Jum'at, 24 Januari 2020 20:09:30 | Home | Index Berita | About Us | Statistik | Buku Tamu | Redaksi | Webmail | Login |  

Catatan Ringan

Perkembangan Peer to Peer Lending di Indonesia
Perkembangan Peer2Peer Lending (P2P Lending), pinjam meminjam berbasis aplikasi makin subur di Indonesia. Tapi kehadirannya tentu akan menimbulkan konsekuensi positif dan negatif.


Pengunjung hari ini : 580
Total pengunjung : 21209
Hits hari ini : 4333
Total hits : 589585
Pengunjung Online : 4
Situs Berita Kristen PLewi.Net -Iman : Ada atau Tidak?






SocialTwist Tell-a-Friend | |
Minggu, 15 Juni 2008 00:00:00
Iman : Ada atau Tidak?
Nats : Matius 17:14-21



Tema utama Injil Matius adalah

Kerajaan Allah. Kitab Injil ini isinya bersifat topical yaitu mulai dari Sang Raja datang, bagaimana Sang Raja bekerja,

aturan-aturan Kerajaan Surga, penerapan aturan Sang Raja, misi Kerajaan Surga, dan sekarang kita akan membahas tentang

keTuhanan dari Sang Raja. Hal ini mulai diungkapkan dari Matius 15, sedangkan mulai Matius 17 ini kita akan melihat kaitan iman

terhadap Sang Raja, di mana Kristus sebagai pusat iman kita.



Matius 17:1-13 mengisahkan bagaimana Petrus bermaksud

mendirikan kemah untuk Tuhan Yesus, Elia dan Musa, bahkan dia tidak berpikir untuk dirinya sendiri, ketika Kristus berubah rupa

di depan mata murid-murid Tuhan. Tetapi tiba-tiba terdengarlah suara yang berkata: “Inilah Anak yang Kukasihi, kepada-Nyalah

Aku berkenan, dengarkanlah Dia.”



Dari ayat di atas kita dapat menyimpulkan bahwa iman yang sejati bukan kita yang

mengatur, bukan kita menurut apa yang kita mau, tetapi kita harus mendengarkan Kristus, percaya kepada Kristus. Kalau kita

percaya kepada Kristus, berarti kita meletakkan objek iman kita kepada Kristus, percaya kepada apa yang diatur oleh Kristus.

Seringkali orang mengaku percaya kepada Tuhan tetapi sebenarnya percaya kepada dirinya sendiri dan memenuhi keinginan diri

sendiri.



Dalam Matius 17:14-21 tidak diceritakan secara detail tentang siapa anak yang sakit ayan itu dan bagaimana

penyakit tersebut menyerang anak itu. Matius ingin kita melihat bagian yang penting sehubungan dengan penyembuhan anak yang

sakit ayan itu yaitu IMAN.





1. Iman menyangkut reaksi dan objek iman.



Problemnya adalah murid-murid

Tuhan tidak dapat menyembuhkan anak tersebut. Langkah pertama yang Tuhan Yesus lakukan bukan menyembuhkan tetapi menghardik

murid-muridNya. Dia berkata: “Hai kamu angkatan yang tidak percaya dan yang sesat, berapa lama lagi Aku harus tinggal di antara

kamu?” Yang diungkapkan di sini adalah masalah IMAN. Kata tidak percaya dalam ayat ini dalam bahasa aslinya adalah memakai kata

apistos yang berarti tidak punya iman, tidak percaya. Dalam terjemahan ayat 20 dipakai kata kurang percaya, hal ini tidak tepat

karena dalam bahasa aslinya dipakai kata apistos yang berarti tidak percaya. Orang yang tidak punya iman adalah orang yang

sesat, yang menyeleweng dari iman yang sesungguhnya. Iman yang sesungguhnya adalah kembalinya iman kepada objek iman yang

sejati yaitu Yesus Kristus.



John Knowlen menyatakan bahwa iman adalah bagaimana kita bereaksi di hadapan Kristus.

Jadi orang yang beriman adalah orang yang bereaksi dengan tepat kepada Kristus.



Dunia kita percaya kepada berbagai

hal, pikiran filsafat yang akan hancur atau berubah seiring dengan perubahan waktu. Landasan iman yang sejati harus kembali

kepada absoluditas yang sejati, kebenaran yang sejati yaitu Kristus. Itu satu-satunya iman.



Perkataan Kristus

tentang angkatan yang sesat atau tidak beriman ini ditujukan kepada lingkaran terdekat dari Tuhan Yesus. Apakah orang Kristen

pasti beriman kepada Kristus? Belum tentu. Kita perlu kembali menguji: betulkah kita beriman, sudah percaya; betulkah kita

sudah bereaksi dengan tepat kepada Kristus. Iman sejati adalah kalau kita men-Tuhankan Kristus, bereaksi dengan tepat kepada

Kristus. Kita seharusnya menempatkan diri kita sebagai budak di hadapan Kristus.



Budak tidak punya hak, yang

dipunyai hanyalah kewajiban. Kristus adalah Tuan diatas segala tuan dan kita adalah budakNya. Perintahlah saya Tuhan maka akan

saya jalankan. Inilah reaksi yang tepat. Iman yang sejati bukan menjadikan kita “sakti” tapi justru menampilkan ketaatan kita

kepada Tuhan. Tuhan Yesus menjadi yang terutama dalam setiap aspek hidup kita. Kalau reaksi kita terhadap Kristus benar berarti

iman kita benar. Murid-murid sudah bersama dengan Tuhan Yesus selama 3 tahun tapi waktu 3 tahun tidak menjamin mereka

sungguh-sungguh telah meletakkan objek iman mereka pada Tuhan Yesus. Kalau tidak ada iman, hidup kita akan hampa, kosong dan

menjadi sia-sia. Hidup kita akan menuju kebinasaan.



Mari kita mengkoreksi hidup kita, seberapa kita bereaksi kepada

Kristus baik di dalam lingkungan kerja, keluarga, kuliah, pelayanan; ataukah kita hanya beriman kepada diri kita sendiri;

ataukah kita berpegang kepada materialisme, diri, kenikmatan dunia, uang. Mari kita bereskan iman kita sehingga ibadah kita

tidak sia-sia.





2. Sorotan iman yang pertama adalah pada iman pelayan Tuhan.



Hari ini ada gejala

yang aneh dan brengsek yaitu menuduh orang yang dilayani tidak beriman ketika pelayanan yang dikerjakan tidak berhasil. Prinsip

ketaatan iman adalah pada yang melayani. Banyak orang ingin kelihatan “hebat, sakti” tapi tidak mau taat kepada Tuhan. Pelayan

Tuhan harus taat, setia kepada Tuhan. Kalau pelayanan kita tidak berhasil itu berarti kita yang salah, kita sudah tidak taat

kepada Tuhan, kita sibuk pelayanan tapi inti iman tidak ada.



Orang melayani dengan berbagai alasan, yaitu ada yang

takut diomeli pendeta sehingga melayani dengan asal-asalan tapi waktu dikritik akan marah besar, ada yang mencari aktualisasi

diri sehingga ketika kurang dihargai menjadi marah, ada juga yang ingin menjalankan otorisasi diri.



Pelayanan yang

benar adalah bagaimana kita menjadi budak yang siap melayani setiap waktu. Pelayanan harus dimulai dengan iman yang tepat

sehingga pelayan Tuhan akan bereaksi dengan tepat dalam menjalankan pelayanannya. Gereja akan bertumbuh kalau memiliki pelayan

yang beriman benar. Kalalu iman pelayan sudah kacau maka yang dilayani pun imannya menjadi kacau.





3. Ada atau

tidak adanya iman.



Orang sering berpikir secara humanitas dan dipengaruhi oleh pikiran dinamisme-animisme. Hal ini

berpengaruh terhadap cara pandang terhadap iman atau percaya. Percaya juga diberi tingkatan secara kuantitatif. Ada orang yang

kurang percaya, ada yang lebih percaya. Dalam perdukunan atau lingkup kuasa kegelapan memang ada kesaktian yang kurang, yang

lebih, ada setan yang sedikit, ada setan yang banyak. Kekristenan memandang iman tidak seperti di atas. Tidak ada iman sedikit,

atau banyak, kurang, atau lebih; dalam kekristenan yang ada hanya percaya atau tidak percaya, beriman atau tidak beriman. Iman

yang sebesar biji sesawi (ukuran yang sangat kecil) saja sudah cukup. Hal ini menunjukkan bahwa bukan besar atau kecilnya tapi

keberadaannya. Iman kepada Kristus bukan sedikit atau banyak tapi ada atau tidak ada.



Kalau kita kembali kepada

Kristus, menjalankan apa yang Kristus kehendaki maka kita akan memiliki kuasa yang besar. Iman sebiji sesawi cukup untuk bisa

memindahkan gunung. Ketika kita bereaksi dengan tepat di hadapan Kristus tidak ada hal yang terlalu besar, yang mustahil untuk

dapat dilakukan. Kalalu kita main dengan kemauan kita sendiri justru kita tidak akan mendapatkan karena Tuhan tidak akan beri,

tapi kalau kita main dengan kuasa kegelapan kita pasti mendapatkan apa yang kita mau. Setan pasti memberi apapun yang kita

minta karena yang diincar setan adalah nyawa kita. Tuhan akan memberikan yang terbaik untuk kita. Tuhan yang mengatur. Kalau

Tuhan menghendaki apa saja, kita harus jalan. Kita seringkali menuntut Tuhan yang nurut kita.



Orang sering

mengatakan bahwa dalam gerakan reformed tidak ada mujizat. Justru gerakan Reformed sering mengalami mujizat yang besar bukannya

mujizat kelas “sampah”, seperti miskin menjadi kaya, sakit menjadi sembuh, karena apa yang dipikirkan manusia adalah sampah.

Origen (salah satu bapa gereja) mengatakan: gunung adalah hambatan terbesar yang kita hadapi (zaman dulu: gunung dan laut

adalah hambatan terbesar yang sulit diterobos). Kita punya kuasa yang dasyat untuk memindahkan gunung sekalipun asalkan Tuhan

berkehendak. Kalalu Tuhan menginginkan, tidak ada yang bisa menghalangi.



Gereja kita sudah mengalami mujizat yang

besar seperti: dikeluarkannya izin membangun untuk gereja di Kertajaya walau diajukan dengan menuruti prosedur yang benar dan

tidak main akal-akalan, ruko di Andhika Plaza ini sudah berubah peruntukan secara resmi menjadi gereja, kita bisa bikin KKR

yang membawa orang kembali kepada Tuhan. Di dalam KKR, orang berdosa ditegur dosanya, sadar akan dosanya, menangis dan kemudian

bertobat, ini adalah pekerjaan Roh Kudus, ini adalah mujizat, ini tidak mungkin terjadi tanpa campur tangan Tuhan. Orang

berdosa akan marah kalau ditegur dosanya, tidak mungkin bertobat tanpa anugerah Tuhan; jadi kalau ada orang bertobat berarti

mujizat telah terjadi.



Jangan jalan sendiri menuruti ambisi diri. Biarkan Tuhan yang kerja, kita ini hanya

pekerjaNya. Jadi bukan masalah iman besar atau kecil, yang penting adalah kita mau taat atau tidak kepada Tuhan. Tuhan kita

adalah Tuhan yang hidup dan berkuasa. Semakin kita jalan sendiri, kita semakin tidak mengalami bahwa Tuhan kita hidup dan

berkuasa. Sejauh kita taat kepada Tuhan, kita akan selalu mengalami mujizat. Di tengah dunia yang penuh kesulitan ini jangan

sampai kita berjalan sendiri, karena akan mendatangkan kehancuran pada diri kita sendiri.





4. Iman yang benar

akan menyenangkan hati Tuhan.



Seperti yang sudah disinggung di depan bahwa pelayanan yang benar adalah menempatkan

diri kita sebagai budak di hadapan Tuan kita yaitu Tuhan Yesus Kristus. Budak paling takut kalau tuannya marah, maka budak akan

selalu berusaha bekerja sebaik mungkin, memberikan yang terbaik untuk menyenangkan hati tuannya. Seorang budak akan merasa

bahagia kalalu bisa melihat tuannya tersenyum atas hasil kerjanya. Kita sebagai budak Tuhan juga seharusnya mencari “senyum”

Tuan kita. Kalau Tuhan tersenyum kepada kita itulah sukses kita. Sukses bukan berarti semakin banyak materi yang diperoleh dan

ditumpuk, seberapa banyak kepandaian (gelar akademis) yang diperoleh, kedudukan setinggi apapun. Semuanya itu tidak bertahan

lama, patut disyukuri kalau bisa bertahan sampai mati. Nilai sukses sejati adalah kalau kita mendapatkan perkenanan Allah.Kalau

kita mendapatkan perkenanan Allah, di waktu akhir nanti Tuhan akan berkata kepada kita:” Masuklah dan turutlah dalam

kebahagiaan tuanmu.” (Matius 25:21b)



Marilah kita terus menggarap hidup iman kita agar semakin dikoreksi dan

bertumbuh agar kita dapat dipakai Tuhan dengan semakin heran dan pelayanan kita boleh menyenangkan hati Tuhan kita yaitu Tuhan

Yesus Kristus. Amin.



Oleh : Pdt. Sutjipto Subeno, M.Div.



Ringkasan Khotbah Mimbar di Gereja Reformed

Injili Indonesia (GRII) Andhika, Surabaya tgl 11 Mei 2008



(Ringkasan khotbah ini belum diperiksa oleh

pengkhotbah)



Sumber: http://www.grii- andhika.org/ ringkasan_ kotbah/2008/ 20080511. htm



Pengirim : Denny

Teguh Sutandio

dilihat : 451 kali


   
Copyright © 2005 Pustakalewi.net
All rights reserved. Protected by the copyright laws of the Indonesia
hosted and developed by Agiz YL Solution