Jum'at, 24 Januari 2020 21:45:41 | Home | Index Berita | About Us | Statistik | Buku Tamu | Redaksi | Webmail | Login |  

Catatan Ringan

Perkembangan Peer to Peer Lending di Indonesia
Perkembangan Peer2Peer Lending (P2P Lending), pinjam meminjam berbasis aplikasi makin subur di Indonesia. Tapi kehadirannya tentu akan menimbulkan konsekuensi positif dan negatif.


Pengunjung hari ini : 587
Total pengunjung : 21216
Hits hari ini : 4628
Total hits : 589880
Pengunjung Online : 4
Situs Berita Kristen PLewi.Net -Rasialisme Jangan Diberi Tempat Lagi






SocialTwist Tell-a-Friend | |
Sabtu, 26 Agustus 2006 00:00:00
Rasialisme Jangan Diberi Tempat Lagi
Menjelang 17 Agustus 2006, Universitas Surabaya menggelar Masa Orientasi Bersama (MOB) dengan

mengusung tekad antirasialisme. Sementara itu di tempat lain, para mahasiswa di Makassar melakukan razia terhadap etnis

Tionghoa di jalan-jalan, karena ada seorang pembantu rumah tangga diperkosa oleh seorang pria Tionghoa.



Federasi

sepabola internasional, FIFA, juga terus menyuarakan “Say No To Racism”. Dengan demikian, tekad antirasialisme memang layak

kita gaungkan bersama secara terus menerus tanpa henti, karena baik di mancanegara atau di dalam negeri, rasialisme memang

masih terus menjadi ancaman.



Jika dikaitkan dengan perayaan 61 tahun kemerdekaan RI, tekad dan semangat

antirasialisme seperti itu jelas merupakan reaktualisasi dari semangat Proklamasi 17 Agustus 1945. Sebagaimana kita pelajari

dalam buku sejarah, Bung Karno-Hatta dan para pendiri bangsa ini sejak semula memang mengusung konsep nation state (kebangsaan)

yang diilhami oleh Ernest Renan, yakni tentang sekelompok orang yang merasa senasib dan sepenanggungan lalu berikrar hidup

dalam satu kesatuan kenegaraan untuk masa-masa yang akan datang.



Dalam pidatonya di depan sidang BPUPKI (1 Juni

1945), Bung Karno membeberkan konsep nation-state Indonesia itu, yakni “kehendak untuk bersatu” (le désir d’être ensemble–Ernst

Renan), “rasa senasib dan sepenanggungan” (eine aus Schiksals-gemeinschaft erwachsene Charakter-gemeinschaft–Otto Bauer), dan

“persatuan antara orang dan buminya” (Soekarno).



Jadi dalam konsep nation state tidak dipersoalkan lagi asal-usul,

keturunan, ras, etnisitas, warna kulit, dan latar belakang lainnya. Proklamasi Kemerdekaan 17 Agustus 1945 merupakan bentuk

perwujudan konsep nation state tersebut.

Konsep ini kemudian dituangkan dalam lambang negara kita, yaitu Bhinneka Tunggal

Ika, yang menyadari bahwa secara alami kita sudah berbeda, baik suku, ras, warna kulit, keturunan, agama, sosial budaya, dan

ekonomi tetapi toh kita ingin bersatu dalam perbedaan tersebut.



Mahasiswa Makassar



Maka tekad

antirasialisme jelas sejalan dengan konsep nation state kita dan sesuai dengan jiwa proklamasi yang hendak mengakhiri semua

bentuk penjajahan mengingat sikap rasis atau rasialis pada intinya memang menjajah orang lain, merasa lebih super dari orang

lain. Jadi, tekad antirasialisme hendaknya menjadi perhatian bagi semua warga bangsa.

Sebab harus diakui, ancaman

rasialisme itu masih sangat potensial. Sewaktu-waktu konflik rasial bisa meledak. Jangankan di negara maju seperti Belanda atau

Belgia,

ancaman semacam ini juga masih sangat nyata di negeri kita, lebih sempit lagi di metropolis, walau kita sudah

memiliki konsep nation state seperti disebutkan di atas.

Kita tentu ingat belum lama berselang justru terjadi peristiwa

di Makasar yang dipelopori para mahasiswa. Pada 9 dan 10 Mei lalu, di Ibukota Propinsi Sulawesi Selatan itu nyaris terjadi

kerusuhan rasial akibat meninggalnya pembantu rumah tangga Hasniati (20) karena dianiaya majikannya, Wandy Tandiawan, seorang

WNI beretnis Tionghoa.



Sementara itu, sebagian mahasiswa Makassar yang marah menggelar razia terhadap kendaraan

untuk mencari warga keturunan. Tidak heran jika Wapres Muhammad Jusuf Kalla sampai menghimbau agar masyarakat Makassar maupun

mahasiswa tidak mengambil tindakan sendiri dan tidak mengambil alih tugas aparat kepolisian. Apa yang diperbuat seseorang tidak

boleh dikait-kaitkan dengan etnis atau agamanya.



Apa yang dilakukan mahasiswa di Makassar itu jelas mencerminkan

adanya kegagalan

dari dunia pendidikan tinggi kita pada umumnya untuk menanamkan jiwa dan semangat keindonesiaan yang

multikultural. Dengan kata lain, ada kegagalan pendidikan multikulturalisme khususnya di dunia perguruan tinggi

kita.



Terkait kegagalan itu, penulis jadi ingat sebuah seminar di kampus Universitas Negeri Yogyakarta 11 Agustus

2004. Ketika itu, Menteri Pendidikan Nasional Malik Fajar menekankan pentingnya pendidikan multikulturalisme

ditumbuhkembangkan, karena potensi yang dimiliki Indonesia secara kultural, tradisi, adat, dan lingkungan geografi, serta

demografis sangat luar biasa. Untuk itu, kita perlu menumbuhkembangkan potensi etnis masing-masing.



Proklamasi

Antirasialisme



Memang pendidikan multikultural di dunia pendidikan tinggi kita masih relatif baru, mulai

dibicarakan intensif sejak sewindu lalu, setelah Soeharto lengser pada 21 Mei 1998. Menurut Azyumardi Azra, munculnya

pendidikan multikultural (atau kadang disebut Pendidikan Berbasis Multikulturalisme) jelas merupakan reaksi atas kebijakan

rezim Orba yang dalam segala hal, termasuk pendidikan, menekankan “monokulturalisme”. Akibatnya, kita telah menjadi manusia

satu dimensi, yang suka memakai kaca mata kuda sehingga buta terhadap fakta keragaman kebudayaan kita.



Mata kuliah

Kewiraan atau Pendidikan Pancasila di zaman Orba gagal diinternalisaikan di dalam jiwa para mahasiswa, karena tidak lebih

merupakan “brainwashing” atau indoktrinasi politik untuk mendukung rezim yang berkuasa. Pendidikan berbasis multikulturalisme,

lanjut Azyumardi, pada dasarnya adalah pendidikan untuk menghargai perbedaan.



Pada inti terdalamnya, spirit

antirasialisme sebenarnya sangat sejalan dengan ajaran agama dan pandangan humanisme agar kita tidak mendiskriminasi sesama

manusia. Manusia harus dihargai, sesama kita harus dihargai sebagai manusia, bukan diinjak-injak martabatnya atas nama

perbedaan kulit dan ras. Kita toh tidak bisa meminta kepada Sang Pencipta untuk dilahirkan sebagai orang berkulit ini atau

beretnis itu. Karena itu, orang lain harus dihargai dengan keberadaannya. Keunikan personalitasnya, ekspresi keyakinan beragama

serta asal-asul etnisnya jangan pernah dilecehkan atau dihina.



Biarkan orang lain bangga dengan diri dan warisan

kebudayaannya. Otomatis dengan pandangan demikian, semangat kebangsaan seperti dibeberkan Bung Karno di atas akan tetap terjaga

sehingga Indonesia akan senantiasa menjadi rumah yang nyaman bagi semua orang.



Kecuali itu, dengan terus mengusung

tekad antirasialisme, kita juga akan memberikan kado yang memerdekakan atau membebaskan. Ini bukan hanya membebaskan orang

lain, tetapi juga membebaskan jiwa kita sendiri dari belenggu rasialisme. Mari kita proklamasikan bahwa diskriminasi sudah

tamat dan rasialisme sudah mati. Proklamasi antirasialisme ini harus terus digaungkan dalam setiap kesempatan, dan ditulis

serta disuarakan di mediamassa, dan dipraktikkan langsung dalam kehidupan sehari-hari. Say No To Racism!



Penulis

adalah teolog, kolumnis, dan aktivis Tionghoa Surabaya

dilihat : 447 kali


   
Copyright © 2005 Pustakalewi.net
All rights reserved. Protected by the copyright laws of the Indonesia
hosted and developed by Agiz YL Solution