Jum'at, 24 Januari 2020 20:09:12 | Home | Index Berita | About Us | Statistik | Buku Tamu | Redaksi | Webmail | Login |  

Catatan Ringan

Perkembangan Peer to Peer Lending di Indonesia
Perkembangan Peer2Peer Lending (P2P Lending), pinjam meminjam berbasis aplikasi makin subur di Indonesia. Tapi kehadirannya tentu akan menimbulkan konsekuensi positif dan negatif.


Pengunjung hari ini : 580
Total pengunjung : 21209
Hits hari ini : 4328
Total hits : 589580
Pengunjung Online : 4
Situs Berita Kristen PLewi.Net -Natal : Suatu Cerita Kerendahan Hati






SocialTwist Tell-a-Friend | |
Senin, 18 Desember 2006 00:00:00
Natal : Suatu Cerita Kerendahan Hati
Kita semua tahu,

bahwa tatkala Tuhan Yang Maha Mulia datang ke dunia, Dia dilahirkan di sebuah gua yang biasa digunakan orang sebagai kandang

binatang. Gua yang terdapat di sebuah gereja yang bernama Church of the Nativity (Gereja Kelahiran), di Betlehem, bisa jadi

merupakan gua asli tempat Tuhan Yesus dilahirkan, tetapi mungkin juga tidak. Hal itu tidak akan pernah kita ketahui secara

pasti.



Namun ada satu hal di sana yang menyimbolkan sesuatu yang indah. Pintu gereja tersebut begitu rendah,

sehingga disebut Pintu Kerendahan Hati, dimana setiap orang yang akan masuk ke sana, ke gereja tersebut, harus membungkukkan

badan terlebih dahulu. Hal itu melambangkan bahwa setiap orang haruslah cukup rendah hati dan berlutut bila hendak menghampiri

Yesus.



Ya, kerendahan hati merupakan satu-satunya jalan untuk memasuki hadirat Allah. Menghormati DIA yang telah

merendahkan dirinya terlebih dahulu untuk menghampiri kita (Barclay).



Karena kerendahan hatilah, tiga orang majus

yang (konon) merupakan simbolisasi orang pintar, kuat, dan kaya, bisa menemukan something special dari seonggok bayi yang

disebut-sebut oleh para nabi sebagai mesias sang juru selamat. Tapi, tidak ada yang bisa menjamin bahwa ketiga orang majus itu

tahu mengenai hal ini.



Jika kita mau mencoba menelusuri logika yang dipakai ketiga orang majus ini, maka akan kita

temukan suatu kapitulasi diri total terhadapan kemaha-tinggian Allah; suatu kerendahan hati yang mengagumkan.



Siapa

sebenarnya orang majus itu? Mereka adalah orang yang tidak bisa dipandang remeh oleh siapa-pun, bahkan oleh seorang Herodes.

Kira-kira apa yang dibayangkan oleh ketiga majus itu saat melihat suatu “pertanda” – bintang di Timur? Sesuatu yang istimewa

bukan – dalam akal sehat manusia. Tapi nyatanya ... mengecewakan – masih dalam akal sehat manusia ; seorang bayi yang lemah dan

tak berdaya, yang mengemban misi “penyelamatan”.



Lantas apa yang membuat Matius menuliskan bahwa mereka “sangat

bersukacita” (Mat 2:10), kalau bukan karena IMAN? Suatu pergumulan intelektual yang hebat yang dialami ketiga majus tersebut.

Jika berpegang pada iman, maka mereka harus rela dan dengan rendah hati mengorbankan logika manusia.



Kita beralih ke

Yusuf, ayah Yesus. Kerendahan hati yang dimilikinya mengalahkan nafsu dan emosi “ke-lelaki-annya”. Tunangannya hamil bukan

“karena” dirinya. Namun ia dengan gigih menjalankan perannya sebagai seorang “suami” dan “ayah”.



Nama anaknya pun

ia tidak bisa menentukan. Untuk diketahui, zaman itu seorang anak biasanya diberi nama sesuai dengan nama ayah atau salah

seorang keluarganya. Yesus...Yusuf... Cukup jauh.



Maria pun merupakan tokoh yang rendah hati pula dalam “cerita”

ini. “Sesungguhnya aku adalah hamba Tuhan; Jadilah padaku menurut perkataanmu itu” (Luk1:38). Kalimat yang diucapkan Maria saat

menerima berita dari Gabriel bahwa ia akan mengandung bayi Yesus; Kalimat yang populer (dan sembarangan) dipakai umat kristen

sekarang, tanpa tahu betapa BERAT-nya kalimat itu. Hamba adalah seseorang (atau sesuatu) yang tidak mempunyai hak, namun

mempunyai bejibun kewajiban untuk dipenuhi. Kewajiban untuk bersusah-payah 9 bulan mengandung bayi Yesus, bersakit-sakit untuk

melahirkan sang mesias kecil ini. Lantas apakah haknya? Tidak ada! Bahkan tidak diizinkan untuk tahu masa depan anaknya, yang

ternyata belakangan harus ia tangisi di bawah kayu salib. Jadi, masih berani mengaku hamba kah?



Raja Herodes. Ya,

memang ia tidak termasuk tokoh yang rendah hati, namun ada pelajaran kerendahan-hati yang bisa dipetik. Pada saat ia tahu (dari

para majus) bahwa tahtanya “terancam” oleh bayi Yesus, si calon raja Israel, ia berusaha membunuh Yesus. Kecongkakannya telah

menghalangi matanya untuk memandang kilau cahaya kedatangan sang mesias. Karena absennya kerendahan-hati inilah ia, pada akhir

hidupnya, direndahkan serendah-rendahnya. Bagaimana akhir hidup Herodes? Ia mati dimakan cacing setelah “ditampar” malaikat

Tuhan-begitulah kata yang diapakai Lukas di Kis 12:22-23 - setelah ia menggunakan ke-Raja-annya sebagai justifikasi untuk

mewakili suara Tuhan.



Terakhir, dan yang paling “mengharukan” adalah Yesus sendiri. Betapa Ia harus menanggalkan

ke-tak terbatas-annya untuk mengenakan tubuh manusia yang serba terbatas. Betapa seorang Raja semesta harus rela ber-ayah-kan

seorang tukang kayu, lahir di kandang ternak, dibalut kain lampin. Bahkan tamu pertama di hari kelahirannya adalah segerombolan

gembala (bau, dekil, miskin,dst.).



Bila kita mau meluangkan waktu sejenak untuk memposisikan diri kita pada sosok

Yesus, kita akan merasakan benturan-benturan emosi, pergulatan kebatinan, dan pergumulan intelektual yang amat sangat. Maukah

atau sudikah kita untuk diperlakukan seperti Yesus, bahkan meskipun dalam kondisi sekarang – bukan sebagai raja semesta.





Namun terlebih dari itu, kita dapat bercermin : seberapa rendah-hati kah kita? Bila kerendahan hati Yesus kita beri

nilai 1000, berapakah nilai kita? 5, 10, atau malah minus?



Natal bukanlah tentang pohon natal, santa claus-piet dan

Rudolph-nya, atau lonceng-lonceng yang meriah. Hiruk pikuk itu telah menggeser keheningan malam saat Yesus lahir. Lagu-lagu

natal yang “sama sekali tidak bermakna” telah menggeser merdunya pujian para gembala. Gemerlap natal sekarang telah menggeser

makna kerendahan hati dari cerita Natal. (HYSP)

dilihat : 445 kali


   
Copyright © 2005 Pustakalewi.net
All rights reserved. Protected by the copyright laws of the Indonesia
hosted and developed by Agiz YL Solution