Selasa, 07 April 2020 21:09:11 | Home | Index Berita | About Us | Statistik | Buku Tamu | Redaksi | Webmail | Login |  

Catatan Ringan

Perkembangan Peer to Peer Lending di Indonesia
Perkembangan Peer2Peer Lending (P2P Lending), pinjam meminjam berbasis aplikasi makin subur di Indonesia. Tapi kehadirannya tentu akan menimbulkan konsekuensi positif dan negatif.


Pengunjung hari ini : 1034
Total pengunjung : 86235
Hits hari ini : 5786
Total hits : 1023878
Pengunjung Online : 14
Situs Berita Kristen PLewi.Net -Dualisme Dalam Kekristenan Dan Keabsolutan Kebenaran Alkitab Sebagai Firman Allah (2)






SocialTwist Tell-a-Friend | |
Minggu, 20 April 2008 00:00:00
Dualisme Dalam Kekristenan Dan Keabsolutan Kebenaran Alkitab Sebagai Firman Allah (2)
Argumentasi Apologetis Terhadap Kesalahan Pengertian



Pada dasarnya

dualisme yang terjadi dalam Kekristenan tersebut berpangkal pada dikotomi iman dan ilmu. Dari sinilah munculnya berbagai

dualisme Kekristenan yang lainnya. Oleh karena itu pembahasan mengenai dualisme iman dan ilmu menjadi fokus utama dalam

menyusun paparan ini. Selanjutnya diharapkan dengan paparan inilah akan diperoleh gambaran dengan sendirinya berbagai dualisme

lainnya berikut realita, akibat, serta premis kebenarannya maupun konklusinya sebagai argumentasi apologetis yang dapat

diajukan.

Berdasarkan pemikiran-pemikiran Cornelius Van Til, Frame (2002: 145, 156-157) mengatakan bahwa rasio (kapasitas

untuk berpikir dan berlaku yang disesuaikan aturan logika, yang mencakup juga kapasitas pembentuk keyakinan, menarik kesimpulan

dan merumuskan argumentasi) berhak menilai konsistensi logis dari wahyu, namun rasio itu juga harus tunduk secara mutlak kepada

Allah. Allah yang rasional, memiliki sistem kebenaran yang mutlak. Rasionalitas manusia yang diciptakan Allah, sesungguhnya

mengekspresikan rasionalitas Allah. Di sinilah hukum kontradiksi ini berlaku, yaitu bahwa “natur Allah terekspresi secara

koherensi dalam tingkat ciptaan” (Antara Pencipta dan yang dicipta selalu ada tenggang yang penting yang disebut sebagai

Kualitas Pembeda. Perbedaan secara kualitas dan perbedaan secara esensi menunjukkan bahwa antara Pencipta dan yang dicipta

pasti tidak sama. Tong, 1996: 27). Bagi orang-orang tidak percaya, walaupun nampaknya mereka menindas kebenaran namun pada

kenyataannya mereka tetap mempertahankan sejumlah sisa dari pengetahuan akan Allah yaitu pengetahuan akan sumber sejati dan

makna dari posibilitas dan probabilitas. Merujuk kepada ‘kesadaran umum’ dari manusia di dalam pengertian ini bukan hanya sah,

tetapi secara mutlak diharuskan. Allah tidak mungkin melakukan, menyetujui, atau memerintahkan apa yang salah secara moral,

atau yang ‘berkontradiksi dengan hukum keyakinan yang telah Ia tanamkan di dalam natur manusia. Allah tidak ilogis, jadi Ia

sangat konsisten dengan hukum-hukum dari naturNya sendiri. Allah hanya mewahyukan hal yang konsisten dengan naturNya sebagai

satu Keberadaan yang mengidentifikasikan diriNya sendiri.



Penerimaan kemampuan rasio dalam melakukan penalaran atas

realita alam sebagai ciptaan Allah justru menggambarkan harkat dan martabat manusia, demikian dijelaskan dalam pengarahan

Referensi Pembina PTPAMB 1996 UK. Petra Surabaya oleh Ibu Magdalena Pranata S., S. Th., M. Si. Selanjutnya dijelaskan

bahwasanya : kemampuan manusia berikut rasionya bersifat sangat terbatas, dan ada dalam wilayah natural/alamiah. Fokus

penalaran manusia adalah menemukan kebenaran dalam alam semesta yang dibatasi oleh ruang dan waktu, dapat menghasilkan ilmu

pengetahuan. Melalui proses penalaran manusia mampu menghasilkan ilmu dan teknologi, namun sifatnya relatif, belum final, dan

bisa salah.



Manusia juga menerima pengetahuan supra alami, yang dinyatakan atau diwahyukan oleh Allah. Pengetahuan

kebenaran sifatnya melampaui alam, sehingga rasio manusia tidak akan mampu untuk memahaminya. Karena manusia tidak mampu

memahami pengetahuan supra alami dengan rasionya yang terbatas, Allah yang membukakan kebenaran pengetahuan supra alami itu,

dengan mengaruniakan pengertian atau hikmat oleh pertolongan kuasa Roh Allah. Ketika manusia dapat mempercayai pengetahuan

supra alami itu sebagai suatu kebenaran, itulah iman.



Dalam Ibrani 11: 1-3, 6, 8, 13 nyata bahwa iman adalah

pengembalian rasio kepada kebenaran. Iman bukan sekedar mau percaya tanpa mengetahui apa yang ia percaya. Iman bukan sekedar

pengertian di dalam otak tanpa kelanjutan apapun. Tetapi iman harus sampai pada menerima, mengakui apa yang ia mengerti (Tong,

1996: 29).



Segala sesuatu berhubungan dan tak terpisahkan dalam hal logika dengan fakta, atau rasio dengan

pengalaman, demikian juga dalam pengalaman manusia, subyek, obyek, dan norma. Apa yang kita tahu tentang satu hal, akan

mempengaruhi pengetahuan kita akan hal yang lainnya. Oleh karenanya, adalah salah jika seseorang berupaya mencari kebenaran

hanya melalui wilayah natural saja sebagai suatu bentuk ciptaan, secara terpisah dari wahyu Allah yang dinyatakan juga melalui

wilayah supranatural.



Sesungguhnya Allah (di dalam anugerah umumNya) mengekang tujuan-tujuan orang tidak percaya,

sehingga “orang tersebut tidak dapat melaksanakan prinsipnya dengan sepenuhnya”. Sehingga, orang tidak percaya hanyalah

memiliki sedikit ‘kebenaran’ yang masih dapat ditemukan. Namun anehnya, manusia telah menjadikan dirinya sebagai ’standar

tertinggi atas apa yang benar dan salah, atas yang tepat dan keliru’. Inilah suatu bentuk penilaian yang palsu oleh manusia.

Suatu bentuk kesombongan yang sama sekali tidak mendasar.



Usaha menyangkal Allah Alkitab dengan cara apapun berarti

berpendapat bahwa alam semesta secara ultimat tidaklah bermakna—yaitu merupakan hasil dari peluang, atau ‘murni kebetulan’

demikianlah Frame (2002: 244-245) dalam memaparkan pemikiran Cornelius Van Til. Selanjutnya dikatakan bahwa kalau toh Allah itu

ada, maka bagiNya dunia ini misterius, seperti juga bagi kita. Jadi dalam hal ini, apakah gunanya kemutlakan atau berbagai

penilaian yang coba dibangun manusia, bila semuanya adalah misterius (atau tanpa jawaban dan kepastian) ?



Dalam

dunia ilmu pengetahuan terdapat kontrakdisifitas yang tak mampu dipecahkan ilmuwan sendiri. Ini terbukti bila para evolusionis

yang mentahbiskan golongannya sebagai ilmuwan mempercayai adanya proses perubahan progresif dalam keseluruhan alam semesta,

sementara itu dunia ilmu pengetahuan sendiri mengakui adanya hukum entropi yang merupakan ukuran kemerosotan segala yang ada di

alam semesta ini sebagai suatu fakta. Secara ilmiah, entropi adalah kadar energi tak termanfaatkan di bumi ini, yang senantiasa

bertambah. Ini menunjukkan adanya kontradiksifitas dalam dunia ilmu pengetahuan sendiri. Secara nyata dapat menunjukkan bahwa

dasar berpijak kebenaran ilmu pengetahuan masih dapat dipertanyakan dan lebih parah lagi adalah bahwa hal ini tak dapat

dijadikan sebagai pedoman suatu keyakinan.



Dalam hal ini fakta alam yang diakui dunia ilmu pengetahuan, sesuai

dengan catatan Alkitab mengenai kemerosotan segala sesuatu di alam ini, sebenarnya seiring kejatuhan manusia pertama kali ke

dalam dosa. Yang pada akhirnya menunjukkan keterbatasan manusia, yang dapat dirangkum sebagi berikut: (1) manusia tidak mampu

menciptakan atau membinasakan; (2) manusia serta lingkungannya sedang dan senantiasa merosot; dan (3) manusia tidak dapat

memperbaiki alam atau wataknya sendiri tanpa pertolongan dari luar.



Iman melampaui akal budi (rasio), tetapi kalau

iman Kristen itu benar, maka ajarannya harus juga masuk akal. Artinya antara iman dan akal budi seharusnya tidak bertentangan.

Beriman tidak berarti mudah percaya tanpa alasan. Iman berarti keterlibatan diri secara penuh di dalam kehidupan yang

berdasarkan penyataan Allah. Penyataan itu sesuai dengan kenyataan dan dengan demikian sungguh masuk akal. Akal budi dan iman

berhubungan erat. Penyataan Allah dapat melalui akal budi maupun iman. Kalau iman dipisahkan dari akal budi, iman menjadi cara

untuk mencapai suatu pengalaman rohani tanpa mempertimbangkan apakah ada alasannya yang logis, sehingga beriman seperti

melangkah ke dalam kegelapan, bukan ke dalam terang.



Bukti bahwa iman melampaui akal budi adalah bahwa apa yang

ditangkap oleh akal budi atau rasio yaitu ilmu pengetahuan adalah sesuatu yang tak mampu membuat penilaian mengenai apa pun

yang diukurnya. Banyak orang yang berkecimpung di bidang ilmiah mengakui bahwa dalam ilmu pengetahuan tidak ada sesuatu yang

dapat dijadikan pedoman dalam menerapkan penemuan-penemuan mereka. Dalam ilmu pengetahuan itu sendiri tidak ada sesuatu yang

dapat menentukan apakah laser akan digunakan untuk persenjataan perang ataukah untuk terapi kesehatan. Penilaian semacam inilah

yang samasekali tak dapat ditentukan dengan menggunakan metode ilmiah. Ilmu pengetahuan dapat menceritakan kepada kita

bagaimana sesuatu bergerak, tetapi tidak dapat menerangkan mengapa pergerakan itu demikian. Apakah ada tujuan tertentu dalam

alam semesta ini, tidak pernah dapat dijawab oleh ilmu pengetahuan. Ilmu pengetahuan hanya dapat memberitahukan ‘bagaimana’,

tetapi tidak dapat memberitahukan ‘mengapa’, (Little, 1999: 90-91).



Herlianto dalam Nisbah Antara Iman Kristen

Dengan Ilmu Pengetahuan, yang dimuat dalam Surat Gembala edisi April 1991 memaparkan :



Iman sangat diperlukan bagi

ilmu pengetahuan, karena ia memberi visi dan demensi pelengkap untuk melihat realita materi yang lebih utuh, yaitu yang

menyangkut nilai-nilai sebaliknya ilmu pengetahuan diperlukan oleh umat beriman untuk memperjelas pengertiannya dalam mengerti

Firman Tuhan yang telah mewahyukannya dalam Alkitab ataupun alam. (1991: 70)



Ini memberikan pengertian bahwa iman

menjadi penuntun manusia untuk mengenali kehendak Allah, sedangkan ilmu dapat mengabdikan dirinya untuk kesejahteraan manusia

dan kemuliaan nama Allah Sang Pencipta. Iman memberikan arah dan nilai sehingga ilmu dapat dikembangkan secara positif,

bermoral, manusia dan bertanggung jawab. Kehidupan iman dan profesi keilmuan harus dikembangkan dalam relasi pribadi dengan

Allah sebagai sumber kehidupan dan kebenaran. Dinyatakan dalam kehidupan yang bermoral, mengasihi, dan menjadi berkat bagi

semua.



Jelaslah di sini bahwa iman merupakan cahaya dan kompas bagi ilmu pengetahuan, dan ilmu merupakan tongkat

bagi iman. Ilmu menjadi bahasa iman yang melayani dan mengabdi masyarakat. Keduanya saling meneguhkan dan melengkapi demi

mewujudkan kesejahteraan hidup bagi manusia dalam kebenaran. Demikianlah iman yang berdasarkan wahyu Allah menjadi perspektif

untuk mengembangkan ilmu pengetahuan, menjadi landasan etis moral yang memberikan tempat tertinggi bagi hak dan kedaulatan

Allah, sebagaimana dipaparkan dalam Amsal 3: 5-7. Ilmu yang dihasilkan melalui proses penalaran yang ilmiah dalam integritas

tidak akan konflik dan pasti harmonis dengan iman berdasarkan pewahyuan Allah yang direfleksikan secara benar dalam pimpinan

Roh Kudus, begitulah ibu Magdalena Pranata S., S. Si., M. Si. menjelaskan kepada mahasiswa UK. Petra Surabaya dalam kuliah

Sains Penciptaan tahun 2001.



Beberapa peristiwa historis, khususnya kehidupan, kematian, dan kebangkitan Yesus dari

Nazaret merupakan dasar ajaran Kristen. Di dalam Alkitab terdapat catatan tentang peristiwa-peristiwa tersebut serta

penafsirannya. Dengan demikian, agama Kristen terbuka untuk diselidiki secara historis, tentu saja dengan resiko bahwa

dasar-dasar iman dapat diserang atau disangsikan. Andaikata peristiwa-peristiwa sejarah itu dapat ditiadakan, iman Kristen

turut ditiadakan. Bagaimanapun, tak akan dapat diingkari bahwasanya peristiwa historis Alkitab adalah suatu realita yang

melibatkan aspek natural yang dapat ditangkap oleh akal budi atau rasio. Seorang Kristen yang mengingkari peristiwa histori

Alkitab secara nyata sebagai aspek natural, maka itu berarti juga mengingkari akal budinya sendiri. Iman dan sejarah jelaslah

tidak boleh dipisahkan.



Berita Kristen tak dapat dilepaskan dari fakta-fakta. Pengakuan iman tak dapat dilepaskan

dari dasar historisnya. Di sinilah Kekristenan terlindung dari keraguan akibat penyelidikan historis. Iman kita berpusat pada

Allah, Sang Raja sejarah, yang berkarya dalam sejarah untuk menyelamatkan umatNya dan yang akan mengakhiri sejarah pada

waktunya.



Istilah pertentangan atau dualisme antara Alkitab (yang ditangkap oleh iman) dengan ilmu pengetahuan

(ditangkap oleh akal budi atau rasio), seringkali merupakan pertentangan dalam menginterpretasikan fakta. Dugaan yang

diterapkan seseorang pada suatu fakta tertentu, seringkali menentukan kesimpulan yang diambilnya lebih daripada fakta-fakta itu

sendiri. Demikian pula argumentasi yang dapat disampaikan sehubungan dengan masalah pemisahan pemakaian

bahasa.



Bagaimanapun, kepastian dan kemutlakan kebenaran adalah suatu hal yang sangat penting dalam kesatuan

penggunaan makna bahasa yang tetap terkait dalam hal budaya dan etnis. Kehilangan fokus kebenaran yang diakibatkan adanya

konsep relativisme adalah penyebab utama terjadinya bias dan pemisahan bahasa. Rasio manusia setelah jatuh dalam dosa bersifat

cacat (Roma 3: 23; 1: 18-22) dan terjadi penyimpangan motivasi dan fokus, yang tidak pada kebenaran dan kemuliaan Allah

melainkan pada diri manusia itu sendiri. Kecenderungan ini memicu ketidakjujuran dalam pemakaian dan penyampaian bahasa

sehingga menjadi bebas nilai dan mengabaikan otoritas dan kedaulatan Allah. Pada hakekatnya tidak ada pertentangan antara ilmu

pengetahuan dan Alkitab, antara ilmu dan iman, antara akal budi atau rasio dan iman, juga dalam pemakaian bahasa selama segala

sesuatu berada pada koridor otoritas dan kedaulatan Allah yang menjadi muara atas segala sumber kebenaran yang

sejati.



Oleh : Anna Mariana Poedji Christanti M.Sc

dilihat : 460 kali


   
Copyright © 2005 Pustakalewi.net
All rights reserved. Protected by the copyright laws of the Indonesia
hosted and developed by Agiz YL Solution