Jum'at, 29 Mei 2020 07:02:26 | Home | Index Berita | About Us | Statistik | Buku Tamu | Redaksi | Webmail | Login |  

Catatan Ringan

Perkembangan Peer to Peer Lending di Indonesia
Perkembangan Peer2Peer Lending (P2P Lending), pinjam meminjam berbasis aplikasi makin subur di Indonesia. Tapi kehadirannya tentu akan menimbulkan konsekuensi positif dan negatif.


Pengunjung hari ini : 474
Total pengunjung : 139769
Hits hari ini : 3533
Total hits : 1434881
Pengunjung Online : 28
Situs Berita Kristen PLewi.Net -Resensi Reflektif atas buku Harry Potter And The Half-Blood Prince






SocialTwist Tell-a-Friend | |
Kamis, 22 Desember 2005 00:00:00
Resensi Reflektif atas buku Harry Potter And The Half-Blood Prince
Bila anda bukan penikmat (penikmat, bukan pecinta/penggila

yang selain mem-baca juga mengkoleksi berbagai pernak-pernik terkaitnya) Harry Potter, bisa jadi anda mengira kisah Harry

Potter tak ubahnya kisah anak sekolah berasrama berbumbu sihir dengan tambahan cinta dan petualangan alakadarnya. Cinta picisan

antar siswa dan petualangan iseng tanpa banyak keringat dan pengorbanan. Kekanak-kanakan dan mungkin menyesatkan karena

beraroma sihir sekental kopi hitam. Benarkah? Mari, duduk dan nikmati tulisan ini sambil melupakan kisah BBM memagut dana

APBN.



Ahh, pertarungan baik dan buruk atas nama cinta dan pengorbanan. Tema sentral yang melampaui batas-batas kisah

kasih di sekolah. Seorang ibu pada anaknya, para keturunan penyandang nama besar terhadap asal-usulnya, seorang karib pada

sahabat-sahabatnya, pengikut pada pemimpinnya, seorang guru demi murid-muridnya. Dari mula, JK Rowling sudah menekankan dalam

buku-bukunya bahwa cinta dan pengorbananlah yang membedakan orang satu sama lain, termasuk yang membedakan nasib pihak yang

baik dan yang jahat. Bahwa kekuatan cinta dan pengorbanan, dengan keteguhan hati, pada waktunya akan sanggup menahan gempuran

dendam dan amarah, kesombongan dan kelicikan, termasuk mantra ilmu hitam pembunuh -avada kedavra- sekalipun.



Dan

buku ke enam dari tujuh buku seri Harry Potter yang telah direncanakan JK Rowling dari jauh-jauh hari (bahkan Rowling memiliki

berkotak-kotak berkas mengenai detail para tokoh, mantera, lokasi hingga aneka informasi tambahan demi kelancaran penulisan

seri Harry Potter) ini sangat penuh sesak dengan pagutan cinta dan pilihan untuk berkorban. Kesadaran untuk memecahkan masalah

dan memilih menjalankan tanggung jawab, bukan karena keterpaksaan, tapi demi kemaslahatan bersama adalah pesan penting

petualangan Harry Potter di tahun ke enamnya di Hogward ini. Betapapun untuk itu Harry Potter harus menyisihkan rasa cinta anak

muda yang membuncah di dada pada seorang gadis yang dekat dengannya.



Dibuka dengan kegalauan seorang pemimpin

pemerintahan muggle (manusia tanpa kemampuan sihir) Inggris akan bencana yang menimpa negaranya dan per-bincangan

mau-tak-maunya dengan seorang (mantan) menteri sihir -yang sempat mati-matian mempertahankan kursinya walau nyata-nyata telah

salah mengambil kebijakan- tentang pergolakan yang terjadi di dunia sihir dan imbasnya pada dunia non-sihir. Sungguh terasa

dekat dengan Indonesia, yang cinta kursi dan jompa-jampi, walau lokasinya di belahan bumi yang

berseberangan.



Selanjutnya, cinta, kesombongan, persahabatan, kecurigaan dan pengorbanan silih berganti memenuhi

lembar demi lembar buku setebal 607 halaman (versi British) ini, menantang imajinasi pecintanya (bahkan Ben Affleck pun

tertangkap kamera sedang menikmatinya). Membuai pembacanya dengan cinta monyet khas remaja yang hanya membuahkan senyum simpul,

hingga cinta nekad seorang penyihir berdarah murni (dari keluarga amat congkak karena keturunan langsung penyihir ternama)

namun miskin papa pada pemuda kaya (yang tak kalah sombongnya) tapi mudblood (ungkapan hinaan kaum penyihir, ditujukan pada

mereka yang tidak berdarah sihir secuil pun) yang karena ketiadaan cinta dan pengorbanan mendalam telah menghasilkan seorang

pembunuh berdarah dingin. Dipikir-pikir, memang benar kata Djenar Mahesa Ayu, agar jangan main-main dengan kelaminmu. Hasrat

salah tempat yang tak berbalas terbukti luar biasa fatal, setidaknya di dunia Harry Potter. Sementara di dunia kita,

kelamin-kelamin terpendam menghasilkan koruptor-koruptor andal tanpa kemaluan, dari kelas lebih kecil dari teri hingga kakap

raksasa. Bisa jadi termasuk anda dan saya.



Di buku ini pula Rowling memperkenalkan cinta sepenuh jiwa seorang ibu

pada anak tunggalnya (yang sementara ayahnya di penjara harus menanggung amanat merangkap hukuman bila gagal dilaksanakan,)

sekalipun pada sisi yang berlawanan dengan sang jagoan, namun di mata kepala sekolah masih berada dalam koridor cinta yang

sudah sepantasnya. Yang memaksa seorang guru untuk mengikat dirinya dalam perjanjian yang apabila dilanggar dapat membawa

kematian. Cinta, memang menuntut pengorbanan. Termasuk cinta ibu cecunguk pada si cecunguk. Seperti cinta kita pada subsidi

minyak dan gaji ke tiga belas, yang menuntut pengorbanan anggaran yang makin sempit sesak bagi kepentingan-kepentingan umum

lainnya.



Belum lagi bertaburannya berbagai tokoh baru, ramuan baru serta kosa kata baru seperti inferi (mayat yang

dihidupkan dengan mantra kegelapan) dan horcrux (ilmu hitam tingkat tinggi untuk wadah membelah jiwa). Selain itu dihadirkan

kembali perjumpaan dengan memori-memori masa lalu yang diharapkan berguna untuk memahami cara tertepat dan tercepat dalam

melawan musuh utama Harry Potter (sayangnya bukan kelaparan ataupun malnutrisi sekalipun di setiap halaman awal buku selalu

terselip fakta betapa kurusnya Harry selama musim panas akibat ‘kekejaman’ paman dan bibinya), yang namanya tidak boleh

disebut, Lord Voldemort.



Kembali Rowling selalu mengingatkan pembaca lewat kata-kata Dumbledore pada Harry akan

kekuatan cinta dan pengorbanan nyawa ibunya (sedangkan kematian ayahnya, menurut Dumbledore, lebih didasarkan pada insting

alamiah mahkluk hidup untuk mempertahankan diri dan keluarganya, suatu kematian yang mau tidak mau disongsongnya, bukannya

pilihan untuk lari atau mengorbankan nyawa seperti yang diperhadapkan pada ibunya) serta rasa kasih sayang yang ada pada

dirinya terhadap sesamanya, yang tidak secuil pun dimiliki / dirasakan oleh Kau-Tahu-Siapa.



Susah memang rasanya

untuk menenangkan hati dan pikiran usai membaca kisah perjumpaan Harry Potter dengan seorang prince yang berdarah campuran

(bukan, bukan indo tapi campuran antara penyihir dan muggle, sesuatu yang haram bagi para penggila pureblood -semacam supremasi

buta ala Arya Jerman-) ini, terlebih ketegangan yang terjadi seputar terbangnya sang ‘pangeran’ ke sisi lain usai menuaikan

janjinya. Kalau tidak ingat ini fiksi karangan sesama manusia, rasa-rasanya dapat memahami kenekatan seorang pria amerika, Jude

Ralston, 32 tahun, yang memilih untuk bunuh diri (kolom Andy Borowitz, YubaNet.com, 8 Juli 2005) seiring spoiler yang

didengarnya di shopping mall sebelum buku resminya terbit, karena kematian tokoh favoritnya di akhir cerita membuatnya

kehilangan gairah hidup.



Makin kelam untuk anak-anak namun makin menggairahkan untuk para muda dan dewasa pecinta

cerita detektif, setidaknya membuat penikmat Agatha Christie seperti menemukan kembali dunianya yang hilang karena telah usai

membaca semua kisah pembunuhan ala Christie. Beberapa situs dan mailing list Pottermania sampai memerlu-kan untuk membahas

aneka teori lengkap dengan argumennya, kemungkinan demi kemungkinan yang bakal terjadi di buku tujuh berdasarkan fakta-fakta

dari buku-buku yang telah terbit. Termasuk mencoba menelaah karakter menulis JK Rowling dalam menyelipkan petunjuk dan

informasi penting, untuk menyelesaikan giant puzzle bikinannya tersebut. Tak jauh beda dengan cara kita di Indonesia dalam

menangani masalah/kasus, yaitu dengan memperbanyak ceramah, diskusi, rapat dan seminar.



Di situs www.lexicon-hp.org,

portal bagi para dewasa pecinta Harry Potter yang cukup lengkap untuk dijadikan referensi (karena tersedia berbagai penjelasan

-semacam ensiklopedi- tentang beragam karakter, ramuan, tempat, timeline hingga peta lokasi, tak ketinggalan berbagai analisa),

sampai dalam forumnya memerlukan thread khusus terkait bab per bab Harry Potter And The Half-Blood Prince termasuk aneka teori

dan argumen-nya. Juga membahas apakah yang disajikan di 4 bab terakhir benar adanya seperti yang tertulis ataukah harus dibaca

sebagai sesuatu yang between the line. Tetapi untuk yang tidak mau terlalu njlimet, ada situs Mugglenet.com dan The Leaky

Couldron yang menyajikan informasi-informasi terbaru secara singkat dan padat.



Kehebohan yang disajikan JK Rowling

lewat Harry Potter tidak terbatas pada alur/jalan ceritanya saja, namun juga karena kemampuannya merangkai kata-kata, menjalin

peristiwa, memberikan kejutan dan mengolah imajinasi dengan kekayaan bahasa inggris (juga sejumput pengetahuan latin dan

mitologi) yang luar biasa, sehingga menjadi suatu fenomena yang melintas batas antar negara (ulasan mendalam mengenai Harry

Potter sebagai global phenomenon dapat dicari di google). Jadi, lupakan per-debatan baik-buruknya, kekanak-kanakan atau

kelamnya, duduk santai dan nikmati saja lembar demi lembar seri Harry Potter sambil meresapi kelezatan bahasa dan sensasi

imajinatifnya. Dan selamat mencecap pagutan cinta dan pengorbanan buku ke enam.

dilihat : 465 kali


   
Copyright © 2005 Pustakalewi.net
All rights reserved. Protected by the copyright laws of the Indonesia
hosted and developed by Agiz YL Solution