Selasa, 02 Juni 2020 14:28:39 | Home | Index Berita | About Us | Statistik | Buku Tamu | Redaksi | Webmail | Login |  

Catatan Ringan

Perkembangan Peer to Peer Lending di Indonesia
Perkembangan Peer2Peer Lending (P2P Lending), pinjam meminjam berbasis aplikasi makin subur di Indonesia. Tapi kehadirannya tentu akan menimbulkan konsekuensi positif dan negatif.


Pengunjung hari ini : 272
Total pengunjung : 141985
Hits hari ini : 8913
Total hits : 1464285
Pengunjung Online : 8
Situs Berita Kristen PLewi.Net -Obama, Hilarry, atau McCain?






SocialTwist Tell-a-Friend | |
Kamis, 08 Mei 2008 00:00:00
Obama, Hilarry, atau McCain?
Amerika Serikat (AS) kini siap-siap memilih capres

(capres) baru untuk menggantikan George Walker Bush yang sudah dua periode berturut-turut menjadi presiden AS. Dari Partai

Demokrat hingga kini masih terdapat dua calon kuat: Barrack Obama dan Hilarry Clinton. Sedangkan dari Partai Republik nampaknya

hanya ada satu calon kuat: John McCain. Bagaimana peluang ketiganya untuk terpilih pada November mendatang?



Pertama,

Barack Obama. Andaikan ia menang, maka dialah presiden kulit hitam pertama di AS. Ini tentu kejutan besar, karena sejarah

kepresidenan AS selalu didominasi oleh kulit putih. Dulu, sewaktu William Jefferson “Bill” Clinton berniat maju untuk periode

keduanya sebagai presiden, muncul beberapa pesaing kuat. Salah satunya, dan yang banyak disebut-sebut sebagai capres baru AS

saat itu, adalah Jenderal (Purn) Colin Powell.



Powell sendiri, yang saat itu disibukkan dengan tur bukunya, sejak

namanya beredar di bursa capres AS hingga beberapa minggu kemudian tak kunjung memastikan apakah akan mencalonkan diri atau

tidak. Namun akhirnya, pada 8 November 1995, ia mengumumkan secara resmi bahwa dirinya tak mau menjadi capres. Apa sebabnya?

Dalam hal kualitasnya sebagai seorang pemimpin nasional, Powell tak perlu diragukan. Di dunia kemiliteran, ia telah mencapai

pangkat tertinggi–jenderal bintang empat. Jabatan puncak, sebagai Ketua Gabungan Kepala Staf Angkatan Bersenjata AS, telah

pernah dipegangnya. Berbagai pengalaman keras di lapangan telah pula dikenyamnya, termasuk Perang Vietnam dan Perang Teluk.

Bahkan dalam Perang Teluk yang berhasil dimenangkan AS, dialah arsitek sekaligus bintangnya.



Masih banyak prestasi

Powell yang layak dikemukakan. Namun, ada sesuatu yang “kurang” di dalam dirinya. Yakni, ia termasuk orang dari golongan

minoritas di AS. Tegasnya, ia berasal dari golongan Orang Afro-Amerika alias Orang Hitam (Black). Dan bagi Orang Putih (White),

Orang Hitam itu “agak rendah” derajatnya–meski hal ini tidak diakui secara terang-terangan. Yang dimaksud “hitam” dalam konteks

AS bukanlah soal warna kulit atau ciri fisik belaka, melainkan sebuah atribut sosial yang menyimbolkan inferioritas dan

subordinasi. Itulah sebabnya hingga pertengahan abad ke-19, Orang Hitam dijadikan budak dan tenaga kerja di perkebunan oleh

Orang Putih. Perbudakan atas Orang Hitam bahkan pernah menjadi sebuah pranata sosial yang dianggap baik dan menguntungkan

bangsa AS (Tyndall, 1977).



Powell, putra imigran pekerja keras Jamaica yang saat itu berumur 58 tahun, tentu saja

menyadari hal ini. Selama 35 tahun hidupnya telah diabdikan sebagai militer profesional dan penasehat presiden (ia baru pensiun

dari dinas kemiliteran pada 1993). Selama itu pula ia telah banyak belajar dan memahami karakter bangsa AS yang sungguh

paradoks (Kammen, 1972). Di satu sisi AS adalah bangsa yang demokratis, yang sangat menekankan kesetaraan setiap orang. Namun

di sisi lain, AS adalah juga bangsa yang “rasialis”. Yang dimaksud dengan itu adalah, AS selalu berupaya keras untuk

mempertahankan supremasi Orang Putih (White Supremacy). Karena, sejak awal orang-orang kulit putihlah yang menemukan AS, untuk

kemudian mengubah AS yang sebelumnya ibarat hamparan hutan liar yang kosong menjadi “negeri harapan” yang menjanjikan kehidupan

baru bagi mereka yang siap bekerja keras. Pada 1776, ketika AS diproklamasikan menjadi sebuah negara berbentuk republik (yang

pertama pada zaman itu), adalah fakta bahwa yang menjadi the founding fathers negara baru demokratis itu adalah orang-orang

kulit putih. Didasarkan hal itulah maka orang-orang kulit berwarna di AS, apalagi kulit hitam, harus berjuang keras selama

kurun waktu yang cukup panjang untuk dapat menikmati hak-hak yang setara dengan orang-orang kulit putih.



Masalah

ketidaksetaraan itu sebenarnya bukan hanya berkait dengan perbedaan ras dan warna kulit saja. Ia juga mensyaratkan keturunan

nenek-moyang asal wilayah kepulauan Inggris dan beragama Protestan untuk bisa menjadi bagian yang diterima (in group) di

kalangan elite kulit putih. Di AS, golongan elite tersebut dikenal sebagai WASP (White Anglo Saxon Protestan). Dengan dominasi

WASP yang telah berakar kuat di masyarakat sejak periode kolonisasi Amerika, maka tak mudah bagi orang-orang non-WASP untuk

mobil ke atas secara sosial. Apalagi bagi mereka yang tidak berkulit putih dan bukan penganut Protestan. Maka, bukan cuma si

hitam Jesse Jackson yang pernah terganjal menjadi salah satu unggulan capres AS sebelum Powell, bahkan seorang John F. Kennedy

(JFK) pun pernah pula nyaris tersandung lantaran agamanya Katolik.



Kalaulah akhirnya JFK berhasil menjadi presiden

ke-35 (1961-1963), itu disebabkan kualitasnya yang dinilai memadai untuk menjadi pemimpin nasional. Semasa kampanye, ia tampil

mengesankan sebagai seorang muda yang gagah serta mampu meyakinkan dan membangkitkan semangat rakyat Amerika. Selain itu ia pun

memenuhi dua unsur dalam WASP: berkulit putih dan keturunan Orang Irlandia (Irlandia masih termasuk wilayah kepulauan Inggris).

Karena itu, dalam beberapa hal JFK kurang tepat untuk dibandingkan dengan Powell. Apalagi dengan JFK menjadi Presiden AS,

supremasi tetap berada di tangan Orang Putih. Sementara jika Powell yang terpilih menjadi presiden, berarti supremasi kulit

putih berakhir dan digantikan dengan supremasi kulit hitam (Black Supremacy). WASP, yang merupakan the silent majority di AS,

niscaya tak akan begitu saja menerima jika dominasi mereka terancam. Karena itu, dibanding JFK, ganjalan yang dihadapi Powell

niscaya jauh lebih berat bila ia tampil sebagai capres.



Dalam suatu wawancara saat itu, Powell mengatakan bahwa

masalah rasialisme merupakan sesuatu yang masih membebani pikirannya. “Sejumlah teman dekat saya yang berkulit hitam mengatakan

agar saya jangan menyengsarakan diri sendiri. Mereka mengatakan, orang-orang putih tidak akan memberikan suaranya buat saya,”

katanya. Memang, di AS, soal asal-usul nenek-moyang ini merupakan sesuatu yang serius. Jadi, sekalipun Powell sendiri berkulit

agak terang, tetap saja ia menyandang status Orang Hitam. Sebab, di mata Orang Putih (khususnya golongan WASP), Orang Hitam

akan selalu melahirkan Orang Hitam sekalipun mereka berkawin-campur dengan Orang Putih. Entah prianya yang Orang Hitam dan

wanitanya Orang Putih (contohnya olahragawan O.J Simpson), atau kebalikannya, itu bukan soal. Sebab prinsipnya sangat tegas:

setiap tetes darah Orang Hitam yang mengalir di dalam tubuh seseorang telah menjadikan dia Orang Hitam (Sowell, 1983).

Maka, terkait Obama, faktor ini pulalah yang niscaya menghadang langkahnya untuk meraih tiket ke Gedung Putih. Memang, sosoknya

yang muda, sederhana, dan selalu bicara santun itu mampu memikat banyak orang. Apalagi, ia menjanjikan perubahan kebijakan luar

negeri AS dengan mengusung semangat antiperang. Ia juga membangkitkan kembali kenangan akan Martin Luther King, tokoh pejuang

persamaan hak AS. Namun soalnya, apakah AS betul-betul siap menerima dominasi WASP berakhir dengan tampilnya si hitam

Obama?



Kedua, Hilarry. Selain dikagumi sebagai ikon feminis karena keberhasilannya menembus langit-langit tertinggi

politik AS, Hillary juga menjanjikan abad baru perubahan bagi negara adidaya itu. Jika ia menang, maka ini pun terobosan baru

dalam sejarah AS yang selama ini tak pernah dipimpin seorang perempuan. Namun, peluangnya untuk menang juga tipis. Sebab, meski

hal ini pun tidak diakui secara terang-terangan, budaya AS memang mengunggulkan maskulinitas–yang di kawasan Amerika disebut

macho atau machismo (Hsu, 1975).



Kalau begitu, akankah McCain yang terpilih menjadi presiden baru AS? Jika dilihat

dari usianya yang telah 72 tahun, kemungkinannya untuk meraih simpati publik agak tipis. Sebab, AS menyukai kemudaan (Hsu,

1975). Apalagi, berbeda dengan Obama dan Hilarry, McCain adalah calon pemimpin dengan catatan prestasi yang biasa-biasa saja.

Jadi, soalnya sekarang tinggal pilihan AS sendiri: mendukung perubahan atau tetap konservatif?



Oleh : Victor

Silaen

Dosen Fisipol UKI, pengamat sospol.



Telah dimuat pada Harian Suara Pembaruan, 7 Mei

2008



Artikel ini dikutip seutuhnya dari milis www.pustakalewi.net

dilihat : 465 kali


   
Copyright © 2005 Pustakalewi.net
All rights reserved. Protected by the copyright laws of the Indonesia
hosted and developed by Agiz YL Solution