Rabu, 23 September 2020 05:09:08 | Home | Index Berita | About Us | Statistik | Buku Tamu | Redaksi | Webmail | Login |  

Catatan Ringan

Beatrice Portinari
Beatrice Portinari (1266-1290) adalah seorang anak manusia biasa yang kemudian menjadi obyek imajinasi luar biasa sehingga identitas dirinya secara tidak adil akan terseret dalam status luar biasanya itu.



Pengunjung hari ini : 210
Total pengunjung : 219151
Hits hari ini : 1211
Total hits : 2281204
Pengunjung Online : 9
Situs Berita Kristen PLewi.Net -Misi Gereja Masa Kini




SocialTwist Tell-a-Friend | |
Senin, 10 Desember 2007 00:00:00
Misi Gereja Masa Kini
oleh : Pdt. Ignatius Bagoes Seta, B.Th., Dip.Th.S., Dip.Div.&Miss. ,

Cert.of Perspective



Gereja di seluruh dunia selalu menghadapi permasalahan berkaitan dengan pertumbuhan yang

dialami. Seringkali, setelah suatu gereja menjadi besar dan anggotanya banyak, mereka seolah-olah menjadi kebingungan dengan

apa yang harus dilakukan. Mereka akhirnya hanya mengulang-ulang segala sesuatu yang sudah dikerjakan pada masa-masa lalu. Tidak

ada lagi sesuatu yang baru, yang berasal dari penggalian dan pendalaman Firman Tuhan. Akibatnya, mimbar menjadi kering.

Program-program gereja menjadi suatu rutinitas yang membosankan. Jemaat-jemaat menjadi sosok yang pasif dan lamban dalam

menanggapi pelayanan gereja.



Tulisan ini tidak dimaksudkan untuk menilai pihak-pihak tertentu, tetapi lebih

cenderung diarahkan untuk mengingatkan kita selaku anggota Tubuh Kristus akan tugas dan hakikat keberadaan kita yang

sesungguhnya di dunia ini. Kristus tidak pernah memanggil kita untuk duduk tenang menikmati keselamatan kita, tetapi Dia

memerintahkan: "... supaya kamu memberitakan perbuatan-perbuatan besar dari Dia, yang telah memanggil kamu keluar dari

kegelapan kepada terang-Nya yang ajaib" (I Petrus 2:9).



Gereja yang hidup adalah gereja yang bermisi, gereja yang

dengan sungguh-sungguh dan setia mencoba menjalankan setiap aspek kebenaran Firman Tuhan di dalam kesehariannya. memang itu

bukan hal yang gampang, tetapi bukan tidak mungkin dicapai dan dilakukan. Pasti ada konflik dan pertentangan yang akan terjadi,

tetapi kalau kita semua mau setia dan tunduk diri di bawah kebenaran Firman Tuhan dan bersama-sama menjalankannya, niscaya

pertentangan itu dapat diselesaikan bersama-sama.



Dalam bagian ini, kita tidak akan menyoroti tentang kehidupan

gereja secara keseluruhan, tetapi lebih mengamati kepada misi yang harus dilakukan oleh gereja.





Hakikat dan

Definisi Misi



David W. Ellis dalam bukunya, "Gumulan Misi Masa Kini", memberikan suatu definisi misi sebagai

berikut: Misi adalah panggilan yang tritunggal untuk menyatakan Kristus kepada dunia dengan jalan proklamasi, kesaksian, dan

pelayanan supaya dengan kuasa Roh Kudus Allah dan Firman-Nya, manusia dibebaskan dari egoisme dan dosanya dan dengan tindakan

Allah dilahirkan kembali sebagai anak-anak Allah dengan jalan percaya akan Dia melalui Yesus Kristus, yang diterimanya sebagai

Juru Selamatnya pribadi dan dilayaninya sebagai Tuhannya dalam persekutuan tubuh-Nya, yaitu gereja, untuk kemudian menyatakan

Dia kepada dunia.



Definisi ini tampaknya sudah merupakan definisi yang sederhana, ringkas, tetapi juga padat. Di

dalam definisi ini sudah tercakup hal-hal yang tergolong sebagai tindakan misi, yaitu: proklamasi (gereja terpanggil untuk

memproklamirkan Kristus kepada dunia), kesaksian (gereja terpanggil untuk hidup seperti Kristus di dunia dengan kesalehan dan

keesaan-Nya) , dan pelayanan (gereja terpanggil untuk melayani dan menjalani aksi-aksi sosial dengan kasih Kristus bagi

dunia).





Apa sebenarnya hakikat misi?



Misi adalah manifestasi Kristus kepada dunia. Kristus datang

memproklamasikan Fiman Allah, Hidup Kristus, bahkan Kristus sendiri adalah Firman Allah yang diproklamasikan. Pelayanan Kristus

merupakan ungkapan Firman dalam tindakan sosial yang aktif. Perhatikan ayat yang dipilih Tuhan Yesus dalam permulaan

pelayanan-Nya, yaitu ayat dari Kitab Yesaya, "Roh Tuhan ada pada- Ku, oleh sebab Ia telah mengurapi Aku, untuk menyampaikan

kabar baik ... dan Ia telah mengutus Aku untuk memberitakan ..." (Lukas 4:16-17).



Proklamasi Kristus selalu berkait

erat dengan aksi sosial. Manifestasi kristus melalui proklamasi harus menjadi dasar misi, sebelum kita menerapkan manifestasi

melalui kesaksian dan manifestasi Kristus melalui pelayanan. Ketiganya saling terkait dengan erat dan tidak dapat dipisahkan

dengan begitu saja. Jika gereja ingin sungguh-sungguh menjadi saksi di tengah dunia, gereja harus memperhatikan ketiga hal ini

dengan baik, dan melaksanakannya dengan seimbang. Pandangan tentang misi yang berat sebelah akan menghasilkan manifestasi

Kristus yang tidak benar.





Misi dan Konflik



Berpartisipasi dalam misi berarti berpartisipasi dalam

konflik. Mengapa? Karena misi adalah manifestasi Kristus kepada dunia dan karena manifestasi Kristus membinasakan pekerjaan

iblis. Iblis pasti tidak tinggal diam. Itu sudah pasti! Kristus tahu bahwa perintah yang diberikan kepada para murid-Nya adalah

perintah peperangan. Dia tahu akan hal itu. Karena itu Kristus juga memberikan perlengkapan rohani yang sebenarnya adalah

perlengkapan peperangan (Efesus 6:11-18).



Konflik yang terbesar tetapi terhalus datang dari pihak iblis. Mereka

mampu menjadi "malaikat terang" dan mereka juga memiliki berbagai macam tipu-muslihat. Sayangnya banyak orang Kristen masa kini

yang tidak mau lagi peka terhadap serangan iblis. Yang mereka inginkan adalah gereja harus peka terhadap kebutuhan mereka,

gereja harus mau mendengar suara mereka. Mereka tidak mau lagi tunduk pada peringatan Firman Allah agar berhati-hati dan

waspada dan memperhatikan tanda-tanda zaman, tetapi mereka lebih suka waspada memperhatikan kebutuhan mereka sendiri. Tujuan

orang Kristen pada masa kini adalah DIRI SENDIRI. Lalu di mana tempat Tuhan? Gereja masa kini mempunyai konsep misi yang

sedikit demi sedikit mulai menyeleweng. Kecenderungan gereja adalah menekankan salah satu misi, dan melupakan yang lain.

Ironisnya, suara-suara kenabian yang didengungkan tidak lagi didengarkan. Akibatnya apa disampaikan kepada dunia bukanlah

manifestasi Kristus sejati, tetapi Kristus palsu.



Pemalsuan ini tidak akan mampu menyelamatkan dunia. Kristus palsu

yang kuasa tidak akan membinasakan pekerjaan iblis, melainkan justru memperkuatnya. Iblis dengan berbagai macam cara berusaha

memecah-belah ketiga unsur misi. Kalau gereja tidak waspada, maka misi masa kini akan kehilangan keseimbangan. Misi akan

kehilangan arah dan stablitasnya.





Bagaimana bentuk-bentuk konflik yang dapat terjadi dalam misi?



1.

Terlalu mementingkan soal Kesaksian dan Pelayanan;

2. Kompromi Teologi;

3. Terlalu menekankan aksi sosial;

4.

Penekanan perbaikan kehidupan tanpa penebusan.





Bentuk-bentuk di atas adalah serangan-serangan yang dilakukan

secara tidak langsung pada dasar misi. Bagaimana serangan langsung terhadap dasar-dasar misi? Juga ada beberapa hal, yaitu

:



1. Serangan Langsung terhadap Kewibawaan Firman Tuhan.



Dalam upaya merusak keseimbangan misi, iblis

akan merongrong dasar misi, yaitu Firman Tuhan. Iblis akan menanamkan keragu-raguan dalam hati manusia begitu rupa sehingga

manusia tidak lagi mau tunduk kepada ajaran kebenaran Alkitab, Firman Allah. Iblis berusaha menanamkan dalam pikiran bahwa

Alkitab hanya sekedar buku manusiawi dengan segala kelemahannya. Pada akhirnya, seprti peristiwa penggodaan di Taman Eden,

iblis membawa manusia pada suatu keadaan di mana manusia meninggalkan Pribadi Allah sebagai pusat, dan kemudian menggantikannya

dengan dirinya sendiri.



2. Serangan terhadap Pelayanan Firman Tuhan di Dalam Gereja.



Ini adalah bentuk

serangan yang paling populer dan tampaknya menjadi suatu kecenderungan yang terjadi di gereja-gereja Tuhan masa kini. Bentuk

serangan ini, antara lain:



a. Memberikan kesibukan dalam tugas kependetaan.

Iblis memberikan kesibukan tugas

rutin pelayanan kepada pendeta, sehingga mereka begitu sibuk untuk menunaikan tugas pelayanan sebagai "JURU KUNCI RAHASIA

ALLLAH";



b. Pembagian tugas dalam pelayanan.

Hal ini sebenarnya sudah menjadi perhatian para rasul. Itu

sebabnya mereka mengambil keputusan untuk mengangkat para diaken. Mereka bukannya ingin lepas dari tanggung jawab, melainkan

mereka menyadari bahwa dalam mengerjakan tugas pelayanan dibutuhkan kebersamaan. Masing-masing jemaat (baca:anggota Tubuh

Kristus) harus tahu apa yang menjadi tugas utama mereka;



c. Mengabaikan pentingnya pekabaran Injil (PI).

Iblis

berusaha menentang proklamasi Injil di dunia modern. Mereka "menghaluskan" tugas mengabarkan Injil dengan perkataan bahwa,

"gereja memang harus hadir di tengah-tengah masyarakat sebagai saksi, tetapi tidak perlu terang-terangan. Itu cukup dilakukan

dengan cara gereja menyatakan bahwa gereja hadir di tengah-tengah masyarakat." Cara lain yang dipakai adalah dengan

mengutamakan toleransi di atas segala sesuatu. Cara lainnya lagi adalah dengan menampilkan seuatu bentuk ajaran (atau dapat

juga praktek kehidupan) Kristiani tanpa Kristus. Cara yang terakhir ini sesungguhnya adalah upaya gereja untuk menawarkan garam

dan menutupi terangnya sendiri. Tapi sayangnya orang-orang yang demikian akan begitu disanjung dan dihormati di gereja karena

merekalah yang dianggap sebagai orang yang "bijaksana" dan "juru damai". Tetapi kita tidak boleh ditipu dengan cara-cara iblis

sedemikian. Kita tidak boleh mengganti Mesias yang tersalib dan menderita karena kasih dengan mesias-mesias palsu yang

mengobral kasih murahan. Kita harus lebih takut Allah yang sudah memberikan kasih sejati justru di atas bukit Golgota melalui

karya Kristus di salib.



d. Berita Injil tanpa salib.

Bentuk serangan iblis di zaman modern ini adalah

pemberitaan Injil tanpa salib. Yang ada hanyalah sukacita, kemakmuran, kepuasan, kesenangan diri, pemenuhan hawa nafsu, dan

berbagai ajaran yang menghujat Allah Tritunggal. Kita harus ingat bahwa salib adalah kemenangan Allah. Karena itu sangat

mustahil jika ada orang Kristen yang mengaku dapat hidup berkemenangan tanpa Salib, karena "... di luar Aku kamu tidak dapat

berbuat apa-apa" (Yohanes 15:5). Yang kita beritakan adalah Kristus yang disalibkan, dan "pemberitaan tentang salib memang

adalah kebodohoan bagi mereka yang akan binasa, tetapi bagi kita yang diselamatkan pemberitaan itu adalah kekuataan Allah" (1

Korintus 1:18).



Bacalah 1 Korintus 1:18-31.





TINDAKAN KITA



Alkitab dengan tegas dan jelas

mengatakan, "Pada hari ini, jika kamu mendengar suara-Nya, janganlah keraskan hatimu seperti dalam kegeraman," siapakah yang

membangkitkan amarah Allah, sekalipun mereka mendengar suara-Nya? Bukankah mereka semua yang keluar dari Mesir di bawah

pimpinan Musa? Dan siapakah yang Ia murkai empat puluh tahun lamanya? Bukankah mereka yang berbuat dosa dan mayatnya

bergelimpangan di padang gurun? Dan siapakah yang telah Ia sumpahi, bahwa mereka tidak akan masuk ke tempat perhentian-Nya?

Bukankah mereka yang tidak taat? Demikianlah kita, bahwa mereka yang tidak dapat masuk oleh karena ketidakpercayaan mereka"

(Ibrani 3:15-19).



Apa jawaban kita?







You are writing a Gospel, a chapter each day

By

deeds that you do, by words that you say

What is the Gospel according to you ?



"My one purpose in life is to

help people find a personal relationship with God, which, I believe, comes through knowing Christ." -- Billy

Graham.



Sumber : http://www.geocitie s.com/Tokyo/ 3361/art85. html





Profil Pdt. Ignatius Bagoes Seta

:

Pdt. Ignatius Bagoes Seta, B.Th., Dip.Div.&Miss. , Dip.Th.S., Cert. of Perspective adalah bekas wakil ketua Sekolah

Theologia Reformed Injili Surabaya (STRIS) Ngagel. Beliau meraih gelar Bachelor of Theology (B.Th.) dari Australian College of

Theology pada tahun 2001, Diploma of Divinity and Mission Studies (Dip.Div.&Miss. ) dari Sydney Missionary & Bible College pada

tahun 2000, Diploma in Theological Studies (Dip.Th.S.) dari Presbyterian Theological Centre Sydney pada tahun 2002, dan

Certificate in Perspectives Course on World Mission Movement dari Sydney Missionary & Bible College pada tahun 2001. Sempat

kuliah di Universitas Airlangga (Unair) Surabaya Fakultas MIPA Jurusan Matematika dari tahun 1990-1996. Ketika mahasiswa, aktif

di pelayanan LPMI (1990-1992), Perkantas (1995-1996) dan LRII/STRIS Surabaya (1992-1996); selain melayani di gereja induknya di

GKI Emaus Surabaya. Ketika di Australia, beliau melayani di Indonesian Presbyterian Church Randwick (1998-2001) dan

Indonesian Presbyterian Church Hurstville (2001-2002). Beliau ditahbiskan di Australia pada tahun 2002.

dilihat : 513 kali


   
Copyright 2005 Pustakalewi.net
All rights reserved. Protected by the copyright laws of the Indonesia
hosted and developed by Agiz YL Solution