Rabu, 08 Juli 2020 08:02:03 | Home | Index Berita | About Us | Statistik | Buku Tamu | Redaksi | Webmail | Login |  

Catatan Ringan

Beatrice Portinari
Beatrice Portinari (1266-1290) adalah seorang anak manusia biasa yang kemudian menjadi obyek imajinasi luar biasa sehingga identitas dirinya secara tidak adil akan terseret dalam status luar biasanya itu.



Pengunjung hari ini : 128
Total pengunjung : 161562
Hits hari ini : 2126
Total hits : 1745426
Pengunjung Online : 14
Situs Berita Kristen PLewi.Net -Masih Banyak Gereja di Indonesia Menggelar Ibadah Secara Online




SocialTwist Tell-a-Friend | |
Senin, 22 Juni 2020 08:11:45
Masih Banyak Gereja di Indonesia Menggelar Ibadah Secara Online

Surabaya - Penerapan protokol kesehatan di masa pandemi berlaku tak hanya di ruang publik seperti pusat bisnis atau perkantoran, tetapi juga gereja sebagai tempat ibadah.

Gereja katolik melalui Konferensi Waligereja Indonesai (KWI) juga mendukung Kementerian Agama bahwa kegiatan keagamaan maupun tempat ibadat menjadi contoh dalam penerapan disiplin protokol kesehatan, seperti cuci tangan, pakai masker dan jaga jarak.

Sekretaris Eksekutif Komisi Hubungan Antaragama dan Kepercayaan KWI Romo Agustinus Heri Wibowo menyatakan bahwa gereja katolik sangat serius dalam menyikapi disiplin protokol tersebut.

Pihaknya sangat berhati-hati dalam penyelenggaraan ibadah. Ia menekankan pada persiapan ibadah, tempat ibadah, edukasi umat, sarana dan prasarana, protokol internal dan protokol ibadah. Romo Heri tidak ingin kegiatan keagamaan dan tempat ibadah menjadi kluster baru penyebaran Covid-19.

“Secara nasional, secara umum, ada sekitar 57% dari 37 keuskupan yang tersebar di 34 provinsi belum mengadakan ibadah fisik, dalam arti di gereja, tetapi masih live streaming, masih online,” ucap Romo Heri saat dialog di Media Center Gugus Tugas Nasional, Jakarta, akhir pekan kemarin (19/06/2020).

Adapun sisanya telah melakukan kegiatan ibadah yang telah dikaji oleh keuskupan. Kebijakan penyelenggaraan ibadah diserahkan pada masing-masing keuskupan. Hal tersebut disebabkan setiap keuskupan di wilayah administrasi dengan zona tingkat risiko penyebaran yang berbeda-beda. “Tetapi, itu pun tidak langsung otomatis 100% paroki-paroki di keuskupan itu mengadakan ibadah,” tambah Romo Heri.

Sebelum melakukan kegiatan ibadat, keuskupan terlebih dahulu melakukan koordinasi dengan pemerintah daerah. Ia juga menekankan bahwa gereja sungguh berhati-hati. Gereja mengedepankan protokol kesehatan sehingga umat dapat beribadat di gereja dengan aman, sehat dan masyarakat produktif.
Untuk memastikan penerapan protokol kesehatan di lingkungan gereja, tim khusus telah dibentuk, seperti di Jakarta ada Gugus Kendali.

“Kursi-kursi dikasih tanda silang, supaya terjadi physical distancing, jaga jarak. Lalu pakai masker, lalu hand sanitizer, lalu juga apabila diperlukan lebih lanjut memakai face shield. Jadi, edukasi umat menyiapkan sarana-prasarana, lalu membangun pedoman liturgi yang sesuai dengan tatanan hidup baru di era COVID-19 ini,” ujarnya.
Di samping itu, masih ada berbagai prasyarat untuk diterapkan untuk menjamin protokol kesehatan.

Sementara, Sekretaris Umum Persatuan Gereja-Gereja Indonesia (PGI) Pendeta Jacky Manuputty menyampaikan bahwa pihaknya juga menyikapi pandemi ini dengan kritis dan serius. PGI masih mengimbau gereja-gereja untuk menahan diri dalam penyelenggaraan ibadat.

“Yang kedua, melakukan koordinasi yang terus menerus dengan gugus tugas lokal untuk mengetahui perkembangan kurva epidemiologi, perkembangan parameter-parameter, zonasi dan lain-lain,” tambah Pendeta Jacky.

Sama dengan KWI, PGI juga telah mempersiapkan protokol pengamanan yang sangat detail terkait dengan peribadatan. Pendeta Jacky berharap bahwa gereja dapat menjadi pusat edukasi dan literasi publik terhadap pandemi Covid-19. Ktn/red

dilihat : 72 kali


   
Copyright 2005 Pustakalewi.net
All rights reserved. Protected by the copyright laws of the Indonesia
hosted and developed by Agiz YL Solution