Rabu, 23 September 2020 03:23:54 | Home | Index Berita | About Us | Statistik | Buku Tamu | Redaksi | Webmail | Login |  

Catatan Ringan

Beatrice Portinari
Beatrice Portinari (1266-1290) adalah seorang anak manusia biasa yang kemudian menjadi obyek imajinasi luar biasa sehingga identitas dirinya secara tidak adil akan terseret dalam status luar biasanya itu.



Pengunjung hari ini : 124
Total pengunjung : 219065
Hits hari ini : 863
Total hits : 2280856
Pengunjung Online : 12
Situs Berita Kristen PLewi.Net -Skandal, Moralitas Kedalaman & Keteladanan




SocialTwist Tell-a-Friend | |
Kamis, 04 Januari 2007 00:00:00
Skandal, Moralitas Kedalaman & Keteladanan
Skandal, Moralitas Kedalaman &

Keteladanan



Antonius Steven Un



Masyarakat kita baru saja dikejutkan oleh berita tersiarnya video porno

hubungan terlarang antara politisi Partai Golkar dan anggota DPR RI Yahya Zaini (selanjutnya: YZ) dengan artis dangdut dan

kader AMPI, Maria Eva asal Sidoarjo.



YZ kemudian memutuskan untuk mengundurkan diri dari jabatannya sebagai Ketua

DPP bidang Kerohanian yang selama ini disandangnya (Surya, 05/11). Sebenarnya skandal video porno bukanlah yang pertama terjadi

ditengah masyarakat kita. Pernah heboh skandal video porno mahasiswa Bandung, Lombok dan sebagainya. Namun kasus ini menjadi

berbeda mengingat posisi YZ sebagai salah satu figur publik, politisi yang dikenal banyak orang. Lagi pula, hubungannya dengan

Maria Eva bukanlah hubungan suami istri sehingga adegan seks yang mereka lakukan adalah extra-marital sexual intercourse

(hubungan seks di luar nikah). Apa yang terjadi ini seharusnya menjadi pelajaran berharga dan amat mahal dapat dipetik oleh

politisi dan masyarakat. Karena itu, penulis bermaksud menyampaikan artikel ini sebagai refleksi terhadap apa yang menimpa

mantan Ketua Umum PB HMI tersebut.



Irrasionalitas Skandal



Irrasionalitas dalam pemahaman dari Christine

A. James adalah self-defeating behaviour (Journal of Consciousness Studies, Vol. 5, 1998). Perilaku self-defeating adalah

konflik di dalam diri antara apa yang menjadi tujuan dan apa yang ia lakukan, antara apa yang ia tahu dan apa yang ia inginkan,

antara statusnya dan perilakunya. Singkatnya, self-defeating adalah konflik di dalam diri seseorang antara what ought (apa yang

seharusnya) dan what is (apa yang terjadi). Perilaku semacam demikian menghasilkan disintegrasi diri dan pada gilirannya ketika

skandal-skandal terbongkar, terjadi depresi dan shock hebat. Paling tidak dalam kasus YZ, shock terjadi karena adanya

self-defeating antara siapa dirinya dan perilakunya.



Irrasionalitas dalam bentuk perilaku self-defeating dapat

menjadi sebuah refleksi penting, yaitu ketika kita mencermati efek hancurnya karir YZ. YZ rela mengorbankan posisinya dan

karirnya di dunia politik hanya untuk suatu kenikmatan sementara. Dengan terpaksa ia memutuskan mengundurkan diri dan ini

berarti ia akan kehilangan posisinya di Partai Golkar. Belum lagi jika pimpinan Partai Golkar memutuskan untuk me-recall

dirinya dan ditambah dengan keputusan Badan Kehormatan DPR-RI untuk menonaktifkan atau memberhentikan dengan tidak hormat maka

tamatlah seluruh karir politik YZ, sebagaimana yang diakui sendiri oleh Peneliti LIPI, Hermawan Sulistyo (Surya, 5/11). Mengapa

ia harus bertindak demikian bodoh? Mengapa ia harus bertindak tanpa pikir panjang? Mengapa ia rela menghancurkan karirnya yang

mungkin ia impikan selama ini? Semua ini menjadi suatu irrasionalitas yang sulit dinalar. Hal-hal ini pula yang seharusnya

menjadi pertanyaan reflektif-evaluatif bagi YZ dan semua politisi.



Moralitas Kedalaman



Irrasionalitas

yang terjadi dapat diselesaikan dengan moralitas kedalaman. Konsep ini diajarkan oleh teolog Inggris, John R.W Stott, (the

Message of the Sermon on the Mount, 1989). Moralitas kedalaman yang dimaksud adalah kepatuhan batiniah terhadap hukum formal

menurut akal budi yang sehat dan motivasi hati, sebagai lawan dari kepatuhan lahiriah dan formal. Kepatuhan yang berasal dari

dalam hati mengandung kejujuran dan menghasilkan kerelaan sehingga hukum bukan lagi suatu beban berat dan kewajiban belaka

melainkan suatu kesukaan. Di sini, hati menempati posisi yang sangat strategis dalam hidup manusia seperti yang dikemukakan

cerdik pandai zaman dahulu kala: “Jagalah hatimu dengan segala kewaspadaan sebab dari situlah terpancar kehidupan”. Hati yang

bersih untuk mentaati hukum formal merupakan akar dari semua tatanan kehidupan manusia. Tanpa hati yang benar-benar bersih,

kepatuhan yang lahiriah formal menghasilkan suatu model kehidupan yang sangat dangkal sehingga pada gilirannya akan

mendatangkan irrasionalitas sebagai biang bagi kegagalan dalam mencapai sasaran hidup.



Sayangnya, banyak dari

institusi, baik pendidikan, agama, organisasi maupun negara lebih suka mengajarkan kepatuhan lahiriah formal ketimbang

moralitas kedalaman. Hal ini terbukti dengan pendekatan yang digunakan yaitu lebih banyak menggunakan pendekatan legalisme

ketimbang pendekatan personal. Pendekatan legalisme menuntut kepatuhan kepada hukum secara membabi buta, secara lahiriah formal

tanpa menekankan unsur hati yang sungguh-sungguh jujur dan rela. Hasilnya yang terjadi adalah kemunafikan sehingga aroma

skandal suatu hari akan tercium di mana-mana. Sedangkan pendekatan personal menekankan pendidikan hati dan akal budi agar

sungguh-sungguh dapat memiliki moralitas kedalaman. Model pendekatan pendidikan ini menekankan proses bukan hasil sehingga

memang membutuhkan waktu yang lebih lama. Selain itu, pendekatan legalisme yang menggunakan model reward-punishment sedangkan

pendekatan personal menekankan kesadaran dan kerelaan diri di dalam mentaati hukum formal dan aturan moral. Karena itu, penting

bagi institusi masyarakat khususnya institusi pendidikan untuk lebih menekankan pendekatan personal.



Keteladanan





Jika moralitas kedalaman sungguh-sungguh dikerjakan maka pada gilirannya akan menghasilkan suatu keteladanan

sebagai sarana pendidikan yang terbaik. Keteladanan adalah visualisasi dengan kekuatan imitasi yang jauh lebih besar ketimbang

membaca atau mendengar. Tidak heran tayangan smack-down di televisi menghasilkan banyak korban karena anak-anak dengan

kepolosannya meniru “keteladanan- kekerasan” yang disajikan televisi melalui tayangan tersebut. Tayangan demikian telah menuai

protes keras dari masyarakat, karena materinya yang demikian berbahaya dan mendatangkan pengaruh buruk bagi pemirsanya.





Selain itu, keteladanan merupakan suatu dukungan kepada perintah yang diberikan sehingga publik lebih mudah

menerapkan suatu aturan moral. Tanpa keteladanan, publik akan mengalami konflik antara what ought dan what is. Tetapi dengan

adanya keteladanan, hal itu akan menjadi katalisator yang amat besar mendorong kekuatan moral publik untuk mentaati aturan

moral yang mereka dengar atau baca. Di sini, keteladanan merupakan suatu keadilan (fairness) sebagai alasan dan dorongan bagi

publik untuk menjalankan suatu aturan. Jangan lupa, jika rasa keadilan (fairness) terpenuhi, orang akan sanggup melakukan apa

saja karena ia merasa pantas dan patut untuk melakukannya.



Keteladanan merupakan syarat mutlak dalam pendidikan

politik yang merupakan sarana pembentukan budaya politik. Budaya politik sendiri adalah sesuatu yang bersifat sina qua non bagi

partisipasi politik. Dengan adanya partisipasi politik yang maksimal sesuai dengan yang diharapkan maka demokrasi mencapai

hakekatnya. Semakin publik bersifat apatis/ apolitis maka demokrasi semakin jauh dari yang seharusnya. Di sini, partisipasi

politik sangat bersandar kepada kompetensi yang dimiliki oleh publik. Artinya, publik bukan hanya berpartisipasi berdasarkan

ikatan primordial dan emosional tetapi rasionalitas dan kedewasaan. Kompetensi merupakan komponen penting dalam budaya politik

yang menanamkan nilai, prinsip, norma serta etika berpolitik. Nah, kompetensi ini datangnya dari pendidikan politik secara

kontinyu kepada publik. Tidak bisa tidak akhirnya, keteladanan adalah syarat mutlak.



Jika Hamzah Haz nanti

benar-benar mengundurkan diri dari dunia politik dan tidak meneruskan kepemimpinannya di PPP maka hal ini merupakan keteladanan

yang sangat baik di mana menjadi suatu sarana pendidikan politik dengan didorongnya rotasi kekuasaan secara sehat dan teratur

sebagai salah satu sendi demokrasi yang sangat penting. Sebaliknya, apa yang dilakukan oleh YZ, yang bukan saja figur publik

tetapi juga bahwa “Ketua DPP Partai Golkar, Bidang Kerohanian” yang seharusnya memberikan teladan, justru mengajarkan moralitas

menyimpang kepada generasi muda, menjadi catatan buruk di dalam pendidikan politik. Pemimpin tanpa kapabilitas moral dan

menyimpan skandal tersembunyi, ternyata masih bercokol di pucuk pimpinan partai politik. Beruntungnya, YZ masih mempunyai suara

hati nurani sehingga ia mau mengajukan pengunduran diri. Penguduran diri ini harus menjadi suatu teladan positif bagi para

pemimpin yang tidak mempunyai kapabilitas khususnya moral agar buru-buru mengundurkan diri dan meletakkan jabatannya. Arogansi

politik hanya akan memperparah krisis multidimensional yang sedang melanda negara kita. Marilah kita dengan hati luas dan jujur

mengakui kekurangan kita. Semoga, para pemimpin masyarakat bermoral baik dan menjadi teladan bagi bangsa ini.

(anton.s.un@hoshmail .com/milis metamorphe)



dilihat : 509 kali


   
Copyright © 2005 Pustakalewi.net
All rights reserved. Protected by the copyright laws of the Indonesia
hosted and developed by Agiz YL Solution