Minggu, 16 Agustus 2020 00:55:15 | Home | Index Berita | About Us | Statistik | Buku Tamu | Redaksi | Webmail | Login |  

Catatan Ringan

Beatrice Portinari
Beatrice Portinari (1266-1290) adalah seorang anak manusia biasa yang kemudian menjadi obyek imajinasi luar biasa sehingga identitas dirinya secara tidak adil akan terseret dalam status luar biasanya itu.



Pengunjung hari ini : 91
Total pengunjung : 191847
Hits hari ini : 423
Total hits : 2039185
Pengunjung Online : 19
Situs Berita Kristen PLewi.Net -Peta Jalan dan Arah Konfigurasi Baru Polri: Pengabdian Bagi Indonesia Maju




SocialTwist Tell-a-Friend | |
Jum'at, 03 Januari 2020 19:05:06
Peta Jalan dan Arah Konfigurasi Baru Polri: Pengabdian Bagi Indonesia Maju

Pengangkatan Jenderal Pol. Idham Azis (lulusan Akpol tahun 1988 A) menjadi Kapolri, Komjen Pol. Gatot Eddy Pramono (lulusan Akpol tahun 1988 A) menjadi Wakil Kapolri, Komjen Pol. Agus Andrianto (lulusan Akpol tahun 1989) menjadi Kepala Badan Harkam Mabes Polri, Komjen Pol. Listyo Sigit Pramono (lulusan Akpol tahun 1991) menjadi Kepala Badan Reskrim Mabes Polri dan Irjen Pol. Nana Sujana (lulusan Akpol 1988 A) menjadi Kapolda Metro Jaya (tipe A Khusus) merupakan pemakna strategis dan penanda teknis terhadap jajaran kepemimpinan tertinggi dan utama institusi Polri. Pemakna dan penanda ini menorehkan peta jalan dan arah konfigurasi baru Polri sebagai sebuah rangkaian panjang dan lama tak terbatas mengenai pengabdian Polri bagi Indonesia Maju.

Peta jalan dan arah konfigurasi baru Polri, semakin bergerak dan bermuara pada percepatan, perkuatan, dan peningkatan pengabdian Polri bagi kualitas Indonesia Maju. Penulis (Firman Jaya Daeli) mengenal dekat dan sudah berkenalan lama dengan para pemimpin dan pejabat utama Polri ini di atas. Secara jernih, obyektif, dan faktual, memang para perwira tinggi Polri yang dipromosikan menjadi pemimpin dan pejabat utama Polri ini adalah figur-figur yang telah berpengalaman dan sudah berprestasi. Juga merupakan pilihan terbaik untuk dipromosikan karena berbasis pada integritas, kualitas, kredibilitas, kapasitas, profesionalitas, dan loyalitas "Merah Putih" masing-masing sebagai Bhayangkara Negara.

Wilayah hukum Polda Metro Jaya adalah satu-satunya Polda di seluruh Indonesia yang bertipe (berkelas dan berkategori) A Khusus. Polda Metro Jaya beberapa tahun terakhir ini dipimpin Kapolda yang lulusan Akpol tahun 1988 A sebanyak tiga orang (tiga kali) dan lagi pula secara berturut-turut, yaitu Jenderal Pol. Idham Azis, Komjen Pol. Gatot Eddy Pramono, dan Irjen Pol. Nana Sujana.

Polda Metro Jaya juga pernah dipimpin Kapolda yang lulusan Akpol (Akabri Kepolisian) tahun 1970 sebanyak empat orang (empat kali) tetapi tidak secara berturut-turut, yaitu Irjen Pol. Hamami Nata dan Komjen Pol. Noegroho Djajusman. Kemudian Kapolda Metro Jaya dijabat lulusan Akpol tahun 1971 yaitu Komjen Pol. Nurfaizi Suwandi. Selanjutnya Kapolda Metro Jaya kembali dijabat lagi dua perwira tinggi lulusan Akpol tahun 1970, yaitu Irjen Pol. Mulyono Sulaiman dan Komjen Pol. Sofjan Jacoeb. Saat itu, periodisasi kepemimpinan sebagai Kapolda Metro Jaya berlangsung ketika masa transisi dari era memasuki awal reformasi sampai era memulai awal reformasi.

Pengabdian Polri bertumpu dan berkembang pada simpul pengembangan sistem dan manajemen beserta pembangunan kapasitas kelembagaan dan kualitas sumber daya Polri. Materi dasar dan kandungan inti dari perihal ini secara terencana dan terarah berorientasi terhadap percepatan dan perkuatan kualitas institusi Polri dan sumber daya manusia Polri yang unggul dan kompetitif. Pengabdian Polri juga berakar dan bertumbuh pada simpul peningkatan dan percepatan peran, fungsi, tugas, dan tanggungjawab Polri dan jajaran secara menyeluruh.

Muatan pengabdian diperuntukkan bagi kesejahteraan dan kemakmuran masyarakat bangsa Indonesia serta bagi kebangkitan dan keberlangsungan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Kedua akar tumbuh pengabdian ini diletakkan dan dibumikan dalam kerangka pengembangan dan pemberdayaan rumah besar masyarakat, bangsa, dan negara Indonesia Raya untuk percepatan pembangunan Indonesia maju yang diproklamasikan 17 Agustus 1945.

Pembaharuan menyeluruh dan mendasar secara struktural, instrumental, dan kultural institusi Polri serta pengembangan SDM Polri berkaitan erat dan bersentuhan kuat dengan strategi umum dan kebijakan dasar kelembagan Polri. Strategi dan kebijakan ini, khususnya dalam hal ketersediaan dan keberadaan kepemimpinan dan keanggotaan Polri di setiap satuan dan di semua lintasan jabatan Polri. Komitmen kemauan dan kualitas kemampuan kepemimpinan dan keanggotaan Polri harus senantiasa profesional, modern, dan terpercaya (promoter).

Salah satu variabel di antara berbagai variabel lain dalam kerangka pembangunan, pembaharuan, dan penataan SDM Polri adalah sebuah variabel sistem formasi, mutasi, dan promosi terhadap pimpinan dan anggota Polri. Sistem ini merupakan salah satu subsistem dari sejumlah subsistem variabel terkait lainnya yang berkaitan dengan pembangunan, pembaharuan, dan penataan kualitas anggota Polri di berbagai penempatan dan penugasan kedinasan Bhayangkara.

Reformasi dan transformasi SDM Polri, sesungguhnya dan sejatinya adalah bertujuan untuk mewadahi, mengatasi, dan menuntasi percepatan dan perkuatan penjabaran dan pelaksanaan Tujuan Nasional, Cita-Cita Proklamasi, dan Nilai-Nilai Pancasila. Turunan dan jabaran ini dirumuskan dan diagendakan secara programatik dan konkrit melalui penyelenggaraan Visi, Misi, Dan Program Pemerintahan Nasional Presiden RI Jokowi Dan Wakil Presiden RI KH. Maruf Amin (Indonesia Maju). Dengan demikian, ketika ada formasi, mutasi, dan promosi pimpinan dan anggota Polri sebagai salah satu subsistem, maka hal tersebut mesti difahami sebagai penugasan strategis dari kenegaraan RI bagi SDM (kepemimpinan dan keanggotaan) Polri untuk membangun Indonesia Maju.

Pembumian terhadap "pesan moral dan tema substansial" dari agenda dasar dan kebijakan strategis Indonesia Maju merupakan pesan dan tema simbolik dan konkrit yang melambangkan peneguhan dan memastikan penguatan institusional Polri. Simbolisasi dan konkritisasi ini menandaskan dan menegaskan perwujudan serangkaian utuh, kuat, dan terpadu mengenai tekad bulat dan komitmen kuat Polri untuk melahirkan SDM promoter yang unggul dan kompetitif untuk kepentingan dan kebangkitan Indonesia Raya yang melindungi dan memajukan masyarakat, bangsa, dan negara.

Pengabdian menyeluruh dan mendasar Polri di bawah kepemimpinan Kapolri Jenderal Pol. Idham Azis semakin berarti strategis dan bermakna serius bagi pembangunan, pembaruan, dan penataan institusi dan SDM Polri. Keberartian dan kebermaknaan ini memiliki kohesi ideologis dan relasi strategis dengan Pemerintahaan Nasional Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).

Kapolri Jenderal Pol. Idham Azis sudah melakukan mutasi dan promosi terhadap sejumlah perwira menengah dan perwira tinggi Polri mengabdi di jabatan tertentu untuk menjalankan amanah tugas dan panggilan tanggungjawab Bhayangkara Negara. Pimpinan dengan jabatan kepemimpinan satuan wilayah dan satuan kerja di level Mabes Polri, Polda, dan Polres ini semakin melengkapi dan menguati keberadaan, kepemimpinan, dan kinerja pejabat-pejabat lain yang sudah bertugas dan sedang mengabdi selama ini.

Ada lulusan Akpol tahun 1984 menjadi Pejabat Polri (Kapolda). Ada lulusan Akpol tahun 1985 menjadi Pejabat Utama (PJU) Mabes Polri, ada yang menjadi Kapolda, dan ada juga yang bertugas mengabdi di luar institusi Polri. Demikian juga, lulusan Akpol tahun 1986 dan lulusan Akpol tahun 1987, ada yang bertugas mengabdi di beberapa posisi sebagai PJU di dalam dan di luar institusi Polri, dan ada juga sebagai Kapolda.

Anatomi dan konfigurasi sejumlah kepemimpinan dan pejabat Polri di berbagai satuan, pada dasarnya dan sejatinya menggambarkan dan menunjukkan tumbuhnya kaderisasi dan berkembangnya regenerasi. Perihal ini bergerak dan berjalan secara terstruktur, sistemik, dan relatif masif. Pergerakan kaderisasi dan perjalanan regenerasi pada dasarnya harus tetap mengutamakan sistem nilai integritas, kualitas, kredibilitas, kapasitas, profesionalitas, loyalitas. Lagi pula dengan senantiasa bersemangat gotong royong membangun, membaharui, dan menata Polri.

Masa kini, konfigurasi baru Kepemimpinan puncak dan utama institusi Polri telah tersusun sedemikian rupa. Kapolri dijabat lulusan Akpol tahun 1988 A, yaitu Jenderal Pol. Idham Azis. Figur Jenderal Pol. Idham Azis adalah perwira tinggi yang pertama di lulusan Akpol tahun 1988 A yang memecahkan rekor meraih bintang tiga (Komjen) dengan jabatan Kepala Badan Reskrim Mabes Polri. Selanjutnya memecahkan rekor meraih bintang empat (Jenderal) dengan jabatan Kapolri.

Kemudian Wakil Kapolri dijabat lulusan Akpol tahun 1988 A, yaitu Komjen Pol. Gatot Eddy Pramono. Figur Komjen Pol. Gatot Eddy Pramono adalah salah seorang perwira tinggi bergelar master dan doktor yang intelektual dan profesional. Juga merupakan figur pemikir, konseptor, arsitek strategi institusi, administrator organisasi, pengendali dan pelaku penyelenggaraan operasi.

Ada beberapa perwira tinggi lulusan Akpol tahun 1988 A mengabdi di beberapa posisi jabatan utama Polri dan kepemimpinan satuan wilayah. Ada Kapolda Metro Jaya (tipe A Khusus) Irjen Pol. Nana Sujana; Asisten Sumber Daya Manusia Kapolri Irjen Pol. Eko Indra Heri; Asisten Perencanaan dan Anggaran Kapolri Irjen Pol. Hendro Sugiatno; Kapolda Bali Irjen Pol. Petrus Reinhard Golose; Kapolda Sumatera Barat Irjen Pol. Toni Harmanto; Wakil Kepala Lembaga Diklat Mabes Polri Irjen Pol. Boy Rafli Amar; Kepala Korps Binmas Baharkam Mabes Polri Irjen Pol. Widiyarso Herry Wibowo; Kapolda Maluku Utara Brigjen Pol. Suroto; Kapolda Bangka Belitung Brigjen Pol. Anang Syarif Hidayat; dan ada yang mengabdi di luar institusi Polri, yaitu Wakil Kepala BSSN-RI Komjen Pol. Dharma Pongrekun.

Lulusan Akpol tahun 1988 A memecahkan rekor dengan memegang tongkat komando sebagai Kapolda Metro Jaya sebanyak tiga orang (tiga kali) berturut-turut, yaitu Jenderal Pol. Idham Azis, Komjen Pol. Gatot Eddy Pramono, dan Irjen Pol. Nana Sujana. Sementara itu dari lulusan Akpol tahun 1988 A terdapat seorang jenderal bintang empat, yaitu Jenderal Pol. Idham Azis, dan dua orang jenderal bintang tiga, yaitu Komjen Pol. Gatot Eddy Pramono dan Komjen Pol. Dharma Pongrekun. Selain Jenderal Pol. Idham Azis, Komjen Pol. Gatot Eddy Pramono, dan Komjen Pol. Dharma Pongrekun, ada beberapa dari lulusan Akpol tahun 1988 A yang potensial atau berpotensi kuat mendapat promosi jabatan jenderal bintang tiga dan bahkan mungkin bintang empat.

Posisi jabatan utama Mabes Polri sebagai Inspektur Pengawasan Umum (Irwasum), dijabat lulusan Akpol tahun 1986, yaitu Komjen Pol. Moechgiyarto (lulusan terbaik Akpol tahun 1986 peraih penghargaan Adhi Makayasa). Ada beberapa perwira tinggi lulusan Akpol tahun 1986 mengabdi di beberapa posisi jabatan kepemimpinan. Ada Kepala Korps Sabhara Baharkam Mabes Polri Irjen Pol. Bambang Ghiri Arianto; Kapolda Sulawesi Selatan Irjen Pol. Masguntur Laupe; Kapolda Kalimantan Barat Irjen Pol. Didi Haryono; Kapolda Kalimantan Tengah Irjen Pol. Ilham Salahudin; Kapolda Sulawesi Tengah Irjen Pol. Syafril Nursal; Kapolda Sulawesi Barat Brigjen Pol. Baharuddin Djafar; dan Kapolda Kalimantan Utara Brigjen Pol. Indrajit. Sementara itu, dari lulusan Akpol tahun 1986 terdapat seorang jenderal bintang tiga, yaitu Komjen Pol. Moechgiyarto.

Beberapa perwira tinggi lulusan Akpol tahun 1987 pernah dan sedang mengabdi di sejumlah posisi jabatan tertinggi dan utama Polri, serta kepemimpinan satuan wilayah. Ada mantan Kapolri Jenderal Pol. Tito Karnavian (kini Menteri Dalam Negeri RI Kabinet Indonesia Maju) yang merupakan lulusan terbaik Akpol tahun 1987 peraih penghargaan Adhi Makayasa. Jenderal Pol. Tito Karnavian adalah perwira tinggi di lulusan Akpol tahun 1987 yang selalu memecahkan rekor sebagai perwira yang senantiasa menjadi figur pertama yang meraih kenaikan pangkat yang terawal dan tercepat. Jenderal Pol. Tito Karnavian adalah perwira tinggi yang pertama di lulusan Akpol tahun 1987 yang memecahkan rekor meraih bintang satu (Brigjen) dengan jabatan Kepala Densus 88 Anti Teror Mabes Polri; memecahkan rekor meraih bintang dua (Irjen) dengan jabatan Deputi Bidang Penindakan dan Pembinaan Kemampuan BNPT-RI, Kapolda Papua, Asisten Perencanaan dan Anggaran Kapolri, Kapolda Metro Jaya; memecahkan rekor meraih bintang tiga (Komjen) dengan jabatan Kepala BNPT-RI; dan memecahkan rekor meraih bintang empat (Jenderal) dengan jabatan Kapolri.

Selanjutnya ada Kepala Lembaga Diklat Mabes Polri Komjen Pol. Arief Sulistyanto; Kepala Badan Intelkam Mabes Polri Komjen Pol. Agung Budi Maryoto; Gubernur Akpol Lemdiklat Mabes Polri Irjen Pol. Fiandar; Kepala Korps Lalu Lintas Mabes Polri Irjen Pol. Istiono; Koordinator Staf Ahli Kapolri Irjen Pol. Refdi Andri; Kapolda Jawa Timur Irjen Pol. Luki Hermawan; Kapolda Papua Irjen Pol. Paulus Waterpauw; Kapolda Sumatera Utara Irjen Pol. Martuani Sormin; Kapolda Aceh Irjen Pol. Rio Djambak; Kapolda Sulawesi Utara Irjen Pol. Remigius Sigid Tri Hardjanto; Kapolda Maluku Irjen Pol. Royke Lumowa; Kapolda Jambi Irjen Pol. Muchlis; Kapolda NTT Irjen Pol. Hamidin; Kapolda Daerah Istimewa Yogyakarta Irjen Pol. Asep Suhendar; dan Kapolda Bengkulu Irjen Pol. Supratman.

Lulusan Akpol tahun 1987 memecahkan rekor dengan menduduki jabatan Kapolda terbanyak, yaitu memiliki perwira tinggi terbaik sebanyak sepuluh jenderal bintang dua senior yang menempati sepuluh jabatan Kapolda di wilayah hukum Indonesia. Sementara ini, dari lulusan Akpol tahun 1987 terdapat seorang jenderal bintang empat, yaitu Jenderal Pol. Tito Karnavian, dan dua orang jenderal bintang tiga, yaitu Komjen Pol. Arief Sulistyanto dan Komjen Pol. Agung Budi Maryoto. Selain Jenderal Pol. Tito Karnavian, Komjen Pol. Arief Sulistyanto, dan Komjen Pol. Agung Budi Maryoto, ada beberapa dari lulusan Akpol tahun 1987 yang potensial atau berpotensi kuat mendapat promosi jabatan jenderal bintang tiga dan bahkan mungkin bintang empat.

Kemudian terdapat sejumlah jenderal lulusan Akpol tahun 1988 B mengabdi di beberapa posisi jabatan utama Polri dan kepemimpinan satuan wilayah. Ada Kapolda Jawa Tengah Irjen Pol. Rycko Amelza Dahniel (lulusan terbaik Akpol tahun 1988 B peraih penghargaan Adhi Makayasa); Komandan Korps Brimob Mabes Polri Irjen Pol. Anang Revandoko; Kepala STIK/Gubernur PTIK Lemdiklat Polri Irjen Pol. Aris Budiman Bulo; Kepala Korps Polairud Baharkam Mabes Polri Irjen Pol. Lotharia Latif; Kapolda Jawa Barat Irjen Pol. Rudy Sufahriadi; Kapolda Sumatera Selatan Irjen Pol. Priyo Widyanto; Kapolda Riau Irjen Pol. Agung Setia Imam Effendi; Kapolda Kalimantan Selatan Irjen Pol. Yazid Fanani; Kapolda Kepulauan Riau Irjen Pol. Andap Budi Revianto; Kapolda Lampung Irjen Pol. Purwadi Arianto; dan ada mantan Kapolda Papua Irjen Pol. Rudolf Albert Rodja. Ada beberapa dari lulusan Akpol tahun 1988 B yang potensial atau berpotensi kuat mendapat promosi jabatan jenderal bintang tiga dan bahkan mungkin bintang empat.

Posisi jabatan jenderal bintang tiga sebagai Kepala Badan Harkam Mabes Polri dijabat lulusan Akpol tahun 1989, yaitu Komjen Pol. Agus Andrianto. Figur Komjen Pol. Agus Andrianto adalah perwira tinggi yang pertama di lulusan Akpol tahun 1989 yang memecahkan rekor meraih bintang dua (Irjen) dengan jabatan Kapolda Sumatera Utara. Selanjutnya memecahkan rekor meraih bintang tiga (Komjen) dengan jabatan Kepala Badan Harkam Mabes Polri. Asisten Logistik Kapolri Irjen Pol. Ahmad Dofiri adalah perwira tinggi yang pertama di lulusan Akpol tahun 1989 yang memecahkan rekor meraih bintang satu (Brigjen) dan juga merupakan lulusan terbaik Akpol tahun 1989 peraih penghargaan Adhi Makayasa. Wakil Kepala Badan Intelkam Mabes Polri Irjen Pol. Suntana adalah lulusan resmi Akpol tahun 1989, dan Irjen Pol. Suntana juga senantiasa digolongkan termasuk dalam komunitas alumni Akpol tahun 1988 B.

Lulusan Akpol tahun 1989 lainnya antara lain ada Irjen Pol. Putu Jayan Danu Putra sebagai Widyaiswara Utama Sespimti Lemdiklat Mabes Polri; dan mantan Kapolda Sulawesi Tenggara Brigjen Pol. Iriyanto. Sementara ini, dari lulusan Akpol tahun 1989 terdapat seorang jenderal bintang tiga, yaitu Komjen Pol. Agus Andrianto. Selain Komjen Pol. Agus Andrianto, ada beberapa dari lulusan Akpol tahun 1989 yang potensial atau berpotensi kuat mendapat promosi jabatan jenderal bintang tiga dan bahkan mungkin bintang empat.

Selanjutnya perwira tinggi dari lulusan Akpol tahun 1990, ada beberapa yang mengabdi di beberapa posisi jabatan strategis dan kepemimpinan satuan wilayah. Ada Ketua KPK-RI Komjen Pol. Firli Bahuri dengan jabatan terakhir Kepala Badan Harkam Mabes Polri. Komjen Pol. Firli Bahuri adalah perwira tinggi yang pertama di lulusan Akpol tahun 1990 yang memecahkan rekor meraih bintang dua (Irjen) dengan jabatan Deputi Penindakan KPK-RI dan Kapolda Sumatera Selatan. Selanjutnya memecahkan rekor meraih bintang tiga (Komjen) dengan jabatan Kepala Badan Harkam Mabes Polri.

Kemudian ada Asisten Operasi Kapolri Irjen Pol. Herry Rudolf Nahak (lulusan terbaik Akpol tahun 1990 peraih penghargaan Adhi Makayasa); Kapolda Nusa Tenggara Barat Irjen Pol. Tomsi Tohir Balaw; dan Kapolda Papua Barat Brigjen Pol. Tornagogo Sihombing. Sementara itu, dari lulusan Akpol tahun 1990 terdapat seorang jenderal bintang tiga, yaitu Komjen Pol. Firli Bahuri. Selain Komjen Pol. Firli Bahuri, ada beberapa dari lulusan Akpol tahun 1990 yang potensial atau berpotensi kuat mendapat promosi jabatan jenderal bintang tiga dan bahkan mungkin bintang empat.

Kemudian posisi jabatan Kepala Badan Reskrim Mabes Polri dengan pangkat jenderal bintang tiga dijabat lulusan Akpol tahun 1991, yaitu Komjen Pol. Listyo Sigit Prabowo. Figur Komjen Pol. Listyo Sigit Prabowo adalah perwira tinggi yang pertama di lulusan Akpol tahun 1991 yang memecahkan rekor meraih bintang satu (Brigjen) dengan jabatan Kapolda Banten. Selanjutnya memecahkan rekor meraih bintang dua (Irjen) dengan jabatan Kepala Divisi Propam Mabes Polri. Kemudian memecahkan rekor meraih bintang tiga (Komjen) dengan jabatan Kepala Badan Reskrim Mabes Polri. Figur Komjen Pol. Listyo Sigit Prabowo tercatat dalam dokumen historis dan dinamika sosiologis Polri sebagai lulusan Akpol sepanjang ini yang berusia termuda (baru 50 tahun), yang terawal dan tercepat dalam sejarah kepolisian (Akpol) yang berhasil meraih jenderal bintang tiga/Komjen (kelahiran, tahun 1969, lulusan Akpol tahun 1991, promosi jabatan Kepala Badan Reskrim Mabes Polri dengan pangkat bintang tiga, tahun 2019). Sebelum ini, tercatat juga mantan Kapolri Jenderal Pol. Purn. (Alm) Dibyo Widodo (kelahiran, tahun 1946, lulusan Akpol tahun 1968, promosi jabatan Kapolri dengan pangkat bintang tiga terlebih dahulu, tahun 1996).

Ada beberapa perwira tinggi lulusan Akpol tahun 1991 mengabdi di beberapa posisi kepemimpinan. Ada Kepala Divisi Humas Mabes Polri Irjen Pol. Muhammad Iqbal; Staf Ahli Kapolri Bidang Sosial Budaya Irjen Pol. Muhammad Fadil Imran; Kapolda Gorontalo Brigjen Pol. Wahyu Widada (lulusan terbaik Akpol tahun 1991 peraih penghargaan Adhi Makayasa); dan Kapolda Sulawesi Tenggara Brigjen Pol. Merdisyam. Sementara itu, dari lulusan Akpol tahun 1991 terdapat seorang jenderal bintang tiga, yaitu Komjen Pol. Listyo Sigit Prabowo. Selain Komjen Pol. Listyo Sigit Prabowo, ada beberapa dari lulusan Akpol tahun 1991 yang potensial atau berpotensi kuat mendapat promosi jabatan jenderal bintang tiga dan bahkan mungkin bintang empat.

Sejumlah perwira tinggi lulusan Akpol tahun 1992 mengabdi di beberapa posisi jenderal bintang dua dan jabatan pimpinan kewilayahan. Ada Kepala Divisi Propam Mabes Polri Irjen Pol. Ignatius Sigit Widiatmono; Staf Ahli Kapolri Bidang Sosial Politik Irjen Pol. Nico Afinta; Wakil Kapolda Metro Jaya Brigjen Pol. Wahyu Hadiningrat; dan Brigjen Pol. Suharyono (lulusan terbaik Akpol tahun 1992 peraih penghargaan Adhi Makayasa) sebagai Pejabat Struktural di BIN-RI.

Demikian juga, ada beberapa perwira tinggi lulusan Akpol tahun 1993 mengabdi di beberapa posisi jenderal dan jabatan pimpinan kewilayahan. Ada yang berpangkat perwira tinggi bintang dua dan bintang satu. Misalnya ada Staf Ahli Kapolri Bidang Manajemen Irjen Pol. Teddy Minahasa Putra. Figur ini juga merupakan perwira tinggi yang pertama di lulusan Akpol tahun 1993 yang memecahkan rekor meraih bintang satu (Brigjen), selanjutnya memecahkan rekor meraih bintang dua (Irjen). Selanjutnya ada Wakil Kapolda Sumatera Utara Brigjen Pol. Mardiaz Kusin Dwihananto; Wakil Kapolda Sumatera Selatan Brigjen Rudi Setiawan, pernah menjadi Wakil Kapolda Lampung; dan Brigjen Pol. Rudi Darmoko (lulusan terbaik Akpol tahun 1993 peraih penghargaan Adhi Makayasa) sebagai Kepala Biro Kurikulum STIK/PTIK Lemdiklat Mabes Polri.

Bahkan sudah ada beberapa perwira tinggi lulusan Akpol tahun 1994 mengabdi di beberapa posisi jenderal. Antara lain, ada Brigjen Pol. Awal Chairuddin sebagai Pejabat Struktural di jajaran Staf Wakil Presiden RI. Figur ini merupakan perwira tinggi yang pertama di lulusan Akpol tahun 1994 yang memecahkan rekor meraih bintang satu (Brigjen). Selanjutnya ada Kepala Biro Renmin Badan Reskrim Mabes Polri Brigjen Pol. Dadang Hartanto; Kepala Biro Binops Badan Reskrim Mabes Polri Brigjen Pol. Slamet Uliandi; Kepala Biro Wasidik Badan Reskrim Mabes Polri Brigjen Pol. Roycke Harry Langie; Direktur Tipidum Badan Reskrim Mabes Polri Brigjen Pol. Ferdy Sambo; dan Brigjen Pol. Dwiyono sebagai pejabat struktural di BIN-RI.

Kemudian ada sejumlah perwira tinggi lulusan Akpol tahun 1985 mengabdi di beberapa posisi jabatan utama Polri dan kepemimpinan satuan wilayah. Ada Kepala Sespim Lemdiklat Mabes Polri Irjen Pol. Prasta Wahyu Hidayat; Kepala Divisi TIK Mabes Polri Irjen Pol. Raja Erizman; Kepala Divisi Hubter Mabes Polri Irjen Pol. Saiful Maltha; Wakil Irwasum Mabes Polri Irjen Pol. Umar Septono; Wakil Kepala Badan Reskrim Mabes Polri Irjen Pol. Antam Novambar; Kapolda Kalimantan Timur Irjen Pol. Moektiono; ada yang mengabdi di luar institusi Polri dengan posisi jabatan jenderal bintang tiga, yaitu Kepala BNPT-RI Komjen Pol. Suhardi Alius; dan Kepala BNN-RI Komjen Pol. Heru Winarko. Dari lulusan Akpol tahun 1985 terdapat 5 (lima) orang jenderal bintang tiga, yaitu Komjen Pol. Purn. Syafruddin, Komjen Pol. Purn. Unggung Cahyono, Komjen Pol. Ari Dono Sumanto, Komjen Pol. Suhardi Alius, dan Komjen Pol. Heru Winarko.

Ada lulusan Akpol tahun 1984 yang mengabdi di posisi tertentu, yang alumni ini pada dasarnya dan rata-rata memiliki tahun dan bulan kelahiran muda. Ada Kapolda Banten Irjen Pol. Agung Sabar Santoso. Ada yang mengabdi di luar institui Polri dengan posisi jabatan jenderal bintang tiga, yaitu Sekretaris Utama Lemhannas RI Komjen Pol. Mochamad Iriawan; kemudian ada yang telah memasuki usia purnawirawan, yaitu Inspektur Jenderal Kementerian Perindustrian RI Komjen Pol. Purn. Setyo Wasisto; dan Direktur Utama Perum Bulog Komjen Pol. Purn. Budi Waseso. Dari lulusan Akpol tahun 1984, terdapat 4 (empat) orang jenderal bintang tiga, yaitu Komjen Pol. Purn. Putut Eko Bayuseno, Komjen Pol. Purn. Budi Waseso, Komjen Pol. Purn. Setyo Wasisto, dan Komjen Pol. Mochamad Iriawan.

Kemudian ada lulusan Akpol tahun 1983 yang mengabdi sebagai Pejabat Negara dan merupakan jenderal bintang empat yang menjadi the rising stars serta figur utama sebagai pemimpin terdepan dan berprestasi di lulusan Akpol tahun 1983, yaitu Jenderal Pol. Purn. Budi Gunawan, kini menjabat Kepala Badan Intelijen Negara (BIN) RI. Figur Jenderal Pol. Purn. Budi Gunawan adalah satu-satunya lulusan Akpol tahun 1983 yang meraih jenderal bintang empat bahkan satu-satunya juga yang meraih jenderal bintang tiga.

Peta jalan dan arah konfigurasi baru Polri di berbagai satuan kerja dan satuan wilayah menunjukkan komposisi dan variasi dari segi tahun angkatan kelulusan pendidikan (Akpol), dari segi korps satuan kerja dan wilayah kepolisian, dari segi penugasan, kinerja, dan prestasi. Komposisi dan variasi ini pada dasarnya memastikan tumbuhnya kaderisasi dan regenerasi secara bertahap di dalam lingkungan Polri. Ada sejumlah Pejabat Utama Mabes Polri dan sejumlah Kapolda, bersumber dan berasal dari kelulusan Akpol tahun 1984, Akpol tahun 1985, Akpol tahun 1986.

Meskipun demikian, dengan berjalannya mutasi dan promosi terhadap sejumlah perwira tinggi lulusan Akpol tahun 1989, Akpol tahun 1990, Akpol tahun 1991 di jabatan-jabatan kesatuan strategis dengan posisi job jenderal bintang tiga dan job jenderal bintang dua, maka perihal ini melukiskan dan memastikan peta antropologi kepemimpinan dan gambaran sosiologi jabatan yang diemban di dalam maupun di luar Mabes Polri. Kualitas pengabdian Polri bagi Indonesia Maju secara relasional memiliki ikatan dengan konfigurasi baru Polri.

Bangunan menyeluruh dan mendasar dari konstruksi dan substansi ini sudah semakin bersifat kaderitatif dan regeneratif. Tumbuh subur dan berkembang dinamis mengenai sistem kaderisasi dan regenerasi kepemimpinan Polri. Perwira menengah senior dan perwira tinggi lulusan Akpol tahun 1992, Akpol tahun 1993, Akpol tahun 1994 sedang menunggu penempatan dan penugasan berikut. Konsep ini merupakan bagian dan tahapan otentik dari sistem kaderisasi dan regenerasi yang sedang berproses terencana dan seterusnya berjalan teratur.

Sementara ini, sejumlah perwira tinggi lulusan Akpol tahun 1987, Akpol tahun 1988 A, Akpol tahun 1988 B sedang mengabdi dan mengisi jabatan-jabaran utama dan strategis di institusi Polri. Pola pergantian dan pengisian jabatan serta metode penempatan dan penugasan pejabat Polri pada dasarnya bermaksud positif visioner dan bertujuan normatif strategis untuk menyehatkan institusi dan membangkitkan peningkatan, percepatan, dan perkuatan kualitas SDM Polri yang unggul dan kompetitif. Format standar dan pola dasar pembinaan, pengembangan, penempatan, dan penugasan ini memiliki basis kuat membangun dan memajukan Polri.

Referensi yang berpengaruh untuk meneropong peta jalan dan arah konfigurasi baru Polri, pada hakekatnya berdasarkan pemetaan sosiologis kepemimpinan dan penggambaran historis keberlanjutan yang bersifat faktual, prospektif, dan prediktif. Pemetaan dan penggambaran ini berdasar atas rekam jejak penugasan dan amanah jabatan pengabdian para perwira menengah senior dan perwira tinggi Polri, yang pada intinya amat beraneka ragam. Referensi ini termasuk juga terhadap beberapa perwira tinggi purnawirawan muda Polri yang lulusan terbaik Akpol peraih penghargaan Adhi Makayasa.

Referensi ini antara lain ada Irjen Pol. Anton Setiadji (Adhi Makayasa 1983), pernah menjadi Kapolda Bangka Belitung, Kepala Divisi Hukum Mabes Polri, Kapolda Sulawesi Selatan dan Sulawesi Barat, jabatan tertinggi dan terakhir sebagai Kapolda Jawa Timur dengan pangkat Irjen, sudah mengakhiri masa pengabdian sebagai Anggota Polri. Ada Irjen Pol. Purn. Wahyu Indra Pramugari (Adhi Makayasa 1984), pernah menjadi Kapolda Sumatera Barat, saat itu Polda masih bertipe B, jabatan tertinggi dan terakhir sebagai Kepala Sespim Lembaga Diklat Mabes Polri dengan pangkat Irjen, sudah mengakhiri masa pengabdian sebagai Anggota Polri. Ada Irjen Pol. Purn. Sigit Sudarmanto (Adhi Makayasa 1985), pernah menjadi Kapolda Sulawesi Tenggara, jabatan tertinggi dan terakhir sebagai Wakil Kepala Lembaga Diklat Mabes Polri dengan pangkat Irjen, sudah mengakhiri masa pengabdian sebagai Anggota Polri.

Kemudian ada lulusan Akpol tahun 1986, yaitu Komjen Pol. Moechgiyarto (Adhi Makayasa 1986), kini menjabat Irwasum Mabes Polri, pernah menjadi Wakil Kapolda Jawa Timur, Kapolda Nusa Tenggara Barat, saat itu Polda masih bertipe B, Kepala Divisi Hukum Mabes Polri, Kapolda Jawa Barat, Kapolda Metro Jaya, Kepala Lembaga Diklat Mabes Polri, Kepala Badan Harkam Mabes Polri, lahir Mei 1962, usia 57 tahun, mengakhiri masa pengabdian sebagai Anggota Polri, Mei 2020. Selanjutnya ada Jenderal Pol. Tito Karnavian (Adhi Makayasa 1987), kini menjabat Menteri Dalam Negeri RI Kabinet Indonesia Maju, pernah menjadi Kepala Densus 88 Anti Teror Mabes Polri, Deputi Bidang Penindakan Dan Pembinaan Kemampuan BNPT-RI, Kapolda Papua, Asisten Perencanaan dan Anggatan Kapolri, Kapolda Metro Jaya, Kepala BNPT-RI, dan Kapolri, lahir Oktober 1964, usia 55 tahun.

Adapun beberapa perwira tinggi pejabat Polri lulusan terbaik Akpol peraih penghargaan Adhi Makayasa, yang potensial menempati komposisi dan mengisi formasi kepemimpinan terpenting dan strategis Polri untuk masa kini dan masa depan, antara lain Irjen Pol. Rycko Amelza Dahniel (Adhi Makayasa 1988 B), kini menjabat Kapolda Jawa Tengah, pernah menjadi Wakil Kapolda Jawa Barat, Kepala STIK/Gubernur PTIK Lembaga Diklat Mabes Polri, Kapolda Sumatera Utara, Gubernur Akpol Lembaga Diklat Mabes Polri, lahir Agustus 1966, usia 53 tahun, mengakhiri masa pengabdian sebagai Anggota Polri, Agustus 2024. Kemudian Irjen Pol. Ahmad Dofiri (Adhi Makayasa 1989), kini menjabat Asisten Logistik Kapolri, pernah menjadi Kapolda Banten, saat itu Polda masih bertipe B, Kapolda Daerah Istimewa Yogyakarta, lahir Juni 1967, usia 52 tahun, mengakhiri masa pengabdian sebagai anggota Polri, Juni 2025.

Selanjutnya ada Irjen Pol. Herry Rudolf Nahak (Adhi Makayasa 1990), kini menjabat Asisten Operasi Kapolri, pernah menjadi Kapolda Papua Barat, lahir Agustus 1968, usia 51 tahun, mengakhiri masa pengabdian sebagai Anggota Polri, Agustus 2026. Ada Brigjen Pol. Wahyu Widada (Adhi Makayasa 1991), kini Kapolda Gorontalo, pernah menjadi Wakil Kapolda Riau, lahir September 1969, usia 50 tahun, mengakhiri masa pengabdian sebagai anggota Polri, September 2027.

Selanjutnya ada Brigjen Pol. Suharyono (Adhi Makayasa 1992), kini menjabat Pejabat Struktural di BIN-RI, mengakhiri masa pengabdian sebagai Anggota Polri agak relatif lebih cepat karena memiliki NRP agak relatif tidak muda. Ada Brigjen Pol. Rudi Darmoko (Adhi Makayasa 1993), kini menjabat Kepala Biro Kurikulum STIK/PTIK Lemdiklat Mabes Polri, lahir Desember 1971, usia 48 tahun, mengakhiri masa pengabdian sebagai Anggota Polri, Desember 2029.

Berikutnya ada Kombes Pol. Alberd Teddy Benhard Sianipar (Adhi Makayasa 1994), kini menjabat Kepala Biro Operasi Polda Metro Jaya, lahir November 1971, usia 48 tahun, mengakhiri masa pengabdian sebagai Anggota Polri, November 2029. Ada Kombes Pol. Sandi Nugroho (Adhi Makayasa 1995), kini menjabat Kepala Polrestabes Surabaya Polda Jawa Timur, lahir Juli 1973, usia 46 tahun, mengakhiri masa pengabdian sebagai Anggota Polri, Juli 2031. Ada Kombes Pol. Johnny Eddizon Isir (Adhi Makayasa 1996), kini menjabat Kepala Polrestabes Medan Polda Sumatera Utara, lahir Juni 1975, usia 44 tahun, mengakhiri masa pengabdian sebagai Anggota Polri, Juni 2033.

Konfigurasi kepemimpinan dan formasi kehadiran para perwira menengah dan perwira tinggi Polri, pada dasarnya juga mengandung sistem nilai meritokrasi. Demikian halnya terhadap lulusan Akpol dari sisi bobot jabatan, tingkatan kepangkatan, tahun kelulusan dan kelahiran masing-masing. Ada sejumlah perwira tinggi pejabat Polri lulusan Akpol tahun 1987, Akpol tahun 1988 A, Akpol tahun 1988 B, yang potensial menempati komposisi dan mengisi formasi kepemimpinan terpenting dan strategis Polri dari sisi perspektif ini untuk masa kini dan masa depan.

Lulusan dari Akpol tahun 1987, antara lain Komjen Pol. Arief Sulistyanto, kini menjabat Kepala Lembaga Diklat Mabes Polri, pernah menjadi Kapolda Kalimantan Barat, saat itu Polda masih bertipe B, Staf Ahli Kapolri Bidang Menejemen, Asisten Sumber Daya Manusia Kapolri, Kepala Badan Reskrim Mabes Polri, lahir Maret 1965, usia 54 tahun, mengakhiri masa pengabdian sebagai Anggota Polri, Maret 2023. Komjen Pol. Agung Budi Maryoto, kini menjabat Kepala Badan Intelkam Mabes Polri, pernah menjadi Kapolda Kalimantan Selatan, saat itu Polda masih bertipe B, Kepala Korps Lalu Lintas Mabes Polri, Kapolda Sumatera Selatan, Kapolda Jawa Barat, lahir Februari 1965, usia 54 tahun, mengakhiri masa pengabdian sebagai Anggota Polri, Februari 2023. Irjen Pol. Luki Hermawan, kini menjabat Kapolda Jawa Timur, pernah menjadi Wakil Kepala Badan Intelkam Mabes Polri, lahir April 1965, usia 54 tahun, mengakhiri masa pengabdian sebagai Anggota Polri, April 2023. Februari 2023. Irjen Pol. Paulus Waterpauw, kini menjabat Kapolda Papua, pernah menjadi Wakil Kapolda Papua, Kapolda Papua Barat, Wakil Kepala Badan Intelkam Mabes Polri, Kapolda Sumatera Utara, bahkan dulu pernah menjadi Kapolda Papua sebelum sekarang ini, lahir Oktober 1963, usia 56 tahun, mengakhiri masa pengabdian sebagai anggota Polri, Oktober 2021.

Dari lulusan Akpol tahun 1988 A, untuk masa kini dan masa depan ini, ada sejumlah perwira tinggi pejabat Polri, yang berpotensi menempati komposisi dan mengisi formasi kepemimpinan terpenting dan strategis Polri. Lulusan tersebut antara lain Komjen Pol. Gatot Eddy Pramono, kini menjabat Wakil Kapolri, pernah menjadi Wakil Kapolda Sulawesi Selatan, Staf Ahli Kapolri Bidang Sosial Ekonomi, Asisten Perencanaan Dan Anggaran Kapolri, Kapolda Metro Jaya, lahir Juni 1965, usia 54 tahun, mengakhiri masa pengabdian sebagai Anggota Polri, Juni 2023. Irjen Pol. Nana Sujana, kini menjabat Kapolda Metro Jaya, pernah menjadi Wakil Kapolda Jambi, saat itu Polda masih bertipe B, Wakil Kapolda Jawa Barat, Kapolda Nusa Tenggara Barat, lahir Maret 1965, usia 54 tahun, mengakhiri masa pengabdian sebagai Anggota Polri, Maret 2023. Irjen Pol. Boy Rafli Amar, kini menjabat Wakil Kepala Lembaga Diklat Mabes Polri, pernah menjadi Kapolda Banten, saat itu Polda masih bertipe B, Kepala Divisi Humas Mabes Polri, Kapolda Papua, lahir Maret 1965, usia 54 tahun, mengakhiri masa pengabdian sebagai Anggota Polri, Maret 2023. Irjen Pol. Petrus Reinhard Golose, kini menjabat Kapolda Bali, pernah menjadi Deputi Bidang Kerjasama Internasional BNPT-RI, lahir November 1965, usia 54 tahun, mengakhiri masa pengabdian sebagai Anggota Polri, November 2023. Irjen Pol. Eko Indra Heri, kini menjabat Asisten Sumber Daya Manusia Kapolri, lahir November 1964, usia 55 tahun, mengakhiri masa pengabdian sebagai anggota Polri, November 1922. Irjen Pol. Hendro Sugiatno, kini menjabat Asisten Perencanaan dan Anggaran Kapolri, lahir Desember 1964, usia 55 tahun, mengakhiri masa Pengabdian sebagai Anggota Polri, Desember 2022. Komjen Pol. Dharma Pongrekun, kini menjabat Wakil Kepala BSSN-RI, pernah menjadi Deputi Bidang Identifikasi dan Deteksi BSSN-RI, lahir Januari 1966, usia 53 tahun, mengakhiri masa pengabdian sebagai anggota Polri, Januari 2024.

Selanjutnya untuk masa kini dan masa depan, ada beberapa perwira tinggi pejabat Polri lulusan Akpol tahun 1988 B, yang berpotensi menempati komposisi dan mengisi formasi kepemimpinan terpenting dan strategis Polri. Lulusan tersebut antara lain : Irjen Pol. Rycko Amelza Dahniel, kini menjabat Kapolda Jawa Tengah, pernah menjadi Wakil Kapolda Jawa Barat, Kepala STIK/Gubernur PTIK Lembaga Diklat Mabes Polri, Kapolda Sumatera Utara, Gubernur Akpol Lembaga Diklat Mabes Polri, lahir Agustus 1966, usia 53 tahun, mengakhiri masa pengabdian sebagai Anggota Polri, Agustus 2024. Irjen Pol. Agung Setya Imam Effendi, kini menjabat Kapolda Riau, pernah menjadi Deputi Intelijen Siber BIN-RI, lahir Maret 1967, usia 52 tahun, mengakhiri masa pengabdian sebagai Anggota Polri, Maret 2025. Irjen Pol. Andap Budi Revianto, kini menjabat Kapolda Kepulauan Riau, pernah menjadi Kapolda Sulawesi Tenggara, Kapolda Maluku, lahir Juni 1966, usia 53 tahun, mengakhiri masa pengabdian sebagai Anggota Polri, Juni 2024. Irjen Pol. Priyo Widyanto, kini menjabat Kapolda Sumatera Selatan, pernah menjadi Kapolda Jambi, saat itu Polda masih bertipe B, Kapolda Kalimantan Timur, lahir Oktober 1965, usia 54 tahun, mengakhiri masa pengabdian sebagai Anggota Polri, Oktober 2023. Irjen Pol. Rudy Sufahriadi, kini menjabat Kapolda Jawa Barat, pernah menjadi Kapolda Sulawesi Tengah, saat itu Polda masih bertipe B, Komandan Korps Brimob Mabes Polri, Asisten Operasi Kapolri, lahir Agustus 1965, usia 54 tahun, mengakhiri masa pengabdian sebagai Anggota Polri, Agustus 2023. Irjen Pol. Anang Revandoko, kini menjabat Komandan Korps Brimob Mabes Polri, pernah menjadi Wakil Komandan Korps Brimob Mabes Polri, Kapolda Kalimantan Tengah, lahir Oktober 1965, usia 54 tahun, mengakhiri masa pengabdian sebagai Anggota Polri, Oktober 2023. Irjen Pol. Yazid Fanani, kini menjabat Kapolda Kalimantan Selatan, pernah menjadi Kapolda Jambi, saat itu Polda masih bertipe B, Staf Ahli Kepala BIN-RI Bidang Hukum Dan HAM, lahir April 1965, usia 54 tahun, mengakhiri masa pengabdian sebagai anggota Polri, April 2023. Irjen Pol. Purwadi Arianto, kini menjabat Kapolda Lampung, pernah menjadi Wakil Kapolda Metro Jaya, lahir Oktober 1966, usia 53 tahun, mengakhiri masa pengabdian sebagai anggota Polri, Oktober 2024. Irjen Pol. Rudolf Albert Rodja, kini mengabdi di Mabes Polri, pernah memjadi Wakil Kapolda Sulawesi Tengah, saat itu Polda masih bertipe B, Wakil Kapolda Papua, Kapolda Papua Barat, Kapolda Papua, lahir Mei 1966, usia 53 tahun, mengakhiri masa pengabdian sebagai anggota Polri, Mei 2024.

Demikian juga, untuk masa kini dan masa depan, ada sejumlah perwira tinggi pejabat Polri lulusan Akpol tahun 1989, Akpol tahun 1990, Akpol tahun 1991, yang berpotensi menempati komposisi dan mengisi formasi kepemimpinan terpenting dan strategis Polri. Lulusan Akpol tahun 1989 tersebut antara lain Komjen Pol. Agus Andrianto, kini menjabat Kepala Baharkam Mabes Polri, pernah menjadi Wakil Kapolda Sumatera Utara, Kapolda Sumatera Utara, lahir Februari 1967, usia 52 tahun, mengakhiri masa pengabdian sebagai Anggota Polri, Februari 2025. Irjen Pol. Ahmad Dofiri, kini menjabat Asisten Logistik Kapolri, pernah menjadi Kapolda Banten, saat itu Polda masih bertipe B, Kapolda Daerah Istimewa Yogyakarta, lahir Juni 1967, usia 52 tahun, mengakhiri masa pengabdian sebagai anggota Polri, Juni 2025. Irjen Pol. Suntana, kini menjabat Wakil Kepala Badan Intelkam Mabes Polri, pernah menjadi Wakil Kapolda Metro Jaya, Deputi Intelijen Siber BIN-RI, Kapolda Lampung, lahir Juni 1966, usia 53 tahun, mengakhiri masa pengabdian sebagai anggota Polri, Juni 2024. Brigjen Pol. Iriyanto, kini mengabdi di Mabes Polri, pernah memjadi Wakil Kapolda Kalimantan Selatan, saat itu Polda masih bertipe B, Wakil Komandan Korps Brimob Mabes Polri, Kapolda Sulawesi Tenggara, lahir Juni 1966, usia 53 tahun, mengakhiri masa pengabdian sebagai anggota Polri, Juni 2024.

Lulusan Akpol tahun 1990, ada sejumlah perwira tinggi pejabat Polri untuk masa kini dan masa depan, yang berpotensi menempati komposisi dan mengisi formasi kepemimpinan terpenting dan strategis Polri. Lulusan tersebut antara lain Komjen Pol. Firli Bahuri, kini menjabat Ketua KPK-RI, pernah menjadi Wakil Kapolda Jawa Tengah, Kapolda Nusa Tenggara Barat, saat itu Polda masih bertipe B, Deputi Penindakan KPK-RI, Kapolda Sumatera Selatan, Kepala Badan Harkam Mabes Polri, lahir November 1963, usia 56 tahun, mengakhiri masa pengabdian sebagai Anggota Polri, November 2021. Irjen Pol. Herry Rudolf Nahak, kini menjabat Asisten Operasi Kapolri, pernah menjadi Kapolda Papua Barat, lahir Agustus 1968, usia 51 tahun, mengakhiri masa pengabdian sebagai anggota Polri, Agustus 2026. Irjen Pol. Tomsi Tohir Balaw, kini menjabat Kapolda Nusa Tenggara Barat, pernah menjadi Kapolda Banten, lahir Januari 1969, usia 50 tahun, mengakhiri masa pengabdian sebagai Anggota Polri, Januari 2027. Brigjen Pol. Tornagogo Sihombing, kini menjabat Kapolda Papua Barat, lahir November 1967, usia 52 tahun, mengakhiri masa pengabdian sebagai anggota Polri, November 2025.

Ada beberapa perwira tinggi pejabat Polri lulusan Akpol tahun 1991 yang berpotensi menempati komposisi dan mengisi formasi kepemimpinan terpenting dan strategis Polri untuk masa kini dan masa depan. Lulusan tersebut antara lain Komjen Pol. Listyo Sigit Prabowo, kini menjabat Kepala Badan Reskrim Mabes Polri, pernah menjadi Kapolda Banten, saat itu Polda masih bertipe B, Kepala Divisi Propam Mabes Polri, lahir Mei 1969, usia 50 tahun, mengakhiri masa pengabdian sebagai Anggota Polri, Mei 2027. Irjen Pol. Muhammad Iqbal, kini menjabat Kepala Divisi Humas Mabes Polri, pernah menjadi Wakil Kapolda Jawa Timur, lahir Juli 1970, usia 49 tahun, mengakhiri masa pengabdian sebagai Anggota Polri, Juli 2028. Irjen Pol. Muhammad Fadil Imran, kini menjabat Staf Ahli Kapolri Bidang Sosial Budaya, lahir Agustus 1968, usia 51 tahun, mengakhiri masa pengabdian sebagai Anggota Polri, Agustus 2026. Brigjen Pol. Wahyu Widada, kini menjabat Kapolda Gorontalo, pernah menjadi Wakil Kapolda Riau, lahir September 1969, usia 50 tahun, mengakhiri masa pengabdian sebagai Anggota Polri, September 2027. Brigjen Pol. Merdisyam, kini menjabat Kapolda Sulawesi Tenggara, lahir Mei 1968, usia 51 tahun, mengakhiri masa pengabdian sebagai Anggota Polri, Mei 2026.

Keberadaan beberapa jenderal di jabatan baru dalam konfigurasi baru Polri, akan menjadi berarti dan baru semakin bermakna ketika kepemimpinannya dan kinerjanya sungguh-sungguh berfungsi efektif, bermanfaat baik, dan bernilai positif bagi masyarakat, bangsa, dan negara. Kompetensi dan prestasi kepemimpinan mesti selalu bertumpu erat dan berbasis kuat pada integritas, kualitas, kredibilitas, kapasitas, profesionalitas, dan loyalitas. Perihal ini harus senantiasa tumbuh berkembang selain dikarenakan atas kemampuan personal, namun sekaligus juga dikarenakan atas kematangan institusional.

Gabungan utuh terpadu antara dimensi kemampuan dengan dimensi kematangan ini, mesti selalu diorganisasikan secara tertib, disiplin, dan rapi. Variabel ini tentu dengan berlandaskan atas kerjasama strategis dan teknis antar berbagai kalangan internal dan eksternal Polri secara kolektif kolegial. Kualitas keberhasilan konfigurasi kepemimpinan Polri dapat terbangun baik dan bertumbuh segar apabila dilengkapi dan dikuati dengan variabel ini.

Pengabdian Polri dengan basis tumpuan pada sistem formasi, mutasi, dan promosi perwira-perwira Polri, pada gilirannya diorientasikan bagi pemantapan tugas jabatan dan amanah tanggungjawab. Penempatan dan penugasan harus berguna luas dan bermanfaat tinggi sehingga membuahkan proses dan hasil gemilang. Kualitas proses dan hasil ini mencerminkan dan menunjukkan bahwa keberadaan dan kepemimpinan pejabat-pejabat Polri yang dipromosikan tersebut, akan menjadi ukuran dasar bagi masyarakat, bangsa, dan negara untuk menilai dan mengapresiasi keberhasilan, kegunaan, dan kemanfaatan SDM dan institusi Polri.

Proses terbaik dan hasil terbagus dari ketepatan penempatan personalia SDM dan kecepatan formasi komposisi kepemimpinan ideal, akan dapat menjadi tumbuh terbangun secara bermakna apabila dikaitkan dan diabdikan demi untuk pengembangan kebajikan masyarakat, keadaban bangsa, kemajuan negara. Harus ada relasi aktif dan korelasi efektif antara dimensi institusi Polri melalui kepemimpinan dan kinerja pejabat-pejabat Polri dengan dimensi pembumian dan percepatan Indonesia Maju.

Hakikat konstruksi dan substansi politik hukum Polri mesti sesuai dan tepat dalam merumuskan strategi umum dan menerapkan kebijakan dasar mengenai kerangka dan desain besar kaderisasi dan regenerasi kepemimpinan Polri. Politik hukum ini sebaiknya dan seharusnya bersifat responsif dan adaptif terhadap prinsip nurani dan inti jantung pembangunan Indonesia Maju.

Kualitas dan akuntabilitas kepemimpinan dan keanggotaan Polri mesti telah sampai pada tingkat sebagai institusi yang bersifat alternatif dan solutif atas pergumulan, peluang, dan tantangan bersama Negara Proklamasi 17 Agustus 1945. Polri harus sudah merupakan sebuah kelembagaan teladan dan panutan di waktu kapanpun, di level apapun, dan di ruang manapun. Peta jalan dan arah konfigurasi baru Polri harus berorientasi pengabdian yang teladan dan panutan.

Peta jalan dan arah konfigurasi baru Polri yang berintikan pada pengabdian Polri, semoga menjadikan dan menumbuhkan Polri beserta jajaran sebagai atmosfir pembangun, pengawal, pemandu, dan pelayan terdepan yang berfungsi guna sebagai pintu dan jendela jalan keluar tercepat dan terbaik. Fungsi-fungsi ini diselenggarakan dengan lompatan percepatan dan perkuatan yang unggul dan kompetitif.

Keseluruhan konstruksi dan substansi fungsi ini di atas semakin bermakna atas dukungan dan kerjasama dengan jajaran TNI dan BIN, jajaran kelembagaan kenegaraaan dan pemerintahan, komunitas politik, hukum, dan ekonomi, elemen kesenian, keolahragaan, dan kebudayaan, kalangan profesional dan strategis, organ kemasyarakatan dan kebangsaan. Perihal ini berlangsung dengan penumbuhan dan pengukuhan semangat civil society dan dengan penguatan dan pemastian tekad gotong royong kewargaan.

Dengan demikian, pengabdian Polri diorganisasikan dan diselenggarakan bagi percepatan, perkuatan, dan peningkatan kualitas Indonesia Maju di dalam wadah bentuk NKRI yang berideologi dan berfalsafah Pancasila berdasarkan konstitusi UUD 1945 dengan semboyan dan etos semangat Bhinneka Tunggal Ika. Konfigurasi baru Polri adalah sebuah rangkaian kesempatan moral dan peluang profesional bagi Polri untuk meneguhkan dan mengukuhkan pengabdian terbaik, terbagus, tertinggi bagi masyarakat, bangsa, dan negara. Peta jalan dan arah perkembangan mesti terfokus dan berorientasi bagi Indonesia Maju.


Penulis: Firman Jaya Daeli (Ketua Dewan Pembina Puspolkam Indonesia; Mantan Komisi Politik & Hukum DPR-RI; Pernah Menjadi Dosen Tamu Sespimmen & Sespimti Polri)

dilihat : 94 kali


   
Copyright 2005 Pustakalewi.net
All rights reserved. Protected by the copyright laws of the Indonesia
hosted and developed by Agiz YL Solution