Rabu, 15 Juli 2020 15:12:25 | Home | Index Berita | About Us | Statistik | Buku Tamu | Redaksi | Webmail | Login |  

Catatan Ringan

Beatrice Portinari
Beatrice Portinari (1266-1290) adalah seorang anak manusia biasa yang kemudian menjadi obyek imajinasi luar biasa sehingga identitas dirinya secara tidak adil akan terseret dalam status luar biasanya itu.



Pengunjung hari ini : 616
Total pengunjung : 167262
Hits hari ini : 3833
Total hits : 1805943
Pengunjung Online : 15
Situs Berita Kristen PLewi.Net -Agama Tak Mengajarkan Pembunuhan




SocialTwist Tell-a-Friend | |
Senin, 10 Januari 2005 00:00:00
Agama Tak Mengajarkan Pembunuhan
Mereka

mendiskusikan sekaligus mengupayakan saling pengertian dan kerukunan antarpenganut agama/kepercayaan.



Pertemuan

kedua Interfaith Dialogue (Dialog Antar-agama) berlangsung dalam kerangka kerja sama Asia-Europe Meeting (ASEM) dan

diselenggarakan di Nusa Dua, Bali. Hal itu sebenarnya bukanlah pertemuan yang disiapkan secara mendadak pascaterjadinya

serangan di London pada 7 Juli lalu dan kembali terjadi 21 Juli.



Akan tetapi, sebagaimana disampaikan Menteri Luar

Negeri Hassan Wirajuda serta Menteri Muda urusan Luar Negeri dan Persemakmuran Inggris Kin Howells, terjadinya serangan bom di

London semakin menambah bobot pentingnya penyelenggaraan Dialog Antar-agama itu.



Seperti halnya ketika terjadi

serangan yang menghancurkan menara kembar di New York, Amerika Serikat, pada 11 September 2001, serangan di kota London pun

mengejutkan banyak pihak. Bedanya, jika pada serangan ”9/11” muncul suara-suara sumbang mengenai agama Islam, pada serangan di

London suara seperti itu tidak banyak terdengar lagi.



Meskipun demikian, dugaan bahwa para pelakunya berasal dari

penganut suatu agama saja memang tetap berpotensi menimbulkan konflik antarpenganut agama. Apalagi aksi-aksi ”penyerangan”

terhadap simbol-simbol keagamaan memang sempat pula terjadi, baik pascaserangan di New York maupun di London. Namun, untunglah

aksi seperti itu bisa diredam dan dihentikan dengan sikap tegas pemerintah setempat.



Di satu sisi, adanya dialog

antar-agama jelas sangat membantu untuk menumbuhkan saling pengertian bahwa ajaran agama apa pun tidak ada yang mengajarkan

untuk membunuh para penganut agama yang berbeda dengannya. Agama juga tidak memaksakan seseorang untuk menganut agama tertentu,

bahkan sebaliknya membangun toleransi terhadap penganut agama yang berbeda.



Di sisi lain, penyelenggaraan dialog

antar-agama pascasejumlah aksi terorisme bisa memperkuat ”pengakuan” bahwa salah satu akar permasalahan yang menimbulkan aksi

terorisme itu adalah adanya ketidakharmonisan antar-umat yang berlainan agama. Pertanyaannya adalah, benarkah aksi-aksi

terorisme itu memang didorong oleh sebab-sebab yang berkaitan dengan ketidakharmonisan antar-umat beragama? Apa manfaat dari

dialog-dialog antar-agama yang akhir-akhir ini banyak diselenggarakan di berbagai negara?



Hak asasi

religius



Di banyak negara, termasuk Indonesia, hubungan antar-umat beragama yang berlainan secara umum di permukaan

tidak menjadi masalah. Akan tetapi, tidak sedikit orang yang merasakan hak-hak sosial, politik, maupun religiusnya ”dibatasi”

karena agama yang dianutnya berbeda. Dengan demikian, harus diakui, potensi konflik umat yang antara lain dikarenakan perbedaan

agama, belum sepenuhnya hilang.



Oleh karenanya, menurut teolog Franz Magnis-Suseno, perlu dimulai

kebijakan-kebijakan politik yang mengarah kepada jaminan perdamaian. Perlu dirumuskan aturan-aturan kelakuan atau hak-hak asasi

religius yang lebih terinci, misalnya disepakati dan diterjemahkan ke dalam norma hukum, bagaimana kita jangan memperlakukan

orang berdasarkan agama.



”Misalnya, kekerasan hendaknya kita tolak secara prinsip sebagai cara penyelesaian konflik

agamis. Negara tidak akan langsung mencampuri keagamaan seseorang. Jadi, negara tidak berhak untuk memenangkan satu agama

terhadap yang lain,” ungkapnya.



Menlu Hassan Wirajuda juga mengakui adanya persoalan antar-umat itu. ”Sebetulnya

antar-agama itu sendiri tidak ada persoalan soal ketidakharmonisan, sebab semua agama mengajarkan tentang toleransi. Karena

itu, persoalan lebih banyak pada manusia penganut agama. Akibat dari tindakan terorisme, bisa jadi mempunyai salah tafsir

tentang satu agama. Karena itu, ada keperluan untuk memajukan dialog. Dengan begitu, kita bisa mencegah dampak negatif dari

suatu tindak terorisme terhadap hubungan antarpenganut agama,” kata Hassan.



”Ini menjadi penting, sebab dengan

begitu agama tidak bisa dibajak oleh kelompok-kelompok yang menggunakan kekerasan dan teror sebagai cara untuk memajukan

kepentingan mereka,” ungkap Hassan menambahkan.



Teolog Franz Magnis-Suseno berpendapat, tidak ada relevansi banyak

antara dialog antar-agama dan masalah terorisme. Dialog di tingkat internasional seperti itu juga tidak langsung berpengaruh

pada hubungan di akar rumput. Tetapi, yang bisa dicapai adalah suatu kesadaran bahwa kita yang datang dari negara dan budaya

yang cukup berbeda berhadapan dengan masalah yang sama. Selain itu, dialog antar-agama juga membantu proses perkembangan

kesadaran di antara tokoh-tokoh agama yang ada, yang lalu pelan-pelan diterjemahkan ke dalam sikap-sikap

umatnya.



Magnis membayangkan Dialog Antar-agama bisa mengarah seperti pada penyelenggaraan konferensi-konferensi hak

asasi pada masa lalu, yang akhirnya melahirkan konsensus mengenai hak asasi manusia. ”Kalau kita melihat bahwa problemnya

mencakup lintas budaya dan agama, maka kita memang harus hidup bersama dengan baik sebagaimana diajarkan agama,” ungkap

Magnis.



Ketua Umum PP Muhammadiyah Din Syamsuddin menilai dialog antar-agama bermanfaat untuk lebih memberi

keyakinan kepada tokoh-tokoh agama agar berada pada jalur moderat. Dengan demikian, mereka pada posisi moderat dan tidak

terjebak pada ekstremitas. ”Ini juga pesan kepada kelompok ekstrem, apalagi yang terlibat dalam kekerasan dan teror, untuk

tidak membawa-bawa agama, karena itu adalah penyalahgunaan dari nilai agama dan umat beragama,” ujarnya.



Kalangan

moderat, tambah Din, sebenarnya cukup kuat dan mayoritas. Tetapi mereka silent majority, yang kurang mendapat tempat dari pers

sehingga terdapat ketidakseimbangan, seolah-olah tokoh radikal yang segelintir orang itu yang dominan. ”Pengaitan tindak

terorisme dengan agama adalah juga sebuah bentuk kekerasan. Maka, bisa terjadi kekerasan dilawan dengan kekerasan, padahal

jelas kekerasan sangat ditentang dalam Islam,” ungkap Din.



Din juga mengingatkan agar masalah ketimpangan global,

adanya hegemoni negara-negara adidaya, juga dibenahi dan diselesaikan, karena juga menjadi bagian dari akar masalah

terorisme.



Pendekatan untuk menumbuhkan dan menguatkan sikap moderat itu, tambah Din, memang bisa melalui pemaksaan

secara politik, melalui aturan-aturan hukum. Akan tetapi, dalam hal ini pendekatan itu terkadang tidak efektif. ”Ini adalah

persoalan kesadaran, maka pendekatannya harus pendekatan penyadaran. Oleh karena itu, tokoh-tokoh agama di lingkungan

masing-masing perlu melakukan penyadaran sehingga muncullah keberanian dari kelompok moderat ini. Ini sebenarnya yang berperang

adalah kalangan fundamentalis yang menyalahgunakan agama,” ungkapnya.



(Oleh: Rakaryan Sukarjaputra, Kompas, Minggu,

24 Juli 2005 )





dilihat : 492 kali


   
Copyright © 2005 Pustakalewi.net
All rights reserved. Protected by the copyright laws of the Indonesia
hosted and developed by Agiz YL Solution