Sabtu, 30 Mei 2020 02:06:24 | Home | Index Berita | About Us | Statistik | Buku Tamu | Redaksi | Webmail | Login |  

Catatan Ringan

Perkembangan Peer to Peer Lending di Indonesia
Perkembangan Peer2Peer Lending (P2P Lending), pinjam meminjam berbasis aplikasi makin subur di Indonesia. Tapi kehadirannya tentu akan menimbulkan konsekuensi positif dan negatif.


Pengunjung hari ini : 82
Total pengunjung : 140170
Hits hari ini : 550
Total hits : 1443314
Pengunjung Online : 10
Situs Berita Kristen PLewi.Net -Perubahan Kekuasaan Politik Dan Peran "Kaum Muda"






SocialTwist Tell-a-Friend | |
Jum'at, 21 Maret 2008 00:00:00
Perubahan Kekuasaan Politik Dan Peran "Kaum Muda"
Di Indonesia berita tentang

naiknya harga minyak mentah yang dibarengi dengan sangat melonjaknya harga pangan (beras, jagung dan kedelai) di skala dunia

patut menjadi keprihatinan—dan juga kecemasan—kita semua, mengingat bahwa keadaan ekonomi bangsa kita akan mengalami

kesulitan-kesulitan besar sekali yang jauh melebihi sekarang dahsyatnya!



Karenanya, besarnya dan juga kesulitan

pangan (dan mahalnya harga minyak) di skala dunia ini mengharuskan kita untuk sama-sama memikirkan hari depan rakyat kita yang

berjumlah lebih dari 220 juta ini. Baik pemerintah, DPR (atau lembaga-lembaga negara penting lainnya), partai-partai politik,

maupun berbagai ornop dan LSM, atau gerakan massa ( intelektual, mahasiswa, pemuda, buruh, tani, perempuan dll) perlu sejak

sekarang menaruh perhatian besar terhadap masalah ini yang pastilah akan membikin tambahnya kesengsaraan bagi sebagian besar

rakyat kita.



Berita mencemaskan yang disiarkan Jawapos (16 Maret 2008) yang berjudul Minyak seret dunia ke krisis

pangan itu berbunyi antara lain sebagai berikut :



NEW YORK - Harga minyak dalam sepekan terakhir naik USD 4 per

barel. Bahkan, pada Kamis lalu (13/3), harganya sempat menembus USD 111 per barel. Lonjakan harga juga terjadi pada komoditas

pangan, seperti beras, jagung, dan kedelai.



Program Pangan Dunia PBB (UN World Food Program -WFP) dalam rilisnya

Jumat (14/3) menyebutkan, sebagai dampak kenaikan harga produk energi (minyak dan produk tambang), harga pangan rata-rata naik

40 persen dalam sembilan bulan terakhir. Selain itu, stok pangan dunia mencapai posisi terendah dalam 30 tahun terakhir. Harga

jagung mencapai rekor tertinggi dalam 11 tahun terakhir. Begitu juga, kedelai mencetak rekor yang tertinggi dalam 35 tahun

terakhir. Stok beras dunia akan mencapai titik terendah yang mendorong harga beras ke level tertinggi selama 20 tahun terakhir.

Sedangkan stok gandum berada di titik terendah selama 50 tahun terakhir.



Laporan WFP itu melengkapi laporan tentang

krisis pangan yang dirilis sebelumnya oleh Badan Pangan Dunia (Food and Agriculture Organization -FAO). Pada Senin (3/3), FAO

menyatakan bahwa 36 negara di kawasan Afrika, Asia, dan Amerika Latin mengalami krisis pangan, termasuk

Indonesia.



Indonesia, berdasar atas laporan Global Information and Early Warning System FAO, termasuk negara yang

membutuhkan bantuan negara luar dalam mengatasi krisis tersebut. Di kawasan Asia ada sembilan negara yang mengalami krisis

pangan, yaitu Iraq, Afghanistan, Korea Utara, Bangladesh, Indonesia, Nepal,

Pakistan, Sri Lanka, dan Timor Leste. Selain

dipicu kenaikan harga bahan pangan, krisis pangan disebabkan adanya konflik, banjir, gempa, dan perubahan

iklim.



Menteri Negara Perencanaan Pembangunan Nasional (PPN)/Kepala Bappenas, Paskah Suzetta mengatakan, kenaikan

harga minyak dan bahan pangan berdampak dahsyat bagi Indonesia yang masih nekat mengucurkan subsidi BBM. Dalam acara media

gathering di Bandung Jumat (14/3) malam, Paskah mengungkapkan, salah satu yang pasti kena dampak kenaikan harga minyak adalah

subsidi BBM akan menjadi Rp 300 triliun dari semula Rp 106 triliun, saat harga minyak terus bertahan di angka USD 110 per

barel. Anggaran negara pun terancam defisit hingga Rp 98,64 triliun atau 2,2 persen dari produk domestik bruto (PDB). "Sekali

lagi, bukan bermaksud mencari kambing hitam. Tapi, ini ada faktor global yang tak hanya terjadi di sini (Indonesia, Red),"

katanya.



Dihubungi di tempat terpisah, ekonom lembaga pengamat ekonomi Institute for Development of Economics and

Finance (Indef), Aviliani, menyesalkan jika pemerintah mengkambinghitamkan kondisi pasar global. Meskipun keterkaitan pasar

global dengan perekonomian domestik tidak bisa dimungkiri. "Kondisi pasar global itulah yang harus disiasati dan diantisipasi,

bukan disalahkan," ujarnya. Demikian kutipan dari berita Jawapos (disingkat).





Dampaknya yang dahsyat bagi

Indonesia



Setelah membaca berita di atas, kiranya kita perlu merenungkan pernyataan oleh Menteri Negara Perencanaan

Pembangunan /Kepala Bappenas (Paskah Suzetta) bahwa kenaikan harga minyak dan bahan pangan itu akan berdampak dahsyat bagi

Indonesia. Sebab, krisis pangan di 35 negara di Afrika, Asia dan Amerika Latin akan menimbulkan akibat yang tidak sedikit bagi

Indonesia. Indonesia termasuk salah satu dari sembilan negara di Asia yang mengalami krisis pangan, yang terdiri dari Iraq,

Afghanistan, Korea Utara, Bangladesh, Nepal, Pakistan, Sri Lanka, Timor Leste, dan Indonesia sendiri.



Agaknya baik

sama-sama kita ingat bahwa justru sejak sebelum terjadinya kenaikan harga minyak dan bahan makanan di dunia dan melandanya

krisis pangan di 35 negara seperti tersebut di atas Indonesia sudah menghadapi berbagai kesulitan besar dan parah. Antara lain

: kemiskinan yang menurut Bank Dunia menimpa lebih dari 49 % penduduk (Antara 27/12 2007), artinya sekitar 100 juta orang.

Pengangguran juga sudah sejak lama menimpa puluhan juta orang (terutama kaum muda). Karena kemiskinan yang parah maka

bertahun-tahun terdapat busung lapar atau anak-anak kurang gizi di banyak daerah di Indonesia, umpamanya: Papua, Maluku, Nusa

Tenggara Timur, Sulawesi, Kalimantan, berbagai daerah di Sumatera, dan banyak tempat di Jawa.



Contohnya adalah

berita tentang jumlah balita dan anak-anak penderita gizi buruk sekitar 90.000 di Nusa Tenggara Timur, yang menarik perhatian

Departemen Kesehatan sehingga terpaksa mengirimkan tim khusus untuk memberikan bantuan pangan dan obat-obatan (Tempo

Interaktif, 16/3/2008). Sebelumnya, seorang ibu hamil tua (7 bulan) telah meninggal karena kelaparan di Makassar, yang disusul

5 menit kemudian oleh kematian anaknya yang lain—juga karena kelaparan—merupakan kejadian mengharukan yang banyak disiarkan

oleh pers dan televisi Indonesia.



Seperti yang bisa kita saksikan sendiri di banyak daerah di Indonesia, penderitaan

rakyat yang disebabkan kemiskinan dan ditambah dengan banyaknya berbagai bencana alam (terutama banjir di banyak daerah, gempa,

kekeringan) adalah besar sekali. Besarnya jumlah orang-orang yang terpaksa hidup serba sulit sehari-hari tidak bisa dibayangkan

lagi. Mereka ini dapat ditemukan dalam jumlah yang besar di berbagai kota dan daerah pedesaan. Dan pemandangan yang menyedihkan

semacam ini sudah dapat sama-sama kita lihat sejak lama.





Apa yang perlu kita kerjakan ?



Karena itu,

kenaikan harga minyak mentah dan bahan makanan di skala dunia, dan juga munculnya krisis pangan di 35 negara Afrika, Asia dan

Amerika Latin (termasuk Indonesia), mendorong kita semua untuk memikirkan tentang apa saja yang perlu dikerjakan supaya krisis

besar yang akan datang itu tidak menimbulkan penderitaan lebih parah lagi kepada sebagian rakyat kita yang selama ini sudah

(sangat terlalu lama !) tersiksa oleh berbagai kesulitan. Sebab, keadaan ekonomi dunia yang sedang mengalami

goncangan-goncangan besar (akibat krisis di AS), pasti akan menimbulkan akibat yang buruk sekali bagi rakyat

Indonesia.



Sekarang makin jelas bagi banyak orang di Indonesia bahwa adalah ilusi besar saja, (atau salah dan

percuma saja !), kalau masih mengharapkan bahwa sistem politik (dan sosial-ekonomi) seperti yang sudah dilaksanakan sejak

berdirinya Orde Baru dalam tahun 1966 sampai sekarang nantinya akan bisa mengatasi berbagai kesulitan sehingga membikin hidup

rakyat lebih baik.



Banyaknya kemiskinan dan besarnya pengangguran, yang dibarengi dengan merajalelanya korupsi dan

penyalahgunaan kekuasaan, serta diperparah dengan dengan kebejatan moral besar-besaran di kalangan atasan masyarakat, adalah

bukti yang nyata dengan jelas, bahwa kekuasaan politik beserta sistemnya yang seperti sekarang ini, telah mengalami kegagalan

besar.



Kalau sebelum adanya goncangan-goncangan ekonomi dunia saja sudah banyak sekali persoalan besar rakyat dan

negara kita tidak kunjung bisa diselesaikan oleh pemerintah (ingat, antara lain : harta haram keluarga Suharto, kasus besar

BLBI, serta berbagai pelanggaran HAM), kita bisa meramalkan bahwa kesulitan yang lebih parah lagi akan menimpa rakyat Indonesia

di kemudian hari yang dekat ini. Akan sama-sama kita saksikan bahwa sistem politik-ekonomi- sosial seperti yang dijalankan

selama 42 tahun Orde Baru dan Orba Jilid ( yang ditulangpunggungi oleh Golkar) sudah tidak berdaya untuk mengatasinya dan,

karenanya, tidak boleh dipakai terus dan perlu diganti. Perlulah kiranya diulangi, untuk kesekian kalinya, bahwa untuk

memungkinkan adanya sistem politik-ekonomi-sosial yang baru, yang bisa memperbaiki kehidupan rakyat banyak—yang sebagian besar

hidup miskin dan sengsara—mutlak adanya penggantian atau perubahan kekuasaan politik di negeri kita.





Kekuasaan

Politik Di Tangan Kaum Tua



Keadaan ekonomi yang akan lebih sulit bagi rakyat, dan akan makin semrawutnya (atau makin

brengseknya) penyelenggaraan negara kita sebagai akibat bahaya krisis keuangan dan pangan dunia, akan merupakan kesempatan yang

baik bagi banyak orang untuk melihat sendiri dengan jelas sekali bahwa negara kita sudah tidak bisa lagi terus-menerus

dikangkangi oleh kekuasaan politik yang sudah ternyata gagal untuk memperbaiki kehidupan rakyat banyak.



Bisa

diperkirakan bahwa berbagai gejolak masyarakat, yang sudah mulai marak di berbagai daerah dalam bentuk macam-macam aksi-aksi

atau gerakan, akan lebih berkembang lagi menghadapi buruknya berbagai politik pemerintah, yang pada pokoknya masih menjalankan

politik seperti Orde Baru.Perkembangan situasi di negara kita dewasa ini, dan apalagi di kemudian hari kalau keadaan ekonomi

makin sulit lagi, akan bisa mendorong berbagai kalangan dan golongan dalam masyarakat untuk bangkit bersama-sama dan berjuang

untuk tercapainya kesejahteraan banyak orang. Kebangkitan berbagai golongan ini sangat diperlukan, mengingat bahwa pemerintah

dan partai-partai politik yang menduduki kursi di DPR sudah ternyata tidak bisa banyak diharapkan bisa mengatasi berbagai

kesulitan besar yang dihadapi negara dan bangsa.



Sekarang makin jelas bagi banyak orang bahwa kekuasaan politik yang

selama ini ada dalam genggaman kaum tua (atau setengah tua) terbukti banyak dihinggapi berbagai penyakit parah, sehingga sudah

perlu dirubah atau diganti dengan kekuasaan politik yang baru, yang seyogianya dipegang atau dikendalikan oleh tenaga-tenaga

baru dari kaum muda. Dari kalangan kaum muda yang masih bersih dari korupsi dan mempunyai jiwa untuk sungguh-sungguh

mengabdikan diri kepada kepentingan rakyat inilah diharapkan muncul tunas-tunas pimpinan rakyat dan negara, yang bisa

menyelesaikan reformasi secara tuntas.



Seperti kita ingat bersama, gerakan besar-besaran mahasiswa dalam tahun 1998,

yang menghasilkan turunnya Suharto sebagai diktator rejim militer Orde Baru, telah melahirkan berbagai tuntutan reformasi, yang

penting untuk perbaikan negara. Tetapi, malangnya, di tangan para kaum tua ini yang pada umumnya adalah pengikut (dalam

berbagai kadar atau derajat) rejim Orde Baru reformasi ini tidak jalan atau macet. Dan, sekarang, makin sangat sedikitlah

harapan bahwa kekuasaan politik di tangan kaum tua semacam yang sekarang ini bisa atau mau sungguh-sungguh menjalankan

reformasi, meskipun reformasi sudah diperintahkan oleh MPR, dan menjadi aspirasi sebagian terbesar rakyat

kita.





Harapan besar kepada peran kaum muda



Mengingat itu semua, maka rakyat kita terpaksalah

mengandalkan harapan besarnya kepada kaum muda, yang terdapat dalam berbagai kalangan dan golongan masyarakat, untuk ikut

membereskan kehidupan bangsa, yang sudah dirusak oleh kaum tua yang menguasai bidang eksekutif, legislatif, judikatif, serta

berbagai bidang sosio-kultural. Untuk itu, seluruh kekuatan demokratis, yang mendambakan terciptanya masyarakat adil dan

makmur, perlu mendukung atau menyambut gembira munculnya peran kaum muda ini dalam berbagai percaturan politik-sosial- ekonomi

negara dan bangsa kita.



Bangkitnya kaum muda kita dewasa ini untuk ikut memikirkan masalah-masalah besar negara dan

bangsa yang mungkin akan menghadapi masa-masa yang lebih sulit dari pada sekarang—merupakan investasi penting dan berharga

sekali bagi hari kemudian rakyat. Karena, hari kemudian Indonesia justru terletak di tangan angkatan muda kita, atau generasi

baru kita. Dengan pandangan dari sudut yang strategis ini, maka kita bisa melihat betapa besarnya kewajiban kita semua untuk

membantu atau memungkinkan kaum muda kita mempersiapkan diri untuk mengendalikan atau mengelola negara dan bangsa kita. Dengan

tujuan yang demikian ini, maka kita semua perlu mendorong kaum muda kita berani mengambil berbagai inisiative yang bisa

mengembangkan dan memupuk lebih lanjut segala kekuatan dalam masyarakat guna tercapainya perubahan atau penggantian kekuasaan

politik.



Republik Indonesia, yang sudah dirusak atau dibikin brengsek selama lebih dari 42 tahun oleh orang-orang

yang bersimpati atau pendukung Orde Baru, perlu diperbaiki secara total dan radikal demi kepentingan anak-cucu kita. Dan,

perbaikan besar-besaran itu hanya dapat dilakukan oleh kekuasaan politik yang baru. Bukannya oleh kekuasaan politik yang sudah

selama lebih dari 42 tahun malah menimbulkan berbagai kerusakan parah (terutama di bidang moral) yang menyengsarakan banyak

sekali orang.



Jadi, perubahan atau penggantian kekuasaan politik, yang merupakan tugas besar kaum muda kita yang

dibarengi dengan dukungan rakyat, adalah satu-satunya jalan untuk menghadapi berbagai masalah besar di kemudian

hari.



Paris, 20 Maret 2008



Oleh : Umar Said



Sumber : http://kontak.club.fr/index.htm

dilihat : 467 kali


   
Copyright © 2005 Pustakalewi.net
All rights reserved. Protected by the copyright laws of the Indonesia
hosted and developed by Agiz YL Solution