Selasa, 13 April 2021 06:24:25 | Home | Index Berita | About Us | Statistik | Buku Tamu | Redaksi | Webmail | Login |  

Catatan Ringan

Beatrice Portinari
Beatrice Portinari (1266-1290) adalah seorang anak manusia biasa yang kemudian menjadi obyek imajinasi luar biasa sehingga identitas dirinya secara tidak adil akan terseret dalam status luar biasanya itu.



Pengunjung hari ini :
Total pengunjung :
Hits hari ini :
Total hits :
Pengunjung Online :
Situs Berita Kristen PLewi.Net -Ada Batas Untuk Apapun Juga




SocialTwist Tell-a-Friend | |
Jum'at, 20 Juni 2008 00:00:00
Ada Batas Untuk Apapun Juga
“Engkaulah yang menetapkan segala batas bumi, musim

kemarau dan musim hujan Engkaulah yang membuatNya.” (Mazmur 74:17)



Dari luasnya pulau dan cuaca yang silih berganti

dari musim panas, gugur, dingin dan semi, kita dapat simpulkan bahwa “ada batas untuk apapun juga”. Dan yang membatasi semua

itu adalah Allah dan bukan siapapun. Allah yang besar, kuat dan dahsyat (Ul.10:17), yang kasih setiaNya besar (Neh.13:22), yang

tidak ada tandinganNya (Maz.77:14), lebih besar dari apapun dan siapapun (Kel.18:11) dan memiliki segala sesuatu serta

menentukan segala sesuatu (1 Taw.29:11)



Karena Allah besar dan menentukan segala sesuatu, maka Ia tidak saja

menentukan batas bumi dan musim, tetapi juga batas umur seseorang (Maz.90:10), kecakapan dan kemampuan seseorang (Ams.22:29),

rejeki seseorang (Mat.25:15) dan nasib seseorang (Yer.13:25). Lalu apakah yang harus kita perbuat, jika kita tahu bahwa segala

sesuatu ada batasnya? Ikuti tiga nasehat Alkitab berikut ini :



Pertama, supaya kita tidak bergantung pada apapun dan

siapapun.



Manusia akan sengsara, putus asa dan hidup dalam kesia-siaan, jika manusia tidak jadikan Allah tujuan

hidupnya. Manusia tidak boleh bergantung pada pengertian dan kekuatannya sendiri, jika ia ingin berhasil (Ams.3:5-6). Manusia

tidak boleh bergantung pada sesamanya, jika ia mau menerima segala berkat dan berbagai anugerah dari Tuhan (Yer.17:5,

Yes.2:22). Manusia tidak boleh bergantung pada ilah atau allah buatannya sendiri, jika ia mau selamat (Kis.17:29; Yos.24:15).

Manusia tidak boleh bergantung pada setan atau roh-roh orang mati, jika ia ingin diberkati oleh Allah karena tindakan tersebut

adalah kekejian bagi Allah (Ul.32:17; Maz.106:37). Manusia tidak boleh berharap dan bermegah karena kebijaksanaannya,

kekuatannya dan kekayaannya, jika ia ingin melihat kuasa Tuhan (Yer.9:23-24). Adalah kerinduan Allah supaya manusia bergantung

dan berharap hanya pada Allah, jika ia ingin memiliki sukses dan hidup berkelimpahan (Maz.127:1; Yoh.10:10;

15:5).



Kedua, supaya kita takut dan penuh hormat akan Allah.



Jika seorang anak menghormati bapanya dan

seorang hamba takut akan tuannya, maka Allah mendambakan hal serupa dari kita. “Seorang anak menghormati bapanya dan seorang

hamba menghormati tuannya. Jika Aku ini bapa, dimanakah hormat yang kepadaKu itu? Jika Aku ini tuan, dimanakah takut yang

kepadaKu itu? Firman Tuhan semesta alam kepada kamu, hai para imam yang menghina namaKu. Tetapi kamu berkata : “Dengan cara

bagaimanakah kami menghina namaMu? Kamu membawa roti cemar ke atas mezbahKu, tetapi berkata : Dengan cara bagaimanakah kami

mencemarkannya” “Dengan cara menyangka : “Meja Tuhan boleh dihinakan!” (Mal.1:6-7). Manusia akan menghargai Allah, jika ia

sadar keterbatasannya (Maz.9:20-21). Manusia butuh Allah dan tidak dapat memegahkan diri karena langkah hidupnya diwarnai

kesia-siaan (Maz.39:6), hari-hari hidupnya seperti rumput dan bunga rumput (Maz.103:15-16), nasibnya sama dengan mahluk yang

lain (Pengk.3:19) dan manusia tidak berkuasa menetapkan langkah hidupnya (Yer.10:23)



Ketiga, supaya kita terdorong

mencari sesuatu yang kekal.



Semua yang serba sementara, fana dan terbatas adalah cara Allah untuk mendorong manusia

menaruh perhatian pada sisi kehidupan yang lain yaitu kekekalan. Karena hidup yang sesungguhnya, bukan sekarang yang terbatas

dan sementara, tetapi dalam kekekalan. “Bekerjalah, bukan untuk makanan yang akan dapat binasa, melainkan untuk makanan yang

bertahan sampai kepada hidup yang kekal, yang akan diberikan Anak Manusia kepadamu ; sebab Dialah yang disahkan oleh Bapa,

Allah, dengan meteraiNya. (Yoh.6:27) */ Pdt. DR. Jacob Nahuway, MA.-fy



Pengirim : Tiny Ribka.

dilihat : 541 kali


   
Copyright © 2005 Pustakalewi.net
All rights reserved. Protected by the copyright laws of the Indonesia
hosted and developed by Agiz YL Solution