Jum'at, 05 Juni 2020 20:35:20 | Home | Index Berita | About Us | Statistik | Buku Tamu | Redaksi | Webmail | Login |  

Catatan Ringan

Perkembangan Peer to Peer Lending di Indonesia
Perkembangan Peer2Peer Lending (P2P Lending), pinjam meminjam berbasis aplikasi makin subur di Indonesia. Tapi kehadirannya tentu akan menimbulkan konsekuensi positif dan negatif.


Pengunjung hari ini : 397
Total pengunjung : 144247
Hits hari ini : 4464
Total hits : 1490942
Pengunjung Online : 6
Situs Berita Kristen PLewi.Net -Romo Magnis pahlawan korban lumpur






SocialTwist Tell-a-Friend | |
Senin, 29 Oktober 2007 00:00:00
Romo Magnis pahlawan korban lumpur
Minggu, 28 Oktober

2007.



Bertepatan dengan peringatan Sumpah Pemuda, korban lumpur lapindo menggelar upacara bendera di halaman Pasar

Baru Porong. Di sini, kita tahu, sekitar 3.000 korban lumpur asal Desa Renokenongo bertahan karena menolak skema ganti rugi

20:80 dari Lapindo Brantas Inc, yang direstui pemerintah. Mereka menuntut 50:50.



Menarik, karena korban lumpur masih

sempat memperingati Sumpah Pemuda. Sementara begitu banyak remaja di Jakarta, orang kota, yang diwawancarai televisi, mengaku

tidak tahu apa gerangan Sumpah Pemuda itu. "Sumpah Pemuda itu apa sih? Kagak tahu deh," kata seorang gadis manis di SCTV,

Minggu [28/10] petang.



Usai apel bendera, di Porong, warga memberikan penghargaan kepada tujuh tokoh yang dianggap

sebagai pahlawan korban lumpur. Tujuh pahlawan versi teman-teman kita, korban lumpur lapindo, adalah:



1. KH

Salahuddin Wahid [pengasuh Pesantren Tebuireng, Jombang, bekas ketua Komisi Nasional Hak Asasi Manusia],



2. Prof Dr

Sjafi'i Ma'arif [cendekiawan muslim, bekas ketua PP Muhammadiyah],



3. Prof Dr Franz Magnis-Suseno SJ [pastor

Katolik, intelektual STF Drijarkara],



4. Rieke Dyah Pitaloka [artis, sastrawan],



5. KH Muslim Imam Puro

[ulama Nahdlatul Ulama},



6. RP Muhammad Noer [mantan gubernur Jawa Timur],



7. Prof Dr Subroto [bekas

menteri pertambangan dan energi].



"Mereka kami nilai sebagai tokoh yang konsisten membela korban lumpur sesuai

dengan kapasitas masing-masing. Mereka juga berusaha agar persoalan lumpur dengan segala dampaknya dituntaskan," ujar Sunarto,

koordinator warga Renokenongo di Pasar Porong Baru.



Kenapa hanya tujuh orang? Kenapa tidak ada nama-nama lain macam

Emha Ainun Nadjib, budayawan yang berada di garis depan dalam advokasi korban lumpur? Saya kira, panitia punya daftar nama-nama

lain lagi. Tapi mungkin untuk tahap pertama tujuh orang ini dulu. Sistem arisan macam penghargaan seni ala gubernur Jawa Timur

lah!



Dari tujuh nama ini, saya hanya menyoroti Franz Magnis-Suseno SJ. Yesuit asal Jerman, yang sudah menjadi warga

negara Indonesia sejak 1977, ini beberapa waktu lalu membuat keputusan mengejutkan. Romo Magnis dengan tegas menolak Achmad

Bakrie Award di bidang pemikiran sosial. Penghargaan ini boleh dikata sangat bergengsi dan sangat selektif. Masing-masing

penerima, kalau tak salah, menerima uang tunai Rp 100 juta.



Cendekiawan atau dosen mana yang tidak tergiur uang

sebanyak itu? Belum prestise sebagai intelektual terpandang. Tapi Romo Magnis punya prinsip sendiri. Menurut penulis buku-buku

filsafat dan kebudayaan ini, Lapindo Brantas Inc--bagian dari Bakrie Group--belum tuntas menyelesaikan persoalan lumpur di

Sidoarjo.



"Itu sikap moral saya," tegas penulis buku 'Kuasa dan Moral' itu.



Ah, ternyata Romo Magnis,

salah satu idola saya, tidak hanya pandai berteori di buku-buku, tapi juga memberikan teladan nyata. Upaya pendekatan dari

panitia Achmad Bakrie Award tak membuat Romo Magnis luluh. Ia tidak datang ke acara penerimaan penghargaan yang disampaikan

oleh Aburizal Bakrie.



"Kami menghargai sikap Romo Magnis," kata Aburizal saat itu.



Saya kira, tidak

banyak intelektual di Indonesia yang berani memperlihatkan sikap moral macam ini. Tidak banyak intelektual kita yang memilih

bertahan sebagai idealis, pencerah masyarakat. Lihat saja, beberapa intelektual di Komisi Pemilihan Umum yang harus

mempertanggungjawabkan perbuatannya di penjara.



"Romo Magnis itu kan romo, pastor, nggak punya istri anak. Beda lah

dengan orang awam yang butuh uang untuk membiayai macam-macam kebutuhan," ujar teman saya.



Terlepas dari latar

belakang itu, bagi saya, keteguhan pastor yang berkarya di Indonesia sejak 1961 patut dihargai tinggi. Romo, pendeta, kiai,

ustaz, biksu, tentara, pengusaha--apa pun profesinya, saya kira perlu bersikap tegas membela rakyat banyak yang tertindas.

Bahasa katoliknya: preferential option for the poor! Dari sini, saya berpendapat, tidak salah kalau teman-teman di Porong

memilih Romo Magnis sebagai 'pahlawan korban lumpur'.



Romo Magnis sendiri mengaku tak pernah menyangka mendapat

penghargaan dari korban lumpur. Tak ada uangnya macam Achmad Bakrie Award, acaranya pun di lokasi pengungsian. Semua serba

prihatin. Tapi Romo Magnis terlihat gembira bisa hadir di tengah-tengah pengungsi lumpur. Ia pun memerhatikan piagam

penghargaan itu dengan saksama. Kemudian berdiskusi dengan Salahuddin Wahid [adik Gus Dur], kiai yang sudah ia

kenal.



Kepada wartawan, Romo Magnis mengatakan bahwa bencana semburan lumpur di Porong sejak 29 Mei 2006 [yang

menyebabkan korban sekitar 20.000 warga dari delapan desa] bukanlah bencana alam, tapi akibat ulah manusia, akibat kebodohan

pihak tertentu. Persoalan menjadi ruwet ketika kepentingan politik ikut bermain.



"Saya prihatin karena sampai

sekarang ribuan korban masih sengsara, ganti rugi belum beres," tegas Romo Magnis.



Rohaniwan sederhana ini juga

menyoroti kerusakan budaya karena warga yang telah bersosialisasi di desa-desanya secara turun-temurun harus pindah. Tercecer

ke mana-mana. "Kalau orang pindah atas kemauan sendiri, tidak apa-apa. Tapi kalau dipindah secara terpaksa, maka kebudayaan di

Sidoarjo akan rusak," tegas Romo Magnis.



Yah, kerusakan multidimensi: kerusakan ekologis, kerusakan infrastruktur,

kerusakan fisik, kerusukan psikis, kerusakan budaya, dan sebagainya. Siapa bisa memperbaikinya? Tanyakan pada rumput yang

bergoyang, meminjam ungkapan Ebiet G Ade. Tapi, jangan lupa, sekarang ini tidak ada lagi rumput di

Renokenongo!



Sumber : http://hurek.blogspot.com/2007/10/romo-magnis-pahlawan-korban-lumpur.html

dilihat : 471 kali


   
Copyright 2005 Pustakalewi.net
All rights reserved. Protected by the copyright laws of the Indonesia
hosted and developed by Agiz YL Solution