Senin, 12 April 2021 08:22:25 | Home | Index Berita | About Us | Statistik | Buku Tamu | Redaksi | Webmail | Login |  

Catatan Ringan

Beatrice Portinari
Beatrice Portinari (1266-1290) adalah seorang anak manusia biasa yang kemudian menjadi obyek imajinasi luar biasa sehingga identitas dirinya secara tidak adil akan terseret dalam status luar biasanya itu.



Pengunjung hari ini :
Total pengunjung :
Hits hari ini :
Total hits :
Pengunjung Online :
Situs Berita Kristen PLewi.Net -Keluarga Korban Sriwijaya Air Gugat Boeing




SocialTwist Tell-a-Friend | |
Sabtu, 06 Februari 2021 14:05:32
Keluarga Korban Sriwijaya Air Gugat Boeing

Surabaya - Beberapa keluarga penumpang korban jatuhnya pesawat Sriwijaya Air SJ-183 yang mengalami kecelakaan di Kepulauan Seribu, menggugat produsen pesawat Boeing terkait dugaan kelalaian, termasuk kompensasi.

"Betul, tanggal 25 Januari lalu, sudah diajukan. Kalau diajukan itu artinya pihak kita sudah ditunjuk oleh keluarga, berarti kita sudah siap mengajukan komplain kita kepada Boeing, dan itu sudah dilakukan," ujar kuasa hukum keluarga penumpang, Ernie Auliasari dari firma hukum Wisner, Jumat (5/2/2021).

Dikatakan Ernie, secara umum gugatan yang diajukan berkaitan dengan dugaan kelalaian dari beberapa aspek semisal perawatan dan desain dari pesawat.

"Tapi kita masih menunggu hasil dari investigasi, nah nanti juga itu akan mengkontribusi evidence atau bukti-bukti kita ke depan," ungkapnya.

Gugatan yang diajukan juga terkait kompensasi bagi keluarga penumpang Sriwijaya Air -namanya tidak disebutkan-. "Disamping itu, tentunya kita ingin tahu persis apa penyebab kecelakaan itu. Disamping itu Boeing sebagai penanggung jawab maskapai khususnya pesawat Boeing seluruh dunia tentunya akan bertanggung jawab. Disamping aspek penyebab kecelakaan, untuk nantinya tidak terulang lagi itu harus dilakukan perbaikan semuanya nanti kalau sudah ketahuaan sebab-sebabnya. Dan, juga memberikan kompensasi yang pantas terhadap pihak keluarga," katanya.

Menurut Ernie, tentu gugatan kompensasi tidak sama dengan yang ditawarkan maskapai senilai Rp 1,25 miliar sesuai peraturan perundang-undangan.

"Karena ini ranah wilayah hukum internasional tentunya standar yang diajukan juga akan jauh lebih tinggi. Ya betul sesuai berapa banyak tanggungan, status sosialnya, kemudian juga umurnya, usia produktifnya, cost of income dia sampai dia pensiun misalnya, dan juga tanggungnya ini kalau di bawah umur berartikan lebih tinggi lagi karena sampai usia mandiri. Tapi kalau dari maskapai kan tidak, sama semua. Anak satu, anak dua, kawin atau single sama. Sebenarnya itu tidak fair," jelasnya.

"Nah banyak pertanyaan kan investigasi belum selesai, ya tetapi nyawa sudah hilang. Intinya itu nyawa sudah hilang, tidak kembali lagi. Nah itu siapa yang bertanggungjawab. Itu dulu, baru nanti poin-poin lain di dalam kompalin itu kita jabarkan secara detail. Nanti begitu kita menerima laporan kecelakana yang lebih detail lagi itu akan menekan pihak-pihak lain, mungkin tidak saja Boeing, tapi pabrik komponen misalnya," tambahnya.

Menurut Ernie, tentu pengajuan dan proses gugatan akan memakan waktu. Saat ini, pihaknya pun masih menunggu sidang.

"Masih proses menunggu sidang. Kita sistemnya tidak seperti di Indoneisa. Tapi ada hakim juga di situ, ada pengacara pihak Boeing juga, tapi sifatnya di ruang meeting biasa, belum sidang di dalam pengadilan. Tapi memang case ini sudah teregistrasi atau diajukan di pengadilan, di Chicago, distrik Cook County. Ini sama dengan pengadilan negeri. Kenapa di Chicago karena base, kantor pusat Boeing di Chicago," tandasnya.b1/red

dilihat : 75 kali


   
Copyright 2005 Pustakalewi.net
All rights reserved. Protected by the copyright laws of the Indonesia
hosted and developed by Agiz YL Solution