Jum'at, 29 Mei 2020 08:04:32 | Home | Index Berita | About Us | Statistik | Buku Tamu | Redaksi | Webmail | Login |  

Catatan Ringan

Perkembangan Peer to Peer Lending di Indonesia
Perkembangan Peer2Peer Lending (P2P Lending), pinjam meminjam berbasis aplikasi makin subur di Indonesia. Tapi kehadirannya tentu akan menimbulkan konsekuensi positif dan negatif.


Pengunjung hari ini : 499
Total pengunjung : 139794
Hits hari ini : 4014
Total hits : 1435362
Pengunjung Online : 27
Situs Berita Kristen PLewi.Net -Waspada Menggunakan WiFi Publik dan Kloning Akun






SocialTwist Tell-a-Friend | |
Kamis, 12 September 2019 17:05:09
Waspada Menggunakan WiFi Publik dan Kloning Akun

Surabaya,pustakalewi.com – Bahaya dalam penggunaan WiFi publik akhir-akhir ini kembali disuarakan dengan video yang beredar di dunia maya. Masyarakat memang wajib waspada saat menggunakan WiFi publik. Terutama jika gadget atau aplikasi yang digunakan belum diperbarui. 2 mahasiswa Sistem Informasi Universitas Narotama, Bagus Prasetyo Budiono dan Damara Putra Pratama, memiliki beberapa tips untuk lebih waspada dalam penggunaan WiFi publik dan beberapa aplikasi.

“Kalau hardware gadgetnya baru tidak masalah. Tapi kalau gadget lama biasanya ini rawan terjadi kloning akun. Ketika seseorang memakai WiFi publik lalu membuka aplikasi Whatsapp yang belum diperbarui, akun Whatsapp bisa dikloning hanya dengan menggunakan MAC address dari hardware. Pemilik WiFi publik bisa membaca Whatsapp atau aplikasi apapun yang digunakan oleh pengguna WiFi publik,” kata Bagus.

Mahasiswa yang mendalami bidang Cyber Security itu juga meminta masyarakat berhati-hati jika ada permintaan untuk menghubungi kontak dengan awalan tanda * ataupun # yang diikuti dengan nomor kontak mereka. “Itu sebenarnya adalah sistem SMS notifikasi untuk takeover akun Whatsapp dengan nomor kontak tersebut. Kalau sudah begitu, akun Whatsapp akan langsung berpindah gadget karena 1 akun Whatsapp hanya bisa digunakan di 1 gadget, kecuali Whatsapp Web,” lanjutnya.

Cara lain yang digunakan oleh hacker adalah dengan notifikasi pop-up tentang adanya virus di gadget ketika kita sedang membuka suatu website. “Itu banyak sekali yang terjebak karena kita pasti takut kalau ponsel kita kena virus. Nah ketika pop-up itu diklik, akan otomatis mengunduh aplikasi yang nantinya bisa mengambil data dari ponsel kita,” katanya.

Untuk menghindarinya, Damar mengatakan, pengguna gadget harus melakukan update secara berkala, baik aplikasi maupun gadget mereka. “Misalnya saja Whatsapp. Kalau belum update versi terbaru akan ada celah di keamanan sehingga jika terkoneksi dengan WiFi publik, akun Whatsapp akan dengan mudah terkloning. Update Operating System (OS) juga sangat penting. Misalnya, Android terbaru memiliki Google Play Protect yang akan mencegah browser atau website mengunduh aplikasi secara otomatis,” ujarnya.

Namun, masyarakat awam kadang meremehkan masalah update software dan hardware ini. Apalagi banyak yang kemudian beralasan memori penyimpanan ponsel mereka sudah tidak cukup untuk melakukan update versi terbaru. “Ini memang sudah menjadi risiko sebagai pengguna internet dan teknologi. Mau tidak mau kita harus terus mengikuti perkembangan teknologi. Update OS terbaru, upgrade ponsel, juga memperbarui versi dari aplikasi-aplikasi yang digunakan sehari-hari. Karena jika tidak ya konsekuensinya akan rawan menjadi korban kejahatan,” ungkap Damar.

Belum lagi dengan banyaknya aplikasi yang menarik untuk digunakan, namun kita tidak mengerti seberapa aman aplikasi tersebut atas data yang kita input. “Ketika akan mengunduh aplikasi, usahakan dicek benar permissionnya. Apa saja yang akan dibaca oleh aplikasi tersebut. Kita wajib was-was kalau ada permission yang tidak sesuai peruntukannya. Misalnya aplikasi edit foto tapi meminta permission untuk mengakses kontak, dan lain sebagainya,” kata mahasiswa Semester 8 itu.

Satu lagi yang harus diwaspadai adalah penggunaan VPN yang ternyata sangat berbahaya. Data dari gdget yang menggunakan VPN negara tertentu akan dibelokkan ke negara itu sebelum dilanjutkan ke website tujuan. “Menggunakan WiFi publik yang hanya dimiliki pihak tertentu di negara yang sama saja sudah berbahaya, apalagi jika data kita terbaca oleh negara lain,” tutupnya.hms/red

dilihat : 88 kali


   
Copyright 2005 Pustakalewi.net
All rights reserved. Protected by the copyright laws of the Indonesia
hosted and developed by Agiz YL Solution