Senin, 12 April 2021 07:57:09 | Home | Index Berita | About Us | Statistik | Buku Tamu | Redaksi | Webmail | Login |  

Catatan Ringan

Beatrice Portinari
Beatrice Portinari (1266-1290) adalah seorang anak manusia biasa yang kemudian menjadi obyek imajinasi luar biasa sehingga identitas dirinya secara tidak adil akan terseret dalam status luar biasanya itu.



Pengunjung hari ini :
Total pengunjung :
Hits hari ini :
Total hits :
Pengunjung Online :
Situs Berita Kristen PLewi.Net -KPAI Minta Negara Hadir Cegah Anak Putus Sekolah di Masa Pandemi




SocialTwist Tell-a-Friend | |
Sabtu, 06 Maret 2021 18:05:57
KPAI Minta Negara Hadir Cegah Anak Putus Sekolah di Masa Pandemi

Surabaya - Anggota Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI), Retno Listyarti mengatakan, meningkatnya angka putus sekolah pada tahun ini harus menjadi perhatian serius. Ditegaskannya, negara harus hadir untuk mencegah anak putus sekolah selama pandemi karena masalah ekonomi atau karena ketiadaan alat daring.

“Pemerintah pusat dan pemerintah daerah harus segera melakukan pemetaan peserta didik yang putus sekolah beserta alasannya. Hasil pemetaan dapat digunakan sebagai intervensi pencegahan oleh negara. Hak atas pendidikan adalah hak dasar yang wajib dipenuhi negara dalam keadaan apapun,” kata Retno dalam siaran persnya, Sabtu (06/03/2021).

Sebagaimana diketahui, KPAI menemukan 5 alasan yang menyebabkan anak putus sekolah, yaitu karena menikah, bekerja, menunggak iuran sumbangan pembinaan pendidikan (SPP), kecanduan game online, dan meninggal dunia,

Retno menyebutkan, faktor yang menyebabkan peserta didik berhenti sekolah karena menikah, bekerja dan menunggak sumbangan pembinaan pendidikan (SPP), umumnya disebabkan oleh faktor kesulitan ekonomi dan kesulitan alat daring. Oleh karena itu, Pemerintah Pusat dan Pemda harus membantu kelompok rentan ini, yaitu anak-anak dari keluarga miskin yang sangat berpotensi kuat untuk putus sekolah.

Sementara terkait dengan faktor yang menyebabkan peserta didik berhenti sekolah karena kecanduan game online, dikatakan Retno, tentu saja sangatlah bergantung pada peran keluarga. Dalam hal ini, para orangtua harus melakukan pendampingan, edukasi maupun pengawasan kepada anak-anaknya selama belajar dari rumah (BDR).

“Orangtua harus menentukan aturan penggunaan gadget terhadap anak-anaknya dengan memberikan alasan yang tepat dan dapat dipahami anak-anaknya,” ucapnya.

Retno juga mengatakan, dinas pendidikan di berbagai daerah harus melakukan pembinaan dan sanksi tegas kepada sekolah-sekolah yang tidak memberikan akses pembelajaran jarak jauh dalam jaringan (PJJ daring). Bahkan mengeluarkan peserta didiknya karena menunggak SPP.

“Pemda juga wajib membantu sekolah yang anak-anaknya mayoritas dari keluarga tidak mampu, sehingga para gurunya juga tetap mendapatkan gaji meskipun para muridnya mayoritas menunggak SPP. Anak-anak dari keluarga miskin adalah kelompok yang paling terdampak selama pandemi, termasuk pemenuhan hak atas pendidikannya,” pungkasnya.b1/red

dilihat : 54 kali


   
Copyright © 2005 Pustakalewi.net
All rights reserved. Protected by the copyright laws of the Indonesia
hosted and developed by Agiz YL Solution