Kamis, 02 April 2020 03:45:25 | Home | Index Berita | About Us | Statistik | Buku Tamu | Redaksi | Webmail | Login |  

Catatan Ringan

Perkembangan Peer to Peer Lending di Indonesia
Perkembangan Peer2Peer Lending (P2P Lending), pinjam meminjam berbasis aplikasi makin subur di Indonesia. Tapi kehadirannya tentu akan menimbulkan konsekuensi positif dan negatif.


Pengunjung hari ini : 284
Total pengunjung : 79864
Hits hari ini : 641
Total hits : 986419
Pengunjung Online : 9
Situs Berita Kristen PLewi.Net -Negara Tidak Boleh Kalah






SocialTwist Tell-a-Friend | |
Senin, 16 Juni 2008 00:00:00
Negara Tidak Boleh Kalah
“Negara tidak boleh kalah.” Itu ucapan Presiden Yudhoyono –beberapa

pejabat negara sahabat melafalkannya menjadi lucu: “Presiden You do you know?”- merespon aksi kekerasan Front Pembela Islam

terhadap Aliansi Kebangsaan untuk Kebebasan Beragama dan Berkeyakinan di Monas pada Peringatan Pancasila 1 Juni

lalu.



Sehari setelah peristiwa itu, saya menghadiri jumpa pers Aliansi di Wahid Centre, Matraman, Jakarta. Saat itu,

kolumnis senior dan budayawan Gunawan Mohamad mengecam keras tak adanya toleransi yang diberikan kelompok Islam garis keras

kepada Aliansi Kebangsaan dan rekan-rekannya.



GM –begitu panggilan mantan pimpinan redaksi Majalah Tempo ini-

mencontohkan kelompok Hizbut Tahrir, yang saat kejadian itu melakukan aksi unjuk rasa menentang kenaikan harga BBM dan dianggap

turut berperan dalam penggebukan aktivis Aliansi Kebangsaan. “Di Eropa dan di banyak negara, Hizbut Tahrir itu dilarang. Di

sini, kami memberi toleransi. Tapi, apa timbal baliknya bagi kami?” kata GM.



Masih dengan ungkapan haru dan

terbata-bata, pemilik rubrik Catatan Pinggir di Majalah Tempo itu melanjutkan, “Mereka itu tidak mau mengibarkan bendera merah

putih. Tapi kami ini... (ia diam sesaat) rela mati demi merah putih!”



Selain tidak pernah membawa bendera merah

putih dalam aksi-aksinya, Hizbut Tahrir selama ini dikenal dalam demonya mengampanyekan agar pemerintahan dipimpin kelompok

khilafah. Mereka juga ngotot tidak mau membentuk partai dan memilih perjuangan ekstra parlementer. Lha gitu loh, kalau tidak

percaya pada sistem pemerintahan yang sah, kok mau-maunya memprotes kenaikan harga BBM yang diputuskan

kabinet?



Heboh penyerangan Laskar Islam terhadap Aliansi Kebangsaan dan keluarnya SKB peringatan untuk kelompok

Jemaah Ahmadiyah Indonesia (JAI) tidak lantas membuat kita terlena terhadap peristiwa lain. Simaklah berita yang dirilis Harian

Komentar 14 Juni lalu berjudul ‘Tiga Gereja di Bekasi Terancam Dibongkar’.



Puluhan jemaat tiga gereja di Jatimulya,

Tambun Selatan, Bekasi, Jawa Barat, mengadu ke Polda Metro Jaya, Kamis (12/06) lalu, karena gerejanya hendak dibongkar oleh

aparat kecamatan setempat. Kedatangan para jemaat itu didampingi oleh pengacara dari Tim Pembela Kebebasan Beragama. Namun,

petugas di Sentra Kepolisian Kepolisian (SPK) Polda Metro Jaya belum bersedia menerima laporan jemaat itu karena masih harus

berkonsultasi dengan pimpinannya.



Perwakilan jemaat kemudian menemui Wakil Direktur Reserse Kriminal Umum AKBP

Purwandhi Ariyanto untuk berkonsultasi. Pendeta Pestaria Hutadjulu mengatakan, pihaknya mengadu ke Polda sebab pihak Kecamatan

Tambun Selatan akan membongkar ketiga gereja yakni HKBP, Gekindo dan GPdI pada Sabtu, 14 Juni 2008 hari ini.



Pihak

kecamatan menyatakan pembongkaran dilakukan setelah menerima pengaduan warga Jatimulya yang keberatan dengan berdirinya gereja

itu “Gereja itu berdiri di atas tanah yang kami beli sejak Juni 1989,” katanya.

Menurut dia, 10 September 2005, ketiga

gereja itu disegel oleh warga sehingga jemaat terpaksa beribadah di jalanan.



Penyegelan ini menimbulkan ketegangan

di daerah itu sehingga membuat Polda Metro Jaya mempertemukan pihak-pihak yang bermasalah sehingga dihasilkan satu kesepakatan

yakni pemerintah daerah menyediakan lokasi baru untuk tempat ibadah. Namun hingga kini belum ada tindak lanjut kesepakatan

itu.



“Tanggal 10 Juni 2008, kami diundang ke kantor kecamatan namun bukannya membicarakan lahan untuk ibadah tetapi

malah diberitahu bahwa gereja akan dibongkar,” katanya. Pestaria menegaskan, kalau sampai gereja itu dibongkar pihaknya akan

mempertahankan sebab bangunan itu merupakan hak miliknya. Sementara itu, seorang anggota jemaat bernama Situmeang mengaku tidak

mengerti mengapa keberadaan gereja itu dipermasalahkan setelah dipakai belasan tahun. “Setelah dipakai 15 tahun, mengapa baru

muncul masalah,” katanya. Akibat penyegelan ketiga gereja itu, sekitar 2000 jemaat mengalami kesulitan untuk

beribadah.



Pengacara jemaat gereja, Saor Siahaan, menyatakan pihaknya melaporkan aparat kecamatan sebab pembongkaran

itu dilakukan oleh kantor kecamatan itu.”Ini sudah merupakan bentuk ancaman terhadap jemaat gereja,” katanya.



Negara

tidak boleh kalah. Negara itu berarti semua warga negara, tidak hanya kelompok Ahmadiyah dan korban penyerangan Laskar Islam,

tapi juga gereja yang tak henti menjadi korban penganiayaan, sejak era Orde Lama hingga Orde Reformasi. Bahwa Kitab Suci kami

menggariskan pengikut Kristus harus mengalami masa-masa kesukaran, memang benar. Tapi, bukankah sebagai sebuah negara yang

bertanggungjawab terhadap warganya, maka pemerintah wajib melindungi semua warga negara tanpa kecuali.



Negara tidak

boleh kalah. Is it right, Mr. You Do You Know?

dilihat : 465 kali


   
Copyright © 2005 Pustakalewi.net
All rights reserved. Protected by the copyright laws of the Indonesia
hosted and developed by Agiz YL Solution