Senin, 12 April 2021 07:54:27 | Home | Index Berita | About Us | Statistik | Buku Tamu | Redaksi | Webmail | Login |  

Catatan Ringan

Beatrice Portinari
Beatrice Portinari (1266-1290) adalah seorang anak manusia biasa yang kemudian menjadi obyek imajinasi luar biasa sehingga identitas dirinya secara tidak adil akan terseret dalam status luar biasanya itu.



Pengunjung hari ini :
Total pengunjung :
Hits hari ini :
Total hits :
Pengunjung Online :
Situs Berita Kristen PLewi.Net -Lukisan Pertemuan Bung Karno dan Marhaen di Cigelereng Dipamerkan di Surabaya




SocialTwist Tell-a-Friend | |
Rabu, 07 April 2021 12:05:48
Lukisan Pertemuan Bung Karno dan Marhaen di Cigelereng Dipamerkan di Surabaya

Surabaya - Lukisan pertemuan Bung Karno dan seorang petani bernama Marhaen di Cigelereng, Bandung, pada 1923, ditampilkan pertama kali di Plaza Proklamasi Universitas 17 Agustus 1945 Surabaya.

Lukisan yang memiliki nilai sejarah itu dilukis warga Surabaya bernama Pandji Wiryo Atmojo atas permintaan aktivis kerakyatan senior, Yacobus Mayong Padang. Lukisan itu bakal dipasang di Institut Marhaen di Bandung yang diinisiasi oleh Yacobus Mayong Padang.

Ini adalah kehormatan untuk Surabaya dan semakin meneguhkan Surabaya sebagai dapur nasionalisme, karena di kota inilah Bung Karno lahir, tumbuh hingga remaja, mendapat gemblengan pemikiran dan bersentuhan dengan dinamika rakyat, terang Wali Kota Surabaya Eri Cahyadi.

Lebih lanjut Cak Eri mengatakan lukisan pertemuan Bung Karno dan Marhaen membawa kembali pada puluhan tahun silam.

Bung Karno ketika itu bersepeda keliling desa hingga bertemu Marhaen. Di tengah terik matahari, di tengah sawah, terjadilah dialog di antara keduanya, yang menjadi inspirasi bagi Bung Karno untuk memberi nama Marhaenisme pada pemikiran politiknya.

“Momen itu pengingat bagi saya pribadi untuk tidak pernah ingkar janji kepada rakyat kecil. Sebab, Marhaen tak lain adalah representasi rakyat kecil,” ujarnya.

Masih ada sebagian warga yang belum beruntung dari sisi kesejahteraan.
Maka Pemkot Surabaya bekerja keras melayani rakyat kecil.

Ada program permakanan atau pemberian makanan gratis tiap hari, berobat gratis, sekolah gratis, dan sebagainya. Itulah refleksi dari pemikiran Marhaenisme. Pemkot Surabaya terus berinovasi membahagiakan warganya.

Pemikiran Bung Karno harus dibumikan di Surabaya, pungkas Cak Eri.

Cak Eri mengatakan, cerita pertemuan itu menjadi penguatnya dalam memimpin kota. Inti cerita di balik lukisan ini adalah Bung Karno ingin, tanah di Indonesia bermanfaat untuk rakyat Indonesia. Untuk itu, Cak Eri berharap tanah aset Pemkot Surabaya juga bisa menjadi bermanfaat untuk warga Surabaya.info/red

dilihat : 51 kali


   
Copyright © 2005 Pustakalewi.net
All rights reserved. Protected by the copyright laws of the Indonesia
hosted and developed by Agiz YL Solution