Rabu, 15 Juli 2020 15:03:24 | Home | Index Berita | About Us | Statistik | Buku Tamu | Redaksi | Webmail | Login |  

Catatan Ringan

Beatrice Portinari
Beatrice Portinari (1266-1290) adalah seorang anak manusia biasa yang kemudian menjadi obyek imajinasi luar biasa sehingga identitas dirinya secara tidak adil akan terseret dalam status luar biasanya itu.



Pengunjung hari ini : 613
Total pengunjung : 167259
Hits hari ini : 3781
Total hits : 1805891
Pengunjung Online : 16
Situs Berita Kristen PLewi.Net -Minim Alat PCR Swab, Penanganan Covid-19 di Kota Serang Lambat




SocialTwist Tell-a-Friend | |
Selasa, 23 Juni 2020 08:05:52
Minim Alat PCR Swab, Penanganan Covid-19 di Kota Serang Lambat

Serang - Lambannya hasil pemeriksaan swab tes membuat langkah-langkah penyelidikan epidemiologi seperti tracking menjadi terhambat. Hal tersebut terjadi lantaran ketersediaan alat Polymerase Chain Reaction (PCR) tes di Provinsi Banten minim. Sebab, untuk saat ini Pemkot Serang masih mengandalkan keberadaan alat untuk PCR swab di Labkesda Provinsi Banten.

Walikota Serang Syafrudin mengatakan, kendala yang dialami oleh Kota Serang belum memiliki alat untuk melakukan pemeriksaan PCR swab, sehingga proses untuk mempercepat hasil swab lama.

“Jadi hasil swab ini ketika kita lakukan treking yang PDP, kemudian diswab ternyata hasilnya lama sampai tiga minggu. Itu aja sih kendalanya,” ujarnya, Senin (22/06/2020).

Menurut dia, apabila Kota Serang memiliki alat PCR swab, maka pihaknya bisa mendeteksi Covid-19 lebih cepat.

“Kalau lebih cepat saya kira satu sampai tiga hari, malah kita tracking ke masyarakat juga lebih cepat untuk mengetahui hasil positif atau tidak,” ucapnya.

Syafrudin menuturkan, untuk pengadaan alat PCR swab sangat mahal. Oleh karena itu, pihaknya masih mempertimbangkan untuk membeli alatnya. Oleh karena pihaknya untuk sementara waktu masih mengandalkan di Labkesda Pemprov Banten.

“Pengadaan itu alatnya mahal. Kayaknya masih mengandalkan di provinsi aja. Belum tahu harganya. Kalau tidak salah di atas Rp1 miliar per unit PCR swab. Insya Allah kalau harganya itu berkisar Rp1 miliar itu akan mungkin beli satu atau dua unit,” jelasnya.

Selain itu kendala lainnya soal penanganan percepatan Covid-19 di Kota Serang, lanjut Syafrudin, adalah soal pemahaman masyarakat yang masih menolak untuk dirapid tes. Menurut dia, masyarakat menilai rapid test disuntik vaksin, padahal hanya diambil sampel darahnya saja.

“Iya itu juga menjadi kendala untuk Pemkot Serang. Masyarakat Masjid Priyayi. Disangkanya disuntik vaksin. Termasuk pak kiayi juga sangkanya disuntik vaksin. Ya soal pemahaman aja. Ketua MUI sudah dihubungi, kemudian Ketua MUI Kota Serang sudah mendukung, kemudian juga dari masyarakat Masjid Priyayi juga sudah,” ucapnya.

Secara umum, masih kata Syafrudin, Pemerintah Pusat meminta agar kabupaten kota serius dalam menangani persoalan Covid-19.

“Kalau secara umum itu sebenarnya hanya penanganan Covid-19 itu harus serius jangan berleha-leha. Dan apapun yang terjadi dengan penanganan ini kaitannya dengan pembiayaan nampaknya akan dipermudah,” ujarnya.

Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Serang M. Ikbal mengatakan, di Labkesda Provinsi Banten pun ada kesulitan dari segi tenaga medis (SDM), sehingga jika harus menambah alat harus menunggu ketersediaan tenaga dulu.

“Sebenarnya lokasi Labkesda ada di wilayah kita di kecamatan Cipocok. Namun memang, labkesda ini juga digunakan oleh wilayah-wilayah lain selain kota serang sehingga menyebabkan penumpukan,” ujarnya.

Ia mengusulkan kepada Pemprov Banten, untuk wilayah Tangerang Raya melakukan pemeriksaan PCR swab di wilayah Banten Timur.

“Kalau boleh usul untuk Tangerang Raya, di rumah sakit Tangerang kan ada, di UIN Ciputat juga ada. Labkesda harusnya di khususkan bagi masyarakat Banten bagian barat, seperti Kota Serang, Pandeglang, dan lainnya,” katanya.

Disinggung soal apakah akan membeli alat pcr swab? Pihaknya masih akan mempertimbangkan mengingat Kota Serang hingga saat ini masih keterbatasan sumber daya manusia untuk ahli analisisnya.

“Kalau alat si mungkin bisa beli, cuman SDM kan membutuhkan kualifikasi yang memang memadai. Kalau SDM analis memang di Kota Serang tidak banyak. Masih belasan,” ujarnya.

Ia mengungkapkan, minimal setiap puskesmas memiliki tenaga ahli analis. Namun dari 16 puskesmas baru ada lima analisis.

“Rumah sakit juga belum banyak. Di Kota Serang ini memang yang masih langka itu analis medis dan tenaga apoteker,” ucapnya.(btn/Red)

dilihat : 111 kali


   
Copyright 2005 Pustakalewi.net
All rights reserved. Protected by the copyright laws of the Indonesia
hosted and developed by Agiz YL Solution