Sabtu, 30 Mei 2020 02:33:31 | Home | Index Berita | About Us | Statistik | Buku Tamu | Redaksi | Webmail | Login |  

Catatan Ringan

Perkembangan Peer to Peer Lending di Indonesia
Perkembangan Peer2Peer Lending (P2P Lending), pinjam meminjam berbasis aplikasi makin subur di Indonesia. Tapi kehadirannya tentu akan menimbulkan konsekuensi positif dan negatif.


Pengunjung hari ini : 89
Total pengunjung : 140177
Hits hari ini : 681
Total hits : 1443446
Pengunjung Online : 9
Situs Berita Kristen PLewi.Net -Perumpamaan Benih Yang Ditabur






SocialTwist Tell-a-Friend | |
Selasa, 11 Maret 2008 00:00:00
Perumpamaan Benih Yang Ditabur
Nats: Markus 4:26-29



Sepintas kalau kita membaca dari Alkitab

bahasa Indonesia dalam bagian perumpamaan dalam Injil Markus 4:26-29 maka kita akan beranggapan bahwa penabur ini orang yang

malas sebab ia tidur pada malam hari dan bangun ketika hari sudah siang. Tetapi lebih tepat terjemahaan dalam NIV Mark 4:27

mengatakan: Night and day, whether he sleeps or gets up, the seed sprouts and grows, though he does not know how. (dari New

International Version)



Perumpamaan tentang benih yang tumbuh ini sangat unik sebab hanya ditulis dalam Injil Markus.

Perumpamaan merupakan salah satu cara dari pengajaran Tuhan Yesus maka janganlah kita menafsirkan perumpamaan secara

sembarangan. Dalam perumpamaan, ada bagian-bagian tertentu yang Tuhan hendak bukakan yang menjadi focus pengajaranNya. Beberapa

hal yang harus diperhatikan ketika menafsirkan Firman khususnya perumpamaan, diantaranya: 1) dalam Perumpamaan hanya mengandung

satu tujuan utama atau focus utama yang hendak Tuhan ajarkan melalui perumpamaan itu, 2) biarkanlah Alkitab menafsirkan dirinya

sendiri, 3) perhatikan konteks secara keseluruhan.



Tuhan Yesus menegaskan perumpamaan diberikan bukan supaya orang

mengerti sebab sekalipun melihat, mereka tidak menanggap, sekalipun mendengar, mereka tidak mengerti, supaya mereka jangan

berbalik dan mendapat ampun (Mrk. 4:12). Terkadang, Tuhan Yesus tidak menjelaskan arti dari perumpamaan yang Ia ajarkan dan

membiarkan para pendengarnya berada dalam kebingungan namun kepada para murid, Ia menjelaskannya secara tersendiri (Mrk.

4:10-20).



Istilah “benih” ini seringkali kita temui dalam Alkitab. Tuhan Yesus pernah mengungkapkan suatu

perumpamaan tentang orang yang menabur benih baik tetapi musuh datang pada malam hari dan menabur benih ilalang. Benih yang

baik dan buruk dibiarkan bertumbuh bersama sampai tiba waktunya, barulah dipisahkan sebab dari buahnyalah akan kelihatan

bedanya. Dalam Perjanjian Lama, kitab Yesaya 61:11 dituliskan, “Sebab seperti bumi memancarkan tumbuh-tumbuhan, dan seperti

kebun menumbuhkan benih yang ditaburkan, demikianlah Tuhan ALLAH akan menumbuhkan kebenaran dan puji-pujian di depan semua

bangsa-bangsa.” Istilah benih juga dipakai oleh Paulus dalam 2 Kor. 9:10: Ia yang menyediakan benih bagi penabur, dan roti

untuk dimakan, Ia juga yang akan menyediakan benih bagi kamu dan melipatgandakannya dan menumbuhkan buah-buah kebenaranmu.

Perenungan kita hari ini adalah perumpamaan tentang benih yang ditabur (Mrk. 4:26-29) dan benih yang dimaksud adalah Firman

Tuhan.



Konteks perumpamaan ini berbicara tentang hal Kerajaan Sorga. Yohanes Pembaptis jauh sebelumnya juga

menyerukan tentang hal Kerajaan Allah dan tentang hal itu tergenapkan dengan kedatangan Tuhan Yesus dimana Dia adalah Raja atas

Kerajaan-Nya. Tuhan Yesus menegaskan hal Kerajaan Allah itu seumpama seorang penabur yang menabur benih; benih itu terus

tumbuh, bertunas, dan berbulir. Pada perumpamaan lain Tuhan Yesus menegaskan hal Kerajaan Sorga itu seperti biji sesawi yang

kecil dan kemudian bertumbuh menjadi sebuah pohon besar. Namun ketika misi Kerajaan Sorga itu dikerjakan banyak tantangan yang

harus dihadapi, apakah mungkin missi kerajaan Allah dapat digenapkan?? Maka Tuhan Yesus memberikan pengajaran ini bahwa hal

Kerajaan Sorga itu bersifat spiritual bukan bersifat duniawi seperti yang para murid dan kebanyakan orang pikirkan bahkan

hingga detik ini.



Kerajaan Sorga seperti seorang penabur yang menaburkan benih, setelah selesai menabur, tidur,

bangun keesokannya harinya menabur lagi namun perhatikan yang menjadi fokus pada perumpamaan dalam Mrk. 4:26-29 ini adalah

benih yang bertumbuh.



Dalam bagian ini kita melihat 2 bagian besar, yaitu: 1) Peranan Penabur yang hanya sebagai

menabur benih, dan 2) Peranan Allah yang menumbuhkan benih yang ditaburkan.





I. Beberapa Aspek yang Perlu Kita

Pahami Berkaitan Dengan Peranan dan Tugas Penabur, yaitu:



1. Penabur mengerjakan tugas yang menjadi bagiannya

yaitu: Menaburkan benih yang disediakan oleh Tuhan.



Penabur harus menabur benih di ladang yang telah disiapkan

sebelumnya kalau ia ingin mendapatkan hasil panen dan sukacita di hari penuaian. Namun ingat, tugas kita hanyalah menabur benih

Firman dan benih itu asalnya dari Tuhan maka jangan seorang pun bermegah dan menganggap hasil tuaian itu sebagai hasil kerja

keras kita. Tidak! Seorang penabur hanya mengerjakan apa yang menjadi bagiannya saja, yakni menabur. Celakanya, hari ini banyak

pendeta yang merasa diri penting dan berjasa karena gerejanya bertumbuh secara kuantitas. Pertumbuhan benih itu dilakukan oleh

Allah bukan kita dan tugas kita hanya menabur saja. Mari kita kerjakan bagian kita, jangan ambil bagian apa yang seharusnya

dikerjakan oleh Allah.



2. Bekerja dengan sekuat daya sampai batas kemampuan



Seorang penabur juga

memiliki keterbatasan kemampuan. Tuhan menghargai kita setiap usaha dan kerja yang kita lakukan. Musa pernah merasakan sampai

di titik batas kelelahan, dia tidak kuat menahan beban ketika ia memimpin bangsa Israel menuju tanah perjanjian. Berulang kali

bangsa Israel ini mengeluh dan mendesak Musa. Allah tahu sampai dimana batas kemampuan dan kekuatan kita maka Dia akan datang

menolong. Tuhan Yesus memberikan teladan indah pada kita, Dia bekerja dengan sangat keras namun Kristus juga adalah manusia

yang juga merasa lelah; Dia tertidur bahkan badai dan ombak yang besar tidak dapat membangunkan- Nya. Teladan Kristus ini

harusnya memacu kita untuk lebih bersemangat dalam mengerjakan pekerjaan Tuhan dengan sekuat tenaga sampai titik batas

kemampuan kita. Sudahkah kita mengerjakan sampai titik batas kemampuan kita? Tuhan kita adalah Tuan yang baik, Dia tidak pernah

membiarkan kita sendiri. Dia memberikan Roh Kudus untuk kita dengan demikian kita dimampukan untuk mengerjakan semua tugas kita

sampai akhir.



3. Bekerja dengan ketekunan, kesabaran dan ketabahan



Ada waktu menabur maka akan ada waktu

untuk menuai. Dibutuhkan suatu ketekunan, kesabaran dan ketabahan dari seorang penabur untuk melihat hasil tuaian di masa

depan. Ketekunan dan kesabaran mempunyai arti yang sama dengan bahasa ibrani, yakni memikul beban namun beban disini dibedakan

2 hal: 1) beban yang berat. Seorang yang beratnya 50 kg memikul beras 50 kg beban yang sama berat, 2) beban yang ringan, kertas

merupakan beban yang ringan namun kalau kita bawa selama 50 tahun maka beban yang kelihatan ringan akan menjadi sangat berat.

Hendaklah kita mengevaluasi diri, Tuhan telah memberikan pada setiap kita beban yang pas, pertanyaannya adalah seberapa jauhkan

kita akan tetap bersetia mengerjakannya?



4. Bekerja dengan pengharapan yang pasti



Hari penuaian itu

pasti akan tiba. Celakalah orang yang tidak sadar akan tibanya hari penuaian, ia akan pergi meninggalkan ladang pelayanan hanya

karena masalah sepele, misalnya tidak ada listrik atau jemaat yang dilayani hanya ibu-ibu dan anak-anak. Orang seperti ini

tidak mungkin dipakai oleh Tuhan, ia tidak melihat panen di depan. Marilah kita bekerja di ladang-Nya Tuhan dengan

sungguh-sungguh sebab hari penuaian itu akan tiba.





II. Peranan Allah yang Mempertumbuhkan

Benih



Mempertumbuhkan itu merupakan bagian yang paling sulit dan paling berat dan hanya Allah yang dapat

mempertumbuhkannya. Bertumbuh disini berakar ke dalam, bertunas dan berbuah. Pekerjaan yang diberikan pada kita sangatlah

ringan dan sungguh merupakan suatu anugerah kalau dapat melayani di ladang Tuhan. Itu merupakan hak istimewa. Bagaimana kita

bisa bertumbuh? Sebelum menjawab pertanyaan tersebut, seharusnya kita bertanya terlebih dahulu sudahkah kita menabur? Jangan

harap ada pertumbuhan kalau tidak ada benih yang ditabur. Tuhan terus bekerja tidak pernah berhenti. Jemaat di Korintus ketika

mengalami perpecahan, dimana masing-masing merasa diri paling unggul, ada yang menyebut dari golongan Paulus, golongan Apolos,

golonggan Petrus bahkan yang merasa lebih rohani, berani menyebut sebagai golongan Yesus Kristus maka Paulus menegaskan satu

hal : Yang penting bukan yang menanam atau yang menyiram tetapi yang penting adalah Allah yang memberi pertumbuhan (1 Kor.

3:6-8). Kita hanyalah alat di tangan Tuhan; kita hanyalah hamba. Tuhan sendirilah yang akan memelihara dan mempertumbuhkan

benih itu.





Dalam bagian ini ada 5 karakteristik pertumbuhan yang dikerjakan Allah yang perlu kita perhatikan:





1. Pertumbuhan dijamin kepastian keberlangsungan



Proses pertumbuhan pasti berjalan, tidak ada kuasa

apapun dapat menghambat pekerjaan Allah. Allah adalah Allah yang berdaulat maka pertumbuhan itu akan terus menerus sampai

kekekalan. Inilah sifat kerajan Allah. Sungguh merupakan suatu anugerah kalau terlibat dalam pekerjaan Tuhan. Tidak ada

pekerjaan di tengah dunia ini seperti yang dijanjikan Allah. Di tengah dunia ini, apakah yang menjadi kebanggaan kita?

Kepandaian? Kekayaan? Kekuasaan? Semua itu hanya bersifat sementara dan hilang dalam sekejap mata. Marilah kita mengerjakan

pekerjaan Tuhan yang bersifat kekal adanya. Tuhan memberikan kepastian bahwa hari panen itu pasti akan tiba.



2.

Pertumbuhan bersifat bertahap



Pertumbuhan itu sifatnya bertahap, tidak instant; berakar, bertumbuh makin lama makin

besar, mengeluarkan tangkai, berbuah dan siap dituai. Demikian juga halnya dengan kerohanian kita. Paulus membutuhkan waktu

selama 13 tahun untuk membangun pengertian akan kebenaran Firman sebelum dia melayani Tuhan. Hendaklah kita memacu diri untuk

mau bertumbuh secara bertahap dengan belajar Firman dengan sungguh. Celakanya, hari ini banyak orang yang ingin instant,

belajar Firman belum tuntas sudah berani berkhotbah akibatnya semua ajarannya sesat, theologi kemakmuran yang ditonjolkan.

Kerajaan Allah dibangun bertahap. Mari kita belajar dari setiap kesulitan menjadi batu loncatan untuk menuju ke depan yang

lebih baik.



3. Pertumbuhan akan mencapai sampai tahap kematangan



Ketika Tuhan mengerjakan pertumbuhan

maka hal itu akan diselesaikan sampai akhir yakni sampai pada proses kematangan.Tuhan Yssus pada waktu menjalankan pekerjaan di

dunia, Dia mengerjakannya sampai tuntas, yakni mati di salib dan semua itu sudah genap. Kita harus mencapai satu kematangan dan

kita menghasilkan buah-buah di dalam pelayanan. Seorang yang sudah renta baru menyadari kalau ia telah menyia-nyiakan masa

mudanya namun terlambat, waktu tidak dapat diulang kembali. Seorang muda yang bertalenta, menerjemahkan khotbah tetapi dia lari

ketika Tuhan mau pakai dia menjadi pengkhotbah dan terlambat menyadari ketika sudah renta. Sebelum terlambat, hendaklah kita

kerjakan tugas kita sampai tuntas seperti yang Tuhan inginkan, yakni sampai pada proses kematangan.



4. Pertumbuhan

akan menghasilkan buah berlipat ganda (Prinsip multiplikasi)



Dari satu benih yang ditaburkan akan menghasilkan buah

yang berlipat ganda.. Pertumbuhan secara kualitas dan kuantitas pasti terjadi di dalam perkembangan misi kerajaan Allah.

Sudahkah kita mempersiapkan anak-anak kita menjadi anak Tuhan dan berbuah? Tuhan menegaskan orang berdosa akan terus berbuah

dosa tapi orang yang diselamatkan akan menuai buah kekekalan artinya meskipun dia sudah mati, dia akan terus berbuah. Sebagai

contoh, Calvin telah tiada tetapi orang diberkati melalui semua tulisannya dan menghasilkan buah yang baik. Dosa akan

menghasilkan buah pula tetapi buah yang busuk. Benih kebenaran yang asalnya dari Tuhan adalah benih yang baik dan pasti akan

menghasilkan buah kebenaran berlipat ganda.



5. Pertumbuhan akan mencapai tahap akhir yaitu masa panen/masa

penuaian.



Masa panen merupakan akhir dari seluruh kerja keras yang dilakukan, ada sukacita yang penuh melimpah pada

waktu itu. Seluruh jerih lelah, air mata dan keringat yang pernah dicurahkan, semuanya terlupakan saat melihat panen tiba.

Inilah keindahan yang luar biasa di dalam pekerjaan Tuhan. Hal Kerajaan Alalh seperti seorang penabur, malam ganti siang, siang

ganti malam, penabur menabur dan merasa letih dan tidur, tetapi benih yang ditabur terus bertumbuh. Dia tidak tahu bagaimana

itu bertumbuh, tetapi pasti akan terjadi masa penuaian itu. Marilah kita terus mengerjakan pekerjaan Tuhan sebab orang-orang

yang menabur dengan mencucurkan air mata, akan menuai dengan bersorak-sorai; orang yang berjalan maju dengan menangis sambil

menabur benih, pasti pulang dengan sorak-sorai sambil membawa berkas-berkasnya (Mazmur 126:5-6).



Untuk menutup

seluruh perenungan kita hari ini, ada suatu kesaksian seorang bapak tua yang setiap hari dengan setia sambil mengayuh sepedanya

mengunjungi jemaat dan hal itu dilakukan selama tiga tahun dengan setia. Seorang bertanya, “Bapak tidak lelah setiap hari

mengayuh sepeda hanya untuk mengunjungi jemaat?” Sungguh di luar dugaan, si Bapak menjawab, “Sungguh saya sangat bersyukur

kalau masih bisa melayani Tuhan.” Biarlah kita mengevaluasi diri kita, sudahkan kita bersyukur kalau kita masih dipakai Tuhan

menjadi alat di tangan-Nya? Sudahkah kita melakukan pekerjaan yang Tuhan percayakan kita berada di dalam-Nya dengan seluruh

daya kekuatan kita? Amin



oleh: Ev. Ir. Baju Widjotomo



(gembala sidang Mimbar Reformed Injili

Indonesia—MRII Sidoarjo dan dosen di beberapa sekolah tinggi theologi di Surabaya dan sekitarnya; sedang menyelesaikan studi

Master of Arts (M.A.) in theology di Sekolah Tinggi Theologi Injili Abdi Allah—STTIAA, Pacet)



Ringkasan Khotbah

Mimbar di Gereja Reformed Injili Indonesia (GRII) Andhika, Surabaya tanggal 27 Januari 2008



(Ringkasan khotbah ini

belum diperiksa oleh pengkhotbah)



Pengirim : Denny Teguh Sutandio



Sumber :

http://www.grii-andhika.org/ringkasan_kotbah/2008/20080127.htm

dilihat : 480 kali


   
Copyright © 2005 Pustakalewi.net
All rights reserved. Protected by the copyright laws of the Indonesia
hosted and developed by Agiz YL Solution