nanti, kita akan

hidup sebagai seorang pemimpin yang sesungguhnya.



Mungkin, pada saat ini, kita hanyalah seorang anak buah, bukan

seorang perwira atau manajer sebuah perusahaan. Tapi semuanya itu bukanlah hal yang mustahil untuk bisa kita capai karena kita

adalah anak-anak Tuhan, kita memiliki Tuhan yang Agung dan Maha Kuasa. Tidak ada yang mustahil bagiNya.



Jangan

khawatir akan masa depan, karena Tuhan akan memberikan kita kegemilangan hidup yang dilimpahi oleh karunia dan berkat-berkat

dariNya.



Sekarang, tinggal bagaimana caranya kita memanfaatkanhikmat serta kuat kuasa Roh Kudus yang ada dalam diri

kita, dan menempatkan Tuhan sebagai Pribadi yang paling utama, untuk menuntun

kita agar dapat bersikap bijaksana, memiliki

kemampuan diri, wawasan serta kepintaran yang melebihi orang lain.



Kita adalah pemimpin. Kita mampu menjadi

pemimpin. Kita bisa karena kuat kuasa Tuhan ada pada kita.



Kiranya Tuhan Yesus yang teramat baik, menyertai

masing-masing diri kita, serta Ia berkenan memberkati kita dalam kelimpahan anugerah dan sukacita kasih

Allah.





.Sarlen Julfree Manurung



dikutip dari milis pustakalewi.

dilihat : 528 kali


   
Copyright 2005 Pustakalewi.net
All rights reserved. Protected by the copyright laws of the Indonesia
hosted and developed by Agiz YL Solution