Jum'at, 21 Februari 2020 11:23:12 | Home | Index Berita | About Us | Statistik | Buku Tamu | Redaksi | Webmail | Login |  

Catatan Ringan

Perkembangan Peer to Peer Lending di Indonesia
Perkembangan Peer2Peer Lending (P2P Lending), pinjam meminjam berbasis aplikasi makin subur di Indonesia. Tapi kehadirannya tentu akan menimbulkan konsekuensi positif dan negatif.


Pengunjung hari ini : 518
Total pengunjung : 41749
Hits hari ini : 3290
Total hits : 732120
Pengunjung Online : 12
Situs Berita Kristen PLewi.Net -Kegelisahan Dua Dunia Sitor Situmorang






SocialTwist Tell-a-Friend | |
Sabtu, 20 Januari 2007 00:00:00
Kegelisahan Dua Dunia Sitor Situmorang
Kegelisahan Dua Dunia Sitor Situmorang



Keluar dari penjara, Sitor

menjalani upacara pemulihan roh. Si Anak Hilang telah kembali.



Angin danau mengalir menelusuri Desa Ha-rianboho.

Siang itu, dengan perasaan bergetar, Sitor Situmorang menatap kampung halamannya, sebuah lembah kecil di kaki G-unung Pusuk

Buhit, sebelah barat Danau Toba. Sudah sekitar 13 tahun penyair kawakan itu berpisah dengan desa kelahirannya di wilayah

Samosir, Sumatera Utara.



Kala itu penghujung 1976. Sitor yang baru bebas dari penjara Salemba, Jakarta, dipanggil

pulang. Ia wajib hadir pada upacara adat di kampungnya. Abang tertuanya, berusia 80, akan menggelar saurmatua, sebuah ritus

menyongsong tahapan kehidup-an uzur dalam masyarakat Batak. ”Seluruh keluarga Situmorang harus hadir, termasuk kau,” demikian

permintaan kerabatnya di kampung.



Sitor tak kuasa menolak panggilan. Apalagi, kata-nya, ia sangat rindu kampungnya.

Terakhir, ia pulang kampung sekitar 1963, beberapa bulan sebelum ayahnya meninggal. Ketika tiba di Harianboho, ia disambut

seluruh klan Situmorang. ”Bagi mereka, telah jadi apa pun di Jakarta, saya tetap anggota suku,” ujarnya.



Atas

rembukan para pinisepuh Situmorang, Sitor juga ”dipaksa” menjalani upacara rumatondi. Ini sejenis inisiasi, ritus pemulihan

tondi (roh)-nya ke dalam alam marga. Menurut para tetua adat, se-be-lum mengikuti upacara abangnya, ia harus disucikan dulu.

Itu lantaran Sitor telah dikotori oleh penjara Orde Baru. ”Sekali lagi, saya tak kuasa menolak,” Sitor

mengenang.



Rumatondi dimulai dengan menghaturkan se-sa-jen di rumah tetua adat. Sitor melapor kepada De-ba-ta-

(dewa) penghuni rumah itu, lalu mohon restu di be-kas kamar ayahnya yang dijadikan pemujaan bagi ke-lu-ar-ga. Setelah itu, ia

dan para pengiringnya berjalan- me-nuju sarkofagus, makam tempat me-nyimpan -tulang-belulang leluhurnya, yang berada di te-ngah

halaman.



Prosesi itu memasuki babak puncak. Pintu makam dibuka. Sitor ”bertemu dengan kakeknya”, Raja Lintong, yang

demi kepentingan upacara tengkoraknya dikeluarkan dari dalam makam. Seorang perempuan berpakaian adat menyerahkan sebuah piring

porselen berisi kepala tengkorak leluhur dan jeruk kepada Sitor sebagai sarana penyucian.



Saat itulah terjadi

insiden kecil. Seorang kerabat laki-laki Sitor—kebetulan dokter—melihat rahang bawah tengkorak leluhur itu tak pas dengan

rahang atasnya. Tanpa ba-bi-bu lagi, dokter itu tergerak meng-ulurkan tangan untuk membetulkannya. ”Ketika itulah si shaman

atau dukun pemimpin upacara marah,” kata Sitor mengisahkan. Dukun itu menghardik si dokter ”lancang”, karena menurut tra-di-si

tengkorak itu pantang tersentuh tangan laki-laki.



Untunglah, insiden kecil itu bisa diredam sehingga tak mengurangi

kekhidmatan ritus. Sitor, yang tak bersalah dengan kejadian drama itu, kemu-dian mendukung piring berisi tengkorak dan jeruk

se-tinggi bahu. ”Bagi saya, upacara itu begitu indah dan menggetarkan,” katanya menerawang.



Sitor menuturkan, saat

itu ia baru bebas setelah men-dekam delapan tahun dalam penjara. Seperti kita tahu, pria yang senantiasa meletup-letup itu

melewati hari-hari sunyi di hotel prodeo di Jakarta sejak 1967 hingga awal 1975, dengan nomor tahanan 5051. Setelah itu, ia

dikenai tahanan rumah dan kota ma-sing-masing sekitar setahun.



Lahir pada 2 Oktober 1924, Sitor adalah anak kelima

(menurut urutan laki-laki) dari Ompu Babiat. Raja Usu alias Sitor Situmorang melewati masa kecilnya di Harianboho. Desa

kelahirannya itu sangat terpencil, diliputi suasana adat lama dan kebudaya-an leluhur. Ayahnya seorang kepala adat berdasarkan

sistem marga, marga Situmorang.



Selama 18 generasi, leluhur Sitor menguasai sebuah wilayah kecil di Sumatera Utara.

Ini merupa-kan daerah bergunung-gunung dan berbatu karang. Kawasan suku yang diperintah sang ayah terdiri atas tiga lembah

melandai dari perbukitan setinggi 2.000 meter menuju sebuah danau nan memukau. Daerah itu membentang dari barat Danau Toba

hingga Aceh Selatan di utara dan Barus di barat.



Tugas kepala adat berarti harus bertindak seba-gai hakim dan

pencatat sejarah. Ia juga memelihara dan membenahi silsilah serta menyelesaikan persoal-an tanah. Ayahnya berlaku sebagai

mahkamah yang menyelesaikan macam-macam persoalan desa demi desa. Tak jarang sang ayah harus bermalam di satu desa sebelum

melanjutkan perjalanan dengan jalan kaki ke desa berikutnya. Saat itulah, Sitor kecil kerap ikut dengan

ayahnya.



Sitor mencatat, sepanjang 1924-1930 adalah masa yang kental dengan tradisi leluhur. Ia mengalami ber-ba-gai

ritus tradisi yang digelar leluhurnya. Menurut di-a, yang paling berkesan terjadi pada 1929. Saat itu mar-ganya

menyelenggarakan upacara besar: menye-ma-yamkan tulang-belulang leluhur yang terserak di se-jumlah kuburan telantar akibat

perang melawan Be-landa.



Upacara itu dilangsungkan di desa permukiman lama yang sudah ditinggalkan. Lokasinya di

tengah hutan di sebuah pegunungan. Utusan-utusan marga berkumpul, berdatangan dari segala penjuru. Sitor ikut rombongan

ayahnya. Ia mendaki gunung, menyeberangi padang dan hutan luas sebelum sampai di tujuan.



Boleh dibilang, masa

kecilnya dimanjakan dengan serangkaian pengalaman ritus tradisi Batak yang menyertai kehidupannya di Harianboho. ”Saya ini

kenyang dimanjakan oleh pengalaman,” katanya. ”Jadi, saya mengikuti segala tradisi itu bukan dipaksa

mempelajarinya.”



Namun, ketika ia menginjak enam tahun, tradisi leluhur seakan kian menjauh darinya. Sitor kecil

direnggut dari kampung halamannya dan dikirim ke sebuah sekolah asrama Belanda. Itu adalah sekolah Kristen, tapi ia tak diminta

menjadi orang Kristen. Sekolah itu hanya memintanya bicara Belanda di kelas maupun di luar.



Sejak itu, ia bagai

terputus dari masa lalunya. Ia telah ”dibersihkan” dari kepercayaan-kepercayaan leluhurnya. Sebagai wartawan, Sitor muda

berkesempatan mengembara ke berbagai tempat, baik di dalam maupun luar negeri. Ia akhirnya memilih menetap di luar negeri,

terutama kota Paris yang disebutnya se-bagai desa keduanya setelah Harianboho.



Sitor seperti anak hilang. Jiwanya

terlalu resah untuk menjejak tinggal di tempat asal. Karena ia terkenang-kenang juga dunia lain itu di Eropa, yang pernah

memberi rumah kepadanya. Hanya jasmaninya yang kembali ke tengah keluarga dan desanya, tapi jiwanya tetap tinggal di

Eropa.



Dalam Si Anak Hilang, Sitor menulis tenang si anak pulang dari rantau di Eropa. Ia disambut oleh ibu-nya

dengan hangat, oleh bapaknya dengan ketenangan menahan hati. Ia sendiri tak banyak bicara. Tapi ketika malam hari ia datang ke

pantai danau tempatnya dibesarkan dulu, seperti desir gelombang itu tahu: j-iwanya tak hendak di kampung halaman

lagi.



Pada akhir Juni 2001, Sitor sempat datang kembali- ke kampung halamannya. Saat itu, ia bersama istri-

ke-duanya, Barbara Brouwer, menghadiri Mangohal- Ho-li, upacara menggali tulang-belulang leluhur untuk- di-makamkan kembali di

pusara yang indah. Yang me-na-rik, Sitor melakukan ”improvisasi”, membacakan sa-jak di depan kerangka leluhurnya. Seusai

upacara, ia masih membacakan sajak di sekitar Harianboho, di bu-kit-bukit, di tepi danau, dan di padang

ilalang.



Jadi, benarkah Sitor telah terkikis dari tradisi leluhurnya? Menurut dia, saat ini ia sudah tak bisa lagi

secara lengkap menjalankan tradisi leluhur seperti di desanya dulu. Wilayah spiritualnya kini juga telah ”bergeser”. ”Secara

umum, sejak sepuluh tahun te-r-ak-hir, saya kembali ke mistik alam,” katanya.



Itu terpancar dari sajak-sajaknya yang

muncul pada periode 1980–2005. Dalam sepotong sajak Mendaki Merapi Menatap Borobudur (Dialog Senja), misal-nya, Sitor

menulis:



Di tebing lembah

Kupandang senja

Kawah Merapi



Bagian dari ziarah

Sufi tanpa

tarekat



Bebas rindu

Dalam merindu



Bebas waktu

Dan tempat



Luruh dalam desah angin

gunung







(Nurdin Kalim)

Sumber : Tempo Edisi. 18/XXXV/26 Juni - 02 Juli 2006

dilihat : 450 kali


   
Copyright © 2005 Pustakalewi.net
All rights reserved. Protected by the copyright laws of the Indonesia
hosted and developed by Agiz YL Solution