Kamis, 27 Februari 2020 22:24:59 | Home | Index Berita | About Us | Statistik | Buku Tamu | Redaksi | Webmail | Login |  

Catatan Ringan

Perkembangan Peer to Peer Lending di Indonesia
Perkembangan Peer2Peer Lending (P2P Lending), pinjam meminjam berbasis aplikasi makin subur di Indonesia. Tapi kehadirannya tentu akan menimbulkan konsekuensi positif dan negatif.


Pengunjung hari ini : 780
Total pengunjung : 46725
Hits hari ini : 5688
Total hits : 770511
Pengunjung Online : 12
Situs Berita Kristen PLewi.Net -Buku Keempat Romo Eko






SocialTwist Tell-a-Friend | |
Sabtu, 01 September 2007 00:00:00
Buku Keempat Romo Eko
Di tengah kesibukannya sebagai Pastor Paroki Santo Aloysius Gonzaga

[Algonz], Surabaya, dan seabrek aktivitas lain, Romo Yosef Eko Budi Susilo, Pr. tak pernah bosan menuangkan ide-idenya dalam

tulisan. Maklum, sejak kecil romo kelahiran Karanganyar, Solo, 4 Juni 1961, ini suka menulis dan berorganisasi.



Romo

Eko-lah yang mendirikan JUBILEUM, tabloid rohani Katolik di Keuskupan Surabaya. Sebelumnya, dia mendirikan tabloid SUKA [Suara

Umat Katolik] yang sudah 'habis masa baktinya'. Romo Eko juga kerap diminta mengisi mimbar Katolik di beberapa media cetak

umum dan rohani.



Setiap bulan Romo Eko punya kolom khusus di JUBILEUM, halaman 3, yakni Obrolan Jawa Timur. Di situ

Cak Klowor [personifikasi Romo Eko] dan kawan-kawan ngobrol ngalor-ngidul membahas topik yang sedang aktual baik di gereja

maupun masyarakat. Teologi, tradisi, sosial, budaya, politik... hingga bencana alam seperti tsunami dan lumpur

lapindo.



Nah, kumpulan kolom yang ditulis dalam bahasa jawa timuran ini ternyata punya banyak penggemar. Romo Eko

pun kerap disapa sebagai Cak Klowor. Penerbit Dioma, Malang, kemudian berminat menebitkan koleksi kolom Romo Eko alias Cak

Klowor menjadi buku 'Dari Jubileum Arwah sampai Lapindo Beauty Spa'.



Menurut Romo Eko, awalnya obrolan ala warung

kopi di Jawa Timur ini ditulis dalam bahasa Jawa. Namun, dalam perjalanannya banyak pembaca [umat Katolik di Surabaya dan

sekitarnya] protes karena tidak paham istilah-istilah Jawa. "Akhirnya, saya tulis dengan bahasa gado-gado supaya bisa

dimengerti," ujar ketua panitia tahbisan Uskup Surabaya Mgr. Vincentius Sutikno Wisaksono ini.



Isi buku yang dipetik

dari kolom tetap Romo Eko di JUBILEUM periode 2000-2006 ini pun gado-gado. Mulai soal liturgi dan kegerejaan, pedagang kaki

lima, korupsi, terorisme, pilpres, caleg, takhta lowong, kematian Paus Yohanes Paulus II, kenaikan harga BBM, lumpur lapindo,

hingga budaya pop dan gaya hidup. Isinya sederhana saja, kental guyonan khas orang Surabaya.



Gara-gara tulisannya

yang blak-blakan, meski semua pakai nama fiktif, Romo Eko pernah diluruk panitia pembangunan gereja. Saat diprotes, Cak Klowor

alias Romo Eko tenang-tenang saja. "Kalau sampeyan kebakaran jenggot, ya, silakan menggunakan hak jawab, bukan datang

berduyun-duyun seperti ini," kata mantan anggota Panitia Pengawas Pemilu Kota Surabaya itu.



Dalam bedah buku di Aula

Paroki Algonz, Jalan Satelit Indah I Surabaya ini, Romo Eko sengaja mengajak Ki Surono Gondo Taruno, dalang muda asal Surabaya,

yang juga temannya di Perkumpulan Mekar Budaya. "Ki Surono itu selain mendalang, juga menulis. Dia sangat paham kebudayaan dan

masalah-masalah sosial," ujar Romo Eko.



Selain buku ini, Romo Eko sudah menerbitkan tiga buku: Trampil

Berorganisasi [1999], Hubungan Negara dan Gereja [2002], dan Menuju Keselarasan Lingkungan [2003].



"Saya akan tetap

menulis untuk mengungkapkan uneg-uneg baik yang berisi kritik membangun atau hanya sekadar guyon parikeno dengan obrolan,"

tegas alumnus Sekolah Tinggi Filsafat dan Teologi [STFT] Widya Sasana, Malang, tahun 1990 ini.



Sumber :

http://hurek.blogspot.com/2007/08/buku-keempat-romo-eko.html

dilihat : 455 kali


   
Copyright 2005 Pustakalewi.net
All rights reserved. Protected by the copyright laws of the Indonesia
hosted and developed by Agiz YL Solution