Selasa, 26 Mei 2020 12:59:36 | Home | Index Berita | About Us | Statistik | Buku Tamu | Redaksi | Webmail | Login |  

Catatan Ringan

Perkembangan Peer to Peer Lending di Indonesia
Perkembangan Peer2Peer Lending (P2P Lending), pinjam meminjam berbasis aplikasi makin subur di Indonesia. Tapi kehadirannya tentu akan menimbulkan konsekuensi positif dan negatif.


Pengunjung hari ini : 677
Total pengunjung : 137367
Hits hari ini : 6327
Total hits : 1412519
Pengunjung Online : 14
Situs Berita Kristen PLewi.Net -Mengerjakan Keselamatan






SocialTwist Tell-a-Friend | |
Minggu, 16 Maret 2008 00:00:00
Mengerjakan Keselamatan
Nats : Filipi 2:12-13



Ketaatan dalam sebuah keluarga merupakan sesuatu yang

penting. Permasalahannya, tidak semua orang memiliki konsep ketaatan yang benar. Dalam kotbah kali ini kita akan mempelajari

ketaatan seperti apa yang dituntut oleh Allah? Teks yang akan menjadi dasar kotbah adalah Filipi 2:12-13.



Kerjakan

keselamatanmu (ayat 12)



Jika kita melihat ayat 12-13 secara sekilas pun kita dengan mudah akan menemukan bahwa inti

dari bagian ini terletak pada kalimat perintah di ayat 12, yaitu kerjakanlah keselamatanmu. Bagian lain dari ayat 12-13 hanya

menjelaskan inti tersebut. Apa yang dimaksud dengan perintah ini? Apakah perintah ini tidak bertentangan dengan ajaran Paulus

yang lain tentang keselamatan adalah anugerah (Rom 3:28; Ef 2:8-9)?



Penyelidikan yang lebih teliti menunjukkan bahwa

nasehat ini tidak bertentangan dengan doktrin anugerah. Pertama, kata kerja katergazomai (“kerjakanlah” ) sebenarnya lebih

bermakna “menyelesaikan” (Ef. 6:13), bukan menghasilkan sesuatu yang sebelumnya tidak ada. Ayat ini berarti “work out your

salvation” (mayoritas versi Inggris), bukan “work for your salvation”.



Kedua, kata “mu” dalam frase “keselamatanmu”

dalam bahasa Yunani berbentuk jamak. Pemakaian bentuk jamak ini menunjukkan bahwa Paulus tidak sedang membicarakan keselamatan

pribadi-pribadi. Ia sedang membahas keselamatan secara komunal. Ia sebenarnya menasehatkan jemaat di Filipi sebagai sebuah

komunitas untuk menunjukkan pola hidup tertentu yang membuktikan bahwa mereka memang sudah diselamatkan. Dalam konteks pasal 2,

hal ini berhubungan dengan kasih sesama orang percaya (2:1-4, 14-15; 4:2). Nasehat yang hampir serupa dengan ayat ini terdapat

di Filipi 1:27 “hendaklah hidupmu berpadanan dengan Injil Kristus”. Dengan menunjukkan diri sebagai komunitas yang punya gaya

hidup sesuai Injil, jemaat Filipi akan mampu menjadi teladan bagi orang-orang luar yang memusuhi mereka (1:27-28;

2:15).



Dari pembahasan di atas terlihat bahwa nasehat untuk mengerjakan keselamatan sebenarnya sama dengan nasehat

untuk hidup sesuai dengan status yang sudah diselamatkan. Dalam istilah yang lebih sederhana, mengerjakan keselamatan

sebenarnya sama dengan hidup sesuai firman Tuhan (ketaatan). Hal ini juga terlihat dari kalimat di ayat 12 “kamu senantiasa

taat, karena itu tetaplah kerjakan keselamatanmu” .





Bentuk ketaatan (pengerjaan keselamatan) , ayat

12



Dalam bagian ini kita akan melihat 3 macam ketaatan yang dituntut Allah dari kita.



1. Harus

konsisten.

Di awal ayat 12 Paulus mengatakan “kamu senantiasa taat, karena itu...”. Hal ini jelas merujuk pada konsistensi

ketaatan yang sudah ditunjukkan jemaat Filipi mulai dari awal pelayanan Paulus di sana (Kisah Rasul 16) sampai waktu Paulus

menulis surat. Ketika ia mulai memberitakan Injil di Filipi, beberapa orang langsung menerima firman itu (Kis 16:14, 32-33).

Ketika ia berada di tempat lain, jemaat Filipi tetap mendukung pemberitaan Injil (Flp 4:10, 15-16). Mereka tetap bertahan

dengan penganiayaan yang terus-menerus mereka alami (Flp 1:28-30). Ketika Paulus menulis surat ini pun jemaat Filipi telah

memberikan bantuan untuk pekerjaan misi (Flp 2:25). Paulus tidak puas hanya pada ketaatan mereka dari dulu sampai sekarang. Ia

ingin agar mereka terus mengerjakan keselamatan mereka (taat).



2. Tidak dibatasi situasi apapun.

Paulus

menambahkan bahwa ketaatan jemaat Filipi harus dilakukan “bukan hanya waktu aku hadir, tetapi terlebih waktu aku tidak hadir”.

Dalam sebagian versi Inggris, frase ini dihubungkan dengan “kamu senantiasa taat”, bukan “kerjakan keselamatanmu” . Dari sisi

tata bahasa dan konteks surat Filipi, frase tersebut sebaiknya dihubungkan dengan “kerjakan keselamatanmu” (LAI:TB). Pertama,

kata Yunani me (“bukan”) seringkali dipakai untuk menerangkan kalimat perintah. Dalam ayat ini “kerjakan keselamatanmu”

berbentuk kalimat perintah (imperatif), sedangkan “kamu senantiasa taat” merupakan kalimat pernyataan (indikatif). Kedua, ide

tentang kedatangan Paulus dalam surat Filipi bukan merujuk pada kedatangannya yang dulu (Kis 16). Kedatangan ini bersifat

futuris, seandainya Paulus berhasil bebas dari penjara (1:26 dan 2:23-24). Ia belum tahu apakah ia akan bebas atau dihukum mati

(1:20-26), karena itu berpesan pada jemaat Filipi untuk tetap mengerjakan keselamatan (taat) baik ia ada

atau tidak ada.

Tambahan ini perlu ditegaskan Paulus, karena jemaat Filipi sangat dekat dan mengasihi dia. Mereka bisa terjebak pada ketaatan

yang semu, yaitu taat hanya karena faktor Paulus (hamba Tuhan) saja. Ketaatan seperti ini jelas tidak tepat. Hamba Tuhan memang

harus menjadi teladan bagi jemaat (1Kor 11:1; 1Tim 4:12), tetapi jemaat harus berfokus pada Tuhan (Mat 11:29). Intinya,

ketaatan kita tidak boleh dipengaruhi oleh situasi tertentu.



3. Didasari hormat pada Allah.

Paulus menasehatkan

agar jemaat Filipi tetap mengerjakan keselamatan dengan takut dan gentar. Sekilas konsep ini terkesan aneh, karena dasar

ketaatan seharusnya adalah kasih (Mat 22:37-40), bukan ketakutan. Kesan ini akan hilang apabila kita ingat bahwa Allah memang

seringkali menghukum umat-Nya agar mereka takut dan taat kepada-Nya. Takut di sini dimaksudkan agar mereka lebih hormat pada

kekudusan Allah. Dalam tulisan Paulus, ungkapan “dengan takut dan gentar” muncul beberapa kali dengan makna “hormat”, tanpa

selalu melibatkan unsur hukuman. 2Korintus 7:15 mencatat bahwa Titus diterima jemaat Korintus dengan takut dan gentar.

Maksudnya, ia diterima dengan penuh hormat, karena ia mewakili Paulus. Dalam Efesus 6:5 Paulus menasehati para budak agar taat

kepada tuan mereka dengan takut dan gentar. Tidak ada ketakutan karena hukuman yang diindikasikan di Efesus 6:5-8. Takut dan

gentar berarti dengan sikap hormat. Begitu pula ketaatan kita kepada Allah harus didasarkan pada

rasa hormat terhadap

kekudusan Allah. Kita taat bukan karena sungkan terhadap orang lain, tuntutan sosial, takut kalau berdosa nanti ketahuan, dan

sebagainya. Kita taat karena kita menghormati kekudusan Allah.





Kekuatan untuk taat (pengerjaan keselamatan) ,

ayat 13



Jenis ketaatan yang dituntut di ayat 12 tampaknya sangat sulit untuk dilakukan, karena itu Paulus

menjelaskan rahasia kita bisa melakukan itu (band. kata sambung “karena” di awal ayat 13). Rahasianya terletak pada diri Allah.

Allah yang mengerjakan kekuatan dari dalam diri kita (energew). Kata energew muncul 20 kali dalam PB, 18 di antaranya dipakai

oleh Paulus. Arti yang terkandung di dalam kata ini adalah “bekerja dengan penuh kekuatan” (Gal 2:8; 3:5; 5:6; Ef

2:2).



Allah memampukan kita untuk mau (qelo) dan mampu (energew) menaati Dia. Natur kita yang tercemar oleh dosa

cenderung tidak bisa konsisten dalam menaati Allah. Kita seringkali taat dalam situasi-situasi tertentu saja. Kita juga tidak

jarang menaati Allah tapi dengan motivasi/dasar yang salah. Melalui intervensi Allah dalam diri kita, kita diberi kemauan dan

kemampuan. Tugas kita adalah berserah pada pimpinan Allah.





Aplikasi



Dalam kehidupan keluarga, kita

seringkali berada dalam situasi yang sulit untuk menaati Allah. Kita diperhadapkan pada dua pilihan: taat pada Allah tapi

mengalami kesulitan dalam bisnis atau tidak taat tapi bisnis lancar. Apakah kita mau mengambil komitmen untuk menaati Allah

bagaimanapun sulitnya itu? Kita juga tidak jarang diperhadapkan antara waktu bagi Tuhan dan bagi pekerjaan. Apakah kita mau

mengutamakan Tuhan di atas segala-galanya? Kita kadangkala harus memilih: mengikuti kata hati kita untuk bercerai atau kehendak

Allah untuk tetap bersama pasangan kita. Apakah kita mau memilih Allah walaupun itu sulit? Allah akan bekerja dengan kuat dalam

diri kita sehingga kita bisa untuk mau dan mampu menaati Dia.



oleh : Ev. Yakub Tri Handoko, Th.M.

(gembala

sidang GKRI Exodus dan dosen di Sekolah Tinggi Theologi Injili Abdi Allah—STTIAA, Pacet; Master of Theology—Th.M. dari

International Theological Seminary, U.S.A.)



Ringkasan Khotbah Mimbar di Gereja Kristus Rahmani Indonesia (GKRI)

Exodus, Surabaya tanggal 4 Juni 2006



Sumber: http://www.gkri-exodus.org

dilihat : 476 kali


   
Copyright © 2005 Pustakalewi.net
All rights reserved. Protected by the copyright laws of the Indonesia
hosted and developed by Agiz YL Solution