Kamis, 02 April 2020 04:26:40 | Home | Index Berita | About Us | Statistik | Buku Tamu | Redaksi | Webmail | Login |  

Catatan Ringan

Perkembangan Peer to Peer Lending di Indonesia
Perkembangan Peer2Peer Lending (P2P Lending), pinjam meminjam berbasis aplikasi makin subur di Indonesia. Tapi kehadirannya tentu akan menimbulkan konsekuensi positif dan negatif.


Pengunjung hari ini : 323
Total pengunjung : 79903
Hits hari ini : 839
Total hits : 986617
Pengunjung Online : 14
Situs Berita Kristen PLewi.Net -Mengembalikan HKBP kepada Jatidirinya - ( Catatan pengantar dari Pdt. Maulinus Siregar) - Artikel






SocialTwist Tell-a-Friend | |
Selasa, 02 Agustus 2005 00:00:00
Mengembalikan HKBP kepada Jatidirinya - ( Catatan pengantar dari Pdt. Maulinus Siregar) - Artikel

Autentisitas HKBP tengah diuji?





Judul di atas dipilih sebagai diskursus pendek, tetapi penting untuk digumuli bersama. Terutama sekali,

ditengah-tengah segala persiapan kita menjelang pelaksanaan rapat pendeta HKBP Agustus 2005 ini. Tentu sekali, sulit dihitung

banyaknya bahan percakapan yang muncul dan sudah digumuli bersama. Secara simultan, keadaan yang sama belangsung dalam

tiap-tiap rapat pendeta distrik pada dua bulan terakhir ini. Sangat mungkin sekali, nuansa dan aksentuasinya pun berbeda-beda.

Dan itulah yang menambah indahnya spektrum kemajemukan HKBP : kini. Dengan itulah kita dapat saling belajar untuk menerima

perbedaan konteks serta realitas pengalaman hidup umat di masing-masing tempat kita sebagai “human living document”.





Pertanyaan utama, apakah urgensi rapat pendeta kali ini? Adakah perhatian kita, utamanya lebih tertuju pada

pemilihan ketua rapat pendeta periode 2005-2009 ? Atau apakah rapat pendeta kali ini hendak diberdayakan sebagai salah satu

media kritis untuk menangkap isu-isu sentral yang sedang menggejala, serta tentunya juga menantang gereja pada waktu yang

sama dalam mencari jawab ? Seterusnya, bagaimana rapat ini dapat merumuskan dengan tepat isu sentral yang dihadapi gereja,

serta rancang bangun teologi dan praksis hidup menggereja yang kontekstual serta membumi di tengah arena kehidupan umat HKBP

dalam bangunan besar : berbangsa, bermasyarakat dan bernegara, yang sungguh-sungguh mejemuk serta berubah dengan cepat

hari-hari ini ?



Dimanakah peran HKBP sebagai persekutuan orang percaya dalam pemilihan kepala daerah langsung

(Pilkada) yang potensial menyumbang konflik horizontal antar elemen masyarakat ? Serta, bagaimana kita

menggali akar-akar teologi HKBP untuk menempatkan dengan tepat identitas teologi sebagai gereja di tengah-tengah masyarakat

yang pluralistik serta dinamis ? Mengapa visi gereja kita yang inklusif, dialogis dan terbuka menjadi sangat penting

dijabarkan dalam level operasional untuk kehidupan umat ditengah-tengah ‘daerah aman’ kita, termasuk juga kokohnya RPP

sebagai ‘kodifikasi hukum’ yang siap menyorot dan menjustifikasi setiap tindakan kita , terutama apabila ‘keluar’ dari bingkai

’old hkbp’? Akhirnya, bagaimana kita menjawab tuntutan warga jemaat kita yang kian hari terus

merindukan khotbah yang hidup, ibadah interaktif yang menggugah, pelayanan yang menyentuh kebutuhan, sikap profetik yang sigap

dan siaga serta jawaban teologis terhadap isu-isu kontemporer, seperti : euthanasia, perkawinan campuran, transplantasi,

rekayasa genetic, etika politik, social ministry (= diakonia sosial, dll !)



Sejatinya, gema Injil yang merasuki

seluruh sendi hidup masyarakat, napak tilas yang diawali 144 tahun lalu, diretas terus menyebar ke seluruh pelosok tanah air.

Nyanyian pujian syukur, lonceng gereja, kebaktian-kebaktian rumah tangga, sekolah-sekolah zending, rumah sakit, pusat-pusat

ketrampilan; adalah beberapa variable utama yang mendorong terjadinya transformasi masyarakat batak menjadi masyarakat pekerja

yang punya etos hidup kristiani yang tinggi sebagai pandu kehidupan, di mana dan kemanapun mereka berada. Ini juga yang

mendorong proses differensiasi ( persebaran ) kita, mulai meninggalkan kampung halaman dan tidak bertumpu pada satu

sektor-melainkan merambah kehidupan yang lebih luas. Pada waktu itu otentisitas gereja sangat dekat hubungannya dengan

pemberdayaan “masyarakat sipil”.



Di dalam rapat pendeta HKBP tahun ini, kita berdoa seraya berharap,

setidak-tidaknya isu-isu di atas disoroti. Jawaban teologis atas berbagai isu dapat distudi dengan serius. Sementara tanpa

mengabaikan hal ini, perhatian kita pun juga akan terjuju melihat sosok pendeta yang akan dipilih dalam rapat ini menjadi ketua

rapat pendeta HKBP. Siapa yang akan menarik lokomotif korsp pendeta HKBP : menuju teologi dan ajaran gereja HKBP yang

otentik. Seandainya diijinkan untuk mencirikan sosok yang akan dipilih, sebaiknya: i. seorang yang cukup terbuka pada banyak

pandangan. ; ii. rendah hati menerima, mendengar dan menimbang segala dinamika yang muncul dalam kehidupan penatalayanan,

perkembangan teologi dan ajaran gereja; iii. mau belajar pada banyak hal , iv. serta punya kepekaan yang sungguh-sungguh

terhadap suka/duka kehidupan sesama dongan sa-tohonannya. Prasyarat semacam itu bisa jadi sangat relatif, namun preferensi ini

perlu. Dengan bimbingan kekuatan Roh Kudus sebagai Gereja (Jurgen Moltman, The Church in the Power of the Spirit)

rapat pendeta tahun ini, betul-betul akan berhasil memilih hamba Tuhan yang sungguh-sungguh ‘terpilih’ untuk menjadi penggiat

teologi jemaat HKBP, sekaligus sahabat yang baik untuk semua. Itulah harapan kita di masa kini dan mendatang. Mudah-mudahan

ketua rapat pendeta terpilih pun akan menjadi abdi yang tekun dan rajin membawa isu-isu di atas dalam percakapan berkelanjutan

untuk merambah jalan baru bagi gereja HKBP yang terbuka dan gereja yang tidak henti menjawab tantangan jamannya.





Pergulatan Gereja (HKBP) dan masyarakat



Martin Luther, sekali waktu berkata ( 1519

Leipzig ) : “ dimana ada Firman Tuhan, di sana ada iman, dimana ada iman, disitu ada gereja yang benar “ (LW 39, xii). Gereja,

menurutnya harus berkarya dalam terang Firman Tuhan. Martin Luther, melihat karakter gereja yang benar adalah gereja yang

non-institusional. Itu sebabnya Luther lebih senang memakai kata ‘sammlung’ (=perkumpulan, pertemuan) dan ‘gemeinde’

(=persekutuan, jemaat), dibandingkan dengan istilah ‘kirche’ (=church). Selanjutnya, Luther mengembangkan pemahaman gereja

sebagai “persekutuan yang tersembunyi” dan ‘persekutuan yang terlihat’. Menurutnya tersembunyi, karena iman berbicara akan

hal-hal yang tidak terlihat (bdn. Ibrani 11:1), sedangkan sebagai persekutuan yang terlihat adalah karena Injil yang

diberitakan dan kedua sakramen yang dilayankan. Lalu, bagaimana Injil diberitakan dan sakramen dilayankan dalam realitas hidup

bangsa Indonesia yang, sayangnya, saat ini jatuh dalam krisis besar dan sepertinya tiada akhir.



Bangsa kita belum

berhenti meratap. Bencana dan musibah menghantam bumi Nusantara. Air mata dan tangisan pun terus mengalir. Hari-hari kehidupan

bangsa kita dilalui bersama penderitaan, nestafa dan sesahnya hidup. Kita mulai menggugat, kapan semua ini akan berakhir ?

Siapa yang mesti bertanggungjawab untuk itu ? Tak satu pun mampu dan berani menjawab !



Malahan hari ke hari kita

semakin tak pasti. Lihat.., bencana nasional semakin menggunung. Demam berdarah, muntaber yang mewabah, diikuti busung lapar,

polio, BBM yang langka, perjudian yang sulit diputus simpulnya ! Korupsi yang menggerogoti tubuh bangsa, semantara nilai tukar

rupiah atas dolar melemah kembali. Kekerasan dimana-mana. Narkoba/ zat adiktif yang semakin akut dan kian sulit diberantas,

karena gerakan pendistribusian yang massif dan ‘terorganisir rapi’. Sungguh menyedihkan! Mengerikan! Ohhh.., air mata tidak

pernah berhenti. Tangisan dimana-mana. Masyarakat bertambah resah, cemas dan juga takut ! Dalam hati mereka bertanya, masih

adakah fajar bersinar bagi masa depan kita ?



Astaga, kemiskinan terus meningkat tajam. 27-30 juta penduduk miskin

hidup dalam penderitaan yang amat sangat. Dan angka pengangguran yang tinggi (= 40 juta). Sementara itu, ironika hidup

ditampilkan telanjang oleh segelintir manusia Indonesia di pihak lainnya. Dengan pongah, mobil-mobil mewah bersiliweran di

jalanan ibukota; berjalan dengan angkuh, seakan tidak mau tahu, apalagi peduli sama sekali dengan sesama mereka disekitarnya,

yang menghadapi beban penderitaan yg berat.



Adakah pergulatan masyarakat (= kita) itu menjadi bagian dari

pergumulan Gereja? Adakah mimbar sekedar hanya berbicara pesan moralis dan terjebak dalam budaya pasar yang sangat

mengandalkan kegunaan dan tergoda kultur hidup popular : yang enak, mudah, dan menyenangkan? Berapa persenkah warga HKBP yang

berhadap-hadapan dengan bencana di atas? Pertanyan menggugat barangkali tak jarang akan ditujukan kepada HKBP Pusat! Apa yang

sudah mereka kerjakan untuk mengantisipasi dan menanggulanginya? Bagaimana kebijakan dan strategi pemberdayaan yang dirancang

untuk menjawab pergulatan hidup masyarakat itu? Suara-suara sumbang senada juga , dengan amat mudah akan dialamatkan ke HKBP

Pusat. Namun, sayangnya pertanyaan itu tidak jarang jauh dari objektifitas dan nalar sehat. Bila melihat minimnya dukungan

yang diberikan huria-huria untuk memacu pusat untuk bekerja maksimal. Apa yang dapat dilakukan HKBP Pusat secara maksimal

dalam tugas-tugas advokasi, keterlibatan dan peleburan diri dalam karya-karya sosial gereja dll, bila berkaca pada alokasi

budgeting yang tersedia?



Sementara itu, di sisi lainnya, tidak sedikit ‘barrier’ yang menjadi beban untuk

bekerja maksimal hingga kini belum teratasi. Salah satu contoh : ironi klasik yang masih jadi “duri dalam daging”,

serta tersisa menjadi pergulatan serius hingga kini, yaitu : aliran dana dari tidak sedikit huria-huria yang masuknya sangat

tersendat-sendat serta kurang lancarnya pengiriman setoran persembahan kantong kedua itu. Adakah alasan disebabkan prasarana

yang terbatas di tengah-tengah kemajuan tehnologi perbankan yang semakin canggih? Bila dilihat, sepertinya, masih terdapat

unsur ‘kesengajaan’ dan ‘ketegaan”. Apapun motifnya, bisa macam-macam, tapi tidak dapat dibenarkan, Konon, ada pula yang

dengan maksud sengaja, lalu menyepakati untuk tidak mengirimkannya? Hal itu tentunya sangat sulit dipahami dan tidak boleh

dibenarkan.



Adakah disadari persembahan itu sebagai milik Tuhan? Dan nyanyian persembahan “nasa na

nilehonmi…hupasahat i tu Ho, na so unsatonku i“
sudah meresap dalam kehidupan pengerja/pengurus gereja? Berapa persenkah

dari para peserta rapat pendeta HKBP agustus 2005 ini yang terus menyetujui ‘pemotongan’, “penundaan pengiriman’ atau apapun

namanya, hingga kini dapat tertawa dan menikmati keadaan semacam itu?



Sementara itu, HKBP Pusat terus dituntut

untuk mencetak para pelayan yang siap pakai untuk menghadapi tantangan global yang semakin kompleks. Sayangnya, tidak semua

aparatus dan sistim organisasi HKBP yang menumpu di level yang lebih rendah mampu memaksimalkan peran mereka dalam kehidupan

menggereja di masing-masing distrik. Akibatnya, sejumlah persoalan yang terjadi di huria/resort dilimpahkan dan ‘menyeberang”

ke kantor pusat HKBP Pearaja-Tarutung. Hal itu menambah beban pusat. Dan ada kemungkinan juga membuka ruang konflik peran

antara pusat-distrik.



Pergulatan HKBP yang tidak kalah beratnya adalah sistim penggajian yang tetap masih tidak

merata di setiap tempat. Akibatnya tumbuh rasa ketidakadilan. Lalu, menimbulkan polarisasi yang tajam antara : kota- desa,

daerahbasah-tidak basah dll. Termasuk juga, tidak sedikit dari motif untuk melanjutkan studi lanjutan, berhubungan dekat dengan

akses yang lebih luas untuk mendapatkan penempatan di daerah “basah” tersebut. Menurut saya, inilah beberapa variable yang

mendorong suburnya koflik dalam siklus sejarah HKBP dari waktu ke waktu. Meskipun, dengan cerdas sering disembunyikan dalam

warna ideologis/ide : antara kebenaran yang satu dan kebenaran lainnya. Apabila pergulatan itu tetap tidak menemukan solusi

yang komprehensif, maka potensi konflik HKBP tetap terbuka untuk meledak setiap saat di masa mendatang.





Mudah-mudahan sebuah sistem pembinaan yang diperkenalkan dan sedang berlangsung sekarang dapat didukung maksimal

oleh seluruh jemaat HKBP. Melalui sistim pembinaan baru ini : berjenjang, berkelanjutan dan terpadu, HKBP dapat mempersiapkan

para pemimpin gerejawinya yang handal menghadapi segala musim ujian dan tantangan. Serta siap berkarya dalam seluruh aras

pelayanan gerejani, baik di tingkat : local, nasional dan internasional.

Dalam hal inilah, alangkah mulianya apabila kita,

para pelayan terus bersungguh-sungguh mendukung itu, serta berupaya menyumbangkan pemikiran yang dapat menjadi jalan keluar

untuk menjawab persoalan/tantangan-tangan di atas.



Mengembalikan HKBP kepada jatidirinya!





Dalam suatu pertemuan/diskusi informal : Ephorus HKBP Pdt. Dr. B. Napitupulu bersama dengan 40-an lebih pendeta

muda yang melayani dan bermukin di Jabotabek pada hari jumat, 5 Nov 2004 di Hotel Mandarin Jakarta (Penulis saat itu bertindak

sebagai penggagas acara tersebut dibantu penuh oleh sdr.Ir. Panangian Simanungkalit, MSc- ahli property Indonesia yang cukup

handal saat ini – saudara Kristen yang baik juga, dengan tulus menjamu seluruh keperluan kegiatan tersebut ), ompui Ephorus

HKBP melontarkan gagasan tentang “huria siparmahan jolma”. Menurut beliau, sudah waktunya HKBP untuk mengembangkan

konsep palayan keumatan, yang mengedepankan peran sosial gereja sebagai motor penggerak kehidupan masyarakat. Beliau

mengkonstatir, terpuruknya pelayanan kesehatan dan pendidikan kita, lebih disebabkan diabaikannya model pelayanan holistic,

yang telah dirintis sebelumnya. Padahal HKBP di hadapkan dengan realitas umat yang terdiri dari tiga lapisan, yaitu :

masyarakat tradisionil/agraris, industri dan informasi. Artinya gereja harus berperan maksimal untuk menciptakan mekanisme

kerja yang mampu untuk menghubungkan ketiga lapisan tersebut. Itulah tugas kita bersama, ujar beliau.



Bagaimana

bentuk peran sosial gereja dalam realitas masyarakat kita akan sangat ditentukan oleh konteks dan konstalasi sos-pol-bud-ek di

tempat kita masing-masing. Dengan perkataan lain, gereja tidak boleh tinggal diam. Gereja harus cerdik seperti ular dan tulus

seperti merpati. Diperlukan kepekaan membaca setiap perubahan dan analisa yang akurat terhadap entitas hidup yang mengitari

kehidupan gereja. Pdt.Dr.Binsar Nainggolan, yang baru saja menyelesaikan studi doktoralnya di Universitas Regensburg, dalam

disertasinya : “The social Involvement of Adolf von Harnack, A Critical Assessment”, dengan tajam

menyimpulkan bahwa, keterlibatan sosial gereja bukanlah pilihan, melainkan bagian integral pelayanan gerejani. Selanjutnya,

gereja yang alpa terhadap keterlibatan sosial, itu artinya gereja yang memberikan dirinya menjadi lembaga yang tidak relevan.





Mengembalikan HKBP kepada jatidirinya, artinya membawa HKBP kembali kepada peran sejatinya sebagai penggerak hidup

masyarakat. Sebuah gereja yang turut menyiapkan perubahan, baik orientasi hidup juga mentalitas yang baru. Inilah yang

mendorong umat untuk senantiasa optimis, punya etos kerja yang tinggi, serta beretika politik yang kristiani. Warga HKBP karena

itu, tidak akan mudah dirayu : apakah janji keberuntungan instant togel, kenikmatan semu narkoba, kecanduan miras, agenda

politik jangka pendek dari para politisi yang haus berkuasa, serta kekerasan domestik di dalam rumah tangga. Gereja sebagai

siparmahan jolma dipanggil untuk memasuki pusat-pusat kehidupan umat, melalui khotbah profetis, karya-karya sosial gereja,

serta pengembangan masyarakat yang mengubah mentalitas kita sebagai pengikut kristus. Meminjam istilah Peter L.Berger, seorang

ahli Sosiologi, kita tidak hanya mendengar “kabar angin dari langit” lagi, melalui gereja mampu membumikan dan

mengkontekstualisasikan segenap ajarannya. Dan itu bisa dipahami dan diterima dengan relevan oleh kaum peragu sekalipun.

Itulah Gereja siparmahan jolma.



Selamat mengikuti Rapat Pendeta, doa kami dari tempat nun ‘jauh’ di sana

!

Pdt. Maulinus Siregar, Pdt. HKBP California

Sumber : http://hkbpchurch.org

dilihat : 473 kali


   
Copyright © 2005 Pustakalewi.net
All rights reserved. Protected by the copyright laws of the Indonesia
hosted and developed by Agiz YL Solution