Senin, 20 Januari 2020 13:59:34 | Home | Index Berita | About Us | Statistik | Buku Tamu | Redaksi | Webmail | Login |  

Catatan Ringan

Perkembangan Peer to Peer Lending di Indonesia
Perkembangan Peer2Peer Lending (P2P Lending), pinjam meminjam berbasis aplikasi makin subur di Indonesia. Tapi kehadirannya tentu akan menimbulkan konsekuensi positif dan negatif.


Pengunjung hari ini : 570
Total pengunjung : 18357
Hits hari ini : 3962
Total hits : 567467
Pengunjung Online : 4
Situs Berita Kristen PLewi.Net -Orang Buta dan Pelita






SocialTwist Tell-a-Friend | |
Rabu, 14 Mei 2008 00:00:00
Orang Buta dan Pelita
Suatu malam, seorang buta berpamitan pulang dari rumah sahabatnya. Sang sahabat membekalinya dengan sebuah

pelita. Orang buta itu dengan terbahak berkata, “Buat apa aku bawa pelita? Tak ada gunanya bagiku! Aku bisa pulang kok.” Dengan

lembut sahabatnya menjawab, “Ini agar orang lain bisa melihat kamu, agar mereka tidak menabrakmu.” Akhirnya orang buta itu

setuju untuk membawa pelita.



Tak berapa lama, dalam perjalanan pulang, seorang pejalan menabrak si buta. Dalam

kagetnya, si buta memaki, “Hei, kamu kan punya mata! Beri jalan buat orang buta dong!” Tanpa berbalas sapa, mereka pun saling

berlalu.



Lebih lanjut, seorang pejalan lain menabrak si buta. Si buta bertambah marah, “Apa kamu buta? Tidak bisa

lihat ya? Aku bawa pelita ini supaya kamu bisa lihat!” Pejalan itu menukas, “Kamu yang buta! Apa kamu tidak lihat, pelitamu

sudah padam!” Si buta tertegun.... menyadari situasinya, sang penabrak meminta maaf, “Oh, maaf, akulah yang 'buta', tidak

melihat bahwa engkau adalah orang buta.” Wajah si buta memerah karena malu, dengan tersipu ia menjawab, “Tak apa, maafkan aku

juga atas kata-kataku yang kasar.” Dengan tulus, si penabrak membantu menyalakan kembali pelita si buta. Mereka pun melanjutkan

perjalanan masing-masing.



Dalam perjalanan selanjutnya, lagi, seorang pejalan menabrak si buta. Kali ini, si buta

lebih berhati-hati, dengan santun ia bertanya, “Maaf, apakah pelitaku padam?” Penabraknya menjawab, “Lho, aku justru hendak

menanyakan hal yang sama.” Hening sejenak.... akhirnya, secara bersamaan mereka bertanya, “Apakah engkau orang buta?” Serempak

pula mereka menjawab, “Ya....” Mereka berdua meledak dalam tawa, lalu berupaya saling membantu menemukan kembali pelita mereka

yang berjatuhan sehabis bertabrakan.



Saat itu, seorang pejalan lewat. Dalam keremangan malam, nyaris saja ia

menabrak kedua orang buta yang sedang mencari-cari pelita mereka. Ia pun berlalu, tanpa mengetahui bahwa mereka adalah orang

buta. Timbul pikiran dalam benak orang ini, “Rasanya, aku perlu juga membawa pelita, agar aku dapat melihat jalan dengan lebih

baik, dan agar orang lain pun dapat terbantu melihat jalan mereka.”



BAHAN PERENUNGAN:



Pelita

melambangkan terang kebijaksanaan. Membawa pelita berarti mengamalkan kebijaksanaan dalam hidup. Pelita, sama halnya dengan

kebijaksanaan, melindungi kita dan pihak lain dari berbagai aral rintangan (tabrakan!).



Orang buta pertama mewakili

mereka yang diliputi kegelapan batin, keangkuhan, kebebalan, ego, dan kedengkian. Selalu menunjuk ke arah orang lain, tidak

sadar bahwa lebih banyak jarinya yang menunjuk ke arah dirinya sendiri. Dalam perjalanan “pulang”, ia belajar menjadi lebih

bijaksana melalui peristiwa demi peristiwa yang dialaminya. Ia menjadi lebih rendah hati karena menyadari kebutaannya dan

menyadari belas kasihan dari pihak lain. Ia juga belajar menjadi seorang pemaaf.



Penabrak pertama mewakili

orang-orang pada umumnya, yang acuh dan kurang peduli pada sesama. Kadang, mereka memilih untuk “membuta” walau mereka dapat

melihat.



Penabrak kedua mewakili mereka yang seolah bertentangan dengan kita; sesungguhnya mereka menunjukkan

kesalahan kita, baik disengaja maupun tidak. Mereka dapat menjadi guru-guru terbaik kita. Tak seorang pun mau menjadi buta;

selayaknyalah kita saling memahami dan saling menolong.



Orang buta kedua mewakili mereka yang sama-sama diliputi

kegelapan batin seperti kita. Alangkah sulitnya menyalakan pelita, jikalau kita bahkan tak dapat melihat pelitanya. Orang buta

tak dapat menuntun orang buta. Itulah pentingnya kita terus belajar agar kita semakin melek, semakin bijaksana.





Orang terakhir yang lewat mewakili mereka yang menjadi sadar akan pentingnya memiliki pelita kebijaksanaan.





Sudahkah kita sulut pelita dalam diri kita masing-masing?



Jika sudah, apakah nyalanya masih terang, redup atau

bahkan nyaris padam?



JADILAH PELITA, bagi diri kita sendiri maupun bagi orang-orang lain di sekitar kita.





Sebuah pepatah kuno berusia 25 abad mengatakan: Sejuta pelita dapat dinyalakan dari sebuah pelita tanpa sedikit pun

meredupkan nyala pelita pertama.



Pelita kebijaksanaan pun, tak kan pernah habis terbagi.



Pengirim : tiny

ribka

dilihat : 456 kali


   
Copyright © 2005 Pustakalewi.net
All rights reserved. Protected by the copyright laws of the Indonesia
hosted and developed by Agiz YL Solution