Kamis, 02 April 2020 04:49:15 | Home | Index Berita | About Us | Statistik | Buku Tamu | Redaksi | Webmail | Login |  

Catatan Ringan

Perkembangan Peer to Peer Lending di Indonesia
Perkembangan Peer2Peer Lending (P2P Lending), pinjam meminjam berbasis aplikasi makin subur di Indonesia. Tapi kehadirannya tentu akan menimbulkan konsekuensi positif dan negatif.


Pengunjung hari ini : 340
Total pengunjung : 79920
Hits hari ini : 936
Total hits : 986714
Pengunjung Online : 11
Situs Berita Kristen PLewi.Net -Dinamika Iman Gideon






SocialTwist Tell-a-Friend | |
Senin, 26 Mei 2008 00:00:00
Dinamika Iman Gideon
Nats: Hak. 6:1-24



Kehidupan rohani itu seperti layaknya sebuah musim, di dalam

konteks Indonesia ada dua musim, yakni musim penghujan dan musim panas. Ada suatu musim di mana kita sungguh-sungguh menikmati

Tuhan, kita begitu dekat dengan-Nya. Namun adakalanya kerohanian kita menjadi sangat kering dan gersang. Apakah kita mengalami

kondisi sedemikian dalam kehidupan kerohanian kita? Hal ini menjadi suatu tanda yang menyadarkan kita akan realita bahwa

ternyata kondisi kerohanian sedemikian dapat saja terjadi tengah-tengah Kekristenan.



Model kerohanian semacam ini

akan kita pelajari dalam diri Gideon. Dibandingkan dengan hakim-hakim yang lain, dinamika perjalanan iman Gideon ini dicatat

dengan sangat lengkap dalam Alkitab. Kisah Gideon dimulai ketika Allah memilihnya menjadi pemimpin seluruh bangsa Israel. Tuhan

bahkan menyebutnya sebagai “pahlawan yang gagah berani.” Inilah kisah kehidupan Gideon yang bersinar di titik awal (Ps. 6) dan

mencapai puncak ketika Gideon berhasil menjadi “seorang penakluk” (Ps. 7-8). Namun setelah mencapai titik puncak, perjalanan

iman Gideon sampai pada fase decline (Ps. 8), Gideon mulai berkompromi dengan dosa. Dia mengakhiri karirnya dengan

gelap.



Konteks menyatakan bahwa Israel kembali melakukan apa yang jahat di mata Tuhan maka Tuhan menyerahkan mereka

di bawah kekuasaan bangsa Midian. Hidup bangsa Israel sangat menderita dan miskin. Setiap kali orang Israel selesai menabur,

datang orang Midian, orang Amalek dan orang-orang dari sebelah timur mengambil hasil panen mereka. Di tengah penderitaan itulah

bangsa Israel mulai ingat Tuhan dan berseru pada-Nya. Siklus ini terus berulang; Tuhan kemudian membangkitkan seorang hakim dan

mereka hidup aman. Namun ketika hakim itu mati, mereka kembali melakukan apa yang jahat di mata Tuhan. Inilah siklus

keberdosaan yang terus terjadi secara berulang.



Di dalam penjajahan bangsa Median, orang Israel berseru pada Tuhan

dan Ia mendengar keluh kesah itu. Ia mendengar dan mengutus mengutus seorang nabi dan mengingatkan mereka akan perbuatan-Nya

yang dahsyat mengeluarkan mereka dari perbudakan di Mesir. Tentang kisah ini mereka telah mengetahuinya sejak turun temurun,

termasuk pada Gideon. Namun semua itu jadi berbeda ketika Malaikat TUHAN datang dan bertemu dengannya secara personal. Kalau

iman kita dikaitkan dengan iman mayoritas, kita merasa aman karena dapat bersembunyi dibaliknya. Namun jika harus dikaitkan

dengan personal, maka langsung terlihat betapa susahnya kita. Ketika Tuhan datang secara pribadi pada Gideon, maka ia segera

mempertanyakan keberadaan Tuhan dan pemeliharaan-Nya seperti yang pernah ia dengar dari cerita nenek moyang (Hak. 6:13). Dengan

kata lain ia bertanya apakah Tuhan sekarang sama dengan Tuhan yang kami pernah dengar ceritanya dari nenek moyang kami?

Pergumulan iman ini tidaklah mudah. Ia dengan halus mencoba meminta penjelasan dengan mengutarakan semua fakta yang sebaliknya

kepada Tuhan. Israel tidak bebas, berada di bawah Midian dan menderita.



Gideon mencoba dealing dengan Tuhan dengan

mengungkapkan fakta. Ia memang berada pada posisi lemah dan berupaya meminta bukti dari Tuhan. Kalau kemudian Tuhan memberikan

bukti dan sepertinya semua menjadi beres, maka sesungguhnya, semua yang terjadi itu tidaklah semudah yang kita bayangkan. Kita

dapat melihat dan melompati aspek-aspek penting dalam proses yang sedang terjadi dengan cara menyederhanakan pergumulan iman

kita. Namun pada akibatnya kita tidak memahami sisi indah yang mendetail dalam perjalanan iman itu. Melihat Tuhan di

dalamnya.



Gideon tidak berusaha mencobai, mengatur atau mendikte Allah. Ia hanya ingin tahu apakah janji Tuhan pada

nenek moyangnya tetap berlaku sekarang? Ia bertanya dua hal, apakah Tuhan itu baik dan apakah pemeliharaan Tuhan itu. Jika Ia

baik, apakah kehendak-Nya bagiku? Jika Ia memelihara, bagaimana saya dapat berserah pada-Nya. Kenyataan yang ada membuatnya

sulit menerima semua ini. Pertanyaan ini menjadi semacam pertaruhan iman Gideon, menjadi pola seluruh perjalanan iman kita

secara personal. Gideon mempertanyakan pertanyaan penting yang akan mempengaruhi perjalanan imannya kelak. Seperti apakah

kebaikan Allah dan pemeliharaan Allah itu? Kebaikan Allah secara singkat dapatlah dipahami sebagai Allah tidak pernah

merancangkan kejahatan bagi setiap anak-anak-Nya dan Pemeliharaan Allah dapat dipahami sebagai semua yang diberikan Allah pada

kita itu baik adanya. Berdasarkan definisi ini maka kita akan menganalisa realita iman Gideon dan kita melihat dua

aspek:



1. Respon ketidakmampuan memahami pekerjaan dan kehendak Allah



Saat Malaikat TUHAN datang dan

memanggil Gideon secara personal, ia langsung berusaha melindungi perasaannya, bahwa ternyata Ia tidak cukup kuat atau mampu

memahami pekerjaan Allah. Itulah sebab, ia mempertanyakan apakah janji Tuhan tidak berubah? Apakah janji yang diberikan sejak

zaman nenek moyang itu tetap sama hingga sekarang? Pergumulan iman adalah pergumulan terhadap keberadaan dan janji Tuhan,

bukan? Kita mudah menghadapi jika ini menyangkut iman Kristen secara umum, tetapi tidak jika berkait dengan iman personal. Kita

tidak cukup kuat memahami Tuhan maka tidaklah heran kalau kita lantas bernegosiasi dengan Tuhan. Di satu sisi, kita tahu bahwa

Allah itu baik, tetapi kita tidak mampu atau cukup kuat memahami kehendak-Nya atas kita, personally. Kita menyebutnya sebagai

pergumulan iman namun lebih tepatnya, kalau kita katakan sebagai “keluhan.” Kita tidak cukup mampu menerima kenyataan kalau

kehendak Tuhan itu dinyatakan atas kita secara pribadi, kita cenderung ingin lari menghindari Tuhan. Bagaimana cara saya

berserah pada-Nya?



Gideon mau percaya, tetapi sulit baginya. Secara halus, ia mempertanyakan janji Tuhan. Ia mulai

mengeluh dan membandingkan saat ini dengan zaman nenek moyangnya. Esensi pergumulan iman itu digesernya dengan mengutarakan

realita. Kita sangat piawai melakukan hal yang sama. Tidak heran jika pengenalan akan Tuhan di dasarkan pada realita. Jika

realita berubah, maka Tuhanpun dilihat sebagai yang berubah pula. Pada akibatnya sikap berserah hanya akan dilakukan jika

berada dalam wilayah yang kita rasakan aman saja. Kita akan rela hati membuang dosa-dosa yang kecil dengan segera tetapi

“bergumul” untuk membuang dosa-dosa yang besar. Di mobil kita meletakkan uang kecil, baik uang logam atau kertas. Kita tidak

berat hati mengeluarkan uang tersebut untuk parkir, dan sebagainya. Apalagi jika uang itu kotor dan dekil. Dengan cepat dan

senang hati kita keluarkan. Kita tahu bahwa kehendak Tuhan menuntut seluruh perubahan hidup, namun dengan dalih bergumul kita

berusaha menghindar karena realita sulit diterima.



Pengalaman iman adalah upaya memahami tuntutan Tuhan dari diri

kita, yaitu percaya bahwa Ia baik dan Ia memelihara. Di sinilah kita ternyata menjumpai ketidakcukupan kemampuan menerimanya.

Tuhan tidak ingin ada hal lain yang lebih penting dari diri-Nya, bahkan terhadap perbuatannya di masa lalu pada

kita.



Dalam hal bagaimanakah iman itu diuji? Iman tidak diuji dengan seberapa banyak kita melihat atau mengalami

mujiizat-mujizat Tuhan diberikan, melainkan pada masihkah kita mengucap syukur atas segala perbuatan-Nya dalam hidup kita?

Kerohanian Kristen sangat ditentukan oleh hati yang bersyukur terhadap apapun yang Tuhan buat. Kita memang tidak kuat atau

cukup mampu menerima. Kita dapat mengucap syukur namun sesungguhnya di dalam hati yang terdalam tidak dapat menerima realita

ini. Protes dan keluhan disampaikan pada Tuhan. Pertanyaannya adalah apa arti bersyukur? Bersyukur berarti menerima apapun yang

Tuhan perbuat; bahwa Ia pasti tidak salah memperlakukan kita; bahwa Ia tetap sama dan tidak berubah.



2.

Mempersamakan Kerohanian sebagai Pengalaman Perasaan



Adalah keliru jika menyamakan antara pengalaman perasaan dengan

pengalaman kerohanian. Yang dimaksud “Pengalaman Perasaan” di sini adalah semua perasaan dalam relasinya dengan pekerjaan Tuhan

dalam hidup. Pengalaman perasaan seringkali jadi ukuran temperatur kerohanian. Jika perasaan kita stabil, maka kerohanian kita

stabil. Memang, Tuhan memberikan pengalaman rohani, sukacita, damai sejahtera, dan sebagainya. Misalnya melalui jawaban doa

yang kita terima atau pengertian Firman. Tuhan memang pernah memakai cara seperti itu untuk kondisi tingkat kerohanian

tertentu. Bukankah setiap kita juga pernah mengalami pengalaman serupa di mana kita begitu bersemangat melayani, doa

berjam-jam, membaca Alkitab berpasal-pasal dan masih banyak lagi.



Semua pengalaman perasaan seperti ini tidak dapat

dijadikan sebagai ukuran bagi pertumbuhan rohani sebab mungkin sekali Tuhan mengambil semua pengalaman rohani itu. Akibatnya

kita merasa kehilangan. Kita tidak menemukan perasaan seperti itu lagi, lalu mulai bertanya: “Di manakah Engkau, Tuhan?” Ketika

tidak mendapatkan jawaban, saat itu kita menjumpai, kehidupan rohani kita gersang dan kering lantas kita mulai membandingkan

antara dulu dan sekarang. Mungkin sekali Tuhan mengangkat semua perasaan tersebut, karena ini momen bagi Tuhan untuk menyapih

kita dan menjadikan kita lebih dalam pengenalan akan Kristus. Namun, orang tidak rela kalau pengalaman itu diambil darinya.

Celakanya, pengalaman rohani itu menjadikan orang sombong rohani. Sombong rohani bukan karena ia mempunyai pengetahuan rohani

tetapi sombong rohani yang dimaksud disini adalah orang lebih suka mengajar daripada diajar. Orang tidak suka melihat orang

lain mempunyai relasi dengan orang lain lebih baik.



Dalam suatu buku dituliskan pertama kali orang Kristen bertobat

maka semua akan tampak indah seperti layaknya masa-masa honeymoon tetapi lama kelamaan bulan madu itu akan hilang dan kita

harus bergumul berjalan bersama dengan Tuhan. Setiap hari ada pergumulan iman dan kita merasa mendapatkan kelegaan dan sukacita

ketika datang beribadah kepada Tuhan sehingga orang tidak ingin melewati hari Minggu. Tidak! Masih ada hari-hari lain yang

harus kita lewati dan bergumul setiap hari bersama Tuhan dan kita semakin mengenal Dia dan kebenaran-Nya.



Gideon

dalam perjalanan imannya, ia semakin mengenal Tuhan, hal ini terlihat dari reaksi Gideon ketika Ia bertemu dengan Tuhan, Gideon

berkata, “Celaka aku, aku melihat Tuhan;” ia juga memberikan persembahan buat Tuhan. Ada satu tahap loncatan dari Gideon dengan

mengatakan engkau adalah Yehovah Shalom. Ini merupakan salah satu providensia Allah. Pertumbuhan iman harus melewati suatu

proses pergumulan, Tuhan ingin kita mengenal Tuhan lebih dekat secara pribadi, mengenal Dia sebagai Tuhan dan Penebus yang

hidup. Kita harus siap ketika Tuhan menyapih kita, Tuhan sedang ingin mengajar kita.



Pergumulan sejati selalu

membawa kita semakin dekat dengan Tuhan dan hal itu ditandai pengenalan yang benar akan siapakah Tuhan secara pribadi. Jadi,

bukan hanya sekadar pengalaman perasaan sebab pengalaman perasaan itu bisa berubah. Gideon semakin kenal dekat dengan Allah

Yehovah, ia bisa memberikan definisi untuk Allah pertanyaannya sekarang adalah Allah seperti apakah yang kita kenal? Pertanyaan

yang sama Tuhan Yesus juga pernah ajukan pada para murid: “Menurut kata orang, siapakah Aku ini?” Para murid mengambil opini

masyarakat lantas Tuhan Yesus kembali mengajukan pertanyaan: “Menurut kamu sendiri siapa Aku?” Para murid harus memberikan

definisi secara pribadi tentang siapakah Tuhan Yesus. Mereka sudah bersama-sama dengan Tuhan Yesus sekian lamanya, mereka

melihat bagaimana Tuhan Yesus mengajar, menghardik, memberi makan 5000 orang lebih, dan masih banyak mujizat lain yang mereka

lihat dan sekarang mereka harus mengambil kesimpulan. Petrus langsung memberikan jawab: “Engkau adalah Mesias Anak Allah yang

hidup.” Namun definisi itu tidak menjadikan konsep berpikir Petrus menjadi benar.



Demikian pula halnya dengan hidup

rohani. Hidup rohani kita tidak seperti musim yang selalu berganti di mana ada kalanya kita sangat intim namun ada suatu waktu

kita merasa renggang dan gersang. Apa yang menjadi ukuran kehidupan rohani kita? Kalau kita hanya menggunakan perasaan sebagai

ukuran maka itu bukanlah pergumulan sejati. Pergumulan sejati membawa pengenalan kita semakin dekat dengan Tuhan. Maukah kita

bergumul melewati hari-hari kita bersama dengan Tuhan dan membawa kita semakin dekat dengan Tuhan? Amin



Oleh : Pdt.

Drs. Thomy J. Matakupan, S.Th., M.Div.



Pdt. Drs. Thomy Job Matakupan, S.Th., M.Div. adalah asisten gembala sidang

Gereja Reformed Injili Indonesia (GRII) Andhika, Surabaya dan Direktur Sekolah Theologi Reformed Injili Surabaya (STRIS)

Andhika. Beliau meraih gelar Sarjana Theologi (S.Th.) dan Master of Divinity (M.Div.) dari Sekolah Tinggi Theologi Reformed

Injili Indonesia (STTRII) Jakarta . Beliau menikah dengan Ev. Mercy Grace Preally Putong Matakupan, S.Th. dan dikaruniai

seorang putri: Nikita Ilona Putri Matakupan.



Ringkasan Khotbah Mimbar di Gereja Reformed Injili Indonesia (GRII)

Andhika, Surabaya tgl 7 April 2008

(Ringkasan khotbah ini belum diperiksa oleh pengkhotbah)



Sumber:

http://www.grii-andhika.org/ringkasan_kotbah/2008/20080407.htm



Pengirim : Denny Teguh Sutandio



Dikutip

dari milis www.pustakalewi.net

dilihat : 466 kali


   
Copyright © 2005 Pustakalewi.net
All rights reserved. Protected by the copyright laws of the Indonesia
hosted and developed by Agiz YL Solution