Senin, 27 Januari 2020 03:15:02 | Home | Index Berita | About Us | Statistik | Buku Tamu | Redaksi | Webmail | Login |  

Catatan Ringan

Perkembangan Peer to Peer Lending di Indonesia
Perkembangan Peer2Peer Lending (P2P Lending), pinjam meminjam berbasis aplikasi makin subur di Indonesia. Tapi kehadirannya tentu akan menimbulkan konsekuensi positif dan negatif.


Pengunjung hari ini : 151
Total pengunjung : 22915
Hits hari ini : 633
Total hits : 602978
Pengunjung Online : 13
Situs Berita Kristen PLewi.Net -Yohanes Chrysostomus, Si Pengkhotbah Bermulut Emas






SocialTwist Tell-a-Friend | |
Sabtu, 12 April 2008 00:00:00
Yohanes Chrysostomus, Si Pengkhotbah Bermulut Emas
It is foolishness and a public madness

to fill the cupboards with clothing ... and allow men who are created in God's image and likeness to stand naked and trembling

with the cold so that they can hardly hold themselves upright.



Adalah sebuah kebodohan dan kegilaan publik untuk

mengisi lemari-lemari dengan pakaian ... dan membiarkan manusia-manusia yang diciptakan dalam citra Allah berdiri telanjang dan

gemetar dalam kedinginan yang membuat mereka bahkan tidak bisa berdiri tegak.



~ Yohanes

Chrysostomus





Yohanes bergelar Chrysostomus yang berarti bermulut emas karena ia adalah seorang pengkhotbah

terkenal. Ia juga seorang Uskup Konstantinopel. Jika ia berkotbah semua orang kagum kepadanya. Apalagi ia bicara tanpa rasa

takut dan terus terang. Pikirannya orisinil dan selalu bicara tentang realitas.



Ia mengkritik pola hidup mewah

termasuk pola hidup para petinggi waktu itu yang berselera tinggi dan penuh nafsu. Orang tidak pernah menolak apa yang

disampaikannya sebab ia bicara yang sebenarnya. Walaupun dibenci oleh mereka yang selalu dikritiknya, namun ia disegani.

Hidupnya sederhana dan selalu menantang orang untuk bertobat.





Belajar Retorika



Yohanes Chrysostomus

dilahirkan di Antiokhia pada tahun 374. Ayahnya adalah seorang tentara dan ibunya bernama Anthusa. Ayahnya meninggalkan dirinya

ketika ia masih kecil sehingga ia dididik oleh ibunya dengan penuh kesalehan. Pendidikan literernya diperoleh dari Libanius,

seorang guru retorika yang terkenal masa itu. Libanius berkeinginan agar Chrysostomus kelak menggantikan kedudukannya dalam

ilmu retorika.



Setelah pendidikannya selesai, ia menjadi guru retorika. Namun, ia segera meninggalkan pekerjaan itu

dan mengabdikan dirinya pada perkara-perkara rohani. Ia belajar tentang iman Kristen selama tiga tahun kepada Uskup Miletus di

Antiokhia dan kemudian dibaptiskan. Uskup Miletus mengangkatnya menjadi pembaca (lektor) di Antiokhia. Dia jugalah yang

memperkenalkan Yohanes dengan pekerjaan keimaman.





Menjadi pertapa



Sesudah ibunya meninggal, ia

meninggalkan keramaian dunia dan mengundurkan diri di tempat yang sunyi di sebuah pegunungan dekat Antiokhia sebagai seorang

pertapa. Ia tinggal di sana selama enam tahun sambil belajar meditasi dan berdoa. Kehidupan pertapaan sangat menarik hatinya.

Dalam tulisan-tulisannya, ia mengungkapkan kebajikan-kebajikan hidup pertapaan. Namun karena ia melaksanakan kehidupan askese

yang keras, kesehatannya mengalami kemunduran, sehingga ia terpaksa pergi ke Antiokhia pada tahun 380.







Mengutamakan Kesalehan



Pada tahun 386, Chrysostomus diangkat menjadi diaken oleh Uskup Miletus, dan kemudian

menjadi prebister. Di Antiokhia ia berguru kepada Diodorus dari Tarsus yang memperkenalkannya pada dunia kesarjanaan

alkitabiah. Aliran baru yang dipelajari Chrysostomus tidak menyetujui penggunaan metode alegori. Menurut aliran itu, Alkitab

harus ditafsirkan menurut arti aslinya, yang menurut mereka disebut arti “harfiah”. Menurut pandangan itu, memang ada peluang

bagi metode tipologi – mencari persamaan di antara tindakan-tindakan Allah terhadap manusia pada waktu yang berbeda – tetapi

tidak bagi tafsiran berupa khayalan yang tidak ada hubungannya dengan arti historis tanpa embel-embel dari teks Alkitab.

Setelah mengikuti ajaran itu, ia menjadi setuju dengan aliran itu. Oleh karena kefasihannya, wataknya yang sungguh-sungguh dan

kesalehannya, maka ia mendapat reputasi yang tinggi.



Chrysostomus bekerja di Antiokhia selama 17 tahun. Ia dijuluki

“bermulut emas” atas keunggulannya sebagai pengkotbah. Ia selalu berkotbah secara teratur dan membahas salah satu kitab secara

menyeluruh. Ia juga berkhtobah tentang pokok-pokok tertentu dan menulis ulasan-ulasan. Salah satu karyanya yang terkenal adalah

Imamat, suatu karya mengenai penggembalaan. Ia juga mempergunakan waktunya untuk menulis. Sebagian besar tulisannya adalah

homili-homili dan tafsiran-tafsiran. Chrysostomus tidak begitu berbakat dalam soal teologi. Khotbah-khotbahnya yang terbanyak

berbicara tentang kesalehan dan persoalan-persoalan praktis.





Hidup Sederhana



Pada tahun 397

terjadi persaingan hebat untuk mengisi kekosongan uskup Konstantinopel karena Uskup Nectarius tiba-tiba meninggal. Awalnya para

pejabat kekaisaran berusaha mencari penyelesaian dengan mengangkat orang luar. Namun akhirnya, Chrysostomus dipilih menjadi

Patriakh Konstantinopel menggantikan Uskup Nectarius. Sayangnya, dengan terpilihnya Chrysostomus, para uskup Aleksandria

menjadi iri. Theophilus, uskup Aleksandria yang berharap dapat menempatkan orangnya sendiri sebagai uskup Konstantinopel

terpaksa harus mentahbiskan Chrysostomus sebagai uskup dengan tangannya sendiri.



Melihat kondisi daerahnya,

Chrysostomus menyadari bahwa posisinya sangat berbahaya bahkan untuk politikus yang paling hebat. Karena itu, ia tidak

mempersiapkan siasat apa pun sebab ia tahu apa yang bakal terjadi. Saat menjabat sebagai uskup, ia mempergunakan semua waktunya

untuk mengkhotbahkan kebenaran. Di samping itu, ia juga membenahi praktik-praktik dan hal-hal lain yang tidak benar.

Hubungannya dengan istana memburuk karena muslihat dan fitnah Theophilus. Akibatnya, Chrysostomus hanya bekerja selama beberapa

tahun.



Pada tahun 403, Chrysostomus diusir dari Konstantinopel karena terlibat dalam pertikaian Origenes dan

permaisuri Eudoxia yang tidak menyukai khotbah-khotbahnya yang tajam yang ditujukan kepada istana. Setelah kembali dari

pembuangan, ia difitnah dan dibuang kembali pada tahun 404. Paus Innocentius I berusaha membelanya, namun tidak berhasil. Oleh

gereja Timur, ia dihormati sebagai pengajar gereja yang hanya dapat ditandingi oleh Athanasius dan tiga teolog Kappadokia.

(Wikipedia: Gereja Orthodox Timur menganggap dia sebagai salah satu dari the Three Holy Hierarchs bersama Saint Basil the Great

dan Gregory Nazianzus. Saint Basil the Great, Gregory Nazianzus, and Gregory of Nyssa disebut sebagai the Cappadocian

Fathers)



Chrysostomus tetap menjalankan kehidupannya yang sederhana. Ia tidak mau melibatkan diri dengan

pertikaian-pertikaian yang ada kecuali dalam pertikaian Origenes. Perhatiannya terhadap orang miskin dan yang menderita sangat

besar. Ia selalu menasihatkan agar orang Kristen rajin berbuat baik. Ia mengecam keras keburukan, kemewahan, dan kemunafikan

yang terjadi di istana. Ia menyebut Permaisuri Eudoxia sebagai Herodias yang haus darah. Itu sebabnya, tahun 407 ia dipaksa

berjalan ke tempat pembuangan yang jauh hingga menemui ajalnya.





Pandangannya tentang

Kekayaan



Khotbah-khotbahnya menarik sehingga secara spontan mendapat respons jemaat. Ia mempersiapkan khotbahnya

dengan baik dan dengan bahasa yang indah dan bersemangat. Gayanya ini kemudian ditiru oleh para pengkhotbah terkenal di Prancis

seperti Bossuet, Massilon, dan Bourdalos.



Sekalipun tahu khotbahnya mengundang maut, ia tetap lantang menyatakan

kebenaran Allah. Ia tidak anti orang kaya, tetapi anti terhadap pengagungan kekayaan. Baginya, “Orang yang serakah tidak sama

dengan orang kaya. Orang serakah tidak kaya. Ia menginginkan begitu banyak dan karena ia tidak memilikinya, ia tidak pernah

menjadi kaya. Orang serakah adalah penjaga kekayaan, bukan pemiliknya. Dialah seorang budak dan bukan tuan dari harta itu.

Sebab, ia merasa lebih baik memberikan sebagian dagingnya daripada harta yang dipendamnya. Ia tidak sanggup memberi orang lain

atau membagi kekayaan kepada yang kekurangan.”



”Kaya tidak berarti memiliki banyak, tetapi memberi banyak. Marilah

kita menghiasi jiwa kita lebih daripada rumah kita. Bukankah itu suatu kekejian jika kita menutupi dinding-dinding rumah dengan

marmer, kesia-siaan, dan hal-hal yang tidak berguna, sedangkan Kristus – dalam diri orang-orang miskin – kita biarkan

telanjang?”



”Engkau ingin menjadi kaya?” begitu tanya Yohanes Chrysostomus. Jawabnya, “Jadikanlah Allah sebagai

sahabatmu dan engkau akan menjadi lebih kaya dari siapa pun!”



Menurutnya, orang kaya pasti orang yang bebas

memberikan kekayaannya kepada orang miskin. Orang yang menyisihkan kekayaannya dan memberikannya kepada orang miskin telah

menggunakan uangnya secara tepat sebab kalau ia mati, miliknya itu tidak akan dilucuti dalam kematiannya, tetapi menerimanya

kembali di rumah Bapa di surga. Dalam hidupnya tak ada satu pun yang ia takuti, kecuali berbuat dosa. Ia juga sangat

menganjurkan setiap orang Kristen untuk memberikan persembahan persepuluhan!



Sumber : (Rudy N. Assa, Tokoh-tokoh

Kristen Yang Mewarnai Dunia, Yogyakarta: Yayasan Andi, 2002)



Pengirim : Jhoni Tuerah

dilihat : 494 kali


   
Copyright © 2005 Pustakalewi.net
All rights reserved. Protected by the copyright laws of the Indonesia
hosted and developed by Agiz YL Solution