Selasa, 07 April 2020 21:54:27 | Home | Index Berita | About Us | Statistik | Buku Tamu | Redaksi | Webmail | Login |  

Catatan Ringan

Perkembangan Peer to Peer Lending di Indonesia
Perkembangan Peer2Peer Lending (P2P Lending), pinjam meminjam berbasis aplikasi makin subur di Indonesia. Tapi kehadirannya tentu akan menimbulkan konsekuensi positif dan negatif.


Pengunjung hari ini : 1059
Total pengunjung : 86262
Hits hari ini : 6026
Total hits : 1024118
Pengunjung Online : 14
Situs Berita Kristen PLewi.Net -Pelanggaran HAM atas nama Agama






SocialTwist Tell-a-Friend | |
Kamis, 07 Juni 2007 00:00:00
Pelanggaran HAM atas nama Agama
Pelanggaran HAM atas nama Agama



Kita memiliki banyak sejarah gelap agamawi, entah itu dari

kalangan gereja Protestan maupun gereja Katolik, entah dari aliran lainnya. Bahwa kadang justru dengan simbol agamawi, kita

melupakan kasih, yaitu kasih yang menjadi 'atribut' Tuhan kita Yesus Kristus. Hal-hal ini dicatat dalam buku sejarah dan

beberapa kali kisah-kisah tentang kekejaman gereja difilmkan. Salah satu contohnya dalam film The Scarlet Letter, film tentang

hyprocricy Gereja Potestan yang 'menghakimi' seorang pezinah dan kelompok-kelompok yang dianggap bidat, adalagi film The

Magdalene Sisters, juga film A Song for A Raggy Boy, The Headman, The Name of The Rose, dan masih banyak lainnya. Kini, telah

hadir film yang lumayan baru, yang diproduksi oleh Saul Zaentz dan disutradarai oleh Milos Forman, dua nama ini cukup memberi

jaminan bahwa film yang dibuat mereka selalu bagus yaitu film GOYA's GOST.



Mungkin saja film GOYA's GOST ini akan

membuat 'marah' sebagian kelompok, namun apa yang dikemukakan oleh Zaentz dan Forman, sebagaimana kekejaman ‘’Inkuisisi’’

telah tercatat dalam sejarah hitam Gereja. Kisah-kisah kekejamannya juga terekam dalam lukisan-lukisan karya Seniman Spanyol

Francisco Goya (1746-1828 ), yang menjadi tokoh sentral dari film GOYA's GOST ini.



Kita telah mengenal banyak

sekelompok manusia dengan atribut agama, berlindung dalam lembaga agama, mereka justru melakukan kejahatan kemanusiaan (crimes

against humanity) entah itu Kristen, Islam atau agama apapun. Atas nama 'agama yang suci' mereka melakukan 'pelecehan yang

tidak suci' kepada sesamanya manusia. Akhir abad 20 atau awal abad 21, akhir-akhir ini kita disuguhi sajian-sajian berita akan

kebobrokan manusia yang beragama melanggar hak asasi manusia, misalnya kelompok Al-Qaeda dan sejenisnya menteror dengan bom,

dan olehnya mungkin sebagian dari kita telah prejudice menempatkan orang-orang Muslim di sekitar kita sama jahatnya dengan

kelompok 'Al-Qaeda'. Di sisi lain Amerika Serikat (AS) sebagai 'polisi dunia' sering memakai 'isu terorisme yang dilakukan

Al-Qaeda' untuk melancarkan macam-macam agendanya. Invasi AS ke Iraq, penyerangan ke Afganistan dan negara-negara lain yang

disinyalir 'ada terorisnya'. Namun kehadiran pasukan AS dan sekutunya di Iraq tidak berdampak baik, mungkin pada awalnya

terlihat AS dengan sejatanya yang super-canggih menguasai Iraq dalam sekejap, namun pasukan mereka babak-belur dalam

'perang-kota' , ini mengingatkan kembali sejarah buruk, dimana mereka juga kalah dalam perang gerilya di Vietnam. Kegagalan

pasukan AS mendapat kecaman dari dalam negeri, bahkan sekutunya, Inggris misalnya. Tekanan-tekanan ini membuat PM Inggris Tony

Blair memilih mengakhiri karirnya sebelum waktunya baru-baru ini. Karena ia berada dalam posisi yang sulit : menuruti tuntutan

dalam negeri ataukah menuruti tuan Bush.



Memang kita akui banyak kebrutalan yang dilakukan oleh para teroris

kalangan Islam Fundamentalis, contoh Bom Bali dan sejenisnya di seluruh dunia. Tapi tidak menutup kemungkinan Presiden Amerika

Serikat, George Bush adalah juga seorang 'Fundamenalis' dalam 'Agama' yang dianutnya, karena gaya Bush yang sering 'secara

implisit' terbaca dimana ia menempakan dirinya sebagai penganut Kristiani yang memerangi terorisme dari para teroris Muslim

Fundamentalis. Tentu saja apa-apa yang mengandung "fundamentalis" entah itu Islam/ Kristen/ agama yang lain, bermakna tidak

baik.



Sebelumnya, ditengah-tengah 'isu anti terorisme (Islam)', sutradara Inggris, Ridley Scott memproduksi film

The Kingdom of Heaven, barangkali bisa juga digunakan untuk menyindir Presiden Bush yang sering menggunakan kata ‘’crusades’’

dalam pidatonya. Film The Kingdom of Heaven adalah sebuah 'otokritik' bagi Kekristenan, dan sajian 'ironisme' dari ajaran

Kristus yang penuh kasih. Bahwa perang Salib yang telah terjadi selama 4 abad itu bukanlah suatu kesaksian yang baik, tetapi

lebih merupakan sejarah hitam.



Dibawah ini review dari sebuah film, tentang kejahatan dibawah payung Agama, bukan

berniat melecehkan suatu Agama/ Aliran tertentu, melainkan sebagai perenungan apakah perlakuan seseorang melawan/menindas orang

lain yang tidak 'seagama' itu tujuannya membela Allah? membela tradisi? membela doktrin, ataukah membela diri sendiri?





Movie Review :

GOYA's GHOST



Cast :

Javier Bardem ... Brother Lorenzo

Natalie Portman

... Inés/Alicia

Stellan Skarsgård ... Francisco Goya

Randy Quaid ... King Carlos IV

Blanca Portillo ... Queen

María Luisa

Michael Lonsdale ... Father Gregorio

José Luis Gómez ... Tomás Bilbatúa



Director ... Milos

Forman

Music ... Varhan Bauer



Sebelum membahas kisah di film ini, baiklah kita ketahui dahulu apa itu

‘’Inkuisisi’’ :

Inkuisisi adalah pengadilan Gereja abad pertengahan yang ditunjuk untuk mengusut bidat, yang disebut

demikian karena menentang doktrin dan tradisi Gereja Roma. Nama yang tidak terkenal ini digunakan dalam arti lembaga itu

sendiri, yang adalah episkopal (diperintah oleh uskup atau uskup-uskup) atau Paus, secara regional atau lokal; anggota

pengadilan; dan cara kerja pengadilan. Film GOYA's GOST ini berceritera dengan latar belakang Inkuisisi di Spanyol, dimana

Inkuisisi ini adalah Inkuisisi terburuk dan yang paling kejam.Telah mengukum mati 339-ribu orang, belum termasuk orang-orang

yang mati dalam tahanan/penjara bawah tanah karena disiksa, sakit, dll. Tepatnya berapa banyak lagi orang yang mati dalam

inkuisisi mungkin hanya diketahui di Surga pada Hari Penghakiman nanti.



Tujuannya Inkuisisi ini sebenarnya jelas,

yaitu untuk membela iman, tetapi dalam perlakuannya justru merupakan benih-benih racun yang menghancurkan kekristenan itu

sendiri. Tindakan tidak manusiawi ini membuktikan tidak ada perbedaan dasariah antara orang Kristen dan non-Kristen, tidak ada

moral yang patut dibanggakan dari praktek-praktek Inkuisisi ini. Pengajaran Kristus tidak menjadi dasar, tetapi judgement dari

tiap individu yang berkuasa dalam Inkuisisi itu yang pada akhirnya menjadi otoritas tertinggi. Alkitab kita telah lebih dulu

memberi peringatan dan kecaman akan suatu gereja/jemaat yang begitu semangat membasmi bidat namun meninggalkan kasih semula

(lihat, Wahyu 2:1-7).



Film ini diawali sebuah adegan rapat para rohaniawan di ‘’Holy Office of The Inquisition’’ di

Madrid, Spanyol, pada tahun 1792. Mereka membahas sebuah cetakan lukisan 'hantu dalam gereja' yang dilukis oleh Francisco

Goya (Stellan Skarsgård). Namun Goya bukan orang sembarangan, karena ia adalah pelukis keluarga Kerajaan Spanyol "King Carlos

IV", membuatnya dalam posisi terhormat yang membuat Gereja segan dan mengadakan 'perkecualian' , disamping itu Goya

bersahabat dengan anggota inkuisisi tersebut, yaitu Brother Lorenzo (Javier Bardem), seorang rohaniawan cerdas yang haus akan

kekuasaan.





Brother Lorenzo, diberi tugas untuk memberikan khotbah-khotbah anti bidat/heresy. Ia menyatakan

kepada semua umat Gereja agar setiap orang mau setia kepada Gereja, dan melaporkan siapa saja yang disinyalir mempraktekkan

ajaran selain ajaran Gereja Katolik Roma. Mereka yang dimaksud adalah pengikut Yudaisme, kaum Protestan dan 'agama-agama'

lain yang tidak sepaham dengan ajaran Gereja Roma. Ia menunjuk kepada ciri-ciri orang-orang non-Kristen, misalnya apabila ada

orang yang kencing sambil menutup kemaluannya, maka ia adalah seorang pengikut Yudaisme karena ia disunat. Maka, ia harus

dilaporkan kepada ‘’Holy Office of The Inquisition’’ untuk diinterogasi. Orang-orang yang disuruh melapor ini tentu saja tidak

diberi-tahu apa akibatnya, mereka juga tidak pernah membayangkan akibat laporan itu adalah sebuah 'vonis penganiayaan atau

hukuman mati'.



Ada seorang gadis cantik berumur kira-kira 15 atau 16 tahun yang bernama Inés (Natalie Portman), ia

anak seorang pedagang kaya keturunan Yahudi, Tomás Bilbatúa. Gadis ini menjadi model lukisan Goya. Goya pun mungkin telah

jatuh-cinta pada 'model'-nya ini. Suatu hari, Inés bersama kedua saudaranya laki-laki pergi ke sebuah rumah makan. Di rumah

makan tersebut terdapat hiburan tari-tarian, dan suguhan 'babi panggang', disana ada mata-mata dari Gereja yang ikut makan

dalam ruangan itu, mereka memperhatikan Inés yang menolak hidangan babi panggang itu. Inés tidak pernah menyadari bahwa hal ini

'diterjemahkan' oleh mata-mata itu bahwa ia adalah pengikut bidat yang harus dibasmi.



Besok harinya, Ayah Inés

mendapat surat dari ‘’Holy Office of The Inquisition’’ , isinya adalah pemanggilan agar Inés mau datang untuk tanya-jawab

dengan pejabat Gereja. Ayah Inés tidak menyangka bahwa kehadiran surat pemanggilan itu bermakna ‘’hukuman’’ bagi Inés, ia

berpikir bahwa mungkin saja Inés diperlukan sebagai saksi saja dalam suatu peristiwa. Maka dengan rela ia mengantar anak

gadisnya itu memasuki bangunan ‘’Holy Office of The Inquisition’’ . Ia menunggui anak gadisnya tidak pernah keluar dari gedung

itu, bahkan sampai berhari-hari sehingga ia menjadi sangat kawatir.



Inés, gadis belia dan naif itu kini berada

didepan ‘’jaksa-jaksa gerejawi’’. Mereka menanya-nanyai Inés perihal kehidupan agamanya, Inés mengaku bahwa ia seorang pengikut

Gereja Roma yang setia. Namun jawaban Inés rupanya tidak berdampak apa-apa, meskipun saat itu ia masih dalam tahap

'ditanya-tanyai' , namun vonis hukuman sudah ada ditangan jaksa penuntut itu. Bahwa penolakan Inés untuk makan sajian

'daging babi' di rumah makan itu sudah cukup melabeli Inés sebagai pengikut Yudaisme yang dilarang Gereja Roma. Dan oleh

karenanya Inés pasti dihukum.



Inés kemudian memasuki interogasi yang lebih lanjut, ia ditelanjangi dan disiksa

untuk dipaksa mengaku bahwa ia adalah pengikut bidat yang dimaksud oleh pihak Gereja. Dalam keadaan disakiti/ didera siapapun

bisa mengaku apa yang tidak dilakukannya dengan harapan akan dilepaskan dari penyiksaan. Namun dalam hal ini 'pengakuan'

menjadi legitimasi lembaga Inkuisisi itu untuk melakukan hukuman kepada kepada setiap orang yang mengakui dengan hukuman yang

lebih lanjut.



Inés tak pernah mengerti duduk masalahnya mengapa ia dihukum. Demikian juga orang-orang lain yang

dituduh oleh Inkuisisi tidak pernah diizinkan untuk mengetahui nama penuduh mereka. Pembelaan di depan Inkuisisi hampir tidak

ada gunanya karena tuduhan yang dikenakan pada mereka itulah sebagai dasar vonis, dan tidak ada opsi pembelaan sama sekali.





Ayah Inés kawatir sekali menunggu anak gadisnya yang tidak kunjung keluar dari ‘’Holy Office’’ itu. Kemudian ia

meminta tolong kepada Goya untuk menghubungkannya kepada Brother Lorenzo dengan harapan anak gadisnya bisa pulang dari

Inkuisisi. Brother Lorenzo tidak mengetahui kalau si gadis cantik itu kini ditahan dalam penjara bawah tanah dari Inkuisisi.

Maka ia mengunjungi Inés. Sama seperti tahanan-tahanan lain, Inés ditawan dengan keadaan telanjang. Brother Lorenzo, berbicara

kepada Inés, dan memberikan kata-kata penghiburan. Kehadiran Brother Lorenzo dirasakan lain oleh Inés, sebab selama ini ia

hanya berhadapan dengan orang-orang yang 'menakutkan' dan menyiksanya. Inés menaruh harapan Brother Lorenzo dapat

mengeluarkannya dari penjara itu. Namun Brother Lorenzo sebenarnya tidak bisa memberikan harapan itu sebab setiap keputusan

Inkuisisi adalah final dan tidak bisa diganggu-gugat. Disisi lain Brother Lorenzo, rahib yang bersumpah 'tidak kawin' ini

tergoda dengan keelokan tubuhnya, ia menyalurkan hasratnya di penjara bawah tanah itu tidak hanya sekali.



Brother

Lorenzo menerima undangan makan malam dari ayah Inés, ia meminta agar pihak Gereja mau melepaskan Inés, ia menawarkan sejumlah

besar uang dengan harapan Inés bisa bebas. Brother Lorenzo mengatakan bahwa hal itu sulit sebab Inés sudah mengakui

perbuatannya bahwa ia adalah pengikut bidat. Ayah Inés marah, karena ia yakin bahwa Inés hanyalah gadis biasa, bukan pengikut

bidat, ia berpendapat bahwa pengakuan Inés yang telah mengaku bahwa ia adalah pengikut bidat adalah karena ia dibawah

penyiksaan.



Orang yang disiksa akan mengakui apa saja walaupun ia tidak berbuat. Kemudian ayah Inés bersama kedua

anak lelakinya ‘’menyiksa’’ Brother Lorenzo untuk mau menandatangani pernyataan : ‘’I, Lorenzo Casamares, hereby confess that,

contrary to my human appereance, I am in fact the bastard son of a chimpanzee and an orangutan. And I have schemed to joint the

Church in order to do harm to the Holy Office’’. Dibawah ancaman dan siksaan itu Brother Lorenzo menandatanginya. Dan

pernyataannya itu dibuat sebagai bukti bahwa orang bisa mengaku apa saja dibawah tekanan. Pernyataan yang sudah ditanda-tangani

itu disimpan oleh ayah Inés sebagai jaminan agar Brother Lorenzo mau meperjuangkan pembebasan anak gadisnya dari Inkuisisi.





Dengan terpaksa Brother Lorenzo mengutarakan permintaan pembebasan Inés dengan tambahan satu peti penuh uang emas

di depan dewan Inkuisisi. Meski uangnya diterima dengan senang hati, namun permintaan pembebasan itu ditolak. Ketika usaha ini

gagal ayah Inés membawa surat pernyataan yang ditandatangani Brother Lorenzo di hadapan raja, untuk meminta keadilan bagi anak

gadisnya, bahwa Kerajaan sudah memberi wewenang terlalu besar kepada Gereja. Dari situ Gereja bisa menjerat siapa saja yang

dituduh bidat dibawah ancaman dan siksaan. Namun Kerajaan tidak mau berbuat banyak akan permintaan pencabutan wewenang terhadap

Gereja. Dengan demikian sudah final suatu kenyataan pahit bahwa Inés tidak akan pernah kembali pulang ke rumahnya. Ia akan

selamanya menjadi tawanan Inkuisisi. Di lain pihak, Gereja merasa malu atas skandal surat pernyataan itu, kemudian Gereja

secara resmi ‘’mengasingkan’’ Brother Lorenzo dan mengancam pembunuhan kepadanya. Brother Lorenzo berhasil lari keluar dari

Spanyol.



Kemudian adegan dilanjutkan 15tahun berselang setelah kejadian itu. Setelah Revolusi Perancis dan Napoleon

Bonaparte menjadi penguasa di Perancis. Pasukan Perancis juga menguasai Spanyol. Napoleon menempatkan saudaranya, Joseph

Bonaparte, menjadi penguasa di Spanyol. Pada saat ini ‘’Holy Office of The Inquisition’’ ditutup dan Brother Lorenzo yang dulu

menjadi buron dari "The Holy Office" kini menjadi pejabat di Rezim Napoleon. Pasukan Perancis membongkar penjara bawah tanah

Inkuisisi, dan para tawanan yang masih hidup termasuk Inés dibebaskan. Goya mendapati Inés tak lagi cantik seperti dulu,

keadaannya menyedihkan sekali, juga dalam keadaan hilang ingatan/ mengalami gangguan jiwa. Goya sangat terpukul melihat

kenyataan seorang gadis yang dikenalnya ‘’cantik dan innocent’’ itu menjadi sedemikian hancur akibat penganiayaan Gereja.

Terkuak juga suatu kisah pilu bahwa Inés melahirkan anak di penjara bawah tanah itu, suatu ironi ternyata para rahib yang

bersemangat menghalau segala jenis dosa-dosa bidat, mereka melakukan dosa yang lain, pelanggaran HAM dan dosa-dosa asusila.

Francisco Goya dikenal melalui lukisan-lukisannya yang merekam kejadian-kejadian tersebut semasa ia hidup.



Dalam

sejarah Gereja, tercatat skandal-skandal yang menyedihkan di mana usaha pembelaan iman dengan pengahaluan besar-besaran

terhadap bidat itu yang justru menjadi bumerang yang mencoreng muka sendiri dan melukai diri sendiri. GOYA's GOST adalah

sajian kisah yang ekstrim, masih ada hal-hal lain yang tidak tercatat, betapa banyak rohaniawan yang berlindung dibawah payung

‘’Agama’’ pada saat yang sama melakukan pelanggaran HAM atas nama Agama.



Ada banyak orang yang beragama menjadi

pimpinan agama/ Gereja dan menamakan dirinya Kristen namun 'mengkorupsi' ajaran Kristus. Itulah salah satu sebab Mahatma

Gandhi (1869-1948) guru bangsa India itu menolak disebut ‘’beragama (Kristen)’’. Meskipun ia dengan jujur mengatakan bahwa

‘’ahimsa dan satyagraha’’ yang dicanangkan dalam perjuangannya itu terinspirasi ajaran Yesus Kristus 'Khotbah di Bukit'.

Karena ia terlalu banyak melihat orang-orang 'beragama' Kristen yang justru miskin kasih, ia berkata ‘’agama’’ terlalu banyak

dikorupsi manusia.



Ada baiknya kita bertanya kepada diri sendiri. Apakah kehidupan beragama kita mampu menumbuhkan

moralitas?, sebab agama tanpa moralitas, hanyalah tong kosong yang nyaring bunyinya. Orang jahat ada yang beragama Kristen, ada

yg beragama Islam. Tentunya ada orang baik yg beragama Kristen, Islam, Hindu, Budha dst. Namun apa yang seharusnya menjadi

pembeda seorang Murid Kristus yang sebenarnya dengan orang-orang lain? Murid Kristus yang sesungguhnya penuh dengan kasih :





Aku memberikan perintah baru kepada kamu, yaitu supaya kamu saling mengasihi; ‘’sama seperti Aku telah mengasihi

kamu demikian pula kamu harus saling mengasihi. Dengan demikian semua orang akan tahu, bahwa kamu adalah murid-murid- Ku, yaitu

jikalau kamu saling mengasihi.’’ (Yohanes 13:34-35).



Marilah kita saling mengasihi, itu adalah perintah agung Tuhan

Kita Yesus Kristus. Kasih yang sesungguhnya tidak akan melanggar hak hidup, hak kemerdekaan sesama kita. Sudah cukuplah catatan

buruk yang dilakukan manusia atas nama agama



Amin.



Blessings in Christ,

Bagus Pramono

June

6, 2007

dilihat : 464 kali


   
Copyright © 2005 Pustakalewi.net
All rights reserved. Protected by the copyright laws of the Indonesia
hosted and developed by Agiz YL Solution