Sabtu, 24 Oktober 2020 18:07:39 | Home | Index Berita | About Us | Statistik | Buku Tamu | Redaksi | Webmail | Login |  

Catatan Ringan

Beatrice Portinari
Beatrice Portinari (1266-1290) adalah seorang anak manusia biasa yang kemudian menjadi obyek imajinasi luar biasa sehingga identitas dirinya secara tidak adil akan terseret dalam status luar biasanya itu.



Pengunjung hari ini : 536
Total pengunjung : 239638
Hits hari ini : 4832
Total hits : 2476700
Pengunjung Online : 9
Situs Berita Kristen PLewi.Net -Hans Kung dan Pondasi Etika Bersama




SocialTwist Tell-a-Friend | |
Senin, 14 Januari 2008 00:00:00
Hans Kung dan Pondasi Etika Bersama
Pengantar



Dalam evolusi sejarah umat manusia, ternyata perjalanan

sejarah ini tidak selalu berkembang linear. Ide-ide besar datang dan pergi, gagasan yang baru menggantikan yang lama,

menegasikan atau mengambil bentuk baru dari suatu sintesis kreatif yang memperkaya. Gagasan-gagasan yang tidak relevan dengan

perkembangan zaman atau yang telah berperan menghancurkan zaman itu sendiri pada akhirnya akan menerima kritik, bahkan dicaci,

dan lalu ditinggalkan. Hal ini memperlihatkan bahwa semakin maju capaian pemikiran manusia bukan berarti ia akan begitu saja

menjamin kesejahteraan dan kedamaian manusia, meski segala upaya pemikiran itu dikerahkan untuk mencapai cita-cita

itu.



Misalnya, gagasan-gagasan yang lahir dari kandungan modernitas, yang merupakan antitesis dari abad pertengahan,

kini menjadi sasaran kritik era sesudahnya. Kritik ini dikemukakan karena modernitas tidak lagi sanggup menjawab problem zaman

yang dinamis. Bahkan modernitas dianggap telah menyumbangkan saham bagi lahirnya tragedi kemanusiaan yang menimpa umat manusia,

seperti perang, konflik, kemiskinan, penindasan, pembunuhan, dan seterusnya. Modernitas memang diakui memunculkan optimisme

kemajuan manusia melalui penemuan sains dan teknologi, tetapi pada sisi lain ia tidak mampu menjawab problem-problem besar yang

dihasilkan dari dampak kemajuan tersebut. Banyaknya bencana kemanusiaan memperlihatkan bahwa modernitas gagal membuat dunia

semakin damai, aman, dan sejahtera.



Keprihatinan terhadap tragedi kemanusiaan semacam inilah yang juga dirasakan

Hans Kung, yang sebagian pemikirannya akan dibahas dalam makalah ini. Kritiknya terhadap modernitas dengan mempertimbangkan

khazanah zaman posmodernitas sekarang ini mendorongnya untuk mencari solusi normatif bagi problem kontemporer yang diwarnai

dengan teror, kekerasan, penindasan, dan bencana kemanusiaan lainnya. Tepatnya, Kung mau membangun fondasi etika bersama yang

bisa menjamin kehidupan umat manusia di dunia agar lebih adil, damai, aman, dan berprikemanusiaan. Bukan etika yang semata-mata

mendasarkan diri pada jenius rasio manusia, melainkan etika yang dibangun di atas nilai-nilai humanis yang terkandung dalam

agama-agama.



Dalam refleksi ini, pertama-tama penulis akan memaparkan kondisi modernitas dan kritik Kung atas

kegagalan-kegagalan modernitas (1), lalu akan dibahas panggilan Kung akan pentingnya etika bersama untuk mengatasi problem

kemanusiaan akibat kegagalan modernitas ini (2), dan selanjutnya akan dipaparkan gagasan inti Kung mengenai keyakinannya akan

nilai agama-agama sebagai basis etika global (3). Terakhir penulis akan memberikan beberapa catatan kritis singkat

(4).









Kondisi-Kondisi Modernitas



Pengertian modernitas di sini pada dasarnya tidak

hanya menunjukkan sebuah periode sejarah setelah abad pertengahan atau sebuah pengalaman kultural tertentu, melainkan juga

suatu posisi epistemologis dan filosofis yang memikirkan karakter tertentu mengenai pengetahuan dan

kebenaran.



Secara historis kesadaran akan modernitas ini berawal dari masa Renaisance pada abad ke-16 dan memuncak

pada Aufklarung pada abad ke-18. Pada masa-masa inilah kesadaran akan kenyataan otonomi manusia di hadapan alam semesta mulai

muncul di bawah semboyan terkenal: Sapere Aude! (berpikirlah sendiri!). Secara filosofis, tokoh besar yang merumuskan semangat

modernitas adalah Rene Descartes. Ungkapannya yang teramat masyhur Cogito ergo sum telah menandai kesadaran baru ini: pertama,

manusia atau “aku” adalah subjek yag menghadapai alam lahiriah yang dibedakan dengan alam batiniah, dan kedua, bahwa

pengetahuan manusia mengenai kenyataan adalah produk pemikiran mereka sendiri dan bukan berasal dari tradisi atau wahyu. [1]





Alam modern adalah masa di mana rasionalitas manusia muncul dan menggeser segala otoritas non-rasio. Ini berarti

keyakinan selama ini bahwa tradisi atau dogma agama sebagai sumber otoritas yang dianggap mampu menjawab segala pertanyaan

tentang semesta dan problem-problem yang dihadapi umat manusia, mulai ditinggalkan. Sebagai gantinya, hanya manusia dengan

kemampuan rasionyalah yang mampu memahami kenyataan dengan benar dan mampu menjawab perkembangan zaman. Optimisme terhadap

kemampuan rasio ini pada akhirnya melahirkan gagasan modern tentang progress.



Progress, sebagai kesadaran akan waktu

yang khas dalam modernitas, dimaksudkan waktu yang dihayati sebagai sebuah garis lurus menuju kemajuan. Dalam kesadaran baru

ini perjalanan waktu tidak melangkah secara repetitif dan imitatif melainkan bergerak linear secara pasti. Kesadaran baru ini

meyakini bahwa kekinian adalah peningkatan kualitatif atas kelampauan dan berikutnya menjadi modal peningkatan masa mendatang.

[2]



Keyakinan akan rasionalitas manusia dan kepastian akan kemajuan ini pada momen berikutnya mengejawantah dalam

aktifitas kreatif, penciptaan, dan inovasi sains dan teknologis. Dengan sains dan teknologi ini, umat manusia berusaha

merealisasikan cita-citanya untuk menguasai alam, dan menghadirkannya untuk kesejahteraan seluruh umat manusia. Namun demikian

berbagai peristiwa faktual menunjukkan realitas yang lain. Sains dan teknologi telah membawa bencana yang mahadahsyat; dua

perang dunia, konflik ideologi, kemiskinan dan kelaparan, serta krisis lingkungan yang justeru mewarnai optimisme modernitas

ini. Dari sinilah lalu cita-cita modernitas dengan segala pranata intelektual dan sosialnya dipersoalkan. Rasio manusia yang

diyakini akan membawa dunia ini menjadi lebih baik (better world) malah memupuskan harapan dan cita-citanya sendiri tentang

kedamaian, kebahagiaan, dihormatinya martabat kemanusiaan.



Hans Kung, salah satu di antara sejumlah pemikir

pengkritik modernitas, dengan lugas menegaskan bahwa kemajuan sains modern yang sepenuhnya bersandar pada rasio tidak

seluruhnya membawa kemajuan umat manusia, begitu juga rasionalitas sains dan teknologi. Rasio pencerahan akhirnya jatuh pada

irrasionalitas dan tenggelam dalam jurang kehancuran karena pemikiran saintifik dan teknologi tidak bisa memberikan dasar

jawaban bagi problem-problem yang diakibatkannya. Tepatnya, pemikiran modern tidak mampu memberikan kerangka etika global untuk

mengantisipasi dampak kemajuan dan perkembangan kehidupan modern sendiri yang semakin terdiferensiasi dan tersekularisasi.

[3]





Menuju Etika Bersama Pasca Modernitas



Krisis modernitas yang membawa bencana kemanusiaan ini

menarik keprihatinan Kung. Keprihatinan pertama terkait dengan tendensi modernitas yang mengandalkan rasio manusia yang tidak

memberikan landasan etis yang memadai untuk tanggung jawab etika global. Kedua, terkait dengan budaya teknokratis yang

mendominasi masyarakat modern telah mengabaikan aspek kemanusiaan dalam menggunakan teknologi. Akibatnya, bukan hanya

melahirkan teknologi yang justeru mengancam keadilan dan kebebasan manusia, tapi juga merusak lingkungan, bahkan ancaman

terhadap eksistensi manusia itu sendiri.



Bagi Kung, untuk menghindari bencana yang barangkali akan semakin membesar

ini tidak bisa tidak harus ada suatu pergeseran nilai dalam paradigma kehidupan manusia. Pergerakan dari nilai-nilai modernitas

ke “paska modernitas” [4] ini meliputi hal-hal berikut. Pertama, perubahan dari masyarakat yang bebas etik menuju masyarakat

yang bertanggung jawab secara etis. Kedua, dari budaya teknokrasi yang mendominasi manusia menuju teknologi yang melayani

manusia. Ketiga, dari industri yang merusak lingkungan menuju industri yang ramah lingkungan, dan keempat, dari demokrasi legal

menuju demokrasi yang berkeadilan dan berkebebasan. [5]



Namun demikian realisasi pergeseran paradigma ini tentu saja

membutuhkan konsensus bersama, suatu moralitas atau norma etik yang mengikat secara universal. Yakni, suatu norma dan nilai

minimum yang bersifat transkultural dan transnasional yang bisa menjamin dan mengarahkan umat manusia menuju kehidupan masa

depan yang harmonis, damai, taat hukum, dan tanpa kekerasan. Suatu norma yang dilandasi oleh tanggung jawab bersama terhadap

kehidupan alam semesta (a planetary responsibility). Norma ini adalah etika publik-global yang bertanggung jawab terhadap orang

lain, lingkungan dan masa depan dunia, serta menjadikan manusia sebagai kriteria dan tujuan. [6]



Agama-agama

sebagai Basis Etika Global



Pertanyaan pertama untuk membangun sebuah etika bersama adalah: di atas landasan apa

etika bersama dan mengikat itu hendak dibangun? Apa kriteria validitas etika bersama itu agar bisa dipertanggungjawabkan secara

bersama-sama pula?



Pertama-tama Hans Kung mengaskan bahwa kemajuan sains modern tidak seluruhnya membawa kemajuan

umat manusia, begitu sains dan teknologi tidak seluruhnya rasional. Rasio pencerahan toh akhirnya jatuh pada irasionalitas dan

tenggelam dalam jurang kehancuran. Karena persis pemikiran saintifik dan teknologis modern tidak bisa memberikan dasar bagi

nilai-nilai universal, hak asasi manusia (HAM), dan kriteria etis yang memadai.



Kedua, filsafat juga gagal bahkan

tidak mampu memberikan fondasi etika praktis bagi seluruh masyarakat, juga suatu etika yang bersifat universal dan mengikat.

Alih-alih, mereka (para filsuf seperti MacIntyre, Rorty, Foucault, dll) kembali kepada budaya dan nilai-nilai lokal sebagai

sumber norma-norma etika yang tentu bagi Kung partikularitas itu tidak mencukupi bagi etika bersama. Mengapa demikian? Karena

rumusan etika dalam filsafat tidak menyertakan keharusan universal dan yang tanpa syarat. Filsafat hanya mengabdi pada kekuatan

rasio sehingga ketundukan pada keharusan etis terasa menyakitkan secara eksistensial. Apalagi juga filsafat mustahil menuntut

pengorbanan atas kepentingan hidup mereka.



Dengan bersikap pesimis terhadap peran rasio dan filsafat yang gagal

menyediakan fondasi etis, Kung akhirnya melirik peluang agama yang secara potensial bisa menjadi dasar pijakan bagi moralitas

universal semacam itu. Memang benar bahwa agama bisa berlaku otoritarian, menjadi tiran, menciptakan intoleransi,

ketidakadilan, isolasi dan seterusnya hingga memusuhi sains, teknologi, industri, bahkan demokrasi dan HAM. Namun demikian,

Kung menyanggah kalau agama dianggap tidak memiliki masa depan. Bagi Kung, agama adalah fenomena universal manusia. Ia adalah

dimensi esensial hidup dan sejarah manusia yang tidak mungkin tergantikan oleh ideologi lain, apakah humanisme ateistik ala

Feurbach, sosialisme ateistik ala Marx, sains ateistik ala Freud dan Russel, atau yang lain. Memang benar bahwa agama juga

telah menyebabkan destruksi, tapi kenyataanya agama juga membawa pembebasan manusia, ikut menyumbangkan nilai-nilai keadilan,

toleransi, solidaritas, demokrasi, HAM, perdamaian dunia, dan seterusnya, bahkan menjadi kekuatan etika nonkekerasan.