Kamis, 22 Oktober 2020 01:09:20 | Home | Index Berita | About Us | Statistik | Buku Tamu | Redaksi | Webmail | Login |  

Catatan Ringan

Beatrice Portinari
Beatrice Portinari (1266-1290) adalah seorang anak manusia biasa yang kemudian menjadi obyek imajinasi luar biasa sehingga identitas dirinya secara tidak adil akan terseret dalam status luar biasanya itu.



Pengunjung hari ini : 110
Total pengunjung : 237735
Hits hari ini : 1167
Total hits : 2457132
Pengunjung Online : 11
Situs Berita Kristen PLewi.Net -Di Mata Tuhan, Kesatuan Adalah Sesuatu Yang Indah




SocialTwist Tell-a-Friend | |
Senin, 26 Mei 2008 00:00:00
Di Mata Tuhan, Kesatuan Adalah Sesuatu Yang Indah
Kesatuan bagi banyak kita mungkin tidak bernilai. Kita pandai mempercakapkannya, menempatkan pada

media cetak atau elektronik, tetapi tidak mewujudkannya menjadi kenyataan. Bahkan kita sendiri menjadi hambatan dari kesatuan

itu sendiri.



Thema sinode kita, Gereja Bethel Indonesia dari periode ke periode bersuarakan ajakan untuk bersatu

dan saling mengasihi. Salah satu thema yang juga mewarnai Badan Pekerja Harian periode 2004-2008 adalah Menuai Bersama Dalam

Kasih. Suatu thema yang bernafaskan kesatuan, menggugah hati, memberi inspirasi bahkan memberi arah untuk menjalankan tugas

pelayanan GBI ke depan.



Namun diantara banyak GBI, kesatuan masih merupakan barang langka, dicari dan didoakan

dalam jemaat lokal, tingkat wilayah, tingkat daerah bahkan tingkat nasional. Kesatuan masih merupakan pergumulan kita dari masa

ke masa dari generasi ke generasi.



Karena itu marilah kita renungkan dua hal bertalian dengan kesatuan yang

digambarkan oleh Alkitab. Pertama, mengapa kesatuan itu begitu penting dan kedua apa langkah kita untuk menciptakan kesatuan

diantara kita.





Mengapa Kesatuan Itu Penting?



Berbagai ungkapan dalam Alkitab yang menggambarkan

betapa pentingnya. Tuhan Yesus berkata : Dan lagi Aku berkata kepadamu : Jika dua orang daripadamu di dunia ini sepakat meminta

apapun juga, permintaan mereka itu akan dikabulkan oleh BapaKu yang di surga. (Mat.18:19).



Rasul Paulus dalam

berbagai suratnya selalu menganjurkan jemaat yang dibentuknya melalui pemberitaan Injil untuk selalu sehati sepikir dalam

segala sesuatu. Kepada jemaat di Roma, Hendaklah kamu sehati sepikir dalam hidupmu bersama; janganlah kamu memikirkan

perkara-perkara yang tinggi, tetapi arahkanlah dirimu kepada perkara-perkara yang sederhana. Janganlah menganggap dirimu

pandai. (Roma 12:16).



Kepada Jemaat di Korintus; Akhirnya, saudara-saudaraku, bersukacitalah, usahakanlah dirimu

supaya sempurna. Terimalah segala nasihatku! Sehati sepikirlah kamu, dan hiduplah dalam damai sejahtera; maka Allah, sumber

kasih dan damai sejahtera akan menyertai kamu! (2 Kor.13:11) dan juga kepada jemaat di Filipi, Rasul Paulus menganjurkan

demikian: Euodia kunasihati dan Sintikhe kunasihati, supaya sehati sepikir dalam Tuhan. (Fil.4:2).



Bahkan orang

duniapun menyadari betapa pentingnya kesatuan. Bersatu kita teguh, bercerai, kita runtuh. Pepatah Persia mengatakan : Jika dua

orang di bumi sehati, mereka dapat pindahkan sebuah gunung.



Ada tiga hal besar dalam Alkitab yang menggambarkan

betapa pentingnya kesatuan diantara orang yang percaya kepada Tuhan.



Pertama, Kesatuan itu penting. Kesatuan itu

adalah sesuatu yang baik dan indah dimata Tuhan. Sungguh alangkah baiknya dan indahnya, apabila saudara-saudara diam bersama

dengan rukun. Seindah-indahnya kuntum bunga, lebih indah kesatuan dimata Allah. Seindah-indahnya pelangi, lebih indah kesatuan

di mata Tuhan. Karena kesatuan itu sesuatu yang baik dan indah di mata Tuhan, maka kita tidak boleh menganggapnya remeh,

sesuatu yang tidak penting, menyobeknya dan membuangnya di tong sampah. Sesuatu yang penting di mata Tuhan, harus kita hargai,

menyimpannya di dalam hati dan menerapkannya dalam hidup kita.



Kedua, kesatuan itu penting karena kesatuan itu

dasar dari segala berkat. Seperti embun gunung Hermon yang turun ke atas gunung-gunung Sion. Sebab kesanalah Allah

memerintahkan berkat, kehidupan untuk selama-lamanya. (Maz.133:3)



Ayat Firman Tuhan di atas menyatakan bahwa

kesatuan adalah dasar dari berkat Tuhan. Saya percaya setiap kita baik pribadi, keluarga, gereja maupun secara bangsa dan

negara memerlukan berkat Tuhan. Dan dasar dari berkat Tuhan adalah kesatuan. Karena Tuhan Yesus mengatakan bahwa jika kita

tidak sehati dan bersatu maka Allah tidak akan mendengar doa kita dan memberkati kita. Sebab itu, jika engkau mempersembahkan

persembahanmu di atas mezbah dan engkau teringat akan sesuatu yang ada dalam hati saudaramu terhadap engkau, tinggalkanlah

persembahanmu di depan mezbah itu dan pergilah berdamai dahulu dengan saudaramu, lalu kembali untuk mempersembahkan

persembahanmu itu. (Mat. 5:23-24).



Ketiga, kesatuan itu penting karena Tuhan Yesus mendoakannya. Dan bukan untuk

mereka ini saja Aku berdoa, tetapi juga untuk orang-orang, yang percaya kepadaKu oleh pemberitaan mereka; supaya mereka semua

menjadi satu, sama seperti Engkau, ya Bapa, di dalam Aku dan Aku di dalam Engkau, agar mereka juga di dalam Kita, supaya dunia

percaya, bahwa Engkaulah yang telah mengutus Aku. (Yoh.17:20-21).



Jika Tuhan Yesus menjadikan kesatuan sebagai

pokok doaNya berarti benar kesatuan adalah sesuatu yang indah dan baik di mataNya. Kita juga sebagai GerejaNya harus melihat

kesatuan sebagai sesuatu yang baik dan indah, dimana kita harus mewujudkannya sampai Ia dating kembali.





Apakah

langkah kita untuk menciptakan kesatuan diantara sesama orang percaya?



Kesatuan adalah sesuatu yang tidak terjadi

dengan sendirinya. Harus didoakan, diusahakan dan dipelihara. Dalam kitab Nabi Zefanya, khususnya pasal 3:9-13, terdapat tiga

nasehat yang dapat membantu kita untuk mewujudkan kesatuan diantara kita.



Kesatuan dapat terjadi, jika kita tidak

saling mencela



Tetapi sesudah itu Aku akan memberikan bibir lain kepada bangsa-bangsa, yakni bibir yang bersih,

supaya sekaliannya mereka memanggil nama TUHAN, beribadah kepadaNya dengan bahu-membahu. (Zefanya 3:9). Dalam ayat ini,

terdapat kalimat bibir yang bersih. Bibir yang bersih adalah bibir yang mengucapkan kata-kata yang membangun iman, menghibur

hati susah dan memberi pengharapan bagi mereka yang putus asa. Jika kita memiliki bibir semacam ini, nama Tuhan dimuliakan dan

kesatuan adalah buahnya. Namun jika kita saling mencela, saling menghujat, saling menyalahkan, saling mencari kesalahan, maka

kesatuan akan menjadi barang langka, dan perpecahan akan begitu gampang kita lihat di antara kita.



Kesatuan dapat

terjadi, jika kita memiliki satu beban.



Tetapi sesudah itu Aku akan memberikan bibir lain kepada bangsa-bangsa,

yakni bibir yang bersih, supaya sekaliannya mereka memanggil nama TUHAN, beribadah kepadaNya dengan bahu-membahu. (Zefanya

3:9). Dalam ayat yang sama ini, kita jumpai kalimat bahu membahu. Kalimat bahu-membahu, berarti satu beban, satu misi, dan

visi, satu tujuan. Kesatuan akan gampang terjadi diantara kita, kalau kita tidak mencari keuntungan sendiri, keuntungan

kelompok atau keuntungan gereja sendiri. Kepentingan GBI dan Kerajaan Allah harus menjadi target kita. Kita bertengkar dan

berkelahi karena kepentingan pribadi kita yang tidak terpenuhi. Dari manakah datangnya sengketa dan pertengkaran di antara

kamu? Bukankah datangnya dari hawa nafsumu yang saling berjuang di dalam tubuhmu? Kamu mengingini sesuatu, tetapi kamu tidak

memperolehnya, lalu kamu membunuh; kamu iri hati, tetapi kamu tidak mencapai tujuanmu, lalu kamu bertengkar dan kamu berkelahi.

Kamu tidak memperoleh apa-apa, karena kamu tidak berdoa. (Yak.4:1-2).



Kesatuan dapat terjadi, jika berjalan dalam

kerendahan hati.



Diantaramu akan Kubiarkan hidup suatu umat yang rendah hati dan lemah, dan mereka akan mencari

perlindungan pada nama Tuhan. (Zef.3:12). Orang sombong tidak memiliki sahabat dan ia sukar untuk bersekutu dengan orang lain.

Mengapa? Karena cara berbicaranya, cara jalannya dan gerak-geriknya membuat orang merasa terganggu. Ia dimusuhi orang. Bukan

saja orang sombong dimusuhi sesamanya tetapi ia dimusuhi oleh Allah. Tetapi kasih karunia, yang dianugerahkanNya kepada kita,

lebih besar daripada itu. Karena itu Ia katakan : Allah menentang orang yang congkak, tetapi mengasihani orang yang rendah

hati. (Yak.4:6)



Orang yang rendah hati akan menjadi sahabat Allah dan sesamanya. Bayangkanlah apa yang akan terjadi

dalam GBI kalau para Pendeta dan para pemimpinnya berjalan dalam kerendahan hati? Jawabnya adalah kesatuan akan terjadi

diantara kita dan Tuhan akan memberkati GBI lebih dahsyat lagi dari apa yang telah kita alami sekarang!



Oleh : Pdt.

DR. Jacob Nahuway, MA



Pengirim : Tiny Ribka

dilihat : 516 kali


   
Copyright 2005 Pustakalewi.net
All rights reserved. Protected by the copyright laws of the Indonesia
hosted and developed by Agiz YL Solution