Jum'at, 14 Agustus 2020 23:42:30 | Home | Index Berita | About Us | Statistik | Buku Tamu | Redaksi | Webmail | Login |  

Catatan Ringan

Beatrice Portinari
Beatrice Portinari (1266-1290) adalah seorang anak manusia biasa yang kemudian menjadi obyek imajinasi luar biasa sehingga identitas dirinya secara tidak adil akan terseret dalam status luar biasanya itu.



Pengunjung hari ini : 773
Total pengunjung : 191006
Hits hari ini : 10155
Total hits : 2031103
Pengunjung Online : 16
Situs Berita Kristen PLewi.Net -Eka Darmaputera




SocialTwist Tell-a-Friend | |
Minggu, 26 Juni 2005 00:00:00
Eka Darmaputera
Eka Darmaputera (58) yang sudah dikenal oleh kalangan agama di Indonesia, pada bulan Oktober 2000

ini akan memasuki masa emiritasi (pensiun) di gerejanya. Ia yang doktor teologi lulusan Boston College, USA itu, adalah sosok

teolog yang kelihatannya belum ada duanya di kalangan sinoda gereja GKI yang dilayaninya maupun gereja-gereja di Indonesia,

soalnya tokoh yang satu ini memiliki bidang pelayanan yang luas yang mencakup setidaknya lima kemampuan yang menonjol,

yaitu:



(1) ia adalah seorang pendeta yang baik yang telah melayani jemaatnya dengan berhasil sampai akhir masa

jabatannya; (2) ia adalah seorang organisator yang baik yang dalam masa muda sudah menjabat ketua sinoda dan pernah sebagai

Ketua dan Wakil Ketua Majelis Pertimbangan PGI bahkan juga Cimmisioner pada Dewan Gereja se-Dunia; (3) ia tidak diragukan

adalah seorang pemikir yang mendapat reputasi internasional. Pada Desember 1999 ia memperoleh 'Abraham Kuyper Award' dari

Princeton Theological Seminary di USA; (4) ia adalah seorang penulis handal yang telah menulis banyak karya tulis yang 'enak

dibaca dan perlu' bahkan desertasi doktoralnya dicetak sebagai buku yang cukup diperhitungkan pula; dan (5) ia adalah

penceramah yang memukau dengan jam terbang yang tinggi dan tutur katanya tegas sesuai sosoknya yang tegap tetapi penuh berita

yang menyejukkan.



Memang penulis bergereja pada sinoda gereja GKI yang sama tetapi belum banyak bertemu dengannya

karena tinggal di kota yang berlainan, dan sekalipun sudah mengenalnya sejak tahun 1970-an baik dari berita-berita yang

didengar maupun dari karya-karya tulisnya, baru bertemu sebanyak empat kali, itupun baru terjadi pada dasawarsa terakhir ini.

Tetapi, pertemuan-pertemuan itu telah memberikan kesan mendalam bahwa pak Eka adalah seorang yang rendah hati yang memenuhi

slogan 'bak butir padi yang makin menua makin tunduk.'



Sekitar sepuluh tahun silam penulis bertemu pak Eka pertama

kalinya ketika sama-sama diundang untuk berbicara pada HUT ke-30 gereja GKI Kebayoran Baru, Jakarta (bersama Radius Prawiro

, Ny . Ihromi dan Yonathan Parapak). Setahun kemudian bertemu lagi ketika penulis mempersentasikan 'bedah buku' di hadapan

komisi teologia penerbit BPK-Gunung Mulya, tetapi pada kedua pertemuan itu hanya bersalaman saja, dan kesan kerendah hatian

pak Eka akan lebih jelas tercermin dalam dua pertemuan yang kemudian.



Beberapa tahun kemudian penulis bersama pak

Eka diundang untuk berbicara dalam camp pendeta-pendeta gereja-gereja Injili di hotel Indo-Alam Cipanas. Waktu itu pak Eka

datang duluan dan ketika penulis masuk ke ruangan seminar yang kala itu dipimpin pembicara lainnya Charles Kristano, melihat

pak Eka penulis langsung datang menyalami tokoh populer itu dan kemudian mencari tempat duduk yang agak jauh darinya karena

deretan tempat duduknya sudah penuh. Rupanya ia rada lupa, tetapi ketika seminar usai, tiba-tiba ia bangkit berdiri dan

mendatangi penulis untuk kemudian mengajak ngobrol sepanjang rehat yang 30 menit lamanya itu.



Pertemuan terakhir

terjadi tepat sebulan yang lalu, ketika akan melayani gereja GKI-Layur Jakarta (gereja yang menurut sejarahnya ikut dibidani

olehnya), penulis mendapat tempat duduk di gerbong KA-Parahyangan Bandung-Jakarta nomor C, dan bukan kebetulan karena nomor B

yang sebaris diduduki pak Eka dan nomor A-nya diduduki isterinya Evang yang baru mengunjungi anaknya yang dosen Unika

Parahyangan di Bandung. Ketika masuk agak terlambat, penulis tidak melihatnya dan setelah menempatkan kopor di atas dan mulai

duduk, tiba-tiba ia menyapa dan selanjutnya dalam perjalanan terjalin ngobrol yang ramah yang cukup lama bagaikan kawan akrab

yang sudah lama kenal dan tidak bertemu. Ini kesempatan yang luar biasa mengingat bahwa karena kesehatannya yang tidak

memungkinkan, belakangan ini tidak mudah seseorang bisa memperoleh waktu untuk menjumpainya.



Memang di kalangan

agama tentunya sudah mengenal bahwa pak Eka memiliki kelebihan baik dalam keramahan sikap yang rendah hati maupun dalam

keyakinan imannya yang teguh.





SIKAP YANG RAMAH DAN RENDAH HATI



Sikapnya yang ramah ditunjukkan

bukan saja kepada orang yang dikenalnya tetapi seperti yang dialami penulis, sudah terlihat bahwa iapun seorang yang bisa

menghargai semua orang, dimana ia tidak segan-segan untuk mendahului menyapa orang yang tidak se'level' dengannya seperti

menghadapi penulis yang bukan doktor yang sekedar hanya seorang anggota jemaat biasa. Pak Eka adalah seorang teolog yang unik

yang disegani bukan saja di kalangannya sendiri tetapi ia disegani pula di kalangan yang menganggapnya sebagai berseberangan.

Berbagai contoh berikut menggambarkan sifat ini dengan jelas.



Ketika di kalangan gerejanya ada rekan-rekannya yang

mengidap 'Stephen Tong phobia' karena banyak anggota GKI yang membelot dan mengikuti penginjil tenar itu, pak Eka

menunjukkan jiwa besarnya dan kesediannya menjalin dialog terbuka dengan penginjil itu, dan dalam kesempatan mana pak Eka

telah menunjukkan sikap keramahan dan kesabaran yang menonjol dalam berdialog. Demikian juga ketika ada rekan-rekan

pelayanannya yang mengidap alergi 'SAAT-Malang' dan menganggap lulusan 'Seminari Alkitab' itu sebagai saingan, pak Eka

justru bersedia mengajar di SAAT-Malang untuk membantu mendidik para 'calon-saingan' ini agar lebih berkualitas

lagi.



Ketika di sinodanya terlihat ada beberapa teolog-puber yang menunjukkan gejala frustrasi, ia justru

menunjukkan kematangannya sebagai seorang teolog-adolesen yang makin berprestasi dan mantab sampai menjelang memasuki masa

pensiunnya, bahkan dalam pertemuan dengan penulis sebulan yang lalu itu ia menyatakan kerinduannya untuk tetap berkiprah dalam

memajukan dialog antar pengikut agama-agama di Indonesia, sebuah visi dan misi hidup yang mulia yang sangat dibutuhkan untuk

mendatangkan kesejukan dalam hubungan antar pengikut agama-agama di Indonesia.



Ketika ada rekan kerjanya yang

berambisi menjadi orang nomor satu dan dengan segala cara inggin menggapainya, ia 'tidak-ngoyo' tetapi secara de-facto

orang-orang toh sudah menganggapnya sebagai orang nomor satu, dan dikala ada rekan kerjanya diberitakan terlibat

perselingkuhan sehingga perlu digembalakan, ia terlihat sering melayani berdua dengan isterinya Evang yang master pendidikan.

Seorang pendamping setia yang menyertai pelayanan suaminya sampai sekarang, apalagi sangat terasa dukungan isterinya justru

pada saat-saat ketika tubuhnya yang semula berbadan tegap dan besar itu mulai digerogoti provokator-kesehatan (kabarnya ia

menderita 'pengerasan hati' (hepar) tapi 'hati' nuraninya nggak keras melainkan makin lembut kok).



KEYAKINAN

IMAN YANG TEGUH



Apakah keramah tamahannya menghadapi baik 'kawan' atau 'lawan' itu menunjukkan bahwa dirinya

seorang yang kompromistis yang biasa menunjukkan keramahan dipermukaan padahal di dalamnya penuh dengan pradox? Kelihatannya

kok tidak, dan ini terlihat dari sikapnya yang menunjukkan keyakinannya secara jelas.



Memang pada awal-awal

karirnya pada dasawarsa 1970-an dan 1980-an banyak yang menengarainya sebagai seorang pemikir atau teolog liberal, soalnya

kehadirannya memang identik dengan sekolah tinggi teologia, sinoda gereja, dan PGI yang berlabel ekumenis yang banyak

eksponennya berciri liberal yang sudah tidak lagi menerima 'pengakuan iman historis para rasul dan bapa-bapa gereja',

apalagi ia pernah menerjemahkan dua buku karya Wesley Ariarajah yang isinya bernuansa 'universalisme' yang me'nisbi'kan

agama Kristen sekedar sebagai salah satu dari sekian banyak agama. Tetapi, kalau kita melihat karya tulisnya ditahun 1990-an,

kelihatannya kesan itu tidak tepat, sebab ternyata ia tetap menunjukkan keyakinan iman konservatif yang teguh, hal mana

dinyatakannya secara terbuka.



Memang ada kecenderungan di kalangan mereka yang aktif dalam 'dialog antar agama'

untuk mengarah pada keyakinan bahwa 'semua agama sama' dan bahwa 'semuanya hanyalah yang partikular dan plural dari yang

universal yang 'menuju yang SATU' yang biasanya berakibat me'nisbi'kan keyakinan agama sendiri. Kita sudah sadar sekarang

bahwa keyakinan agama baru yang mempercayai 'Yang SATU' itu tidak lain adalah nama lain untuk menyebut keyakinan

'Monisme'. Karena itu mereka yang mempopulerkannya dan kemudian menyangkali agamanya sendiri yang 'Mono-theisme' tidak

lain terseret dalam 'proselitasi' gaya baru yang menyeretnya dari 'theisme' kepada 'monisme'.



Ditengah arus

'sinkretisme' dan ke'nisbi'an keyakinan itu, pak Eka ternyata menunjukkan identitas keyakinan imannya dengan teguh.

Setelah ditulis dalam jurnal teologia di sinoda gerejanya sendiri, dalam forum terbuka, pak Eka jelas mengemukakannya dalam

forum 'Dialog Agama' yang memang makin penting diusahakan di Indonesia. Yang ia persoalkan adalah bahwa kita menghadapi

agama-agama yang tidak sama, yang saling berbeda dengan keunikannya masing-masing, dan kita dapat 'membandingkannya' tetapi

jangan 'mempertandingkanny a.' Dalam buku 'Passing Over' dengan para penulis yang tokoh-tokoh berbagai agama yang hadir

di Indonesia itu, ia mengemukakan tentang kekuatan Soteriologi Kristen yang benar-benar diyakininya secara pribadi.

Soteriologi yang menurut keyakinannya menunjukkan 'relaisme tentang manusia' yang tidak terjebak pada optimisme yang

mengecewakan atau terjatuh pada pessimisme yang membelenggu. Ia menulis:



"Menurut keyakinan saya, inti dari

Soteriologi Kristen, adalah: (a) bahwa semua orang, tanpa terkecuali, berdosa dan oleh karena itu hanya layak memperoleh

hukuman dan dibinasakan; (b) bahwa semua orang, tanpa terkecuali, tidak mampu menyelamatkan diri sendiri; dan (c) bahwa semua

orang, tanpa terkecuali, dikaruniai kemungkinan menerima anugerah keselamatan dari Allah, melalui iman kepada karya penebusan

Tuhan Yesus Kristus." (Passing Over, Gramedia Pustaka Utama, 1998, 255).



Dengan eksplisit pak Eka mengakui secara

terbuka keyakinan imannya yang konservatif dan eksklusif, tetapi dengan terbuka dan eksplisit kita melihat dalam sikapnya

kepada sesama manusia sangat terbuka dan 'inklusif'. Jadi, dari terang ini sikap 'eksklusivisme' dalam iman tidaklah salah

melainkan menunjukkan integritas seseorang yang berdiri di atas iman bak batu karang yang teguh, tetapi yang penting adalah

sikap 'inklusif' dalam berdialog yang bukan saja kelihatan dalam pertemuan-pertemuan dialog antar-agama saja tetapi

benar-benar menunjukkan inklusivisme di dalam hatinya sendiri yang ramah dan terbuka.



Memang sayang, bahwa dikala

makin banyak orang membutuhkan kehadiran dan pemikirannya, disaat itu ia makin digerogoti oleh 'provokator kesehatan' yang

tidak bisa membedakan tubuh jasmani orang baik dan orang jahat semacam penge'bom' BEJ yang membunuh banyak orang biasa. Kita

patut mendoakan kesehatannya agar Tuhan mendatangkan mujizat untuk kesembuhan jasmaninya sehingga ia dapat tetap melayani

seperti sebelum pensiun. Tetapi bila Tuhan berkehendak lain, setidaknya sisa waktu hidupnya bisa diisi dengan pengabdiannya

untuk meningkatkan usaha-usaha 'dialog antar-agama' demi menuju 'kerukunan antar umat-beragama' yang makin tercabik-cabik

di Indonesia saat ini seperti yang menjadi obsesi hidupnya. Kelihatannya, ucapan rasul Paulus menjelang pensiunnya dari

pelayanan berikut juga tepat untuk diucapkan pak Eka, yaitu:



"Mengenai diriku, darahku sudah mulai dicurahkan

sebagai persembahan dan saat kematianku sudah dekat. Aku telah mengakhiri pertandingan yang baik, aku telah mencapai garis

akhir dan aku telah memelihara iman. Sekarang telah tersedia bagiku mahkota kebenaran yang akan dikaruniakan kepadaku oleh

Tuhan, Hakim yang adil, pada hariNya; tetapi bukan hanya kepadaku, melainkan juga kepada semua orang yang merindukan

kedatanganNya." (2.Timotius 4:6-7).



Salam kasih dari Herlianto.

www.melsa.net.id/~yba atau

www.in-christ.net/yba

dilihat : 494 kali


   
Copyright 2005 Pustakalewi.net
All rights reserved. Protected by the copyright laws of the Indonesia
hosted and developed by Agiz YL Solution