Senin, 20 Januari 2020 14:06:49 | Home | Index Berita | About Us | Statistik | Buku Tamu | Redaksi | Webmail | Login |  

Catatan Ringan

Perkembangan Peer to Peer Lending di Indonesia
Perkembangan Peer2Peer Lending (P2P Lending), pinjam meminjam berbasis aplikasi makin subur di Indonesia. Tapi kehadirannya tentu akan menimbulkan konsekuensi positif dan negatif.


Pengunjung hari ini : 575
Total pengunjung : 18362
Hits hari ini : 4014
Total hits : 567519
Pengunjung Online : 32
Situs Berita Kristen PLewi.Net -Perenungan Wafatnya Pak Harto






SocialTwist Tell-a-Friend | |
Senin, 10 Maret 2008 00:00:00
Perenungan Wafatnya Pak Harto
"Pak Harto wafat", demikian tertulis di stasiun

sebuah TV swasta pada acara breaking news. Selanjutnya, seorang muncul di depan layar mengumumkan bahwa mantan presiden Suharto

meninggal dunia pada hari Minggu 27 Januari '08 jam 13.10 WIB dalam usia 87 tahun. Dia gagal! karena komplikasi kegagalan

organ-organ tubuh.



Setelah berita tersebut, berbagai respons dari masyarakat muncul, baik yang positif mau pun yang

negatif. Tidak heran, harian Batak pos muncul dengan berita utama: "Sosok Kontroversial itu Telah Pergi". Acara pemakaman pun

disiarkan oleh berbagai stasiun televisi dan disaksikan oleh jutaan pemirsa. Setelah kepergian pak Harto, barangkali, beberapa

hari ke depan berbagai media masih setia memuat pak Harto. Dan setelah itu, mantan presiden RI ke dua, serta yang oleh sebagian

orang disebut sebagai orang besar itu pun akan segera dilupakan. Dia hanya tinggal kenangan bagi sebagian orang. Sekali pun

berbagai upaya diusahakan oleh kelompok pak Harto untuk memulihkan nama baiknya, namun, seperti kata pepatah Jerman, ! "Kommt

Zeit, Kommt Rat". Waktu jua lah yang akan menentukan siapa sesungguhnya pak Harto. Di tengah hiruk pikuknya berita wafatnya pak

Harto, barangkali adalah bijak untuk merenungkan apa pelajaran apa yang dapat dipetik dari hidup pak Harto, khususnya selama

masa perawatannya yang terakhir di RS Pertamina Pusat (RSPP) Jakarta.





Kekuasaan Itu Ada

Batasnya



Hal pertama yang dapat dipelajari dari kepergian Pak Harto adalah bahwa kekuasaan itu ada batasnya. Ketika

Pak Harto masih berkuasa penuh atau dapat disebut berkuasa mutlak, siapa yang berani melawan kehendaknya? Tak seorang pun.

Bahkan seluruh anggota MPR, yang merupakan lembaga formal tertinggi di republik ini tunduk kepada kehendaknya. Itulah sebabnya,

ketika dia masih menginginkan untuk berkuasa untuk yang ketujuh kalinya, maka dibawah kepemimpinan Harmoko, semua anggota MPR

dengan suara bulat bagaikan sebuah paduan suara mengatakan "setuju...." .



Ketika seorang jenderal yang sedang

berkuasa ketika itu, kelihatan seperti kurang loyal kepadanya dan kepada anggota keluarganya, maka pak Harto mengeluarkan satu

kalimat yang cukup keras: "Saya akan menggebuk dia". Pernyataan itu pun segera menjadi berita utama di berbagai media, baik di

dalam dan di luar negeri. Pernyataan yang keras itu juga tertulis pada sebuah sampul majalah berbahasa Inggris: "I'll clobber

him". Hal itu menunjukkan betapa berkuasanya pak Harto ketika masih aktif. Tidak heran, jika Prof. Sahetapi pun menulis

artikelnya dengan judul: "Power by remote control". Maksudnya, pak Harto begitu berkuasa, apa pun yang dikehendakinya pasti

akan terjadi. Dia tinggal pencet 'tombol', dan hal itu akan terjadi.



Tetapi apa yang terjadi ketika dia sedang

dirawat di RSPP tersebut? Mantan penguasa orde baru itu terbaring lunglai. Tidak berdaya. Dalam kondisi yang demikian, berbagai

pihak, termasuk pejabat penting datang memberi simpati. Meski demikian, Pak Harto tetap seorang pribadi yang tidak berdaya.





Ironisnya, dalam kondisi yang sama, berbagai kelompok meneriakkan: "Adili Suharto". Sekelompok orang yang mengaku

menjadi korban kekuasaannya juga datang ke RS dan menyerukan hal yang sama. Sebuah harian ibukota memuat foto dua orang dengan

posisi berdiri sambil memegang dua karton putih bertuliskan: "Adili Suharto". Baru saja pak Harto selesai dimakamkan, ratusan

orang bersepeda motor menuntut agar Suharto segera diadili.



Semua itu mendemostrasikan dengan sangat jelas bahwa

kekuasaan yang pernah dimiliki oleh Pak Harto, tetap ada batasnya. Itu memberi pelajaran bahwa ada kalanya orang yang

sungguh-sungguh berkuasa, menjadi sungguh-sungguh tidak berdaya. Kekuasaan yang pernah dimiliki, suatu ketika pasti akan

ditinggalkan.





Uang Bukanlah Segalanya



Selanjutnya, wafatnya pak Harto juga mendemonstrasikan bahwa

kekuatan uang, ada batasnya. Ada yang berkata: "Uang adalah segalanya". Nampaknya, untuk! sementara waktu, hal itu ada

benarnya. Itulah sebabnya, berkali kali pak Harto jatuh sakit, dan sangat parah. Namun, dengan bantuan alat-alat canggih, pak

Harto pulih kembali. Mengapa? Karena dalam kondisi penyakit pak Harto, alat canggih seperti apa yang tidak dapat diberikan

kepadanya untuk memulihkan kesehatannya? Jawabnya, tidak ada. Itulah sebabnya, demi pemulihan pak Harto, pada minggu terakhir

ketika dia dirawat di RSPP, sejak hari pertama dia dirawat, semua alat-alat canggih digunakan secara tidak 'terbatas'. Alat

tersebut bukan hanya ditaruh di luar tubuhnya, tapi juga dimasukkan ke dalam tubuhnya: ginjal, jantung, dll. Alat-alat tersebut

bagaikan bagian dari organ tubuh pak Harto. Meski demikian, rupanya, kondisi pak Harto terus menurun juga. Pada hari Sabtu

Januari 08, sebuah harian ibu kota menulis sebagai berita utama: "Napas Suharto Sempat Berhenti".



Apakah dia hidup

kembali? Entahlah. Meresponi berbagai alat canggih yang dimasukkan ke dalam tubuh pak Harto, Menkes, Siti Fadilah berkomentar

bahwa pemasangan alat seperti itu justru membuat susah pasien. Dengan pemasangan alat itu, juga bisa terjadi "kehidupan palsu,

yaitu, penderita seperti hidup" (Kompas, 12 Jan '08). Nampaknya, apa yang dikatakan oleh Menkes tersebut benar, karena apa pun

yang diberikan kepada pak Harto, organ-organ tubuh yang telah tua, berusia 87 tahun itu, tidak dapat ditolong. Akhirnya, pada

hari Minggu, 27.1.08, jam 13.10, secara resmi dia dikabarkan menghembuskan napasnya yang terakhir. Dengan demikian, uang

bukanlah segalanya.



Kenyataan tersebut di atas 'menyerukan' kepada kita sebuah pelajaran yang tidak dapat

disangkal bahwa pak Harto dan keluarga, yang sedemikian kaya dan berkuasa, harus takluk kepada maut! Kembali kita belajar dari

kehidupan ini, bahwa betapa pun berkuasa dan kayanya seseorang, seseorang itu tidak boleh bergantung kepadanya. Apalagi, tidak

boleh sombong; karena semua itu tidak dapat diandalkan. Jika kekuasaan dan harta, ternyata tidak dapat diandalkan, lalu apa

yang dapat diandalkan? Nabi Yeremia menuliskan jawabannya: "Beginilah firman TUHAN: "Janganlah orang bijaksana bermegah karena

kebijaksanaannya, janganlah orang kuat bermegah karena kekuatannya, janganlah orang kaya bermegah karena kekayaannya, tetapi

siapa yang mau bermegah, baiklah bermegah karena yang berikut: bahwa ia memahami dan mengenal Aku, bahwa Akulah TUHAN yang

menunjukkan kasih setia, keadilan dan kebenaran di bumi. (Yer.9:23-24) .



Salam hangat,

Pdt. Dr. V. Mangapul

Sagala



Telah dimuat di harian Batak Pos, 29.1.'08 - www.mangapulsagala.com



Pdt. Mangapul Sagala, D.Th.

Pendiri Yayasan Bina Dunia (YBD), Komunitas Bonapasogit Diaspora (KBD), tinggal di Jakarta. Doctor of Theology (D.Th.) lulusan

Trinity Theological College, Singapore.

dilihat : 462 kali


   
Copyright 2005 Pustakalewi.net
All rights reserved. Protected by the copyright laws of the Indonesia
hosted and developed by Agiz YL Solution