Kamis, 22 Oktober 2020 19:10:47 | Home | Index Berita | About Us | Statistik | Buku Tamu | Redaksi | Webmail | Login |  

Catatan Ringan

Beatrice Portinari
Beatrice Portinari (1266-1290) adalah seorang anak manusia biasa yang kemudian menjadi obyek imajinasi luar biasa sehingga identitas dirinya secara tidak adil akan terseret dalam status luar biasanya itu.



Pengunjung hari ini : 644
Total pengunjung : 238285
Hits hari ini : 6667
Total hits : 2462632
Pengunjung Online : 13
Situs Berita Kristen PLewi.Net -Peringati Hari Demokrasi International, Gus Muafi Minta Pemerintah Antisipasi Paham Intoleransi Sejak Dini




SocialTwist Tell-a-Friend | |
Selasa, 15 September 2020 20:08:55
Peringati Hari Demokrasi International, Gus Muafi Minta Pemerintah Antisipasi Paham Intoleransi Sejak Dini

Pasuruan,pustakalewi.com - Peringati Hari Demokrasi Internasional, Anggota DPRD Kabupaten Pasuruan, F-PKB, H. Saad Muafi atau yang Akrab di sapa Gus Muafi, mengajak semua pihak untuk merawat Pancasila beserta nilai-nilai di dalamnya yakni demokrasi dan kebebasan sipil.

"Selalu menjadi tugas kita untuk merawat Pancasila, beserta nilai demokrasi & kebebasan sipil di dalamnya. Kebebasan berpendapat adalah amanat konstitusi. Terlebih lagi kita juga harus menanamkan pada generasi kita untuk menghindari Paham intoleransi dan juga radikalisme,
Mari kita kembali pada hakikat Pancasila yang utuh. Demokrasi saat ini adalah hasil perjuangan," ujarnya saat di hubungi wartawan via telepon, Selasa (15/09/20).

Menanggapi Kasus Penusukan yang menimpa Syekh Ali Jabir, Dirinya menyayangkan Kasus tersebut masih terjadi di tengah Pemerintah menggodok mengenai, Rancangan Undang-Undang (RUU) perlindungan ulama, yang kini masuk program legislasi nasional (Prolegnas) prioritas 2020. Menurutnya, itu adalah gambaran bahwa nilai Demokrasi semakin terbelenggu, sehingga paham intoleransi masih marak terjadi.

"Sikap intoleransi, ujaran kebencian, dan juga paham radikalisme berpotensi menghambat perkembangan demokrasi di sebuah negara," ujar Guz Muafi.

Guz Muafi menambahkan, sudah waktunya masyarakat kembali kepada Bhinneka Tunggal Ika sebagai tali yang mengikat semua suku, agama, dan budaya di dalam persatuan dan kesatuan bangsa. Menurut nya, terlalu mahal bila kita membiarkan intoleransi terus berkembang.

Demokrasi tanpa keadilan adalah nonsense, begitu juga tanpa persaudaraan. Keadilan dan persaudaraan merupakan modal sosial utama dalam membangun demokrasi. Dalam praktik, keadilan dan persaudaraan sering dipertentangkan, karena keadilan menuntut ketegasan sikap, sedangkan persaudaraan menuntut toleransi. Keadilan tidak bisa ditegakkan dengan toleransi.

Maka, toleransi yang dibutuhkan dalam membangun demokrasi masih membutuhkan catatan tambahan, yakni toleransi dalam menyikapi perbedaan yang menyangkut hak-hak asasi, bukan dalam kejahatan dan atau tindakan-tindakan yang tidak dibenarkan oleh hukum positif.

"Untuk itu Pemerintah perlu mempertegas Regulasi kebebasan berpendapat, beragama, untuk mengurangi diskriminasi, tetapi tetap harus ada perbaikan dalam pendidikan politik agar kehidupan demokrasi juga semakin membaik " pungkas Guz Muafi.(drie/red)

dilihat : 53 kali


   
Copyright 2005 Pustakalewi.net
All rights reserved. Protected by the copyright laws of the Indonesia
hosted and developed by Agiz YL Solution