Senin, 27 Januari 2020 04:59:01 | Home | Index Berita | About Us | Statistik | Buku Tamu | Redaksi | Webmail | Login |  

Catatan Ringan

Perkembangan Peer to Peer Lending di Indonesia
Perkembangan Peer2Peer Lending (P2P Lending), pinjam meminjam berbasis aplikasi makin subur di Indonesia. Tapi kehadirannya tentu akan menimbulkan konsekuensi positif dan negatif.


Pengunjung hari ini : 236
Total pengunjung : 23000
Hits hari ini : 1003
Total hits : 603348
Pengunjung Online : 3
Situs Berita Kristen PLewi.Net -Aborsi Di Mata Orang Percaya






SocialTwist Tell-a-Friend | |
Selasa, 08 Januari 2008 00:00:00
Aborsi Di Mata Orang Percaya
(Oleh: Dave Broos)





Sikap Kita Terhadap

Aborsi



Pada masa Perang Dunia II, tentara NAZI Jerman di bawah pimpinan Adolf Hitler membuat undang-undang yang

mengizinkan pemusnahan massal (dikenal dengan Holocaust) anggota masyarakat yang dianggap “tak berguna”.Selama Perang Dunia II

mengakibatkan 407.316 jiwa tewas selama terjadi peperangan tersebut.Kini kita pun melihat kejadian yang sama, bayi mungil yang

lucu, tidak dicintai dan diharapkan, mereka dibantai dengan kejam. Mungkinkah suatu hari kelak orangtua renta, orang cacat,

idiot/terbelakang akan mendapatkan perlakuan yang sama,bila kita sebagai orang percaya hanya bisu menghadapi aborsi pada saat

ini?



Prof. Dr. J.E. Sahetapy dalam salah satu seminar mengenai “KEHAMILAN YANG TIDAK DIRENCANAKAN” mengungkapkan

data bahwa besarnya aborsi di Indonesia pada tahun 1997(saat itu jumlah penduduk Indonesia 200 juta jiwa) mencapai 1 juta

jiwa/tahun. Menurut penelitian Jawa Pos pada bulan Agustus 1998 menunjukkan jumlah aborsi di Indonesia telah berkembang menjadi

1.750.000 jiwa/tahun yang diakibatkan oleh krisis ekonomi pada saat itu. Dan jumlah ini bertambah terus tiap tahunnya bisa

dibayangkan saat ini tahun 2005, berapa juta jiwa bayi mungil itu yang binasa.Di Amerika Serikat, 6.000.000 – 8.000.000 jiwa

bayi tewas setiap tahun diakibatkan aborsi yang dilegalkan oleh pemerintah. Secara umum aborsi adalah kejahatan kemanusiaan

terbesar yang pernah terjadi dalam sejarah dunia, sekitar 60 juta bayi terbunuh setiap tahunnya.





Sejarah

Penolakan Terhadap Aborsi



Bila kita menilik sejarah, ternyata selama ribuan tahun aborsi telah terjadi dalam

berbagai bentuk. Sebagian besar budaya suku bangsa mengizinkan atau mentoleransi aborsi. Hanya sebagian kecil saja suku bangsa

yang menolak praktek aborsi, salah satunya adalah suku bangsa Babilonia. Betapa kuatnya penolakan atas tindakan aborsi hingga

bagi mereka yang bersalah dengan menggugurkan kandungan harus menggendong mayat bayi itu selama tiga hari tiga

malam.



Sebutan aborsi pertama kali diketemukan dalam sastra Yahudi pada tahun 300 SM. Tulisan-tulisan pada masa

gereja mula-mula dan ahli sejarah pada zaman itu menyatakan bahwa sebagian besar orang Kristen berdiri menentang praktek

aborsi. Klement dari Aleksandria (150 – 215), Tertullian (160 – 240), hingga Cyprian (200 – 258) yang meninggal sebagai martir,

adalah para penolak praktek aborsi. Tertullian menyatakan, “Dalam kasus kita, pembunuhan dalam segala bentuknya terlarang kita

tidak boleh menghancurkan kehidupan meskipun itu janin dalam kandungan….Sebab melenyapkan suatu kelahiran adalah

PEMBUNUHAN”.



Pemimpin-pemimpin Kristen yang diketahui menentang aborsi adalah Basil, Jerome, Ambrose, Agustinus dan

Chrysostom. Basil menyatakan,”Siapapun yang mengizinkan aborsi adalah pembunuh….siapapun yang memberikan obat untuk aborsi sama

dengan menjadikan dirinya pembunuh, begitupula bagi yang menerima racun untuk membunuh janin”.



Lebih jauh sejarah

Kristen menemukan baik Martin Luther maupun John Calvin memberikan penjelasan bahwa Alkitab menentang aborsi. Calvin

berargumentasi,” Janin walaupun terbungkus dalam kandungan ibunya, ia telah menjadi manusia, merupakan suatu kejahatan besar

untuk merampas suatu kehidupan yang belum dumulai untuk dinikmati.”





Kesaksian Masa Kini



Pada awal

1970an, Dr. Zolton Philips III tadinya adalah seorang pendeta yang mendukung aborsi sebagai salah satu alat kontrasepsi di

Virginia, Amerika Serikat. Sampai pada suatu hari beliau menyaksikan sendiri proses aborsi. Ini cukilan kisahnya, Saya

menyaksikan proses aborsi melalui penyedotan sebanyak dua kali dan proses penggaraman sekali. Saat proses aborsi dengan

penggaraman, ternyata bayi lahir hidup. Saya sangat terkejut dan memohon pada suster untuk menolong bayi itu, namun perawat itu

menjawab, ia tidak dapat melakukan hal tersebut sebab orangtua bayi itu telah menandatangani dokumen bahwa bayinya telah

meninggal. Saya tidak akan pernah melupakan hari itu.



Saat saya pulang, segera saya memperbincangkan hal tersebut

dengan istri, berdoa dan menyelidiki Firman Tuhan. Di saat saya membaca Yeremia 1:5, pikiran saya berubah mengenai aborsi yang

selama ini saya dukung, “Sebelum Aku membentuk engkau dalam rahim ibumu, Aku telah mengenal engkau, dan sebelum engkau keluar

dari kandungan, Aku telah menguduskan engkau…..”. Jika Tuhan mengenal dia sebelum bayi itu keluar dari kandungan pastilah janin

itu telah memiliki kehidupan.



Ada rasa bersalah yang dalam akibat keterlibatan saya yang menyetujui aborsi.

Kesertaan saya dalam gerakan ini membuat saya merasa bersalah namun kemudian saya menyadari akan kasih karunia Tuhan, rasa

bersalah mulai mnghilang dan saya dapat menerima pengampunanNya dan belajar mengampuni diri sendiri.



Saya heran

bagaimana sebagai orang Kristen dapat menjadi buta, khususnya di dalam membenarkan aborsi sebagai salah satu alat

kontrasepsi.Kathy DeZeeuw; saya dibesarkan dalam keluarga yang membaca Alkitab setiap hendak makan dan pergi ke gereja tiga

kali seminggu. Di satu sisi kami nampak rohani namun di sisi lain kami tidak mempunyai hubungan yang sesungguhnya dengan Tuhan.

Saya tidak diperbolehkan berkencan atau nonton bioskop, namun pada suatu malam, saat saya berusia 16 tahun, saya membolos dari

gereja, pergi ke restoran pizza dan lalu menerima ajakan kencan seorang pria menonton film di drive in.Ternyata pria itu baru

keluar dari penjara, saat ia mabuk, ia membawa saya ke sebuah danau yang sepi dan memperkosa saya.



Satu bulan

kemudian saya menyadari bahwa saya hamil. Saya putus asa dan berupaya menggugurkan bayi itu, dengan minum racun semut,

menjatuhkan diri dari timbunan rumput kering yang tinggi dan meninju perut sekeras-kerasnya, namun tidak berhasil. Saya

membenci bayi itu, saya benci pria itu dan terutama saya benci diri saya sendiri.



Orang-orang di gereja

menggunjingkan bahwa saya bukan “wanita baik-baik” dan perlu diusir dari gereja. Orangtua saya akhirnya mengirim saya ke rumah

penampungan bagi para ibu di luar perkawinan yang sangat jauh jaraknya dari tempat kami tinggal dan memberitahukan saya untuk

menyerahkan bayi saya untuk diadopsi orang lain.



Namun saya memutuskan untuk memelihara bayi laki-laki saya,

Patrick. Namun ternyata pihak keluarga menolak kami hingga akhirnya saya pindah ke California dan tenggelam dalam pengaruh

obat-obatan dan alkohol karena rasa frustasi. Di kala Patrick berusia 2,5 tahun , saya berdoa pada Tuhan untuk memberikan

seorang suami yang lebih mengasihi bayi ini lebih dari diri saya. Lalu saya bertemu Harris yang menjadi jawaban doa dari Tuhan.

Harris jatuh cinta pada Patrick dan mereka melakukan hal-hal yang biasa dilakukan semua ayah dan anak pada umumnya. Saat Harris

akhirnya meminta saya kepada ayah saya, yang pertama dia minta adalah Patrick, baru kemudian diri saya. Keluarga kami akhirnya

mengalami pemulihan, saya terlepas dari belenggu obat-obatan dan alkohol sedang Harris menyerahkan hidupnya kepada Tuhan. Tuhan

telah menunjukkan pada saya kasihNya yang lembut dan pengampunanNya.



Saat ini saya bekerja sebagai konselor di

sebuah pusat krisis kehamilan hingga dapat menyaksikan kasih tuhan bagi gadis-gadis muda yang hamil di luar nikah yang

mengalami krisis.





Kesaksian Pribadi



Namaku Dave Broos terlahir sebagai anak di luar sebuah lembaga

pernikahan, aku bersyukur bahwa mamaku tidak menggugurkan kandungannya. Meski rasa malu dan putus asa ia alami akibat kekasih

yang ingkar janji dan meninggalkannya saat tahu mamaku tidak datang bulan, namun ia memilih untuk melahirkan anak tersebut,

membesarkan dan mengasuhnya dengan kasih sayang.



Pada usia 22 tahun, Tuhan memanggilku untuk melayani pekerjaan

Tuhan dan tidak terasa sudah 16 tahun kulayani Yesusku. Hal ini tidak mungkin terjadi bilamana mama tercinta menggugurkan

kandungannya pada saat ia melakukan kesalahan dalam hal pacaran. Ya, aku tidak mungkin melayani Tuhan seandainya aku telah

diaborsi. Rencana Tuhan selalu indah pada waktuNya.





Mengapa Kita Tinggal Diam ?



Banyak orang

percaya tinggal diam dan bersikap masa bodoh, padahal fakta mengenai aborsi terdapat diberbagai media massa yang sangat mudah

kita akses. Jadi bukan karena alasan kurang informasi atau kurang pengetahuan. Mari kita lihat alasan kita tidak bergerak

:



Kita kurang dekat dengan Tuhan.



Bila kita memiliki kedekatan yang semestinya dengan Tuhan maka kita

pasti menghargai kehidupan sebab Tuhan kita adalah Tuhan memberikan kehidupan kekal.Tidak mungkin kita mampu mengorbankan diri

dan waktu kita bagi Tuhan bila kita lebih berpusat pada diri sendiri. Tuhan Yesus mati di atas kayu salib agar kita beroleh

kehidupan, secara gamblang kita dapat melihat bahwa tidak mungkin Tuhan menyetujui aborsi. Tuhan tidak mungkin menyetujui

“pembunuhan” terhadap janin-janin itu, sebab Tuhan punya rencana atas kehidupan tiap umat manusia.



Bayangkan bila

“seandainya” aborsi dibenarkan pada masa Kristus lahir di muka bumi, ada kemungkinan Kristus terbunuh sebelum Dia lahir, Dia

dikandung di luar pernikahan (Maria bisa dirajam saat itu) , dikandung oleh wanita miskin, diremehkan masyarakat dan dianggap

mempermalukan keluarga. Namun kita tahu bahwa Maria taat pada Tuhan di atas apapun.





Pandangan Alkitab Mengenai

Aborsi



Di dalam Perjanjian Lama dan Baru, seorang wanita yang mengandung disebutkan, dia telah “hidup dengan anak”.

Tidak dikatakan “dengan calon manusia” atau “dengan produk konsepsi” ataupun “dengan jaringan janin”. Beberapa versi dalam

Alkitab menggunakan kata mengandung, tetapi di dalam kamus sekuler dapat didefinisikan mengandung sebagai “hidup dengan

anak”.



Kata bayi dalam bahasa Yunani adalah “brephos”. Kata ini digunakan dalam Alkitab untuk mengartikan adanya

seorang anak dalam kandungan(Luk 1:41, 44), untuk mengartikan seorang bayi yang baru lahir(Luk 2:12, 16), dan untuk mengartikan

seorang anak kecil( 2 Tim 3:15). Dengan kata lain, Tuhan tidak membedakan antara anak yang belum lahir dan anak yang baru

lahir, didefinisikan bahwa mereka adalah anak-anak.



Dalam Perjanjian Lama, dinyatakan ketika Ribka,istri Ishak,

mengandung anak kembar, Alkitab menyatakan ...”anak-anak berjuang bersama-sama dengan dia...”(Kej 25:22). Setiap anak adalah

buah karya Bapa surgawi, dibentuk segambar dengan Tuhan. Ayub mengatakan,”Dia yang membentuk aku dalam kandungan...” (Ayb

31:15) dan Daud menyatakan,”Sebab Engkaulah yang membentuk buah pinggangku, menenun aku dalam kandungan ibuku(Mzm

139:13).



Tuhan memberi anak yang belum lahir dipenuhi Roh Kudus seperti Yohanes Pembaptis(Luk 1:15). Bayi Elisabet

(Yohanes Pembaptis) bersukacita saat bertemu dengan sepupunya “YESUS” yang saat itu dikandung oleh Maria(Luk 1:41,44). Yeremia

“dikenal” oleh Tuhan sebelum dia dilahirkan (Yer1:5). Ini benar-benar bukan merupakan gumpalan-gumpalan protoplasma, tetapi

manusia kecil, yang tumbuh dan dapat meresponi kehidupan disekitar mereka.





Mereka Tidak Bersalah



Di

dalam 10 Perintah Tuhan, ada perintah untuk “Jangan membunuh”(Kel 20:13) adalah sangat penting untuk membedakan antara

pembunuhan atas orang bersalah dan yang tidak bersalah. Dalam bahasa Inggris ada kata “Murder” dan “Killing”, Murder mengandung

arti mengambil hidup seseorang yang tidak melakukan kejahatan apapun yang senilai dengan kematian. Sedang kata Killing

mengandung arti mengambil kehidupan orang lain dan dapat dilakukan untuk membenarkan (seperti Daud membunuh Goliat). Tiidak

dapat diragukan perasaanNya mengenai merampas kehidupan dari orang yang tidak bersalah, “....orang yang tidak bersalah dan

orang yang benar tidak boleh kau bunuh, sebab Aku tidak akan membenarkan orang yang bersalah”.(Kel 23:7) “...tidak menindas

orang asing, yatim dan janda, tidak menumpahkan darah orang yang tak bersalah....” (Yer 7:6).



Keseriusan atas dosa

aborsi dapat kita lihat atas rasa bersalah yang mengejar para pendosa yang belum menerima pengampunan Tuhan. Suatu studi selama

3 tahun yang dilakukan terhadap kelompok pencegahan bunuh diri menunjukkan bahwa sepertiga dari seluruh pasien pernah melakukan

aborsi. Tidak diragukan lagi bahwa pertanggungjawaban atas kematian seseorang yang tidak bersalah dapat membuat seseorang ingin

mengambil kehidupan mereka sendiri.





Beberapa Pertanyaan Seputar Aborsi



Bagaimana bila kita

diperkosa dan lalu hamil?



Pertama-tama, pemerkosaan jarang sekali menyebabkan kehamilan, tetapi trauma hebat yang

dapat ditimbulkan. Namun seandainya terjadi, yang diperlukan adalah seorang penopang dan pendukung yang penuh kasih, bukannya

menambah rasa bersalah padanya. Merupakan sebuah keadilan yang aneh jika kita membunuh anak yang tak bersalah karena kejahatan

ayahnya. Tuhan akan menolongmu mengampuni ayah bayi itu dan Ia akan memberikan padamu kasih sejati bagi bayimu. Bagaimanapun

bayi itu merupakan bagian hidup anda, tidak peduli siapapun ayahnya. Seandainya anda besok tahu bahwa anda sebenarnya buah

pemerkosaan, apakah anda ingin ibu anda menggugurkan anda?



Seorang wanita yang memutuskan aborsi telah mengambil

keputusan sulit, seharusnya kita mendukung dan bukan menghakimi. Kita orang Kristen harus menunjukkan kasih.Marilah kita

memandang bahwa aborsi tidak ada bedanya dengan operasi usus buntu.



Bagaimana mungkin kita membandingkan seorang

bayi dengan usus buntu atau organ tubuh yang lain? Usus buntu/organ tubuh lain tidak berubah menjadi bayi, bagian tubuh jasmani

tidak memiliki jiwa yang kekal. Seorang bayi adalah pribadi yang berbeda dengan perbedaan kromosomnya sendiri. Bayi mempunyai

persediaan darahnya sendiri yang mungkin berbeda dari ibunya dan bisa memiliki jenis kelamin yang berbeda. Ia tentu saja

seorang individu yang terpisah. Bila kita mengasihi orang tersebut maka kita perlu menyatakan kebenaran Tuhan dan bukannya

berkompromi dengan nilai-nilai yang membenci kehidupan.



Bukankah melakukan aborsi merupakan urusan

pribadi?



Bila kita melihat ada anak-anak yang disiksa dan dihajar secara kejam oleh orangtua mereka, apakah yang

akan kita lakukan? Kita akan melaporkan pada pihak berwajib hingga tidak ada kasus Arie Anggara berikutnya, anak yang meninggal

akibat tindakan kekerasan orangtua terhadap anak. Aborsi adalah juga pembunuhan dan tidak bisa ditoleransi.



Bukankah

KB merupakan bentuk lain dari aborsi?



Kontrasepsi yang benar akan mencegah kehidupan baru dari awal, bukannya

menggugurkan kehidupan yang sudah dimulai.Beberapa pil KB berisi estrogen dosis tinggi sehingga seorang wanita hampir tidak

mempunyai kesempatan melepaskan telur untuk pembuahan- permulaan hidup baru.





Apa Yang Dapat Kita

Lakukan



Mengasihi Tuhan



Kekuatan yang dapat memberi motivasi pada kita adalah kasih pada Tuhan, seperti

yang dilakukan oleh Daud.Dalam menghadapi aborsi kita perlu kasih yang sama. Kita perlu mengasihi Tuhan dengan segenap hati,

akal budi, jiwa dan kekuatan kita; mengasihi sesama kita seperti diri kita sendiri. Hanya bila kita mengasihi Tuhan saja, kita

bisa sungguh-sungguh mengasihi sesama kita.



Aborsi membuat hati Tuhan sedih. Tuhan terhibur untuk merasakan kasih

dan kepedulian kita pada dunia yang meninggalkan Dia.Kita harus mengizinkan Tuhan memakai diri kita menjadi saluran kasihNya

bagi mereka yang belum mengerti isi hatiNya.





Mengasihi Para Korban



Tidaklah sukar mengasihi

bayi-bayi mungil tak berdosa borban aborsi. Mengapa kita mengasihi mereka? Sebab bayi-bayi mungil ini seperti halnya kita

diciptakan segambar dengan Tuhan dan mereka milik Tuhan. Mereka sungguh tak berdaya dan tidak bisa berbicara untuk diri mereka

sendiri. Sudah seharusnya kita yang bersuara lantang bagi mereka, dan juga demi Tuhan.



Beberapa orang merasa sulit

untuk mengasihi wanita-wanita pelaku aborsi. Namun mereka juga merupakan korban. Bukan korban yang yang sepenuhnya tidak

bersalah, tetapi korban dari dosa mereka sendiri dan kurangnya hubungan mereka dengan Tuhan. Beberapa orang melakukan aborsi

ada dalam situasi putus asa. Apapun alasannya kita perlu mengasihi wanita-wanita ini, sebab mereka juga sama berharganya di

mata Tuhan.





Mengasihi Musuh



Mungkin yang paling sulit adalah mengasihi mereka yang mengembangkan

praktek aborsi. Namun Tuhan Yesus memberitahukan kita untuk mengasihi musuh-musuh kita. Seharusnya kita membenci hal-hal yang

mereka lakukan dan menentang setiap gerakan mereka. Tuhan membenci dosa tetapi mengasihi orang berdosa.



Kita perlu

menemukan cara yang kreatif untuk membagi kasih Yesus pada mereka. Ini adalah waktu penyelamatan kita harus berusaha merampas

beberapa orang berdosa dari api neraka.(Yud 23).





Tahu Tidaklah Cukup



Kita orang Kristen merupakan

anak-anak Tuhan yang seharusnya menyatakan kasih pada dunia bukan hanya pada orang-orang dewasa namun juga termasuk

janin-janin. Saya percaya bahwa Tuhan ingin memakai umat Kristiani untuk mengalahkan aborsi dengan menyatakan dan menghidupi

nilai-nilai kebenaran dengan menghargai sebuah tujuan kehidupan.





7 Prinsip Tujuan Kehidupan



1.

Tuhan kita adalah Tuhan yang memiliki tujuan.

2. Segala sesuatu di dunia ini memiliki tujuan.

3. Tidak semua tujuan

di dunia telah diketahui.

4. Bila tujuan tidak diketahui maka penyimpangan dan pelecehan pasti terjadi.

5. Untuk

mengetahui tujuan sesuatu, jangan bertanya pada sesuatu tersebut tetapi

bertanyalah pada prnciptanya.

6. Tujuan

hanya dapat ditemukan dalam pikiran si pencipta.

7. Tujuan adalah kunci pencapaian dan kepuasan.

Tujuan akhir Allah

adalah agar kita semua menjadi segambar dengan Kristus Yesus pada akhirnya dan agar kita menghasilkan kembali kehidupanNya di

dalam kehidupan orang-orang disekitar kita.(Rom 8:28-31)



Kehidupan kita di muka bumi sangat berharga, jangan

disia-siakan dan mari kita bersatu untuk membela jiwa-jiwa “mungil” yang memiliki rencana Tuhan di muka bumi ini. Jangan

biarkan skenario Iblis dalam aborsi bertambah meluas merasuki gereja Tuhan dan bangsa Indonesia. Mari kita menjadi orang-orang

yang terlibat dalam gerakan “pro-life”, sebab Tuhan kita adalah Tuhan yang memberikan “hidup” dan bukan

kematian.





DAFTAR PUSTAKA





Alkitab, Lembaga Alkitab Indonesia



I Change My Stand – My

Struggle Over Abortion, Ps. Zolton Philips III , Last Days Ministry



The Biblical Basis For A Pro-Life Stand, Martin

Bennet, Last Days Ministry



Abortion : Attitudes for Actions, Melody Green, Last Days Ministry



Brosur

Aborsi , Bagaimana Sikap Kita?, Yayasan Pondok Hayat



Raped & Pregnant, Three Women Tell Their Stories, Sharon Bennet

& Bob Miller, Last Days Ministry



The Questions Most People Ask About Abortion, Melody Green, Last Days Ministries





Tujuan Kehidupan, Jonathan Pattiasina, www.jonathanpattias ina.com



* Seorang evangelis Gereja Rumah,

tinggal di Bandung

dilihat : 461 kali


   
Copyright © 2005 Pustakalewi.net
All rights reserved. Protected by the copyright laws of the Indonesia
hosted and developed by Agiz YL Solution